
-Aster-
Saat itu aku pergi ke rumah sakit setelah meminta izin keluar pada ibu asrama, aku pergi sore hari dan sampai di rumah sakit setelah hari gelap.
Aku bebincang banyak bersama Ibu, membicarakan tentang masa kecil Carel yang begitu nakal dan menggemaskan di matanya.
Kata-kata yang masih terngiang di kepalaku adalah saat Ibu meminta maaf padaku untuk sesuatu yang tidak seharusnya dipermasalahkan.
"Wah, kau datang Aster? Kemarilah, duduk disampingku!" Suara hangat Ibu saat aku masuk ke ruang rawatnya, ku lihat Ibu sudah menepuk-nepuk tempat kosong diatas tempat tidurnya. Ekspresinya bahkan terlihat begitu gembira, padahal wajahnya terlihat letih dan pucat.
"Aku benar-benar senang karena kamu datang, apa kamu merindukanku? Aku sangat merindukanmu loh," lanjutnya saat aku duduk disampingnya, dan Ibu langsung memeluk tubuhku dengan sangat erat. Terasa begitu hangat dan nyaman, membuatku teringat kembali dengan pelukan mendiang ibuku.
"... bagaimana kondisi Ibu? Ku dengar kondisi Ibu kurang baik belakangan ini, apa itu–" Tanyaku setelah membisu cukup lama, merasakan degupan jantung Ibu, mendengarkan suara napasnya yang terdengar lelah. Hingga merasakan tubuhnya yang terasa begitu kurus saat aku membalas pelukannya. Lebih kurus dari terakhir kali kami bertemu.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir, kamu sudah makan?" Jawabnya langsung mengalihkan pembicaraan. "Kamu pasti lelah ya? Perjalanan di akademi sampai ke sini kan cukup jauh. Apa kamu mau menginap disini? Menemaniku malam ini?" Lanjutnya sambil melepaskan pelukannya dan langsung mengelus rambutku dengan lembut.
"Sebenarnya aku sangat takut sekarang," ucapnya lagi membuatku segera meremas erat seprai yang ku duduki. Melihat senyuman Ibu dan tatapan hangatnya yang mulai memudar, membuatku ikut merasakan takut.
Entahlah, aku merasa takut dengan sosok Ibu yang ku lihat saat ini. Rasanya seperti aku akan kehilangan Ibu lagi, apalagi saat menyadari tubuhnya yang sedikit bergetar dan senyuman sok tegarnya itu. Sepertinya Ibu ingin menyembunyikan perasaannya saat ini, tapi tidak berjalan sesuai keinginannya.
Dengan cepat ku peluk tubuh Ibu dengan hati-hati, tidak terlalu erat juga tidak terlalu longgar memeluknya. "Jika Ibu mau aku bisa menemani Ibu malam ini." Bisik ku kemudian, mencoba untuk memberikan ketenangan pada Ibu.
"Hhehe, benarkah? Kalau begitu biar aku hubungi ibu asrama ya? Aku akan memberitahunya kalau kamu akan kembali besok. Lagipula hari sudah gelap, bahaya jika kamu kembali ke asrama sendirian." Tuturnya segera meraih heandphonenya bersamaan dengan pelukanku yang sudah ku lepas.
Sepanjang malam aku menemani Ibu dan mendengarkannya bercerita sampai aku ketiduran disampingnya. Saat itu aku tidur dalam satu ranjang yang sama dengan Ibu, aku tau tempatnya cukup kecil dan hanya cukup untuk satu orang. Tapi Ibu bersikukuh untuk tidur bersamaku, mau tak mau akupun tidur disampingnya sambil memeluk tubuhnya.
Samar-samar aku mendengar isak tangis Ibu, dia menangis sambil mengelus tanganku. Aku yang sempat mengantuk dan hampir tertidurpun tidak bisa melanjutkan tidurku, kesadaranku pulih seketika tapi aku tetap berpura-pura tidur supaya Ibu bisa menangis dengan nyaman. Mengeluarkan seluruh emosinya melalui air mata.
Pasti sulit ya? Menyembunyikan rasa sakit dari orang-orang tersayangnya.
"Jika semuanya berjalan lancar, aku ... aku akan melakukan oprasi beberapa hari lagi." Gumamnya dengan suara gemetarnya lalu beralih pada suara isak tangisnya yang tertahan. Sepertinya Ibu tidak ingin membangunkan ku karena tangisannya.
"... maafkan Ibu ya Aster, karena aku ... pasti kamu jadi mengingat tentang Ibumu lagi. Ku dengar dia juga meninggal karena sakit. Padahal aku ingin menjadi Ibumu dan hidup lama bersamamu dan anak-anak ku. Memberikan kasih sayangku padamu yang sudah kehilangan sosok Ibu dan kedua nenekmu. Tapi ... melihat kondisiku sekarang, aku malah tidak yakin," tuturnya masih mengelus tanganku.
"Aku bahkan berhutang maaf padamu karena tidak bisa mempersatukanmu dengan Carel. Seandainya, seandainya aku memiliki sedikit kekuatan. Aku pasti sudah memarahi ayah dan suamiku atas keputusan yang mereka ambil tanpa memperdulikan perasaan putra dan cucu mereka."
"Maafkan Ibu Aster ...,"
***
Sepanjang jalan aku tidak bisa berhenti menangis saat mengingat momen kebersamaan ku dengan Ibunya Carel yang sudah ku anggap sebagai Ibuku sendiri.
"Kita sudah sampai nona." Ucap paman Hans membuyarkan lamunanku, dengan cepat aku keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju tempat peristirahatan Ibu.
Ku lihat semua orang mengelilingi makam Ibu dengan setelan hitam yang mereka kenakan, kelopak bunga ditaburkan di atas makam bersama isak tangis orang-orang yang merasa kehilangan.
Kemudian mataku menangkap sosok Carel yang terlihat begitu terpukul, terduduk lemas disamping batu nisan Ibu. Matanya terlihat sembab dengan perawakannya yang begitu mengkhawatirkan.
Air mataku yang sempat ku hapus, kini kembali menetes membanjiri wajahku. Merasa bersalah pada anak itu karena aku tidak ada disaat-saat tersulitnya. Dia pasti sangat kesulitan belakangan ini kan?
Harusnya aku tidak bersikap menyebalkan padanya hari itu. Padahal dia hanya ingin aku pergi ke rumah sakit bersamanya, tapi aku? Aku malah .... Batinku tak sanggup melanjutkan ucapanku saat mengingat ekspresi kesal Carel.
Ku alihkan pandanganku pada bunga Lily putih ditanganku sebelum menghapus kembali air mataku. Mencoba untuk mengendalikan perasaanku. Rasanya baru kemarin aku datang ke makam untuk mengantar nenek ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tapi hari ini?
Ku tarik napas sedalam mungkin, mencoba untuk menenangkan diriku. Berusaha menepis semua momen indah bersama Ibu yang membuatku ingin menangis lagi dan lagi saat mengingatnya.
Padahal momen kebersamaan ku dengan Ibu tidak terlalu banyak, bahkan pertemuan kamipun bisa dihitung dengan jari. Tapi, entah kenapa aku sangat kehilangan sekarang? Mengingat bayangan wajahnya yang tersenyum manis dengan tatapan hangatnya saja sudah membuatku ingin menangis, apalagi saat mengingat suara dan perlakuan baiknya padaku.
"Tenanglah Carel ...," suara Lusy menarik perhatianku, ku lihat dia sudah berjongkok disamping Carel sambil mengelus punggungnya dengan perlahan. Sedangkan Carel, anak itu tak memperdulikannya. Tatapannya hanya terfokus pada makam ibunya dengan kedua telapak tangannya yang sudah berlumuran tanah.
Carel ..., batinku merasakan perih dihatiku saat melihat tatapan kosongnya.
"Kau datang Aster?" Suara paman Tomi mengalihkan perhatianku.
"Ya," jawabku nyaris berbisik.
"Apa ayahmu masih di luar negri?"
"Ya, papa dalam perjalanan kembali dari Singapura. Aku datang sebagai perwakilan keluarga Veren."
"Terima kasih karena sudah menyempatkan waktumu untuk–"
"Tidak masalah paman, lagipula Ibu–maksudku nyonya Alterio sudah aku anggap sebagai Ibuku sendiri. Jadi ... izinkan aku untuk memberikan salam terakhir padanya." Potong ku berusaha menahan genangan air mataku yang kembali berkumpul dipelupuk mata.
.
.
.
Thanks for reading...