Aster Veren

Aster Veren
Episode 42




-Aster-


Tok tok tok!


Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar, tak lama kemudian pintu kamar nenek pun terbuka dan menampilkan sosok paman Tomi yang berdiri diambang pintu.


"Nyonya, tuan Ansel sudah tiba." Ucapnya membuat nenek bergegas.


"Kalau begitu kalian tunggu disini dulu ya, nenek akan segera kembali." Tutur nenek sebelum pergi dari kamarnya.


"Ayah sudah datang ...." Gumamku sambil meraih cangkir coklat panas yang sudah menghangat dihadapanku.


"Hah ...," Gumam Carel sambil menghela napas lega membuatku menoleh kearahnya yang sudah menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa dibelakangnya.


Ada apa dengannya? Batinku bertanya-tanya saat melihat ekspresi lesunya.


"Padahal baru sepuluh menit nenek bercerita soal ayah dan paman," lanjutku sambil melirik kearah pintu kamar nenek yang sudah tertutup rapat.


Aku ingin dengar soal ayah dan paman lebih banyak lagi.


"Ada apa?" Suara Carel meruntuhkan lamunanku, membuatku menoleh padanya yang sudah menopang dagu diatas kakinya yang sudah ditumpangkan pada kaki lainnya.


"Carel ... wajahmu lebih baik dari sebelumnya ya?" Jawabku tak bisa melepaskan pandanganku dari ekspresi Carel yang semakin membaik.


"A–apa maksudmu?" Tanyanya tergugup dengan sedikit rona merah diwajahnya.


"Tadi saat ada nenek, wajahmu terlihat pucat. Tapi sekarang lebih baik dari–" Jelasku segera dihentikan olehnya.


"Berisik!" Tegasnya sambil bangkit dari tempat duduknya, "kita keluar saja dari sini, aku mulai bosan menunggu nenek tua itu." Lanjutnya segera meraih pergelangan tanganku, memaksaku untuk mengikuti langkahnya setelah menyimpan cangkir ditanganku pada tempatnya semula.


Nenek tua? padahal bagiku nenek terlihat masih muda, bagaimana bisa Carel bilang nenek ku tua? Batinku mengingat kembali wajah nenek yang terlihat awet muda itu.


"... kita mau kemana?" Tanyaku setelah keluar dari dalam kamar nenek.


"Hem ...." Gumamnya terlihat kebingungan selagi tangannya masih menggandeng tanganku dan terus melangkah menjauhi kamar nenek.


Kenapa anak ini selalu menggeretku kesana-kemari sesukanya? Batinku merasa sedikit kesal dengan kebiasaannya itu.


"Aku tau!" Lanjutnya membuatku terkejut.


"Eh? A–apa?" Tanyaku langsung mendapat lirikan dari Carel.


"Ikut saja, nanti kamu juga tau." Jawabnya sambil menunjukan senyuman lebarnya. Mau tak mau aku pun pasrah mengikuti langkah Carel tanpa banyak bicara.


"Sampai." Ucapnya tepat didepan sebuah piano besar dihadapan kami.


"Piano?" Gumamku sambil melirik kearah Carel yang sudah memperhatikanku sejak tadi.


"Ku dengar kamu digantikan Kalea saat pentas seni waktu itu, mau main bersamaku?" Jelasnya sambil menunjuk piano dihadapannya membuatku ingat dengan ucapan paman yang terdengar menghiburku waktu itu.


Waktu itu paman menghiburku kan? Sepertinya wajahku terlalu gampang dibaca, paman juga bilang punya piano dirumahnya. Tapi sampai sekarang aku belum pernah menunjukan kemampuan bermain pianoku pada paman, padahal waktu itu paman bilang aku boleh menunjukan permainanku padanya. Batinku tak bisa melepaskan pandanganku dari piano itu.


"Ya." Jawabku sambil mengangguk cepat dan membalas senyuman lebar Carel yang membuatku bersemangat.


"Carel bisa main piano juga?" Lanjutku bertanya saat kami duduk dibangku yang sama.


"Kau meremehkanku?" Tanyanya dengan nada sinis sambil membuka penutup keyboard piano dihadapannya.


"Bu–bukan begitu, aku–"Jawabku segera dipotong olehnya.


"Sudahlah, kau mau main lagu apa?" Tuturnya sambil meraih buku yang tersimpan diatas piano.


"Hem ...." Gumamku mulai memikirkan lagu apa yang ingin aku mainkan. Namun belum sempat aku menjawab pertanyaan Carel, anak itu sudah bangkit dari tempat duduknya dan langsung berjalan kearah lemari besar disudut ruangan.


"Ternyata masih ada disini, ku kira sudah dibuang." Tuturnya membuatku bingung saat tangannya meraih sesuatu dihadapannya.


Apa yang dia raih? Batinku bertanya-tanya.


"Aku main ini saja." Ucapnya sambil berbalik badan kearahku dan menunjukan biola ditangannya.


"Oke." Ucapnya sambil tersenyum lebar dan berjalan mendekatiku yang sudah bersiap dengan piano yang akan ku mainkan.


***


-Ansel-


"Setelah pembagian raport Aster, aku akan langsung mengurus semua surat-surat pindah sekolahnya. Ibu tidak perlu khawatir," tuturku setelah meminum teh hijau dicangkir teh ku.


"Baguslah kalau begitu ... lalu kenapa kau datang?" Ucap ibu setelah menghela napas letihnya, lalu detik berikutnya ibu melirik kearah Arsel yang sedang asik memainkan ponselnya.


"Aku?" Tanyanya saat merasa diperhatikan oleh ibu, "aku mau bertemu dengan keponakanku." Lanjutnya sambil menyeringai dan memasukan ponselnya kedalam saku celana berbahannya.


"Kau bilang hari ini ada tamu penting kan? Kenapa malah datang ke rumah ibu?" Tanyaku sambil menyimpan cangkir teh ditanganku pada tempatnya.


"Tak ada tamu yang lebih penting dari keponakanku." Jawabnya membuatku merasa geli untuk beberapa saat.


"Sepertinya kau kerasukan sesuatu ya?" Gumamku tak bisa membayangkan sikapnya yang seperti itu, padahal biasanya dia tidak pernah mau datang ke rumah ibu.


Sifatnya yang tak mau membuang-buang waktu untuk berbincang ringan seperti saat ini pun, seharusnya masih melekat padanya kan? Meski aku sendiri gila kerja, adik ku ini juga sama gila kerjanya. Tapi dia bilang ingin bertemu dengan Aster dan langsung datang ke rumah ibu. Tidak kah itu aneh?


"Sepertinya kau sangat menyukai Aster ya ...." Gumam ibu sambil tersenyum tipis pada Arsel.


"Haha... dia anak yang baik juga pintar. Sudah pasti aku menyukainya, kalau bisa sih aku ingin tinggal dengan Aster selamanya." Jelasnya sambil menunjukan senyuman tipisnya.


"Kau gila?" Tanyaku mulai angkat bicara lagi, entah kenapa aku malah merasa kesal padanya sekarang. Aku tidak suka melihat ekspresinya yang seperti itu.


"Siapa yang gila hah?!" Ucapnya terdengar kesal.


"Pft... sudah-sudah kenapa malah bertengkar? Kalau Aster melihat kalian bertengkar seperti ini, bisa-bisa dia mengira kalian seperti anak kecil." Tutur ibu membuatku menoleh kearahnya yang sedang berusaha menahan tawanya.


"Cih." Decih Arsel membuatku kesal, apalagi saat melihatnya membuang muka dariku.


Anak ini benar-benar! Batinku berusaha menahan emosiku, bersamaan dengan itu aku mendengar alunan musik yang tak asing ditelingaku, suara yang membuatku merasa nostalgia.


"Air (On a G String)—Johann Sebastian Bach." Gumamku mengingat Helen yang sedang bermain piano membawakan lagu Johann Sebastian Bach.


"Rasanya sudah lama tidak mendengar suara seperti ini ...." Lanjut ibu membuatku melirik kearahnya, ya karena biasanya ayah yang selalu memainkan piano di ruang musik.


"Hee... mungkinkan Aster yang memainkan piano ayah?" Guman Arsel membuatku dan ibu saling melempar pandangan untuk beberapa detik.


Aster bisa main piano? Batinku bertanya-tanya.


"Suara biola ini, pasti anak menyebalkan itu." Lanjutnya langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Ibu dengar pentas seni waktu itu Aster tidak jadi tampil karena digantikan orang lain kan?" Tanya ibu saat bertemu tatap dengan Arsel.


"Begitulah." Jawabnya singkat.


"Kalau gitu, ibu mau lihat permainan Aster." Ucapnya penuh semangat dan langsung pergi dari ruang kerjanya, meninggalkanku dan Arsel begitu saja.


"Padahal kita belum selesai dengan pembicaraan ini ...." Gumamku ikut bangkit dari posisi duduk ku dan mulai mengikuti langkah Arsel menuju ruang musik yang bersebelahan dengan perpustakaan pribadi milik ibu.


Sesampainya di ruang musik, mataku benar-benar dibuat terpaku pada sosok Aster yang sedang bermain piano dengan ekspresi yang sulit untuk ku gambarkan. Tapi aku tau kalau dia merasa bahagia memainkan lagu Air (On a G String)—Johann Sebastian Bach bersama dengan Carel yang bermain biola disampingnya, terlihat dari senyumannya yang tak kunjung memudar dari paras cantinya.


Dia terlihat bersenang-senang bersama Carel ya .... Batinku ikut tersenyum memperhatikan kedua anak dihadapanku.


"Dia benar-benar mirip dengan ayah ya ...." Tutur Arsel membuat ibu mengangguk cepat menyetujui ucapan putra bungsunya itu.


Ayah memang sangat suka bermain piano, tapi bagiku Aster adalah putriku yang mewarisi kemampuan Helen ... biar bagaimanapun yang mengajarinya bermain piano adalah ibunya, bukan ayahku dan orang lainnya. Aku tau dari cara bermainnya. Batinku tak bisa berpaling dari sosok Aster.


.


.


.


Thanks for reading...