Aster Veren

Aster Veren
Episode 106




-Teo-


Bel pulang sekolah sudah berdering beberapa menit lalu, Aster juga sudah pergi dengan tergesa-gesa karena akan berlatih basket dengan Sean. Dan aku, saat ini aku sedang mengumpulkan seluruh keberanianku untuk menemui Kalea.


Aku mengkhawatirkannya sejak hari itu, saat dia kembali ke perpustakaan dengan ekspresi sedihnya tanpa mengatakan apapun.


Tapi saat Aster menceritakan apa yang terjadi pada Kalea serta gosip baru yang beredar soal ibunya Kalea yang tak bersalah. Aku jadi mengerti dengan perubahan sikapnya yang semakin dingin itu, sampai-sampai aku ingin melakukan sesuatu untuk meleburkan perasaan sedihnya.


Yang membuatku penasaran adalah isi surat yang didapatkan oleh Kalea dari ibunya, aku penasaran karena Kalea bersikap lebih dingin dari biasanya ..., batinku terhenti saat melihat sosok Carel dari lantai atas melalui jendela koridor. Ku lihat dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju asrama dengan ekspresi yang sulit untuk di deskripsikan.


"Apa ada masalah serius?" Gumamku yang sudah menghentikan langkahku tanpa sadar.


***


-Sean-


"Kemana dia? Kenapa belum muncul juga?" Gumamku sambil memainkan bola basket di tanganku selagi mataku mencari keberadaan Aster yang belum juga terlihat batang hidungnya.


Memikirkan bagaimana reaksinya siang tadi benar-benar membuat perasaanku sebaik ini. Padahal sebelumnya aku tidak bisa menepis pikiran buruk ku tentang ibu. Tapi saat melihat senyuman Aster, tanpa sadar pikiranku jadi teralihkan.


... tadi dia juga terlihat tidak baik-baik saja. Syukurlah aku mengajaknya untuk berlatih bersama. Batinku lagi masih memperhatikan sekitarku, berharap mataku bisa menangkap sosok Aster yang sedang berjalan mendekatiku dengan ekspresi yang belum pernah ku lihat.


"Ada apa dengan wajahmu itu?" Suara Hendric kembali terngiang dalam kepalaku, lalu ekspresi girangnya saat memasuki kamar juga kembali membayangiku.


Tidak biasanya dia segirang itu. Apa dia menemukan uang di perjalanan menuju asrama? Batinku sambil meliriknya sekilas, namun detik berikutnya anak menyebalkan itu malah menarik kursi putar yang ku duduki dan memutarnya sampai tubuhku menghadap kearahnya.


Ku lihat dia sudah tersenyum lebar dengan sorot mata jahilnya, "apa kau mau menggantikan jadwal piketku besok pagi?" Tanyanya membuatku mengernyit.


"Kenapa aku harus menggantikanmu? Lakukan saja sendiri!" Dengusku merasa kesal karena ternyata dia bersikap seperti itu karena ada maunya.


"Itu bayaran untuk informasi yang akan ku berikan padamu, kalau kau tidak mau ya tidak masalah." Tuturnya masih dengan ekspresi girangnya, entah kenapa ekspresinya malah membuatku penasaran.


Ku lihat dia sudah menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidurnya dan duduk senyaman mungkin dengan sorot matanya yang masih memperhatikanku. Dia juga mulai bersenandung.


"Informasi apa yang kau dapat saat aku tidak memintanya?" Tanyaku menghentikan senandungannya.


"Hhehe, kau tertarik? Kalau begitu sepakati dulu bayarannya." Seringainya membuatku kesal.


"Kalau tidak mau mengatakannya ya sudah, pergi sana!" Seruku sambil melempar buku tebal ditanganku dan memutar kembali kursi yang ku duduki saat buku yang ku lempar berhasil mendarat diatas kepala Hendric dan membuatnya memekik kesakitan.


"Kau ini ya!" Geramnya membuatku menoleh sekilas padanya.


"Makanya jangan memancing emosiku! Hari ini suasana hatiku sedang buruk, pergi sana!" Titahku sambil meraih buku lainnya yang tersimpan di hadapanku.


"Iyalah terserah kau saja, aku pergi!" Ucapnya membuatku menghela napas lega karena akhirnya aku bisa tenang mengerjakan tugasku kembali, tapi detik berikutnya aku dibuat terkejut dengan sosok Hendric yang tiba-tiba berbicara disampingku. Ku kira dia sudah keluar karena suara pintu dan langkah kaki yang dia buat, ternyata dia mengerjaiku?


"Tadi aku melihat Aster ditembak kakak kelas loh," bisiknya membuatku refleks menoleh kearahnya.


"Kau tertarik kan? Mau dengar ceritanya kan?" Lanjutnya sambil tersenyum jahil dengan tubuhnya yang sudah kembali berdiri dengan tegap. Lalu kedua tangannya dilipat di atas dadanya.


"Tu–kenapa aku tertarik? Lagipula, harusnya kau menceritakannya pada Teo kan? Dia kan kekasihnya Aster." Tuturku kembali membuang wajahku dari Hendric, berusaha menyembunyikan rasa penasaranku akan siapa yang sudah berani menembak Aster disaat anak itu sudah memiliki kekasih?


"Bukan tuh!" Ucap Hendric menyangkal perkataanku dan membuatku terkejut.


"Ha?" Tanyaku tak mengerti dengan ucapannya itu, padahal dia juga mengetahui kedekatan Aster dengan Teo. Tapi kenapa dia bisa berbicara seperti itu?


"Ku bilang Aster bukan kekasihnya Teo ataupun anak pembuat onar itu, siapa ya namanya? Ca–carel?" Jelasnya tak menghilangkan rasa terkejutku, tapi entah kenapa ada sedikit rasa lega yang ku rasakan jauh di dalam hatiku.


"... kau bisa mendekatinya kawan! Berjuanglah." Ucapnya sambil menepuk bahuku selagi bibirnya masih tersenyum jahil dengan sorot matanya yang mulai menggoda.


Dengan cepat ku tepis tangannya dari bahu ku. "A–apa maksudmu? Pegi sana!"


"Wah wajahmu mulai memerah, apa yang kau pikirkan?"


"Ku bilang pergi sana!"


"Hhaha, kau lucu sekali ...,"


"Iya-iya, aku pergi. Aku sudah memberitaumu jadi ku anggap bayaranku sudah ku terima. Kau yang menggantikan jadwal piketku besok pagi ya. Jangan curang dalam bertransaksi,"


"Anak ini, sudah pergi sana!"


"Maaf aku terlambat," suara Aster membuyarkan lamunanku. Ku lihat dia sudah berdiri dihadapanku dengan ekspresi lelahnya.


"Ada apa dengan ekspresimu?" Tanyaku sambil mengernyit bingung, ya bagaimana tidak bingung? Kami saja belum memulai latihannya, tapi bagaimana bisa perempuan dihadapanku ini sudah terlihat kelelahan seperti itu?


"Tidak ada, ayo mulai latihannya." Jawabnya sambil merebut bola di tanganku.


"Tidak bisa!" Seruku sambil merebut kembalu bola di tangannya.


"Kenapa?"


"Kita istirahat dulu sebentar, aku lelah menunggumu dari tadi." Dustaku setelah menghela napas panjang, berusaha meyakinkan Aster dengan kebohonganku.


Entahlah, aku hanya ingin dia beristirahat sebentar. Dan lagi entah kenapa aku mengkhawatirkannya, kenapa dia bisa datang dengan kondisi seperti itu? Apa yang sudah terjadi padanya sampai terlihat kelelahan seperti itu?


"Benarkah? Maafkan aku karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama ...,"


"Ya tidak masalah, beri aku waktu untuk beristirahat sebentar. Itu sudah cukup."


"Baiklah, kita duduk di sana saja!" Sarannya sambil menunjuk kearah kursi taman dibawah pohon rindang.


"Oke,"


***


-Aster-


"Aku harus bergegas! Sean pasti sudah menungguku di lapangan olahraga," gumamku sambil berjalan cepat menuruni anak tangga menuju pintu keluar asrama.


"Itu Aster kan?" Suara seorang perempuan menarik perhatianku. Ku lihat dia sedang bersama segerombolan perempuan lainnya di depan pintu keluar dan mereka mulai berjalan kearahku dengan langkah lebarnya.


Me–mereka tidak benar-benar mau menemuiku kan? Mereka cuma mau lewat saja kan? Batinku berusaha untuk berpura-pura tidak melihat mereka, tapi terlambat. Kini mereka sudah mengelilingiku dengan ekspresi yang sulit untuk digambarkan.


"Aster,"


"Ya–iya?" Jawabku sedikit tergugup karena untuk pertama kalinya aku dikerumuni banyak orang seperti ini, padahal biasanya orang-orang akan menghindariku.


"Bisakah kau membantuku?"


"Tidak, aku dulu. Bantu aku dulu!"


"Apa maksudmu? Kan aku yang memikirkan hal ini duluan?"


"Tidak, jelas-jelas aku dulu ...,"


Se–sebenarnya ada apa dengan mereka? Apa yang harus ku bantu? Batinku tak bisa melerai pertikaian mereka di hadapanku.


"Sudah cukup! Kalian membuat Aster kebingungan." Teriak salah satu diantara mereka berhasil membuat semuanya bungkam.


"Baiklah Aster, biar aku yang menjelaskannya. Maksud kami menemuimu adalah untuk meminta bantuan darimu, aku dengar–tidak, aku lihat kau sangat dekat dengan Carel kan? Kami semua sudah mengetahuinya, jadi–" Lanjutnya segera dipotong oleh seseorang disampingnya.


"Bantu kami untuk bisa dekat dengannya!" Ucap semua orang membuatku tak bisa berkutik saat mendengar ucapan mereka.


Mereka bilang apa? Telingaku tidak salah dengar kan? Batinku berusaha mencerna perkataan mereka disaat aku sedang terburu-buru untuk menemui Sean.


.


.


.


Thanks for reading...