Aster Veren

Aster Veren
Episode 217




-Aster-


Sudah satu minggu sejak aku sadarkan diri dan menangis dipelukan ayah. Hari ini aku sudah dibolehkan keluar dari kamarku untuk berjalan-jalan ringan di luar rumah.


Luka di dadaku juga sudah tidak sesakit sebelumnya, tapi tetap harus menerima perawatan sampai lukanya mengering.


"Kakak baik-baik saja?" Suara mungil Khael menarik perhatianku.


Aku lihat dia sudah menengadah melihat kearahku selagi tangan kirinya menggandeng tanganku dengan erat. Lihatlah ekspresi khawatirnya yang menggemaskan itu.


Pasti dia sangat kesepian saat aku tidak ada bersamanya ya? Ku dengar dia merajuk selama berhari-hari karena tidak diizinkan untuk bertemu denganku selama dua minggu terakhir ini. Batinku mengingat hari dimana aku siuman, setelah itu aku juga mendengar soal diriku yang tak sadarkan diri selama satu minggu penuh dari Mila.


"Aku baik-baik saja." Ucapku sambil mengelus puncak kepalanya dengan tanganku yang satunya, lalu beralih pada wajahnya.


"Sungguh? Kalau ada yang sakit langsung bilang pada Khael ya. Jangan ditahan oke." Tuturnya segera meraih tanganku yang masih memegangi pipinya yang menggemaskan itu, sorot matanya juga tak lepas dari pandanganku.


Entah bagaimana anak ini bisa tumbuh sangat perhatian seperti ini? Padahal waktu yang kami habiskan sebelum aku pergi ke akademi dan sebelum dia pergi ke luar negri bisa dihitung dengan jari, tapi kenapa aku merasa sangat dekat dengannya? Rasanya aku juga bisa merasakan kasih sayang yang melimpah dari seorang Khael yang masih sangat muda.


Ku sunggingkan senyuman terbaik ku pada Khael sebelum menjawab ucapannya, "Oke."


"Bagus. Pokoknya aku akan terus menjaga kakak sampai kakak sembuh." Lanjutnya bersamaan dengan tanganku yang sudah melepaskan pipi tembebnya itu, lalu kamipun kembali melanjutkan perjalanan kami menuju rumah kaca.


Ku rasakan hembusan angin yang terasa menyejukkan menerpa wajahku dengan lembut, rasanya hatiku merasa lebih tenang dari sebelumnya. Setelah aku menumpahkan seluruh isi hatiku pada ayah malam itu, aku merasakan jarak yang begitu besar dengan ayah sampai kemarin.


Aku merasa tidak nyaman jika ditinggal berdua dengan ayah, meski semua orang berkumpul bersamaku, aku juga merasa takut tanpa alasan dan tidak nyaman. Tapi sejak pagi tadi, setelah aku mendengar cerita soal ayah dari paman Arsel selama aku pergi sampai ingatannya kembali. Aku merasa sedikit lega karena ternyata ayah benar-benar menyesali perbuatanya.


Padahal aku mengetahuinya, aku tau kalau ayah tidak bermaksud seperti itu karena ingatannya yang hilang. Tapi entah kenapa aku merasa benar-benar dibuang, dan alasanku untuk hidup mendadak hilang.


"Duduklah." Suara Khael membawaku kembali pada kenyataan, ku lihat dia sudah menyiapkan kursi untuk ku duduki. Dengan senang hati aku langsung menerima tawarannya.


"Terima kasih." Ucapku kemudian sambil membalas senyuman hangatnya yang terlihat menggemaskan itu.


"Aku tidak menceritakan hal ini supaya kamu mau memaafkan ayahmu. Tapi aku ingin kamu menyadari betapa dia sangat menyayangimu, dan bagaimana dia hidup tanpamu setelah ingatannya kembali dan kabar kematianmu beredar." Suara paman Arsel kembali terngiang dalam kepalaku.


Aku tidak tau kalau ayah ketergantungan obat karena tidak bisa tidur, aku juga tidak tau kalau ayah tidak bisa makan dengan benar setelah kabar kematianku beredar, aku tidak tau kalau ayah akan merasa sangat menderita seperti itu setelah ingatannya kembali.


Pantas saja kondisi ayah terlihat sangat buruk, tubuh ayah yang terlihat kurus dengan lingkaran hitam dibawah matanya ... aku merasa ayah sangat tersiksa.


"Kakak? Kakak Aster?"


"Ah—iya?" Tanyaku segera menoleh kearah Khael yang sudah menautkan alisnya dengan tatapan khawatirnya yang kembali menggangguku.


"Ada apa?" Lanjutku sambil meraih tangan mungilnya yang ada diatas meja.


"Ah itu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Haha, aku hanya sedang memikirkan menu makan siang hari ini." Jelasku berdusta.


"Kakak lapar? Mau aku ambilkan makanan?"


"Tidak-tidak, tidak perlu. Aku belum selapar itu kok."


"Tidak boleh! Mama bilang tidak baik menahan lapar. Biar aku panggilkan kakak pelayan untuk menyiapkan makan siang untuk kakak lebih cepat. Tunggu aku di sini oke, jangan pergi kemana-mana." Tegasnya membuatku sedikit terkejut saat mendengar suara lantangnya.


Lalu ku lihat Khael sudah berlari keluar dari rumah kaca setelah turun dari kursinya dengan tergesa-gesa. Sangat menggemaskan.


"Tiba-tiba aku jadi teringat dengan Yuna. Sekarang dia sedang apa ya? Lalu bagaimana dengan Dean dan Sarah?" Gumamku sambil menyenderkan tubuhku pada senderan kursi dan memejamkan mataku saat merasakan kepalaku berdenyut.


Ngomong-ngomong, malam itu ... siapa yang berlari mendekatiku di bawah lampu penerangan ya? Aku tidak bisa mengingat wajahnya karena pandanganku buram, tapi samar-samar aku mendengar dia memanggil nama samaran ku. Lanjutku dalam hati, kembali teringat dengan kejadian malam itu.


***


"Kau di sini?" Suara Carel tak ku perdulikan, rasanya tubuhku sangat lemah sekarang. Aku bahkan tidak memiliki cukup tenaga untuk membuka mataku.


"Kau tidur? Kenapa tidur di tempat seperti ini?" Lanjutnya bersamaan dengan suara deritan kursi, apa dia baru saja menarik kursi di sampingku?


Hening, tak ada suara berisik yang menggangguku lagi selain suara hembusan angin dan gemerisik dedaunan diluar rumah kaca. Tapi entah kenapa, aku merasa Carel sedang memperhatikan ku sekarang. Lalu suasana yang ku rasakan saat ini, entah kenapa terasa sangat berat.


Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan? Batinku tak bisa memahami isi pikiran Carel.


Ku rasakan sentuhan lembut di wajahku, membuat tubuhku terkesiap dan refleks membuka mataku untuk memastikan apa yang sedang terjadi, tapi tak lama kemudian aku kembali memejamkan mataku saat merasakan berat di mataku, dan rasa kantuk tiba-tiba menyerang ku setelah melihat ekspresi Carel yang terlihat murung.


Padahal ekspresinya seperti itu, tapi kenapa sentuhannya terasa menenangkan? Lalu kenapa anak ini tidak mengatakan apapun? Batinku lagi ingin menanyakan apa yang terjadi padanya, tapi lidahku terasa kelu, bahkan mulutku tak mau menuruti perintah otak ku untuk berbicara.


"Jangan pernah jauh-jauh dariku lagi Aster, aku tidak sanggup jika melihatmu terluka lagi. Aku ini benar-benar tidak berguna bukan? Padahal aku bisa langsung menyelamatkanmu jika mendengar ucapan kakek hari itu, padahal aku bisa langsung membawamu pergi dari rumah si Tesar itu saat aku mulai mencurigai mu. Tapi aku tidak melakukannya karena merasa ragu. Seandainya ... seandainya aku bergerak lebih cepat, mungkin kamu tidak akan terluka seperti ini sekarang." Tuturnya dengan lirih, membuat hatiku sesak.


Dan entah kenapa, rasanya menyakitkan mendengarnya berbicara dengan nada seperti itu, padahal selama ini Carel tidak pernah menunjukan sisinya yang seperti itu.


Aku tidak tau dia akan bersikap seperti ini saat aku tidak memiliki cukup tenaga untuk merespon ucapannya, aku juga tidak pernah benar-benar menghiburnya saat ibunya meninggal. Tapi anak ini, hari ini dia malah menunjukan ekspresi seperti itu lagi.


Aku benar-benar tidak menyukainya.


.


.


.


Thanks for reading...