
-Carel-
Ku hela napasku sebelum menatap wanita dihadapanku dengan seksama. Dilihat dari ekspresinya, sepertinya dia mengetahui sesuatu.
"Kenapa kau membawa pakaian itu dari—"
"Jadi ini pakaian Faren?" Potongku membuatnya terkejut.
"Ma—mana mungkin, itu pakaian adik ku. Dia sengaja menyimpannya di lemari Faren karena—"
"Aku yakin kau tidak memiliki seorang adik." Potongku lagi membuatnya semakin gelisah.
"Kau mencari tau identitasku? Siapa kau sebenarnya? Dan kenapa ... jangan bilang kau orang yang mengincar Faren dan ingin melenyapkannya kan?" Tuturnya terlihat panik dan segera meraih pisau buah di dekatnya.
"Sudah ku duga kau mengetahui sesuatu, apa itu artinya kau juga tau kalau anak itu seorang perempuan? Di mana kau menemukannya?" Tanyaku penuh penekanan, berharap dia akan suka rela menjawab pertanyaanku.
"Bukan urusanmu. Aku—"
"Katakan padaku!"
"Apa yang terjadi di sini?" Suara menyebalkan itu mengejutkanku, ku ingat si Tesar sudah berdiri di dekat tangga dengan ekspresi bingungnya.
"Sayang, dia! Sepertinya anak ini berencana untuk menangkap Aster." Ucapnya benar-benar membuat napasku terhenti.
Akhirnya, apa yang ku tunggu-tunggu keluar dari mulutnya. Dugaanku selama ini, ternyata bukan sekedar pikiran gilaku saja.
Tanpa sadar air mataku sudah berjatuhan saat melihat pakaian Aster di tanganku, bahkan bayangan mengenai dirinya mulai bermunculan kembali dalam ingatanku. Dengan perasaan rindu yang menggebu-gebu, ku peluk pakaian Aster dan menciuminya sebanyak yang ku butuhkan.
Tapi rasanya masih kurang ... aku ingin bertemu dengannya, aku ingin memeluknya langsung. Aku—
"Tenanglah, dia tidak mungkin menyakiti Aster." Suara Tesar kembali membawaku pada kenyataan, ku lihat dia sudah memeluk istrinya dan merebut pisau buah ditangannya.
"Bagaimana kau bisa yakin? Aku tidak akan membiarkannya begitu saja, dia—"
"Tenanglah, biar ku jelaskan situasinya padamu."
***
-Aster-
Tubuhku benar-benar tidak bisa digerakkan saat melihat paman Rigel di hadapanku, apalagi saat dia memanggilku dengan nama asliku.
Detak jantungku semakin berpacu dengan cepat, bahkan keringat dingin mulai membasahi tubuhku.
Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya setelah berpisah dari semua orang untuk menjelaskan perasaanku pada Tami.
"Bagaimana kabarmu nak?" Tanyanya membuatku kesulitan untuk membuka mulutku.
"Sepertinya kau baik-baik saja ya? Apa kau gugup? Tenanglah, aku datang bukan untuk membunuhmu. Ayahmu, kau ingat dia kan? Aku di minta untuk membawamu dalam keadaan hidup." Lanjutnya bersamaan dengan hembusan angin yang bertiup kencang menghantam tubuhku dan paman Rigel.
"Bohong!" Seruku setelah susah payah menelan salivaku ketika merasakan tenggorokan ku mengering.
"Kenapa aku harus berbohong? Ingatan ayahmu sudah pulih, itulah kenapa dia mencarimu."
"Tidak. Aku yakin kabar kematian ku sudah tersebar, jadi—"
"Ah, sepertinya kau belum melihat berita ya?"
"Apa?"
"Ti—tidak mungkin."
"... aku benar-benar tidak menyangka kau akan mengubah penampilanmu sampai seperti ini. Pastas saja aku kesulitan mencarimu, seandainya aku tau anak yang ku temui di gudang penyimpanan itu adalah kau. Mungkin aku langsung membawamu pada Ansel." Tuturnya lagi membuat pikiranku semakin kacau. Aku bahkan tidak bisa mempercayai ucapanya itu, aku tidak tau dia berkata jujur atau tidak.
Tapi, jika seandainya ingatan ayah benar sudah pulih. Aku ... aku ingin pergi melihatnya, aku juga ingin memakinya sekali. Karenanya aku hidup ketakutan selama setengah tahun ini, dan karenanya aku .... Batinku tak bisa membayangkan ekspresi ayah saat aku bertemu dengannya nanti.
Aku tidak ingin berharap terlalu banyak, karena itu akan semakin melukai hatiku. Jadi ku putuskan untuk tidak mempercayai paman Rigel, biar bagaimanapun dia adalah orang yang paling bersemangat untuk membunuhku hari itu.
"... apa kau tidak akan ikut bersamaku?" Tanyanya menatapku dengan tajam, membuat tubuhku menggigil untuk beberapa saat.
"Tidak. Aku tidak akan—"
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Aku tidak bisa bersabar lebih banyak lagi karena saat ini hidupku juga dalam bahaya." Tuturnya memotong ucapanku, aku yang melihat ekspresi tak bersahabatnya merasa kebingungan. Padahal seperkian detik lalu dia masih menunjukan senyuman terbaiknya untuk membujuk ku, tapi kenapa ekspresinya begitu cepat berubah saat aku menolaknya?
"Apa yang kau—" tanyaku terhenti saat melihatnya menodongkan pistolnya kearahku.
Situasi yang sama dengan apa yang pernah aku alami, lagi-lagi aku harus berhadapan dengan orang-orang gila sepertinya. Bahkan ingatan buruk tentang ayah kembali muncul dalam pandanganku, rasanya sulit sekali untuk bernapas. Bahkan tubuhku yang sempat bergetar sedikit mulai berguncang hebat saat melihat lubang pistol yang mengarah padaku.
Ini buruk, ini benar-benar buruk! Lebih buruk dari sebelumnya. Apa karena tekanannya? Batinku mengingat sosok ayahnya Dean yang nyaris menembak Yuna hari itu.
***
-Carel-
Ku langkahkan kakiku secepat yang ku bisa, berlari menyusuri jalanan menuju tempat festival yang di datangi Teo dan yang lainnya setelah mendengar penjelasan dari Tesar.
Lalu di waktu yang bersamaan Teo menelponku kalau dia tidak menemukan Faren di manapun. Padahal aku sudah memerintahkannya untuk terus menempel dengan anak itu sebelum mereka pergi. Tapi kenapa dia tidak mendengarkan ku?
Sialan! Jangan lagi, aku tidak ingin kehilangannya lagi. Cukup sekali aku gagal menyelamatkannya, kali ini jangan lagi ... ku mohon. Batinku terus mengoceh sambil berlari seperti orang gila.
"Carel!" Suara paman Eric menghentikan ku.
"Paman?" Tanyaku dengan napas tak beraturan.
"Kenapa paman ada disini? Apa yang ...,"
"Kami sudah mendengar semuanya dari tuan Albert, dan sepertinya berita soal kebenaran nona yang masih hidup sudah tersebar. Itulah kenapa kami bergegas pergi untuk menemui nona sebelum ... tunggu, apa yang terjadi?" Jelasnya saat melihatku berdecak.
"Bagaimana dengan nona?" Lanjutnya membuatku menggeleng cepat sambil mengepalkan tanganku dengan erat.
"Aku lihat dia pergi ke tempat festival bersama Teo dan yang lainnya, tapi Teo memberitauku kalau dia kehilangan Aster." Jelasku menyembunyikan fakta kalau Teo tidak mengetahui identitas Faren yang sebenarnya. Itulah kenapa dia bisa bertindak ceroboh, seandainya aku memberitahu kebenarannya pada anak itu. Pasti kejadiaan ini tidak akan terjadi kan? Tapi aku tidak bisa mengatakannya sebelum aku yakin dengan pemikiranku sendiri. Bodoh bukan?
"Apa?"
"Tuan, arah jam tiga!" Seru Hans melalui earphone yang digunakan oleh Eric terdengar keras. Sepertinya dia berteriak sambil berlari? Terdengar dari suara napasnya.
Dengan cepat aku mengikuti Eric yang sudah berlari kearah yang disebutkan oleh Hans. Ku lihat ada dua orang pria asing berlari dari kejaran Hans, dan langsung menghajar mereka tanpa ampun sebelum mengikatnya.
"Musuh Veren." Gumamku.
Sial! Seandainya pak tua itu tidak menyebarkan beritanya sampai Aster aman ditanganku, semua ini pasti tidak akan terjadi. Sekarang kemana aku harus mencari Aster? Aku yakin dia sudah melarikan diri saat mengetahui berita tentangnya tersebar.
.
.
.
Thanks for reading...