
-Kalea-
Setelah meminta izin pada pak Tirta, akhirnya aku diperbolehkan istirahat di UKS dengan di temani oleh Aster.
"Lea?" Suara Aster membuatku menoleh padanya, "maaf." Lanjutnya langsung memasang ekspresi murungnya dan membuatku mengernyit bingung.
"Kenapa meminta maaf?" Tanyaku membuat mata kami bertemu tatap. Ku lihat cahaya dimata Aster meredup, menyembunyikan kecantikan manik ungunya.
"Itu ... seharusnya aku tidak perlu memaksamu untuk berenang tadi, harusnya aku–"
"Tunggu!" Seruku memotong ucapannya.
Apa yang dia pikirkan? Batinku berusaha menelaah wajah murungnya.
"Aku baik-baik saja, sungguh." Lanjutku saat memahami situasi diantara kami.
Pasti Aster merasa begitu khawatir saat melihatku tidak fokus berenang tadi. Apalagi aku sempat hilang kesadaran, untungnya Aster dengan cepat menarik ku ke permukaan. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.
"Tidak, Lea tidak baik-baik saja. Aku bisa melihatnya dengan jelas." Tuturnya membuatku terperajat, tak pernah ku bayangkan Aster akan mengatakan hal seperti itu dengan ekspresi kesalnya yang berusaha untuk menahan genangan air matanya.
"Itu ...," gumamku merasa bingung sendiri, entahlah isi kepalaku saling berbenturan sekarang. Aku tidak tau harus menenangkan Aster terlebih dulu atau menenangkan hatiku dulu? Karena saat ini, rasanya perasaanku campur aduk gara-gara mengingat masa lalu.
... sebenarnya Aster, alasanku takut berenang itu karena dulu pernah ada seseorang yang meninggal gara-gara diriku. Aku tau dia meninggal karena fisiknya memang lemah, tapi ... seandainya hari itu dia tidak pernah berpikir untuk menyelamatkan kucingku dan terjun ke sungai. Mungkin, mungkin dia bisa hidup lebih lama kan? Tapi gara-gara aku .... Bantinku sambil meremas selimut yang menutupi kakiku.
Ingin rasanya aku mengatakan apa yang sedang ku pikirkan saat ini pada Aster, tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokanku.
"Tidak apa-apa Lea, jika tidak bisa diceritakan lebih baik jangan diceritakan. Kamu istirahat saja," tutur Aster sambil meraih tangan kananku dan mengusapnya lembut.
***
"Lea! Sayang kamu sudah sadar? Dokter!" Teriak papa sambil berlari keluar saat aku membuka mata, ku perhatikan langit-langit bercat putih yang semakin jelas terlihat dan beralih pada tirai jendela berwarna biru. Tirai yang melambai-lambai tertiup angin membawa aroma khas rumah sakit yang baru tercium oleh indra penciumanku.
"Rumah sakit?" Gumamku.
Ega! Batinku saat tersadar dengan ingatan saat aku tenggelam bersamanya.
"Papa, Ega–" Ucapku terhenti saat mendengar keributan di kamar sebelah.
"Tidak! Dokter pasti bercanda kan? Putri saya tidak mungkin–" Isak tangis seorang perempuan menarik perhatianku.
"Egaa!" Lanjutnya membuatku terkejut.
"Ega?" Gumamku bertanya-tanya dengan apa yang baru saja ku dengar, "maksudnya? ini–bukan Ega temanku kan?" Lanjutku segera bangkit dari posisi berbaring ku, berusaha untuk menepis pikiran-pikiran buruk ku.
Lalu dengan rasa penasaran yang mulai menumpuk, ku putuskan untuk memeriksa kamar sebelah sambil mendorong infus stand dihadapan ku.
"Huhu ... Egaa, hiks." Isak tangis seorang perempuan yang ku kenal. Siapa lagi kalau bukan ibunya Ega.
Dengan perlahan bahuku merosot saat melihat sosok Ega yang terbaring tak berdaya diatas tempat tidur dengan wajah pucatnya. Dadaku mendadak sesak, bahkan tanpa sadar air mataku mulai berjatuhan.
"Gak mungkin," gumamku merasa lemas, "Ega ...," lanjutku sambil berjalan mendekatinya.
"Tan–tante ini? Ega?" Tanyaku sambil menoleh pada ibunya Ega yang masih terisak di pelukan suaminya.
Dengan ragu ku sentuh wajahnya dengan hati-hati, "dingin ...."
"Lea?" Suara papa tak begitu ku perdulikan.
"Hiks, Ega?" Gumamku tak kuasa menahan Isak tangisku lagi, "huwaaa Egaa! Bangun Ega!" Tangisku pecah saat menyadari temanku tidak bernapas.
"Sayang?" Ucap papa segera memeluk tubuhku dengan erat, berusaha untuk menenangkan ku.
"Papa, Ega hiks, huwaaa ... kenapa Ega harus pergi? Kenapa tuhan memanggil Ega? Kenapa Lea tidak dipanggil juga?" Ocehku disela-sela isak tangisku.
"Ega hiks ...," gumamku merasa sesak.
"Lea? Bangun Lea," suara Teo membangunkanku dari mimpi buruk ku.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya sambil meraih wajahku dan menghapus air mataku.
Aku bermimpi? Batinku masih terisak sambil bangkit dari posisi berbaring ku.
"Minumlah." Ucapnya sambil memberikan segelas air padaku, "apa yang kamu mimpikan sampai menangis seperti itu?" Lanjutnya bertanya setelah aku selesai meminum air yang dia berikan.
"Dimana Aster?" Tanyaku berusaha mengalihkan topik pembicaraan sambil menghapus sisa air mataku.
"Dia pergi ke ruang kepala sekolah, sepertinya pembicaraannya pagi tadi belum selesai." Jawabnya tidak mengalihkan pandangannya dariku.
"Tidak apa-apa Lea," lanjutnya tiba-tiba memeluk tubuhku dan menepuk-nepuk pelan punggungku.
"Semuanya hanya mimpi, tidak apa-apa." Ucapnya lagi dengan suara rendah yang terdengar lembut, masih menepuk-nepuk punggungku pelan.
"... terima kasih," ucapku setelah membisu cukup lama untuk memahami situasi ku saat ini.
Rupanya Teo mengkhawatirkanku.
"Sebenarnya Teo," ucapku ragu.
"Ya?" Jawabnya sambil melepaskan pelukannya.
"... aku memimpikan teman lamaku." Jelasku.
"Ega?"
"Bagaimana kau tau namanya?"
"Aku mendengarmu mengigau menyebut namanya sambil menangis tadi, makanya ku bangunkan." Jelasnya sambil mengusap tengkuknya.
"O–oh,"
"Kau merindukannya? Atau memimpikan hal buruk tentangnya?" Tanyanya terdengar hati-hati.
***
-Aster-
"Ada apa dengan wajahmu?" Suara ayah menyadarkan ku dari lamunanku. Saat ini aku sedang berada di kantor kepala sekolah bersama ayah.
"Kenapa dengan wajahku?" Tanyaku balik sambil mengusap pipiku dengan kedua telapak tanganku.
"Jelek sekali." Jawabnya membuatku kesal, bisa-bisanya ayah mengatakan wajahku jelek dengan ekspresi temboknya itu, "apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Lanjutnya bertanya.
"Hah~ sebenarnya Aster merasa bersalah pada Lea karena memaksanya untuk berenang bersama. Padahal Aster tau kalau Lea takut berenang," jelasku setelah menghela napas dalam.
"Lalu?"
"Lea sempat tenggelam," jawabku dengan suara rendah.
"Benarkah?" Tanya ayah membuatku mengangguk lesu.
"Lea ada di UKS sekarang." Ucapku.
"... ku pikir dia sudah bisa mengatasi traumanya, ternyata–" gumam ayah segera ku potong saat pertanyaan tentang Lea muncul dikepalaku.
"Papa tau penyebab Lea takut berenang?"
"Dulu dia pernah tenggelam di sungai bersama dengan temannya. Lalu temannya meninggal, mungkin karena hal itu dia jadi takut berenang." Jelas ayah membuat mataku membelalak terkejut.
"Be–benarkah? Te–temannya meninggal? Papa tau darimana?"
"Victor yang memberitahu ku. Tapi pada dasarnya fisik anak itu memang sudah lemah dari lahir. Tapi papa dengar Lea selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian temannya itu," Tutur ayah sambil memegangi dagunya.
"Jadi karena itu Lea tidak suka berenang?" Gumamku merasa bersalah karena sudah memaksanya untuk berenang bersamaku.
Biar bagaimana pun Lea pasti takut saat melihat pantulan dirinya di permukaan air yang tidak tau seberapa dalamnya air itu kan? Tapi ... kenapa Lea menyalahkan dirinya sendiri atas kematian temannya? Batinku bertanya-tanya.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu," ucap paman Justin memasuki ruangan diikuti oleh paman Ian dan seorang perempuan cantik disampingnya. Membuyarkan lamunanku.
"Kenapa kalian datang ke sini?" Tanya ayah terlihat tak bersahabat.
"Tentu saja karena aku ada urusan dengan Justin, kalau tidak ada mana mungkin aku datang kesini?" Jawab paman Ian sambil membenarkan jas yang dikenakannya dan membalas tatapan tajam ayah.
"Dengan membawa istrimu kesini?" Tanya ayah lagi sambil memicingkan matanya.
"Ya–"
Hubungan ayah dengan paman Ian tidak pernah terlihat baik ya? Batinku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum geli saat melihat ekspresi keduanya.
"Hallo Aster," ucap perempuan disamping paman Ian yang sudah berdiri dihadapanku sambil meraih kedua tanganku.
Siapa? Apa dia ibunya Carel? Batinku bertanya-tanya.
.
.
.
Thanks for reading...