
-Arsel-
Waktu sudah menunjukan pukul 08:35 pagi sekarang. Aster juga sudah berangkat sekolah dengan diantar oleh Eric, aku hanya ingin dia mengawasi Aster sampai dia kembali ke rumah selagi aku sibuk bekerja di rumah.
Ruang kerjaku benar-benar berantakan sekarang. Batinku melihat beberapa gulungan kain yang berceceran dilantai bersama dengan beberapa kertas yang ikut bertebaran dilantai.
Ting tong...
Suara bel rumah menarik perhatianku, dengan malas aku pergi dari ruang kerjaku untuk memeriksa siapa yang datang sepagi ini. Rasanya belakangan ini banyak sekali tamu yang begitu mengganggu.
"Ya, tunggu sebentar!" Teriak ku saat mendengar bel rumahku kembali dibunyikan. Kemudian tangan kananku segera meraih knop pintu rumah dan membukanya.
"Kenapa lama sekali?" Tanyanya menyadarkanku yang sempat mematung melihat sosok kakak ku yang datang bertamu ke rumahku sepagi ini.
"Ka–kakak? Kenapa? Kapan pulang? Kenapa tidak memberi kabar padaku?" Tanyaku sambil berbalik badan dan mengikuti langkahnya yang sudah melengos masuk ke dalam rumahku.
"Aku datang kemarin malam, ibu terus menggangguku beberapa hari ini karena kau membatalkan perjodohanmu dengan Michelle. Lalu ku dengar kau juga mengadopsi seorang anak, apa itu benar?" Jelasnya sambil menghempaskan tubuhnya keatas sofa di ruang tamu.
"Jadi kau datang untuk menceramahiku juga? Menggantikan ibu begitu?" Tanyaku mendengus kesal.
"Sebaiknya kau pulang ke rumah dan bicarakan semuanya baik-baik, dan untuk anak adopsianmu itu. Kau kembalikan saja dia ke panti asuhan." Tuturnya sambil melonggarkan dasi merah yang dikenakannya.
"Jangan seenaknya memerintahku! Lagipula anak itu tidak ku adopsi dari panti asuhan." Ucapku merasa kesal atas perkataannya.
"Jadi kau mengadopsi anak yang gak jelas asal usulnya?" Tanyanya lagi membuat kesabaranku habis.
"Aku tau asal-usulnya makanya aku mengadopsinya." Tegasku membalas tatapan tajam yang sudah dia suguhkan sejak memasuki rumahku.
Aku tau betul dia tak suka jika pekerjaannya terganggu. Dan lagi kakak paling tidak suka dilibatkan dalam masalah pribadiku dan ibu. Tapi kenapa dia harus repot-repot datang? Padahal tinggal mengabaikanku seperti biasanya saja.
"Apa maksudmu dengan mengetahui asal-usulnya?" Tanyanya mempertajam tatapannya itu.
"Bagaimana jika ku katakan anak itu adalah anakmu dengan kak Helen? Apa kau akan percaya padaku?" Jelasku sedikit berkeringat dingin.
"Apa yang kau katakan? Aku tak pernah memiliki anak dengan Helen, dan kau tau itu." Ucapnya setelah menghela napas lelahnya.
"Kau pikir aku bercanda?" Tanyaku.
"Terserah kau saja, aku tak akan ikut campur dalam urusanmu dengan anak asuhmu itu. Yang ku mau sekarang, kau pulanglah temui ibumu dan bicarakan semuanya baik-baik. Sampai jumpa." Tuturnya sambil bangkit dari posisi duduknya dan segera pergi dari rumahku tanpa banyak bicara lagi.
"Dasar kakak bodoh!" Umpatku merasa kesal sendiri.
Bagaimanapun caranya aku akan meyakinkannya ... surat! Kenapa aku tidak memperlihatkan surat itu padanya? Batinku saat mengingat surat dari kak Helen yang diberikan oleh bi Siti pada hari itu.
"Arrgh... aku tidak memikirkannya tadi." Geramku merasa kesal sendiri.
***
-Aster-
Bel pulang sekolah berdering dengan nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Dengan cepat ku masukan semua peralatan tulis beserta buku catatanku kedalam tas sekolahku.
"Tunggu!" Suara Kalea menghentikan langkahku tepat diambang pintu kelas.
"A–ada apa Lea?" Tanyaku sedikit gemetar melihat manik biru yang tak bersahabat itu.
"Siapa suruh kamu pulang? Piket, bersihkan kelas dulu baru pulang." Jawabnya.
"Eh? Tapi hari ini bukan jadwal piketku ...." Tuturku tak berani menatap matanya.
"Sudah lakukan saja jangan banyak menjawab!" Ucap Nadin sambil mendorong tubuhku kedalam kelas.
"Aku lupa, hehe ...." Tawa Nadin membuatku meremas ujung tali tas sekolahku.
"Sudahlah, kita tunggu di luar saja. Cepat selesaikan bersih-bersihnya! Aku ingin cepat pulang." Lanjut Kalea membuatku bergegas untuk membereskan kelas.
Mengangkat semua kursi keatas meja, lalu menyapu lantai dan mengepelnya. Sesekali ku alihkan perhatianku pada sosok Kalea dan Nadin yang sedang berbincang di depan kelas.
Ku lihat mereka begitu dekat dan sering kali membuatku merasa iri. Seadainya aku punya ayah, apa aku juga akan memiliki teman? Batinku.
"Sudah selesai?" Tanya Nadin sedikit berteriak di depan pintu kelas yang terbuka.
"I–iya sudah." Jawabku sambil menjinjing ember kecil bersama lap pel didalamnya.
"Kalau begitu ayo pulang sekarang." Ucap Kalea sambil menggeret Nadin bersamanya.
***
"Melelahkan ...." Gumamku sambil menyeka keringat dikeningku dan berjalan kearah gerbang sekolah.
"Saat kamu kelelahan cobalah untuk mengatur napasmu secara perlahan, jangan tunggu sampai sesak." Suara lembut ibu yang masih terngiang dalam ingatanku jika aku mulai kesulitan untuk bernapas.
Yah benar, atur napasmu perlahan Aster. Kamu harus ingat dengan kata-kata ibu .... Batinku berusaha mengatur napasku.
Lalu langkahku terhenti saat melihat Kalea yang dijemput oleh seorang pria dewasa, raut wajahnya benar-benar tampan dengan setelan jas yang dikenakannya. Tubuhnya juga sangat tinggi, mungkin lebih dari 165 cm.
Ku lihat pria itu meraih puncak kepala Kalea saat dia terjun kedalam pelukannya sambil tertawa renyah.
Enaknya .... Batinku kembali merasa iri padanya.
"Kenapa lama sekali keluarnya?" Suara paman Eric mengejutkanku, membuatku segera menoleh karahnya berdiri.
"Ah itu ... piket. Aku habis piket dulu hehe ...." Jawabku sambil menggaruk tengkuk ku.
"Kalau begitu mari pulang sekarang. Tuan sudah menunggu nona di rumah." Tuturnya sambil menggandeng tangan kananku dan membawaku ke tempat parkir.
"Pak supir kenapa paman? Kenapa paman yang antar jemput Aster hari ini? Padahal kemarin pak supir bilang akan mengantar jemput Aster setiap hari." Tanyaku sebelum masuk ke dalam mobil.
"Dia sedang ada urusan lain, jadi hari ini aku yang menggantikannya." Jawabnya sambil tersenyum hangat seperti paman merah.
"Aku sudah mendengar semuanya dari wali kelasmu soal acara besok. Kenapa nona menyembunyikannya dari tuan muda?" Tanya paman Eric setelah masuk kedalam mobil dan menyalakan mesinnya.
"Eh? Paman mencaritaunya?" Tanyaku melihat tatapan paman dari pantulan kaca spion mobil.
"Aster hanya tidak mau merepotkan paman merah lebih dari ini. Lagipula Aster ini orang asing bagi paman." Lanjutku sambil menundukan kepalaku.
Tidak boleh menangis lagi Aster! Jangan cengeng! Batinku berusaha menahan genangan air mata yang mengganggu penglihatanku. Namun detik berikutnya buliran bening itu malah jatuh ketanganku.
"Apa tuan muda pernah bilang nona Aster orang asing baginya?" Tanya paman Eric membuatku mengangkat kepalaku dan melihat sorot mata paman dipantulan kaca spion.
"Tidak ... paman bilang aku keluarganya." Gumamku mengingat perkataannya kemarin malam.
"Tuan muda pasti senang jika mendengar soal acara pentas seni besok. Aku juga yakin dia akan datang untuk menonton pertunjukan nona besok." Tutur paman Eric kembali tersenyum hangat.
.
.
.
Thanks for reading...