
-Aster-
Hari ini sangat melelahkan, kenapa juga aku harus meladeni Teo yang seperti itu? Tenagaku jadi habis karenanya. Batinku sambil berjalan menuju kelasnya Kalea untuk pulang ke asrama bersamanya.
"... tapi hari ini, aku juga merasa senang bisa belajar basket bersamanya," lanjutku bergumam sambil mengingat sosok Sean yang mengajariku cara bermain basket dengan benar. Menepis bayangan buruk ku bersama Teo saat dilapangan olahraga.
Dia seenaknya menggendongku dan membawaku ke ruang kesehatan, benar-benar sangat menjengkelkan. Batinku mengingat perhatian semua orang yang membuatku merasa malu setengah mati.
Dan lagi ... aku pikir Sean tidak akan mau berpasangan denganku sebagai pasangan berlatihnya, aku sempat takut saat semua orang memperhatikanku yang sok dekat dengan Sean.
Saat itu aku juga sempat berpikir, jangan-jangan Sean juga mempercayai gosip buruk mengenai keluargaku yang menjebak keluarga Alaric dan membuat keluarganya berantakan seperti ini. Tapi untungnya pikiranku terhapus saat melihat dia mau berpasangan denganku.
"Kosong ...," gumamku saat sampai di depan kelas Kalea, ku lihat ruangannya sudah kosong dengan deretan meja yang sudah dirapikan.
Apa sudah pulang duluan ya? Tapi kan Kalea berjanji akan mengawasiku ... atau dia menunggu di depan akademi ya? Lanjutku dalam hati sambil melangkahkan kaki ku menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Aster!" Suara seorang pria berseragam hitam putih dengan dasi merah mengejutkanku, membuat langkahku terhenti tepat di anak tangga terakhir.
Kakak kelas? Siapa? Batinku memperhatikan dasi yang dikenakannya, berbeda dengan warna dasi yang ku pakai.
"Namamu Aster kan?" Tanyanya membuatku mengangguk ragu.
"Ada yang ingin ku katakan, bisa kau ikut denganku ke taman belakang akademi?"
"Apa tidak bisa mengatakannya disini?" Tanyaku merasa lelah, berharap dia mau mempertimbangkan kembali ucapannya. Jika ditanya kenapa? Ya karena aku memang lelah, bukan berpura-pura lelah untuk membuat alasan. Tapi taman belakang akademi itu cukup jauh dari posisiku sekarang. Dan aku malas berjalan jauh ke sana hanya untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh kakak kelas dihadapanku ini. Jika dia bisa mengatakannya disini kenapa harus mengajak ku pergi ke tempat lain? Selain itu aku juga harus menemukan Kalea secepatnya. Aku akan merengek jika berhasil menemukannya ...,
"Ba–baiklah, aku akan mengatakannya disini. Jadi itu ...," tuturnya menyetujui keinginanku, dan ku lihat dia sudah berdiri tegap menghadapku dengan ekspresi yang sulit untuk ku jelaskan.
"A–aku sudah lama memperhatikanmu dan aku menyukaimu, jadi–itu ... jadilah pacarku Aster!" Lanjutnya setelah menghela napas panjang sebelum mengutarakan isi pikirannya itu.
Aku yang mendengar pengakuannya itu hanya bisa mematung saking terkejutnya. Lalu perlahan ku rasakan wajahku memanas karena merasa malu dengan situasiku saat ini. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya ada orang yang menyatakan perasaannya padaku seperti ini. Padahal biasanya orang-orang akan menjauhiku karena merasa takut, jika dulu mereka menjauhiku karena perintah dari Kalea dan Nadin.
"Itu aku–" Ucapku terhenti saat melihat sosok Kalea yang berdiri dibelakang pria yang ada dihadapanku dengan ekspresi terkejutnya.
"Ya?" Tanyanya menyadarkanku akan sosoknya yang sempat ku lupakan karena terlalu fokus pada Kalea yang tiba-tiba muncul dibelakang pria itu.
"Ah, emh ... te–terima kasih. Tapi sepertinya aku tidak bisa menjadi pa–pacar kakak, maaf. Maafkan aku ...," Tuturku terbata-bata sebelum membungkukan tubuhku pada kakak kelas dihadapanku.
"Apa karena kau sudah berpacaran dengan orang lain?"
"Eh? Tidak," jawabku kembali menegapkan tubuhku dan menatap bingung sosoknya yang terlihat sedih.
***
-Hendric-
"Anak itu pergi duluan?" Gumamku sambil menuruni anak tangga dengan perasaan kesalku karena teman sekamarku tidak menungguku selesai piket. Padahal dia selalu memintaku untuk menunggunya, tapi disaat aku memintanya untuk menungguku, dia malah meninggalkanku. Benar-benar tidak adil.
"Aster!" Suara seorang pria menghentikan langkahku saat aku melihat sosok Aster dibawah anak tangga, dan ku lihat pria itu berdiri dihadapannya.
Kakak kelas ya? Batinku mengurungkan niatku untuk turun saat melihat mereka menghalangi jalan.
"Namamu Aster kan?" Suara pria itu kembali terdengar olehku yang masih berdiri di tempatku, "ada yang ingin ku katakan, bisa kau ikut denganku ke taman belakang akademi?" Lanjutnya membuatku terkejut.
Ini? Batinku merasa tak asing dengan situasi yang ku lihat saat ini.
"Mungkinkah orang itu–" Lanjutku mulai menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Apa tidak bisa mengatakannya di sini?" Kali ini suara Aster yang ku dengar.
"Siapa orang itu? Kenapa suaranya terdengar malu-malu seperti itu?" Gumamku berusaha melihat pria yang sedang berdiri dihadapan Aster, tapi tidak bisa ku lihat karena tubuhnya terhalang oleh Aster, dan lagi kepalanya sedikit tertunduk, membuatku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"A–aku sudah lama memperhatikanmu dan aku menyukaimu, jadi–itu ... jadilah pacarku Aster!" Lanjutnya dengan lantang, membuatku terkejut untuk yang kedua kalinya.
Benar saja dugaanku, pria itu berniat mengajak Aster berpacaran dengannya. Batinku memperhatikan punggung Aster dari atas, tubuhnya benar-benar mematung di tempat. Apa dia sangat terkejut mendengar orang itu mengutarakan isi hatinya?
"Itu aku–" Ucapnya setelah lama membisu. Mungkin saking terkejutnya dia sampai membatu di tempat dan melupakan orang dihadapannya.
"Ya?"
"Ah, emh ... te–terima kasih. Tapi sepertinya aku tidak bisa menjadi pa–pacar kakak, maaf. Maafkan aku ...," lanjutnya terbata-bata.
Di–ditolak?! Dan aku tidak salah dengar kan? Anak itu bilang kakak? Apa dia kakak kelas? Batinku merasa bersimpati pada sosok yang sudah ditolak oleh Aster. Meski aku tidak tau dia siapa? Tapi sebagai seorang laki-laki, aku jadi merasa kasihan padanya.
"Apa karena kau sudah berpacaran dengan orang lain?" Tanyanya terdengar sedih.
"Eh? Tidak," jawab Aster kembali menegapkan tubuhnya yang sempat menunduk untuk meminta maaf pada pria dihadapannya.
"Tidak? Apa itu artinya pria berambut pirang itu bukan pacarnya?" Gumamku mengingat sosok Teo yang terlihat dekat dengan Aster.
Lalu tanpa sadar sudut bibirku sudah tertarik ke atas saat memikirkan hal bagus untuk menjahili Sean. Mengingat dulu dia sangat memperhatikan Aster di hari pertamanya masuk akademi, dia juga terus menerka-nerka hubungan Aster dan Teo sesuka hatinya.
Tapi bagaimana jika ku beritau kebenarannya ya?Kira-kira reaksi apa yang akan dia tunjukan padaku?
"Sial!" Ucapku saat menyadari perbuatan buruk ku saat ini. Tanpa sadar aku sudah menguping pembicaraan mereka.
***
-Kalea-
"Kenapa Aster belum juga turun?" Gumamku sambil memperhatikan jam tanganku yang sudah menunjukan pukul 03:45 sore.
Lalu ku putuskan untuk menyusulnya ke kelasnya, namun langkahku terhenti saat melihat seorang pria tengah berbicara dengan seseorang dihadapannya.
Menghalangi jalan saja, batinku merasa kesal karena langkahku harus terhenti karena mereka.
"A–aku sudah lama memperhatikanmu dan aku menyukaimu, jadi–itu ... jadilah pacarku Aster!" Ucap pria yang memunggungiku membuatku terkejut setengah mati saat mendengar pengakuannya.
"Dia bilang Aster kan?" Gumamku sedikit meragukan indra pendengaranku, dan ku langkahkan kaki ku mendekati mereka. Memastikan seseorang yang sedang berbicara dengannya.
"Itu aku–" Suara Aster terhenti saat bertemu tatap denganku.
Su–sungguh? Itu benar Aster? Batinku merasa tak percaya dengan apa yang ku lihat.
"Ya?" Suara pria dihadapannya menyadarkanku dari rasa terkejutku.
"Ah, emh ... te–terima kasih. Tapi sepertinya aku tidak bisa menjadi pa–pacar kakak, maaf. Maafkan aku ...," Tutur Aster terbata-bata sebelum membungkukan tubuhnya pada pria dihadapannya.
Di–ditolak?! Dan lagi ku dengar Aster memanggilnya kakak, apa dia ... kakak kelas? Batinku lagi tak bisa mengatakan apapun. Rasanya jantungku akan copot jika satu kali lagi dibuat terkejut oleh salah satu diantara mereka.
.
.
.
Thanks for reading...