
-Ansel-
Setelah melihat anak itu berpamitan untuk kembali ke negaranya beberapa hari yang lalu. Akhirnya aku juga akan kembali ke negaraku setelah selesai mengurusi semua urusanku di sini. Rigel juga akan ikut kembali bersamaku.
"Apa semuanya baik-baik saja tuan?" Tanya Rigel yang duduk disamping supir, memperhatikanku dari kaca spion mobil bagian dalam.
Entahlah, saat ini perasaanku tidak karuan karena tiba-tiba mengingat sosok anak itu. Anak yang begitu mirip dengan Helen, belum lagi Ian. Dia datang mengunjungiku dan membicarakan soal rencana yang kami susun sudah siap.
Aku sempat bingung dengan rencana yang dimaksud, tapi setelah mendengar cerita Ian. Aku jadi ingat alasan ku pergi ke Singapura. Ya, aku pergi karena mendapatkan perintah dari Ian untuk pergi ke Singapura selama beberapa Minggu, tapi karena pekerjaanku juga banyak disana. Jadi aku tinggal lebih lama dari yang diminta oleh Ian.
Lalu, kemarin dia memintaku untuk kembali. Jadi mau tak mau aku pun harus kembali, dan membantu Ian dalam menyelesaikan masalahnya dengan keluarga menyebalkan itu.
Keluarga yang sudah berani mengambil keuntungan dari keluarga Alterio dan mengancam keluarga Alterio tanpa rasa takut. "Habislah mereka," gumamku mengingat ekspresi kesal Ian yang dia tunjukan padaku saat mengunjungi ku di rumah sakit.
***
-Aster-
Pelajaran hari ini cukup sulit, belakangan ini aku juga tidak fokus karena terus memikirkan ayah. Bagaimana tidak kepikiran, tiba-tiba saja dia melupakanku dan bersikap seperti beberapa tahun lalu saat aku baru masuk ke rumahnya.
Ayah terus menyangkal aku putrinya, menatapku dengan dingin dan berbicara dingin juga. Itu semua membuat ku takut. Semoga ingatan ayah cepat kembali. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya.
"Tuan dalam perjalanan kembali nona," ucap kak Mila membuat ku segera meregangkan otot-otot tubuh ku sebelum pergi ke ruang kerja ayah.
"Tolong bawakan aku teh hijau ke ruang kerja ayah. Aku akan pergi ke sana untuk menyelesaikan pekerjaan terakhir ku." Tutur ku sambil bangkit dari tempat duduk ku.
"... dan tolong bawa semua buku-buku ini kembali ke perpustakaan."Lanjutku sebelum pergi dari ruang belajar ku.
"Baik nona." Ucapnya sebelum aku pergi dari ruangan itu.
Ku langkahkan kedua kaki ku menuju ruang kerja ayah dengan perasaan bahagia dan sedikit rasa lega, karena hari ini ayah akan kembali ke rumah. Dan itu membuatku bahagia, karena aku tidak akan merasa kesepian dan sendirian lagi di rumah besar ini.
Meski disisi lain hatiku merasa sedih dan sakit dengan kenyataan ayah yang tidak bisa mengingat ku karena kecelakaan yang dialaminya.
Ku hirup udara kering siang ini saat kakiku menyusuri koridor menuju ruang kerja ayah yang berada dilantai atas, dekat dengan kamarku. Beberapa jendela disana sengaja dibuka, membiarkan udara di luar masuk ke dalam rumah.
"Cuacanya cukup cerah dan hangat ... semoga ayah sampai dengan selamat." Gumamku sambil menghentikan langkahku tepat di depan pintu masuk ruang kerja ayah.
Kemudian ku buka pintu dihadapanku dan segera masuk ke dalam. Bergegas menyelesaikan sisa pekerjaanku hari ini.
Ku raih berkas yang tersimpan dihadapanku, lalu ku baca dan ku pelajari berkas itu dengan cermat sebelum memberikan stempel keluarga Veren disana.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi ku, "permisi nona, teman nona sudah tiba." Ucap kak Mila membuatku ingat kembali dengan ucapan Kalea yang akan datang berkunjung hari ini.
Aku tidak pernah tau jika akademi bisa membebaskan siswa-siswi untuk pergi keluar selama mereka belajar di akademi. Bukankah seharusnya mereka tetap di akademi sampai waktu liburan berikutnya tiba? Atau peraturannya sudah berubah? Entahlah.
"... aku akan pergi menemuinya, tolong siapkan camilan juga untuknya." ucapku setelah membisu selama beberapa saat, lalu bergegas pergi menemui Kalea setelah membereskan semua berkas dihadapanku.
"Asteeeer ...," ucapnya saat aku datang menghampirinya, ku lihat Kalea sudah berjalan cepat ke arahku dan terjun kedalam pelukanku. Membuatku sedikit terkejut dan nyaris terjatuh karena terlambat menyeimbangkan diri.
"Selamat datang Lea." Bisik ku sambil membalas pelukannya.
"Aku sangaaaat merindukan mu, bagaimana kondisimu sekarang? Apa masih ada yang terasa sakit?" Tanyanya segera melepaskan pelukannya dan menatapku serius.
"Tidak ada yang sakit, aku sudah baik-baik saja sekarang. Duduklah Lea." Jawabku sambil mempersilahkannya duduk.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, kamu tiba-tiba pulang dari rumah sakit tanpa menghubungi siapapun, dan tiba-tiba pergi ke luar negri lagi. Carel juga sampai frustrasi karena tidak bisa melihatmu ...," ocehnya membuatku tidak nyaman, apalagi saat Kalea membawa-bawa nama Carel. Rasanya aku ingin menghilang jika mengingat Carel.
Angin kembali berhembus masuk ke dalam rumah, melalui celah jendela, membuat udara semakin sejuk. Ku lihat kak Mila sudah tiba dengan beberapa camilan yang ku minta, dan satu pelayan lagi membantunya membawakan minuman untuk aku dan Kalea.
"Silahkan nona." Ucap kak Mila setelah menghidangkan semua camilan yang dia bawa.
"Terima kasih." Ucapku setelah kak Mila selesai menata semua piring kue dihadapan kami.
"Kenapa harus repot-repot menyiapkan jamuan untuk ku? Padahal aku ti–"
"Tutup mulutmu dan nikmati saja semua makanan ini." Potongku sambil meraih cangkir teh panas dihadapanku.
Ku lirik sosok Kalea yang masih mematung, duduk disampingku dan menatapku bingung. Sepertinya dia benar-benar bingung dengan perubahan sifatku akhir-akhir ini.
"... padahal kita belum berpisah selama itu. Tapi, entah kenapa aku merasa sudah kehilangan dirimu yang dulu." Tuturnya sebelum meraih biskuit dihadapannya.
... aku juga bertanya-tanya, kemana perginya diriku yang dulu? Batinku mengingat semua momen kebahagiaanku bersama semua orang terdekatku. Khususnya momen kebersamaan ku bersama ayah.
"Bagaimana dengan pelajaranmu di akademi?" Tanyaku mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung.
"Membosankan," dengusnya.
"Sudah dapat teman satu kamar baru?"
"Tidak. Meskipun ada, aku tidak mau satu kamar dengan siapapun selain dirimu."
"Mana boleh seperti itu? Kau harus–"
"Haah~ berhenti membicarakan ku. Aku datang untuk menanyaimu bukan untuk menjawab semua pertanyaanmu atau mendengar ceramahmu." Ucapnya memotong perkataan ku setelah menghela napas panjangnya.
Ku kernyitkan keningku saat mendengar Kalea ingin menanyaiku, menanyai apa?
"Apa yang mau kau tanyakan padaku?" Tanyaku bertemu tatap dengan manik birunya yang terlihat sedikit berkabut.
"... itu, apa kau baik-baik saja?" Tanyanya setelah membisu selama beberapa saat, lalu kedua tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya dengan lembut.
Apa maksudnya dengan baik-baik saja? Bukankah tadi dia sudah menanyakan kabarku? Aku juga sudah menjawab baik-baik saja. Tapi kenapa?
"Ku dengar ayah mengalami kecelakaan ...," lanjutnya membuatku paham. Jadi Kalea baru mendengar berita soal ayah dan dia mengkhawatirkanku.
Ku balas genggaman tangannya dan tersenyum tipis padanya, "aku baik-baik saja, ayah akan kembali hari ini. Kau tidak perlu khawatir." Tuturku.
Bohong! Lagi-lagi aku berbohong, aku tidak bisa berbicara kalau aku tidak baik-baik saja karena ayah ... melupakanku. Lanjutku dalam hati.
"Benarkah?"
"Iya, ayah dalam perjalanan kembali." Jawabku kembali menunjukan senyuman terbaik ku.
"Kau tidak sedang membohongiku dengan senyumannya itu kan?" Tanyanya membuatku sedikit tersentak.
"Te–tentu saja tidak. Ayah memang dalam perjalanan kembali." Kilahku berusaha untuk tetap terlihat tenang, disaat manik biru Kalea terus menatapku penuh selidik.
.
.
.
Thanks for reading...