Aster Veren

Aster Veren
Episode 227




-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 08:00 pagi saat aku bermain bersama Yuna dan Khael di rumah kaca. Sedangkan Sarah dan Dean, mereka masih berada di ruang makan bersama dengan Carel.


Aku tidak tau apakah mereka akan baik-baik saja aku tinggalkan bersama dengan Carel? Tapi, jika aku tidak membawa pergi Yuna dan Khael, mereka pasti sudah membuat keributan lagi karena aku mengusir mereka semalam.


Belum lagi, Carel yang terlihat tidak menyukai kedua anak ini karena mengganggu waktu istirahatku. Jika diingat lagi, ekspresi kesalnya terlihat lebih menggemaskan dari sebelumnya.


"Kakak?" Suara Khael sudah berdiri di sampingku yang tengah duduk di kursiku sambil memperhatikan buku yang ku bawa dari kamarku.


"Ya Khael?" Tanyaku mengalihkan perhatianku padanya.


"Aku bosan." Ucapnya sambil mencebikan bibirnya dan melirik kearah Yuna berada.


Aku juga refleks mengikuti gerakan matanya dan terhenti pada sosok Yuna yang tengah berjongkok memperhatikan sesuatu. Sepertinya dia sangat menikmatinya, tapi kenapa tiba-tiba Khael bersikap seperti ini? Biasanya dia akan main sepanjang waktu dengan aku yang memperhatikannya dari jauh.


Apa dia sudah bosan dengan bermain di sekitar rumah? Haruskah aku mengajaknya pergi keluar? Batinku tak bisa mengalihkan pandanganku dari Khael dan Yuna.


"Haruskah aku membawa mereka ke taman hiburan?" Lanjutku bergumam sambil menutup buku ditanganku dan merasakan hembusan angin yang begitu sejuk menyapa kulit tubuhku.


"Kalian di sini?" Suara Kalea menarik perhatianku, ku lihat dia datang bersama dengan Teo.


"Lea." Ucapku segera bangkit dari posisi duduk ku.


"Jangan lupakan aku." Lanjut Nadin menyembulkan kepalanya di belakang tubuh Kalea dan Teo, disusul oleh Tia.


"Kalian datang juga?"


"Bagaimana kondisimu sekarang?" Tanya Tia segera menghampiriku dan meraih kedua tanganku dengan tatapan khawatirnya. Terlihat menggemaskan.


"Sudah lebih baik. Kenapa kalian tidak memberitauku kalau akan datang?" Jawabku memperhatikan mereka satu persatu.


"Kami ingin membuat kejutan."


"Benar. Tapi ... aku benar-benar pangling melihatmu Aster." Lanjut Tia setelah mendengar jawaban dari Nadin.


"Apa karena rambutku?" Tanyaku tak bisa menahan senyumanku. Entahlah, rasanya sangat menyenangkan karena bisa bertemu dengan mereka lagi.


Dengan cepat Tia menganggukan kepalanya dan berkata, "benar."


"Lalu, dimana anak menyebalkan itu?" Tanya Teo mengalihkan perhatianku dari yang lain.


"Carel? Dia masih sarapan di dalam."


"Kalau begitu, aku akan pergi menemuinya. Kalian bersenang-senanglah." Tuturnya segera meninggalkan ku bersama Kalea dan yang lainnya.


Kenapa dia sangat terburu-buru begitu? Batinku bertanya-tanya dengan sosok Teo yang berjalan cepat untuk menemui Carel.


Kalau diingat-ingat lagi, anak itu belum pernah pulang ke rumahnya sejak kemarin. Apa dia tidak ada kerjaan lain? Lanjutku masih dalam hati, mengingat sosok Carel yang terus menempel padaku.


"Kakak?" Suara Khael kembali menarik perhatianku.


"Wah wah siapa anak tampan ini?" Goda Tia segera berjongkok dihadapan Khael, "hey, beritau aku siapa namamu?" Lanjutnya terlihat begitu tertarik pada Khael.


"Kamu juga. Beritau aku siapa namamu." Ucap Nadin membuat Yuna menoleh kearahnya yang sudah berjongkok disampingnya.


***


"Jadi anak ini adiknya teman barumu?" Tanya Nadin memicingkan matanya sebelum melirik kearah Yuna yang sudah duduk disampingnya.


"Benar." Angguk ku ikut melirik kearah Yuna yang terlihat gelisah, apa dia merasa tidak nyaman?


"Hee ...," gumam Tia ikut memperhatikan Yuna.


"Kemana?" Tanyanya penuh antusias, lihatlah mata berbinarnya itu. Bahkan aura bahagianya sudah memancar dengan kuat.


Apa segitu inginnya dia pergi keluar? Batinku berusaha menahan diriku untuk tidak mentertawakannya.


"Taman bermain." Jawab Nadin dengan senyuman lebarnya yang terlihat sedikit sombong, menatap sosok Khael yang sudah melihatnya dengan penuh harap.


"Ayo! Ayo Khael mau pergi ke taman bermain." Ucapnya penuh semangat dan segera turun dari atas kursi yang dia duduki. Bahkan tanpa aba-aba dia sudah berlari menuju halaman rumah.


"Ah! Tunggu dulu Khael." Teriak Nadin terlihat begitu terkejut dengan reaksi Khael.


"Haha, pergilah! Kau harus bertanggung jawab karena sudah membuatnya begitu bersemangat." Lanjut Tia membuat Nadin berdecak dan segera berlari menyusul Khael.


"Apa kita juga akan pergi?" Tanya Kalea membuatku melirik kearahnya berdiri.


"Hmm... sepertinya aku akan pergi meminta izin pada ayah dulu. Kalian pergilah duluan." Jawabku sebelum bangkit dari tempat duduk ku, lalu ku lirik sosok Yuna yang terus diam sejak tadi.


"Ayo pergi Yuna." Lanjutku mengajaknya pergi bersamaku.


"Kalau begitu, kami tunggu di depan ya." Ucap Tia dengan senyuman lebarnya membuatku ikut tersenyum bersamanya.


Setelah meminta izin dari ayah, akhirnya aku diberikan izin keluar dengan ditemani oleh Hans dan Hana. Padahal aku ingin keluar bersama dengan teman-temanku saja, tapi kenapa ayah sangat berlebihan? Kalau hanya Hana saja, aku bisa mengerti karena ada Khael bersamaku, tapi Hans?


"Kau datang?" Suara Nadin saat aku keluar dari rumah bersama dengan Sarah.


Aku sengaja mengajaknya juga karena sepertinya dia diabaikan oleh Dean karena pria itu fokus berbincang dengan Carel dan Teo.


"Ah, kenalkan dia Sarah. Temanku, kaliaj berdua belum pernah melihatnya kan? Dan Sarah kenalkan mereka teman-temanku juga, Nadin dan Tia." Ucapku memperkenalkan mereka satu sama lain saat aku menyadari tatapan mereka yang terlihat sama-sama bingung dan canggung.


"Salam kenal." Ucap mereka bertiga bersamaan.


"Ayo pergi sekarang." Ucap Khael sudah tidak sabar, berbeda dengan Yuna yang terlihat sangat tenang berdiri di samping Sarah dengan menggandeng tangannya.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang." Lanjut Nadin terlihat begitu bersemangat, membuat binar mata Khael semakin bersinar.


"Apa kita tidak perlu mengajak Carel dan Teo juga?" Tanya Tia tiba-tiba.


"Sudahlah, biarkan saja mereka. sekali-sekali kita pergi tanpa mereka. Lagipula sudah lama kita tidak pergi berempat kan?" Tutur Nadin yang sudah menggandeng tangan Khael dan memimpin perjalanan kami menuju taman kompleks.


"Yah, baiklah. Ayo pergi!" Seru Tia mengekori mereka, sedangkan aku mengikuti mereka bersama Kalea dan Sarah disampingku. Lalu dibelakang kami ada Hans dan Hana yang mengikuti atas perintah ayah.


"Apa tamannya sangat bagus?" Tanya Yuna tiba-tiba, ku lihat dia sudah menengadahkan kepalanya menatap Sarah disampingnya.


"Itu ...,"


"Tentu saja. Itu adalah taman bermain anak yang sangat bagus karena baru selesai dibangun. Kamu pasti akan sangat menyukainya." Tutur Kalea segera menjawab pertanyaan Yuna saat melihat Sarah kesulitan.


Ya, tentu saja dia kesulitan bukan? Dia kan bukan asli orang sini. Tapi aku juga tidak mengetahui hal itu, kalau itu memang masih baru. Berarti taman itu dibuat baru-baru ini kan?


"Woah ... sungguh?" Tanya Yuna dengan mata berbinarnya, terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya.


"Sungguh. Jadi, ayo kita bermain dengan sepuasnya." Jawab Kalea dengan senyuman hangatnya.


... rasanya seperti aku melihat sesuatu yang luar biasa. Aku belum pernah melihat Kalea tersenyum seperti itu pada anak kecil. Apa dia memang selalu seperti itu pada anak kecil? Batinku mengingat kebersamaan kami, tapi kenapa aku tidak menemukan ingatan yang sama saat Kalea berinteraksi dengan Khael?


.


.


.


Thanks for reading...