Aster Veren

Aster Veren
Episode 245




-Aster-


Ku rasakan hembusan angin yang menerpa tubuhku dengan perlahan saat aku turun dari dalam mobil bersama dengan ayah. Lalu aku alihkan pandanganku ke sekitar sebelum mengikuti ayah memasuki area pemakaman.


Hari ini ... akhirnya kami datang lagi bersama, ibu. Batinku tak bisa menahan senyumanku dan berlari kecil untuk mengejar ayah, lalu ku gandeng tangan besarnya yang sangat ku rindukan itu.


Ku lihat ayah sempat terkejut dan menoleh padaku sebelum akhirnya tersenyum dan membalas gandengan tanganku dengan menggenggam tanganku dengan erat.


Sesampainya di depan makam ibu, aku dan ayah langsung membersihkan rumput yang tumbuh di sana sebelum melap batu nisan ibu dan menyiramnya dengan air. Begitupun dengan makam nenek dari pihak ibu.


Ibu, apa ibu melihat kami di atas sana? Aku merasa lega sekarang karena ingatan ayah sudah kembali. Meski kami masih sama-sama canggung untuk sekedar mengobrol kecil. Tapi perlahan-lahan hubunganku dan ayah semakin membaik, lalu kondisi ayah juga sudah semakin membaik.


Tubuh kurusnya sudah berisi sekarang, lingkaran hitam di matanya juga sudah menghilang, pipi tirusnya sudah kembali seperti sedia kala. Ayah juga sudah mulai aktif kembali dalam pekerjaannya, jadi ibu tidak perlu khawatir lagi. Batinku sambil menaburkan bunga ke atas makam ibu dan meletakan satu tangkai bunga Lily putih di atas batu nisannya.


Ku lihat ayah sudah tersenyum padaku dan meraih puncak kepalaku dengan tangan kanannya, lalu beralih memperhatikan batu nisan ibu dengan tatapan sendunya. Sepertinya ayah juga sedang mengatakan sesuatu pada ibu dalam hatinya.


Diam-diam aku memperhatikan ayah yang terlihat seperti merindukan kehadiran ibu dengan terus menatap batu nisan ibu, seolah-olah dia melihat ibu di sana. Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah mendengar cerita ibu dan ayah. Bagaimana mereka bisa bertemu dan menikah ya?


"Sudah selesai?" Tanya ayah mengejutkanku, refleks ku alihkan pandanganku pada batu nisa ibu untuk menghindari tatapan ayah yang menangkap basah diriku karena diam-diam memperhatikannya.


"Su—sudah. Kalau begitu aku akan mengembalikan ember dan lapnya ke tempat semula." Jawabku sambil bangkit dari posisi berjongkok ku, lalu ku raih ember kosong dan lap di dalamnya. Membawanya kembali ke dekat sumur.


Semua orang yang berkunjung bisa meminjam ember dan lap dari sumur untuk membersihkan batu nisan.


Setelah menyimpan kembali ember dan lap yang kami pinjam, aku pun langsung kembali ke tempat ayah. Ku lihat ayah sudah berdiri di depan batu nisa ibu bersama dengan hembusan angin yang menerpa tubuhnya dan tubuhku yang berdiri di belakang ayah, tidak dekat juga tidak terlalu jauh.


Mataku di buat membelalak saat aku melihat bayangan seorang perempuan berambut panjang mengenakan gaun berwarna putih sedang memeluk ayah dari belakang. Lalu dengan perlahan perempuan itu menoleh ke arahku dan ku lihat dia sudah tersenyum hangat sebelum menghilang dari penglihatanku bersamaan dengan hembusan angin berikutnya.


Saat aku menyadari wajah cantiknya yang sangat ku kenali, tiba-tiba bayangan ibu melesat cepat dalam ingatanku. Dan air mataku tiba-tiba menetes bersamaan dengan ayah yang sudah berbalik badan berjalan mendekatiku.


Seandainya, seandainya ibu masih hidup. Apakah kami bisa menjadi keluarga yang lebih bahagia? Batinku merasa sakit dan lega secara bersamaan.


"Kamu kenapa?" Suara ayah segera meraih wajahku dan menghapus air mataku dengan ibu jarinya.


Lalu ku gelengkan kepalaku dengan perlahan sebelum meraih tangan ayah dan menunjukan senyuman terbaik ku, "aku hanya merasa bahagia. Dan aku merasa ibu sedang memperhatikan kita sekarang." Jawabku kemudian.


Dengan perlahan ayah menarik tubuhku kedalam pelukannya, membuatku tenggelam dalam kehangatan yang ayah berikan.


***


Satu Minggu berlalu, dan hari ini aku di sibukkan kembali dengan pesta penyambutanku kembali. Aku tidak tau kenapa ayah bisa membuat acara seperti ini di saat dia sendiri sedang begitu sibuk dengan pekerjaannya?


Lalu saat ini aku tengah bersembunyi di teras paling ujung rumah. Menikmati udara malam yang sangat menyejukkan, berbeda dengan suasana panas di hall.


Karena keributan itu, ayah dan paman Arsel langsung menggeret Carel untuk meminta penjelasan darinya, dari keributan itu tuan Ian juga ikut bergabung saat melihat putranya diperlakukan dengan tidak sopan.


Dan dalam kurun waktu kurang dari satu menit, mereka bertiga langsung menoleh ke arahku secara bersamaan. Entah apa yang anak itu bilang pada ayah, paman dan tuan Ian. Tapi dari ekspresi terkejut mereka semua, aku malah tertarik dengan ekspresi tuan Ian yang terlihat lega, berbeda dengan ayah dan paman yang terlihat marah? Kemudian aku langsung pergi ke teras untuk menghindari mereka semua.


Bilangnya pesta penyambutan, tapi setelah mendengar ucapan Carel, sepertinya akan berubah menjadi pesta introgasi? Batinku sambil tertawa kecil bersamaan dengan hembusan angin yang cukup kencang.


"Ugh, aku sangat sesak sekarang. Apa karena korsetnya terlalu ketat ya? Haruskah aku minta Mila untuk melonggarkannya?" Gumamku saat merasa kesulitan untuk bernapas.


"Kakak?" Suara Khael mengejutkanku, lalu ku lihat dia sudah menutup pintu jendela teras dan berjalan mendekatiku.


"Kakak baik-baik saja?" Lanjutnya bertanya dengan ekspresi khawatirnya. Terlihat sangat menggemaskan seperti biasanya.


Aku jadi sangat penasaran dengan Khael sepuluh tahun yang akan datang. Akankah dia masih semenggemaskan ini? Aku ingin tau.


"Kakak?"


"E—ekhem, aku baik-baik saja. Hanya mencari angin." Jawabku setelah berdehem dan berkacak pinggang di hadapan Khael.


"Sungguh?"


"Iya, sungguh. Kamu terlalu mengkhawatirkan ku." Jawabku lagi sambil meraih puncak kepala Khael dan mengelusnya, "tapi Khael, apa kamu mencariku?" Lanjutku.


"Iya, mama ingin bertemu dengan kakak. Katanya sudah lama mama tidak melihat kakak, jadi aku mencari kakak untuknya." Jelasnya membuatku sedikit terkejut.


Memang benar sih, aku dan kak Wanda sudah lama tidak bertemu. Bahkan dari hari aku kembali ke rumah ini, aku juga belum melihatnya. Katanya kak Wanda sangat sibuk sampai jarang pulang, makanya Khael terus-terusan menginap di sini bersama Hana.


Tapi sekarang, sepertinya kak Wanda sudah memiliki waktu luang untuk bertemu denganku. Aku juga ingin menemuinya, sudah lama aku tidak banyak berbicara dengannya.


"Ayo kita pergi, tunjukan jalannya padaku Khael." Ucapku membuat binar matanya bersinar.


"Ya." Angguknya penuh semangat.


Lalu ku buka jendela teras di hadapanku dan Khael, membiarkan Khael keluar lebih dulu sebelum aku. Dan langkah kecilnya mulai memimpin perjalanan menuju—hall?


Apa kak Wanda ada di hall? Padahal aku belum mau kembali ke sana, bagaimana ini? Batinku merasa bimbang.


.


.


.


Thanks for reading...