Aster Veren

Aster Veren
Episode 13




"Anak ini adalah anaknya Claretta." Jawab pria yang tak lain adalah kakak ku, ku lihat dia sudah menggandeng tangan anak itu dengan erat.


"Ah ... aku ingat. Tapi bukankah anak ini anaknya Victor dengan wanita itu? Kenapa dia memanggilmu ayah?" Tanyaku tak bisa mengalihkan pandanganku dari anak itu.


"Kau tidak sedang melindungi nama baik keluarga mereka dengan menjadi ayahnya kan?" Lanjutku sambil menatap tajam mata kakak ku itu. Biar bagaimanapun Claretta itu bukan wanita baik-baik, terbukti dengan dia hamil diluar nikah. Dan lagi pria yang menghamilinya adalah Victor, pria brengs*k yang tak mau bertanggung jawab.


"Ayah ...." Suara anak itu menyadarkan lamunanku dan membuatku kembali melirik sinis padanya. Tapi anak itu segera bersembunyi dibalik tubuh kakak ku.


"Berhenti menatap anak kecil seperti itu Arsel, kau menakutinya." Tuturnya membalas tatapan sinisku dan menyembunyikan anak itu dibelakangnya.


"Aku benar-benar tak mengerti kenapa kau membelanya seperti itu? Padahal dia bukan putri kandungmu–" Tanyaku terhenti saat mendengar helaan napasnya.


"Aku tidak perduli, dan kau juga tak perlu ikut campur dengan urusan pribadiku." Jelasnya sambil melewatiku.


"Kau perduli pada anak itu tapi kau tak perduli pada putrimu sendiri hah? Kau bahkan tak mempercayai ucapanku saat itu kau–" Ucapku segera berbalik badan memperhatikan punggungnya.


"Sudah ku bilang kan kalau aku tak pernah memiliki seorang anak dengan Helen. Jikapun dia punya anak, sudah pasti dia bukan anak ku." Jelasnya menoleh kearahku saat langkahnya terhenti, dan ku lihat tatapan tajamnya memintaku untuk berhenti membahasnya.


Dasar kakak bodoh! Awas saja kalau kau mencari anakmu nanti, aku tidak akan mengizinkanmu untuk menemuinya. Mulai sekarang, akulah yang akan menjadi ayahnya. Batinku bertekad.


"Paman merah!" Suara Aster membuatku mencari keberadaannya, dan ku lihat dia sedang berlari kearahku dengan senyuman lebarnya.


"Ku kira paman tidak akan datang." Lanjutnya sambil menengadah setelah terjun kedalam pelukanku.


"Mana mungkin aku tidak datang, aku kan mau melihat penampilanmu." Jawabku membuat senyuman indahnya luntur.


Eh? Apa aku salah bicara ya? Lanjutku dalam hati.


"Paman Eric memberitau paman ya?" Tanyanya membuatku menyadari kesalahanku. Seharusnya aku tak mengatakan itu, tapi sepertinya sudah terlanjur. Lagipula ini semua salahnya Eric karena kalah adu suit denganku, jadi dia harus membocorkan rahasianya dengan Aster padaku.


"Hha–haha itu ...." Gumamku tak bisa menjawab pertanyaannya.


"Padahal aku meminta paman Eric untuk merahasiakannya ... maaf paman ... penampilan Aster digantikan hari ini." Tuturnya terlihat murung.


"Digantikan?" Tanyaku sambil berjongkok dihadapannya dan dia hanya menjawab dengan anggukan lesunya.


"Tapi karena paman sudah datang, mari kita lihat acaranya bersama." Ucapnya kembali mengembangkan senyumannya dan segera meraih tanganku.


"Baiklah." Ucapku segera bangkit dari posisi berjongkok ku dan mulai berjalan mengikuti langkahnya yang membimbingku menuju ruang acara.


Ku lihat ruangan itu sudah dipenuhi oleh para orang tua dan anak-anaknya, dan ku lihat kakak ku sudah duduk dikursi paling depan sambil memainkan ponselnya.


"Kita duduk dibelakang saja ya." Bujuk ku pada Aster.


"Kenapa? Bukankah lebih enak duduk didepan? Kalau dibelakang Aster tidak bisa lihat." Tanyanya masih menggandeng tanganku.


"Tapi didepan ... lihat kursinya sudah penuh." Jawabku bersamaan dengan seorang wanita yang baru duduk disebelah kakak.


Untunglah dia datang tepat waktu, jika tidak maka aku harus duduk bersebelahan dengan kakak ku yang menyebalkan itu. Tapi tampaknya Aster terlihat murung.


"Kalau begini kelihatan kan?" Tanyaku sambil menggendongnya.


"Pa–paman? Apa yang paman lakukan? Cepat turunkan aku." Ucapnya terlihat terkejut.


"Ke–kelihatan sih, tapi kita harus duduk paman." Jawabnya membuatku celingukan memperhatikan semua orang yang sudah mengisi kursi kosong mereka.


"Kamu benar." Ucapku segera menurunkan Aster dan duduk di kursi baris belakang, karena saat itu kami memang berdiri dibelakang. Dan tanpa disadari semua kursi sudah terisi, padahal aku tidak benar-benar ingin duduk dibelakang.


Ku lirik Aster yang sudah duduk disampingku. Sepertinya dia benar-benar tidak bisa melihat pertunjukannya karena terhalang oleh punggung pria dewasa yang duduk didepannya.


"Tidak kelihatan ya?" Tanyaku tak didengarkan, "sini." Lanjutku segera membawanya kepangkuanku.


"Bagaimana sekarang?" Tanyaku lagi membuatnya menoleh padaku.


"Sudah terlihat." Jawabnya dengan senyuman lebarnya.


Tak lama kemudian acara pentas seni pun dimulai, penampilan dari beberapa siswa-siswi membuatku sedikit terhibur dan bernostalgia mengenai kehidupan SD ku dulu.


"Wah itu kak Nathan." Suara Aster membuat pandanganku tertuju pada sosok anak laki-laki yang berjalan ketengah panggung diikuti oleh seorang anak perempuan dibelakangnya.


"Anak itu." Gumamku saat melihat anak perempuan yang bersama kakak ku diparkiran.


"Kenapa orang itu ada disini?" Tanyaku pada Aster berusaha untuk melupakan soal anak perempuan itu.


"Eh siapa? Kak Nathan? Bu Estelle bilang kepala sekolah meminta kak Nathan untuk mengisi acara inti hari ini. Lagipula kak Nathan kan cucunya kepala sekolah." Tuturnya membuatku sedikit terkejut.


Jadi anak jenius itu cucunya kepala sekolah disini? Yah tidak heran, dia kan berasal dari keluarga Ravindra. Batinku mengingat soal berita keluarga Ravindra yang memiliki seorang putra jenius, bahkan fotonya terpampang sebagai siswa teladan di sekolah musik ibu kota, tapi aku tidak tau kalau sekolah ini milik nenek itu, dan lagi dia juga menjadi kepala sekolah disini.


Ku alihkan pandanganku pada tangan mungil Aster yang perlahan mengepal, lalu sorot matanya juga tampak redup. Tidak semangat seperti beberapa detik lalu.


"Ada apa? Apa kamu sedih karena tidak bisa bermain piano dengan anak itu?" Tanyaku sambil memperhatikan anak laki-laki diatas panggung itu.


"Tidak bukan begitu, Aster hanya ... kalau tau Kalea bakal menggantikan Aster untuk bermain piano bersama dengan kak Nathan, harusnya Aster tidak perlu memberitau paman Eric mengenai penampilan Aster hari ini. Jadi paman Eric juga tidak perlu memberitau paman soal itu." Tuturnya benar-benar murung disela-sela suara piano yang dimainkan oleh kedua anak itu.


Jadi nama anak itu Kalea ya? Batinku sambil menghela napas lelah.


"Kalau kamu mau memperlihatkan kemampuanmu padaku, kita bisa melakukannya di rumah. Aku punya satu piano yang menganggur di rumah." Tuturku membuatnya kembali menoleh kearahku.


"Benarkah? Paman punya piano? Aster juga punya, dulu sering main bersama ibu. Tapi karena nenek butuh biaya buat berobat, ibu menjualnya dan uangnya digunakan untuk berobat nenek." Tuturnya kembali murung setelah berbicara dengan begitu antusias diawal ucapannya. Emosinya gampang berubah-ubah ternyata.


"Jadi kamu belajar piano dari ibumu?" Tanyaku sambil meraih puncak kepalanya dan membuatnya mengangguk cepat dan kembali menunjukan senyuman lebarnya.


"Permainan ibu sangat bagus jadi Aster meminta ibu untuk mengajari Aster bermain piano." Ucapnya terlihat senang.


Sepertinya dia sangat bangga pada sosok kak Helen ya .... Batinku tak bisa mengalihkan perhatianku dari Aster, bahkan aku tak memperdulikan suara piano dan tepukan tangan orang-orang saat penampilan kedua anak itu selesai.


Yang ku perdulikan saat ini adalah kebahagiaan Aster, masa depannya dan juga impiannya. Aku akan melindungi semuanya.


Kamu tidak akan pernah sendirian lagi sekarang. Lanjutku dalam hati kembali meraih puncak kepalanya.


.


.


.


Thanks for reading....