
-Aster-
"Hey. Kau benar tidak melihat anak perempuan di sekitar sini?" Suara paman Rigel mengejutkanku. Anak perempuan? Siapa yang dia maksud?
Ku lihat Sarah sudah menggelengkan kepalanya dengan cepat karena mulut dan matanya tertutup.
"Ini aneh ... padahal aku mendapat informasi mengenainya. Apa aku salah paham? Mungkinkah anak yang menjual cincin itu orang lain? Bisa-bisanya dia menemukan benda berharga milik Veren dan menjualnya saat pemiliknya saja sudah tiada." Tuturnya mengingatkanku pada kejadian sore tadi saat aku menjual cincin pernikahan ibu dengan melakukan penyamaran.
Entahlah, aku merasa akan sangat berbahaya jika aku menjualnya dengan penampilan baruku. Jadi aku memutuskan untuk menyamar saat menjualnya, dan lagi berita itu sampai beredar dengan cepat? Padahal aku hanya menjual satu cincin, tapi rasanya semua orang mulai bergerak mencari keberadaanku lagi. Padahal aku sudah dikabarkan mati beberapa bulan lalu. Tapi kenapa?
"Tuan Rigel!" Suara lainnya membuatku kembali bersembunyi dibalik tumpukan karung dihadapanku.
"Ah, anak itu sudah tiba? Ayo pergi." Ucapnya segera meninggalkan tempatnya.
Sepertinya sesuai rencana. Batinku memastikan kepergiannya dan bergerak cepat mendekati Yuna dan Sarah selagi Dean mengalihkan perhatian semua orang.
"Sstt, ini aku ...," bisik ku kepada mereka dan melepaskan ikatan mereka sebelum melepaskan ikatan dimata mereka dan membuka lakban yang menutup mulut mereka.
"Kakak hiks ...." Isak tangis Yuna segera ku raih tubuhnya dan membimbing Sarah untuk keluar bersamaku.
"Bagaimana dengan Dean?" Tanyanya membuatku menoleh padanya.
"Aku yakin dia baik-baik saja. Setelah kita keluar aku akan membantunya, jadi kamu pergilah dengan Yuna ke tempat aman oke." Tuturku membuatnya mengangguk setuju tanpa banyak berbicara.
***
"Jadi dia anak yang kamu maksud?" Suara rendah paman Rigel membuatku merinding, rasanya seluruh tubuhku membeku karena tekanan yang dia berikan.
Aku bahkan belum mendekati Dean, tapi tekanan disekelilingnya sampai padaku yang tengah bersembunyi dibalik pohon dekat gudang.
"Jadi kamu bermaksud untuk menjual anak-anak mu Yoga? Kau pikir mereka bisa melunasi semua hutangmu?" Lanjutnya membuatku terkejut saat mendengar ucapan paman Rigel.
"Kau?" Geram Dean memandangi orang yang disebut Yoga itu.
"Benar-benar ayah tidak berguna ya? Kau mau menghajarnya kan? Lakukan saja, aku tidak akan ikut campur."
"Apa?" Gumamku merasa bingung dengan apa yang dikatakan olehnya, apa itu artinya paman Rigel tidak ada hubungannya dengan penculikan Sarah dan Yuna? Tapi dia ada di dalam untuk menjaga mereka tadi. Lalu kenapa?
"Tuan! Anak-anak itu, mereka hilang." Teriak seorang pria membuyarkan pikiranku dan membuatku bergegas meraih sepotong kayu yang tergeletak tak jauh dari tempatku. Lalu berlari mendekati seorang pria botak yang memergokiku.
Tanpa membuang-buang waktu, aku langsung menendang tulang kering pria itu hingga dia terjatuh kesakitan dengan posisi berjongkok, lalu serangan kedua langsung ku pukul tengkuknya dengan seluruh kekuatan yang ku kumpulkan.
Pria itu mengerang cukup kencang sampai dua orang lainnya muncul dihadapanku, tapi untunglah pria yang ku pukul tadi sudah hilang kesadaran. Aku jadi bisa mengurangi jumlah mereka.
"Anak ini!"
"Temannya anak yang di sana kah?"
"Jangan bilang dia yang sudah membiarkan dua anak didalam melarikan diri?"
"Kau cukup pintar juga ya paman." Ucapku sebelum melayangkan tendanganku pada wajah pria jangkung dihadapanku, lalu bergerak cepat ke sisi lainnya untuk menangkis serangan pria lainnya.
Cukup sulit menghadapi mereka bersamaan karena sepertinya mereka lebih pintar berkelahi dari pria yang tak sadarkan diri itu. Apalagi saat salah satunya mengeluarkan benda tajam dari balik jaketnya.
"Menyerahlah nak, aku tidak akan menyakitimu jika kamu—" Ucapnya segera ku potong dengan lemparan kayu di tanganku sebelum melayangkan tendanganku ke perutnya. Dan untuk mengantisipasi serangan balasan, aku sudah menaburkan pasir yang ku raih beberapa saat lalu kearah pandangan mereka. Lalu kembali menendang tubuh kedua pria dihadapanku sampai mereka tersungkur.
Aku merasa beruntung karena bisa berkelahi dalam situasi seperti ini, meski tidak semahir paman Hans. Batinku mengingat ajaran paman Hans yang mengajarkanku bela diri saat ayah masih tak sadarkan diri di Singapura.
"Faren! Menunduk." Teriak Dean membuatku segera menunduk dengan refleks. Lalu ku lihat paman Rigel menghindari serangan Dean dan mengambil jarak aman di antara dia dan aku yang berjongkok dibelakangnya.
"Bukankah orang itu bilang tidak akan ikut campur? Kenapa malah ikut bergerak?" Gumamku kembali mengingat ucapannya beberapa waktu lalu.
Ku lihat penampilan Dean cukup kacau dengan beberapa noda darah di bajunya. Yah wajar saja dia mendapatkan itu semua, karena lawannya saja menggunakan senjata tajam. Aku bahkan tidak menyadari luka di tanganku jika tidak menunduk dan menahan beban tubuhku dengan salah satu tanganku.
"... kamu! Apa kita pernah bertemu di suatu tempat?" Ucapnya benar-benar membuatku tersentak. Bahkan tatapannya terlihat begitu mengintimidasi.
... aku masih belum ketahuan kan?
"A—apa yang terjadi di sini?" Suara asing itu mengejutkanku dan Dean termasuk dengan orang-orang yang berhadapan dengan kami.
"Kepala desa?" Gumamku saat melihat pria tua itu berdiri tak jauh dari tempatku.
"La—lari! Cepat lari!" Seru salah satu pria yang berdiri disamping paman Rigel yang tidak lain adalah ayahnya Dean.
"Tidak! Jangan—" Ucap Dean terhenti saat melihat dua orang pria asing membekuk ayahnya dan orang yang tergeletak disampingnya. Bahkan dua lainnya sudah terikat di dekat pohon. Aku tidak menyadarinya karena terlalu fokus pada sosok kepala desa yang muncul dihadapanku.
"Tunggu Rigel!" Teriak Carel tak menghentikan pelarian pria itu.
Dilihat dari situasinya, sepertinya dia datang bersama dengan kepala desa dan dua pria itu. Tapi kenapa waktunya sangat tepat?
"Jadi siapa mereka?" Tanya pria yang sudah mengikat ayahnya Dean.
"Itu—"
"Dia ayahku, yang lainnya aku tidak tau." Potong Dean memberi jawaban dengan napasnya yang tak beraturan.
"Ayah? Kenapa dia ada di sini? Dan apa yang kalian lakukan di sini?" Lanjutnya kembali bertanya.
"Kami datang untuk menyelamatkan Sarah dan adik ku dari mereka. Dan—"
"Sarah?" Ucap kepala desa itu terlihat sangat terkejut, "kenapa kamu ingin menyelamatkan Sarah ... ah mereka ini—" Lanjutnya terhenti saat melihat keempat pria yang sudah terikat dihadapan kami, lalu Carel juga menghentikan ocehan kepala desa itu sebelum dia selesai bicara.
"Jadi bisa jelaskan padaku kenapa semua persediaan itu ada di sini?" Tanyanya membuatku teringat kembali pada tumpukan karung yang tertutup terpal di dalam sana.
Apa isinya padi dan gandum? Batinku mengingat ukurannya yang lumayan besar.
"Itu ...."
"Karena semuanya sudah selesai dan mereka sudah ditangani oleh orang-orang ini. Sebaiknya kita kembali, aku khawatir dengan Yuna dan Sarah." Tuturku pada Dean yang masih berdiri memperhatikan sosok ayahnya.
"Benar. Sebaiknya kita kembali sekarang." Putusnya menyetujui ucapanku.
Aku yang berniat pergi bersama dengan Dean setelah mengucapkan terima kasih pada kedua pria itu kembali menghentikan langkah kaki kami saat mendengar suara Carel yang cukup tinggi.
"Apa maksudmu? tuan Albert?" Ucapnya sambil memegangi handphone didekat telinganya. Sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang.
"Tunggu, apa? Apa yang baru saja aku dengar?" Gumamku merasa terkejut saat mendengar nama tuan Albert disebutkan. Jangan bilang kematian palsuku terungkap?
"Faren." Suara Dean membuatku terkesiap.
"Ya?"
"Kamu baik-baik saja?"
"Tentu. Ayo pergi!" Seruku segera memimpin perjalanan kembali kami. Keluar dari belakang bukit, berusaha untuk menenangkan pikiranku akan semua pertanyaan yang semakin menumpuk dalam kepalaku.
Ah! Aku lupa menanyakan hal itu ..., lanjutku dalam hati saat mengingat kondisi bibi sore ini. Aku benar-benar lupa karena ada begitu banyak hal yang mengejutkanku hari ini.
.
.
.
Thanks for reading...