
-Ansel-
Dreet... Dreet...
Suara getar ponselku membangunkanku pagi ini, dengan cepat ku raih heandphoneku yang tersimpan diatas nakas.
"Siapa yang menelpon sepagi ini?" Gumamku sambil melihat jam digital disudut kiri atas layar heandphoneku sebelum mengangkat panggilan masuk itu.
Baru pukul 04:45 pagi, dia gila ya menelpon jam segini? Batinku sebelum mengangkat panggilan masuk dari Eric.
"Ya?" Tanyaku sambil melirik kearah Aster yang masih terlelap dalam tidurnya, mencoba untuk berbicara sepelan mungkin supaya tidak membangunkannya.
"... kami berhasil menangkap orang yang mengunjungi Hans waktu itu–" Suara Eric membuat kesadaranku pulih sepenuhnya, padahal sebelumnya aku merasa masih mengantuk.
"Kalian menangkapnya?" Tanyaku sedikit menaikan nada bicaraku saking terkejutnya dan kembali melirik kearah putriku, memastikan dia tidak terbangun karena suaraku.
"Ya–iya, kami tidak punya pilihan lain. Selain itu ... sebaiknya tuan pergi ke rumah sakit dulu dan temui Hans secara langsung. Mungkin tuan akan mengerti dengan situasinya." Jelasnya terdengar ragu. Tidak, daripada ragu malah terdengar sedikit ketakutan.
"Baiklah, aku pergi sekarang." Ucapku mengakhiri panggilan Eric dan bergegas pergi dari kamar Aster menuju kamarku untuk bersiap.
***
Sesampainya di rumah sakit, aku pun langsung bergegas pergi ke ruang rawat Hans dengan tergesa-gesa.
Di ruang rawat...
Ku lihat Tomi sedang berdiri tak jauh dari tempat Hans termenung diatas ranjangnya, "sebenarnya ada apa? Kenapa Eric memintaku datang kesini?" Gumamku tak bisa mengalihkan perhatianku dari Hans, bahkan aku tidak menyadari salam hormat Tomi yang membungkukan tubuhnya sedikit kearahku.
"Laporkan situasinya!" Ucapku membuat Tomi mengangguk sebelum menoleh kembali kearah Hans.
"Hans, tuan sudah tiba. Kau bisa menceritakannya sekarang!" Ucapnya membuatku mengernyit bingung.
Ku lihat Hans sedikit tersentak saat mendengar suara Tomi sebelum menoleh kearahku. Sepertinya dia sedang melamun.
"Tuan ... anu–" Ucapnya dengan mata berkaca-kacanya.
"Kau ... tidak lupa ingatan?!" Tanyaku saat menyadari sorot matanya, "bodohnya aku sampai mempercayai ucapan dokter bodoh itu." Lanjutku berusaha mengendalikan perasaan kesalku.
Bagaimana tidak, karena orang ini aku harus menunggu lama untuk mendapatkan kebenaran dari kematian ibuku. Dan aku sangat benci menunggu.
"Kau tau kan aku benci membuang-buang waktu? Sebelum kesabaranku habis ceritakan semua yang kau tau mengenai kejadian pada hari itu!" Tuturku tak bisa berhenti menatapnya dengan tajam, bahkan tanpa sadar aku sudah memberinya tekanan.
"Maaf ...." Ucapnya sambil meremas selimut yang menutupi kakinya.
"Maaf? Apa maksudmu?" Tanyaku sambil memperpendek jarak diantara aku dan pelayan itu, "kau tidak bermaksud meminta maaf karena sudah membiarkan ibuku mati kan? Tidak bermaksud minta maaf karena sudah membohongiku juga kan?" Lanjutku sambil meraih kerah pakaiannya.
"Tu–tuan tenangkan dirimu." Suara Tomi tak ku perdulikan.
"Kenapa harus berpura-pura hilang ingatan? Kau bermaksud membuang waktuku ya?" Tanyaku lagi semakin mengencangkan genggaman tanganku dikerah pakaiannya.
"Ti–tidak, itu–"
"Kau bisa menceritakan semuanya pada tuan, Hans. Aku bisa menjamin keselamatan keluargamu, jadi beritau semuanya pada tuan." Tutur Tomi membuatku melirik kearahnya.
"Keluarga?" Tanyaku membuatnya bertemu tatap denganku, lalu ku lepaskan tanganku dari kerah pakaiannya saat mengetahui apa yang dibicarakan Tomi.
"Benar, sepertinya orang yang diceritakan Rigel itu sudah mengancam Hans dan membuatnya harus berbohong pada tuan."
"Siapa?"
"Orang yang membesuk Hans."
"Ah~" Gumamku mengingat pria yang keluar dari ruang rawat Hans membuat kesabaranku habis.
***
-Aster-
Waktu sudah menunjukan pukul 09:00 pagi. Saat aku membuka mata, ayah sudah menghilang dari kamarku. Bahkan tidak bisa ditemukan dimanapun.
"Sebenarnya papa pergi kemana? Kenapa tidak berpamitan dulu padaku? Tidak biasanya papa pergi diam-diam seperti ini ...." Gumamku sambil menyiram bunga di rumah kaca.
"Disini ternyata?" Ucap seseorang mengejutkanku setengah mati, dengan cepat ku balikan tubuhku kearah pintu masuk dan ku dapati Teo disana.
"Kagetnya ...," gumamku sambil mengelus dadaku, "tunggu! Teo?" Lanjutku mengusaikan aktifitas menyiram bungaku dan berjalan menghampirinya yang juga sudah berjalan mendekatiku.
"Yo!" Ucapnya sambil mengacungkan telapak tangan kanannya selagi tangan kirinya dimasukan kedalam saku depan celananya saat menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa malam itu tidak datang? Kau sakit?" Tanyaku sambil mengingat pesta kak Nathan malam itu.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Kalau begitu kenapa tidak datang? Harusnya kau menghubungiku kalau tidak datang, aku kan–" Tuturku segera dipotong olehnya.
"Memangnya kalau aku menghubungimu kau tidak akan datang juga?"
"Sudahlah, aku kesini mengantar seseorang. Apa ayahmu ada di rumah?"
"Tidak ada, sepertinya dia pergi pagi-pagi buta sekali."
"Ck, dasar orang sibuk." Gumamnya sambil menghela napas letih dan mengusap tengkuknya dengan tangan kanannya.
"Memangnya siapa yang datang?" Tanyaku membuatnya berhenti mengusap tengkuknya.
"Tuan Albert." Jawabnya membuatku terkesiap karena merasa terkejut dengan apa yang ku dengar dari mulut Teo.
"Ma–maksudmu tuan Albert yang itu? Su–suaminya tante Claretta?" Tanyaku terbata membuatnya mengangguk cepat.
"Kenapa? Ada apa dia mencari papa?" Lanjutku bertanya-tanya sambil bergegas kembali kedalam rumah diikuti oleh Teo.
Entahlah, saat mendengar nama tuan Albert. Rasanya hatiku menjadi serba penasaran, bahkan saat ini aku ingin tau alasannya menatap Kalea seperti itu malam itu. Apa dia tidak tau kalau orang yang ditatapnya adalah anak tirinya?
Sesampainya di ruang tamu, aku langsung bertemu dengan tuan Albert yang sedang menikmati hidangan teh hangat yang sudah tersaji dihadapannya.
"Se–selamat pagi tuan." Ucapku memberi salam padanya, membuatnya berhenti menyesap teh ditangannya dan meletakan kembali cangkir itu pada tempatnya.
"Selamat pagi, kau putrinya Ansel ya?"
"Benar, kita sudah pernah bertemu sebelumnya dipesta kak Nathan."
"Ah, benar juga. Maaf ya aku lupa, ngomong-ngomong dimana ayahmu?"
"Dia pergi pagi-pagi buta sekali, sepertinya ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan."
"Begitu ya ... kalau begitu aku akan kembali lagi saat dia sudah kembali dari pekerjaannya."
"... a–anu!" Ucapku bersamaan dengan tubuhnya yang sudah bangkit dari posisi duduknya.
"Ya?"
"Ti–tidak jadi, akan saya beritaukan kedatangan tuan pada ayah supaya dia bisa menghubungi tuan nantinya." Tuturku sambil tersenyum tipis padanya.
"Kalau begitu saya pamit dulu." Ucapnya sebelum berjalan keluar rumah diikuti olehku dan Teo.
"Hati-hati dijalan tuan." Ucao Teo yang sejak tadi membisu disampingku.
"Kau?" Lanjutnya sambil melirik kearahku setelah mobil tuan Albert melaju menuju gerbang rumah.
Padahal aku ingin menanyakan soal sikapnya pada Kalea malam itu, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Rasanya aku tidak bisa ikut campur begitu saja, dan lagi aku tidak tau apapun soal Kalea dan keluarganya. Batinku sambil mengepalkan kedua tanganku.
"Maaf ya karena tidak menemanimu malam itu." Ucap Teo mengejutkanku, apalagi saat telapak tangan kanannya meraih puncak kepalaku.
"... sepertinya semua orang sangat senang mengelus kepalaku ya?" Gumamku membuatnya segera melepaskan tangannya dari kepalaku.
"Ma–maaf," ucapnya dengan ekspresi bersalahnya yang terlihat menggelikan.
"Pft..." gumamku berusaha menahan suara tawaku sambil membuang wajahku kesembarang arah.
"Kau mentertawakanku diam-diam ya?"
"Ti–tidak tuh!"
"Bohong, aku dengar suara tawamu barusan." Ucapnya tak ku perdulikan.
Ku langkahkan kembali kakiku memasuki rumah dengan pikiranku yang simpang-siur. Entah kenapa isi kepalaku kembali dipenuhi dengan Kalea dan Carel sekarang.
"Hah, aku tidak mengerti lagi! Sebenarnya ada apa dengan mereka?" Gumamku merasa frustasi karena tidak tau apapun dan tidak bisa berbuat apapun untuk mereka.
"Gara-gara pertengkaran kemarin, ekspresi mereka jadi seperti itu." Lanjutku sambil berjongkong dan memegangi kepalaku berharap bisa menemukan satu cara untuk membantu mereka kembali berbaikan.
"Apa yang kau pikirkan? Mereka bertengkar? Siapa?" Suara Teo membuatku menoleh padanya.
"Kau masih disini? Belum pulang?" Tanyaku sambil berdiri kembali membuatnya mengernyit kesal saat mendengar ucapanku.
"Tidak boleh? Apa hanya Carel yang boleh berlama-lama main denganmu?" Tanyanya membuatku bingung dengan perubahan sifatnya yang terlihat asing bagiku. Padahal dulu Teo terlihat begitu tenang dan jarang memperlihatkan rasa kesalnya.
Meskipun kesal, dia selalu menunjukan senyumannya dan membuatnya terlihat menakutkan. Bahkan saat sedang mengejek Carel pun senyuman tipisnya tak pernah luntur dari wajahnya.
"Tidak–bukan begitu, hanya saja ... kau kan tidak pernah main ke rumah ku." Jawabku mengingat kembali beberapa momen saat aku mengajaknya main ke rumah saat Carel pergi menjemputku ke sekolah untuk main bersamaku.
Jelas-jelas dulu Teo bilang tidak suka bermain, dan dia selalu menolak ajakanku. Saat Carel mengajaknya pun dia tidak pernah mengindahkannya dan pergi dengan tenang dari hadapan Carel dan aku.
Rasanya semua orang sudah berubah ya?
.
.
.
Thanks for reading...