
-Aster-
"Mencariku?" Tanya Carel membuatku menoleh padanya yang sudah menatap Kaela dengan tatapan dinginnya.
"A–ada apa Kalea? Apa ada yang mengganggumu?" Lanjutku ikut bertanya meski dengan terbata.
Saat melihatnya aku merasa sedikit sesak, rasanya bayangan buruk bersamanya kembali berputar dalam ingatanku secara perlahan. Aku bahkan tak berani menatap manik birunya lama-lama.
"Ayah memintaku memanggil kalian, acara utamanya akan segera dimulai." Jawabnya sebelum membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan kami.
"Arrgh, menyebalkan!" Geram Carel sambil mengacak rambutnya sekilas membuatku bingung, "ayo kembali!" Lanjutnya memimpin perjalanan kami kembali kedalam ruangan acara.
Ku lihat semua orang sudah berkumpul mengelilingi sebuah meja bundar yang menampung kue ulang tahun yang sangat besar diatasnya.
Lalu kak Nathan memotong kue itu dengan bantuan Na–din? Kenapa Nadin ada disana? Dan lagi ... penampilannya sudah berubah? Dia tidak segemuk saat SD dulu. Batinku tak bisa berpaling dari sosok Nadin yang terlihat bahagia berdiri disamping kak Nathan sambil memegangi tangan kak Nathan.
"Jangan-jangan maksud dari ekspresi Kalea itu ...." Gumamku segera melihat punggung Kalea yang berjalan menghampiri paman Victor dengan langkah kecil dan percaya dirinya.
Kalea .... Batinku lagi merasa sedih saat melihatnya tak bersemangat seperti itu, aku tau dia sangat menyukai kak Nathan. Tapi kenapa jadi seperti ini? Apa yang sudah terjadi selama aku pergi Kalea?
"Aster, kemarilah." Ucap ayah menyadarkan lamunanku dan segera berjalan cepat menghampiri ayah dengan perasaan campur aduk dalam hatiku, rasanya terlalu banyak hal yang ku terima hari ini.
"Ada apa? Apa kau lelah?" Tanya ayah saat aku sampai disampingnya.
"Tidak, aku baik-baik saja." Jawabku sambil mengulas senyum terbaik ku untuk menyembunyikan semua kebingunganku.
"Kau kedinginan?" Suara paman Victor menarik perhatianku dan membuatku menoleh pada sosok Kalea disampingku.
"Tidak." Jawabnya dengan sorot mata dinginnya, mata yang terus menatap seseorang disebrang sana.
Kalea, batinku sambil meremas telapak tanganku saat melihatnya terus memasang ekspresi seperti itu. Entahlah, aku tidak tau kenapa aku perduli padanya? Padahal dia sudah mengukir kenangan buruk untuk ku, tapi aku ... ada apa denganku?
"Siapa yang dia lihat?" Gumamku saat menyadari tatapannya tidak tertuju pada kak Nathan dan Nadin, dengan cepat ku lihat sesuatu yang dilihatnya dengan serius sejak tadi.
"Itu kan?" Gumamku saat melihat ibunya Kalea berdiri disamping seorang pria berjas hitam dengan motif garis vertikal putih bersama dua orang pria seusia kak Nathan dan Carel.
Aku lupa kalau tante Claretta sudah menikah lagi ... dia juga tampak bahagia ya? Apa dia tidak melihat putrinya ada disini? Batinku kembali melirik kearah Kalea yang masih menatap sosok ibunya dengan tatapan sedingin es.
Prok prok prok!
Suara tepukan tangan semua orang mengejutkanku yang tengah melamun, "Kagetnya!" Gumamku sambil mengelus dadaku.
"Untuk acara selanjutnya adalah sesi berdansa, silahkan semuanya berdansa dengan partner kalian masing-masing." Suara kak Nathan membuatku melongo saat semua orang mulai berpasangan, memenuhi tengah ruangan dan bersiap untuk berdansa.
"A–aku lupa ada sesi berdansa karena sebelumnya sudah berdansa dengan kak Nathan diawal acara ...." Gumamku kembali teringat dengan kejadian memalukan saat menginjak kaki kak Nathan.
Tunggu! Kalau begitu ..., Batinku segera mencari sosok kak Nathan, "sudah ku duga." Lanjutku saat melihat kak Nathan berdiri bersama Nadin ditengah-tengah ruangan, dikelilingi pasangan lainnya. Apa ini artinya Nadin partnernya kak Nathan?
"Aster?" Suara ayah mengejutkanku, "kau baik-baik saja?" Lanjutnya terlihat khawatir.
"Te–tentu saja aku baik–" Jawabku terpotong saat melihat Carel ikut berjalan ketengah-tengah ruangan bersama dengan Kalea.
Benar juga, Carel kan partnernya Kalea ... kalau begitu, apa Teo tidak datang? Sejak tadi aku tidak melihatnya. Batinku bertanya-tanya.
"Mau berdansa denganku saja?" Tanya ayah membuatku terkejut.
"Me–memangnya boleh seperti itu?"
"Permisi," suara seorang pria bersamaan dengan alunan musik klasik yang mulai beralun kembali mengiringi semua orang yang sedang berdansa.
"Ya?" Tanyaku sebelum menoleh pada sosok dihadapanku.
"Maukah berdansa satu lagu denganku?" Tanyanya membuatku melongo saat melihat sosok pria bertubuh tinggi dengan rambut putihnya yang terikat sebahu. Bahkan senyumannya terlihat begitu tulus dengan manik merahnya yang menatapku dengan intens bersama telapak tangannya yang sudah terulur padaku.
"Ah, dia kakaknya Carel. Ini pertama kalinya kamu bertemu dengannya ya? Dwi kenalkan dia Aster temannya Carel." Lanjutnya sambil tersenyum lebar padaku sekaligus memperkenalkanku pada putra pertamanya.
"Ah–hallo namaku Aster, senang bertemu dengan kak Dwi." Tuturku memperkenalkan diriku sendiri.
"Kau boleh menolaknya Aster." Suara ayah terdengar tak bersahabat membuatku terkejut.
"Mulai lagi, kau senang melihat putrimu berdiri disini sendirian karena partnernya tidak datang ya?" Jelas ayahnya Carel begitu menusuk hatiku. Apa yang dikatakannya memang benar, aku bahkan tidak tau alasan Teo tidak datang malam ini dan membuatku hadir tanpa seorang partner.
"Kau buta ya Ian? Aku ada bersamanya sekarang, jadi dia tidak sendirian." Balas ayah bersamaan dengan tangan kak Dwi yang sudah menarik tanganku ke tengah-tengah ruangan dan bergabung bersama yang lainnya.
"Kau, beraninya kau membawa putriku!" Ucap ayah tak begitu jelas terdengar karena alunan musik dan suara bisikan beberapa orang tua yang masih setia menonton putra-putrinya yang sedang berdansa.
"Jangan khawatir, aku akan memandumu dengan baik, aku tidak mau membuat adik ku marah." Tutur kak Dwi mengalihkan perhatianku dari sosok ayah yang kembali dipegangi oleh ayahnya Carel, bahkan paman Victor dan paman Rigel sudah menghilang dari sisi mereka. Mereka kabur?
"Carel ... marah? Kenapa?" Tanyaku tak mengerti dengan ucapannya.
"Kau lihat dia? Padahal dia sedang berdansa dengan parnertnya tapi matanya tak bisa berpaling darimu. Sepertinya dia sangat menyukaimu ya?" Jelasnya membuatku melirik kearah Carel yang terlihat kesal menatap kearahku.
"Se–sepertinya dia tidak menatapku," Gumamku merasa tatapannya tidak tertuju padaku.
"Eh? Kalau bukan padamu, apa mungkin dia menatapku?" Tanyanya sambil melirik sekilas pada Carel, "sepertinya kau benar. Dia benar-benar menatapku dengan tajam, menakutkan!" Lanjutnya bergumam.
"Hhaha ... Carel memang selalu seperti itu." Tawaku tak bisa menahan diri saat melihat ekspresi kak Dwi yang terlihat lucu, bagaimana bisa dia terlihat ketakutan pada adiknya sendiri? Padahal dia kakaknya.
"Sepertinya dia sudah banyak berubah berkatmu ya? Apa dia selalu menyulitkanmu?" Tanyanya dengan senyum tipis dan tatapan hangatnya.
"Tidak, justru Carel yang selalu membantuku." Jawabku sambil mengikuti pergerakannya, dia benar-benar pandai berdansa ya? Sejak tadi kakiku belum menginjak kakinya sekalipun, padahal sebelumnya aku sudah menginjak kaki kak Nathan.
Saat latihanpun aku sudah menginjak kaki Carel.
"Benarkah?" Tanyanya terlihat lega.
"Emh–itu ... apa kak Dwi tidak akrab dengan Carel?" Tanyaku saat merasakan tatapan yang menusuk dari arah Carel.
"Ti–dak juga, abaikan saja dia." Jawab kak Dwi dengan senyuman kakunya, sepertinya dia juga merasakan tatapan Carel yang tertuju padanya sejak tadi.
***
-Carel-
Kenapa dia ada disini? Kapan dia datang? Kenapa aku tidak tau? Apa ini rencana ayah juga? Beraninya dia berdansa dengan Aster dan sok keren dihadapannya. Batinku bertanya-tanya dengan perasaan kesalku.
"Balum apa-apa mereka sudah akrab ya?" Gumamku tanpa sadar mengeratkan genggaman tanganku dan membuat Kalea memekik.
"Kau bodoh ya?" Ketusnya sambil meringis, "aku tau kau menyukai Aster, tapi untuk sekarang bisakah kau fokus padaku dulu?" Lanjutnya dengan tatapan dinginnya.
"Bagaimana bisa aku fokus pada orang yang sudah menyakiti Aster berkali-kali?" Tanyaku membuat tatapan dinginnya menajam.
"Aku tau masa laluku sangat buruk, aku juga menyesali perbuatanku pada Aster. Jadi maafkan aku, dan berhenti mengungkit masa laluku ... kau pikir aku senang berdansa denganmu?" Jelasnya sambil melirik kearah Nathan sekilas, lalu beralih pada sosok ibunya yang sedang duduk bersama keluarga Ravindra.
Wanita itu tampak bahagia berbincang dengan orang-orang penting sampai melupakan kehadiran putrinya disini. Bahkan sejak tadi tatapannya hanya terfokus pada kedua anak tirinya yang sedang berdansa bersama pasangan mereka.
Apa dia sudah melupakan putrinya? Ibu macam apa dia? Batinku tiba-tiba merasa kesal untuk Kalea.
"Sepertinya aku harus belajar berhenti membencinya ya?" Gumamku sambil memperhatikan ekspresi Kalea yang tak seperti dirinya yang dulu.
.
.
.
Thanks for reading...