Aster Veren

Aster Veren
Episode 192




-Aster-


"Jangan bercanda, kalau kamu berhenti sekolah bagaimana dengan Sarah? Bukankah kalian sudah berjanji akan lulus bersama dan pergi ke kota?" Ucapku tidak suka mendengar keputusannya itu.


"Tapi—"


"Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku." Potongku setelah membulatkan tekad ku untuk meminta bantuan pada paman Albert.


Ku lihat Dean juga tidak menanggapi ucapanku dan kembali memperhatikan tangannya yang sudah selesai ku perban. Kali ini entah apalagi yang sedang dia pikirkan dengan ekspresi seriusnya itu.


"Istirahatlah di kamarku. Aku akan tidur di sini." Lanjutku sambil membereskan kotak P3K dihadapanku.


"Kenapa kamu harus tidur di sini dan aku tidur di kamarmu?" Tanyanya terlihat bingung.


Benar juga! Dia pasti bingung kenapa kami harus tidur terpisah kan? Batinku yang sempat lupa kalau aku sekarang sedang berakting menjadi seorang anak laki-laki.


"Itu, ka—kau kan tau kamarku kecil. Jadi—"


"Aku bisa tidur di lantai bersama Yuna. Jadi kau bisa tidur di kasur."


"Tidak! Bagaimana aku bisa melakukan hal seperti itu pada kalian? Sekarang kan kalian tamu di rumah ini." Kilahku tidak menyetujui idenya itu.


"Ya sudah, kalau begitu kau tidur di kasur bersama Yuna. Biar aku yang tidur di lantai."


"Kamu, kamu tidak dengar ucapanku barusan ya?" Tanyaku tak mendapat jawaban darinya, bahkan anak itu sudah pergi ke kamarku lebih dulu. Meninggalkanku yang masih sibuk membereskan kotak P3K dihadapanku dan semua kapas yang berserakan diatas meja untuk membersihkan luka Dean tadi.


Ku hela napasku sebelum bangkit dari tempatku dan pergi ke dapur untuk menyimpan kembali kotak P3K yang ku ambil dari tempatnya.


"Sepertinya rumor yang beredar itu benar ya?" Suara paman yang sudah berdiri di ambang pintu dapur, mengejutkanku yang sedang melamun memikirkan caraku untuk meminta bantuan pada paman Albert.


"Paman?"


"Apa anak itu menceritakan semuanya padamu?" Lanjut paman yang sudah berjalan masuk kedalam dapur dan duduk didepan meja makan.


"Iya, seperti rumor yang beredar. Dean bilang dia lari dari rumah 3 tahun lalu karena tidak tahan dengan perlakuan ayahnya. Dan sepertinya orang yang disebut ayahnya itu sudah menemukan keberadaan anak-anaknya. Siang ini juga aku melihat orang itu mengikutiku dan Yuna." Tuturku menjelaskan apa yang ku ketahui.


"Aku tidak tau seburuk apa perlakuan yang mereka terima. Tapi jika mereka bersikeras untuk lari dari ayahnya, bukankah perlakuannya lebih buruk dari yang kita bayangkan? Apalagi ku dengar ibunya masuk kerumah sakit jiwa karena ganggan mental." Lanjutku tak bisa menatap mata paman. Entah kenapa membayangkan wajah Dean, dan pria yang mengikuti Yuna siang ini membuatku merinding. Apalagi saat orang itu berniat melukai putrinya.


"Paman, aku tau situasiku saat ini juga sama berbahayanya. Tapi bisakah kita membantu mereka?" Tanyaku kemudian setelah mengumpulkan seluruh keberanianku. Tapi aku tidak mendapatkan jawaban apapun dari paman selain dari ucapannya yang memintaku untuk beristirahat.


***


Malam berlalu begitu saja setelah aku kembali ke kamar dan tidur di kasur bersama Yuna. Meski awalnya aku bersikeras untuk tidak tidur di ruangan yang sama dengan anak itu, tapi mau bagaimana kalau dia terus memaksa? Kalau aku terus menolak, bisa-bisa dia mencurigai ku kan?


"Kamu baru bangun? Apa aku membangunkanmu?" Suara Dean mengejutkanku, air mukanya juga terlihat canggung berdiri di dekat pintu.


"Tidak, tapi sepertinya kamu bangun lebih awal ya ...," gumamku menatap manik hitamnya itu.


"Aku harus membantu paman Tesar di dapur. Jadi aku bangun lebih awal."


"Ah begitu."


"Kalau begitu pergilah mandi dan bersiap, bibimu sudah menunggu di dapur. Aku akan turun sekarang." Tuturnya segera meraih pintu kamar dihadapannya.


Lalu ku anggukan kepalaku dengan lemas, dan segera bangkit dari tempat tidurku. Meninggalkan Yuna yang masih nyenyak terlelap dalam tidurnya.


"Syukurlah kamu tidak terluka." Gumamku mengelus keningnya sekilas. Entah kenapa melihat anak ini, aku seperti merasa melihat diriku sendiri. Bedanya dia memiliki Dean sebagai kakaknya, tidak sepertiku yang tidak memiliki siapapun.


"Ayo pergi mandi dan bersiap!" Seruku setelah puas memperhatikan wajah damai Yuna yang masih tertidur.


Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, setelah itu bersiap dengan celana jeans dan kaos hitam berukuran besar dengan lengan pendek. Lalu bergegas pergi menemui bibi yang masih sibuk di dapur.


"Bibi?"


"Faren bibi." Potongku membuat bibi tersenyum tipis.


"Benar, aku harus berhati-hati karena sekarang ada orang lain yang tinggal di rumah kita." Tutur bibi setelah menghela napas singkat dan kembali pada pekerjaan memasaknya.


"Benar. Lalu ... serahkan sisanya padaku." Ucapku segera mengambil alih spatula di tangan bibi.


"Eh? Apa yang kamu lakukan?"


"Bibi duduk saja, aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Jawabku sambil menunjukan senyuman lebarku. Berusaha untuk meyakinkan bibi.


"Hah~ kamu ini selalu saja memanjakan ku. Padahal aku sudah bilang kondisiku sudah membaik." Tutur bibi segera meraih kursi didekatnya.


"Hehehe, bibi kalau ada hal yang bibi mau bibi bisa meminta bantuanku. Jangan mengerjakannya sendiri oke."


"Sudah cukup, jangan memperlakukanku seperti anak kecil."


"Tapi aku tidak memperlakukan bibi seperti anak kecil tuh. Apa bibi merasa begitu? Aku tidak tau kalau bibi merasa seperti itu. Padahal aku hanya menunjukan sedikit perhatian dan rasa sayangku pada bibi. Apa bibi tidak menyukainya?" Ocehku lagi sambil mematikan kompor dan menghidangkan nasi goreng yang bibi buat keatas piring.


"Bagaimana bibi bisa tidak suka?" Tanya bibi dengan mata berkaca-kacanya, membuatku terkejut saat menoleh pada bibi.


"Bibi—menangis? Kenapa?" Tanyaku disela-sela terkejut ku.


"Bibi tidak menangis!"


"Benarkah? Lalu itu yang keluar dari mata bibi apa?"


"Aku—ini hanya karena kelilipan."


"Ya-ya baiklah, silahkan dimakan bibi. setelah ini aku juga akan turun membantu paman." Tuturku kemudian setelah menghidangkan makanan untuk bibi dan berjalan kearah wastafel untuk mencuci semua piring kotor.


"Kamu tidak makan?" Tanya bibi merasa bingung dengan apa yang aku lakukan. Ya mau bagaimana lagi, aku tidak bisa membiarkan bibi melakukan cuci piring lagi seperti terakhir kali.


"Aku akan makan nanti setelah selesai mencuci piring."


"Makanlah dulu—"


"Bibi duluan saja." Potongku sambil menoleh kearah bibi dan menunjukan senyuman terbaik ku.


"Huh baiklah."


***


Ku langkahkan kakiku memasuki dapur toko, mendapati paman dan Dean yang sedang sibuk membuat roti.


"Kamu datang." Ucap paman membuatku tersenyum tipis dan meraih celemek yang biasa aku gunakan.


"Tentu saja. Apa paman membutuhkan bantuanku juga?"


"Tidak, kamu bersihkan toko saja."


"Ya-ya baiklah." Angguk ku setelah menghela napas singkat, mencoba untuk menenangkan diriku yang merasa kesal dengan jawaban paman. Aku merasa paman begitu memanjakan ku, sejak toko dibuka paman tidak pernah membiarkanku bekerja di dapur.


Padahal aku juga ingin belajar membuat roti ... tapi kenapa paman sangat tidak peka?


.


.


.


Thanks for reading...