
-Aster-
"Hoo... ini hebat," gumamku merasa begitu antusias tanpa alasan khusus.
"Kau sangat bersemangat ya?" Suara Teo membuatku menoleh kearahnya berdiri, ku lihat dia tengah mengernyit bingung saat aku tersenyum lebar padanya.
"Benarkah?" Tanyaku membuatnya mengangguk cepat dengan ekspresi datarnya.
"Hihi ... apa mungkin karena ini pertama kalinya aku ikut kegiatan olahraga tanpa harus takut penyakitku kambuh ya?" Lanjutku sambil memperhatikan semua orang yang sedang berkerumun dipinggir lapangan, menunggu kedatangan guru olahraga.
... bohong jika aku senang tanpa alasan, justru karena alasannya aku bisa ikut olahraga membuatku sangat gembira sekarang. Mungkin karena tidak perlu takut merasakan sesak napas lagi, batinku tak bisa berhenti tersenyum dengan degupan jantungku yang mulai berpacu karena merasa sangat bahagia.
"Syukurlah dulu kau memutuskan untuk ikut ke Singapura bersama ayahmu ya?" Tutur Teo sambil meraih puncak kepalaku dan mengacak rambutku sedikit bersamaan dengan anggukan kepalaku.
Tak lama kemudian guru olahraga yang ditunggu pun tiba. Dengan cepat semua orang membuat barisan serapi mungkin, termasuk diriku yang sudah digeret memasuki barisan oleh Teo.
Aku berdiri dibarisan paling belakang bersebelahan dengan Teo. "Kalau tidak sanggup jangan memaksakan diri ya," ucapnya membuatku menoleh padanya.
"Jangan meremehkanku," ucapku merasa sedikit kesal padanya. Ya bagaimana tidak? Sikapnya itu membuktikan kalau dia tidak sepenuhnya mempercayai kesehatanku kan?
"Bukan begitu, aku tidak tau kau sudah pulih sepenuhnya atau–"
"Sudah pulih kok." Tekanku sambil mencebikan bibirku dan mengalihkan pandanganku dari pria berambut pirang di sampingku.
"... lakukan pemanasan terlebih dulu sebelum melakukan olahraga basket, Hendric dan Tia silahkan maju ke depan untuk memimpin pemanasan kalian." Tutur pak Tirta membuat Hendric dan Tia maju ke depan.
... entah kenapa aku jadi kepikiran kejadian di kantin, batinku memperhatikan sosok Tia yang terlihat menawan dengan postur tubuhnya yang seperti model, wajahnya juga sangat cantik.
Saat di kantin, Carel memarahinya karena kedatangan Tia membuatku terkejut. Padahal dia juga sering muncul tiba-tiba dan mengejutkanku, tapi dalam situasi seperti itu dia malah memberikan omelannya pada Tia.
"Harusnya sebelum dia memarahi Tia, dia dulu yang berintrospeksi diri kan?" Gumamku sambil menghela napas dan melakukan pergerakan pemanasan seperti yang dicontohkan oleh Tia dan Hendric.
"Kau lelah?" Tanya Teo membuatku mendelik sebal, kenapa dia bisa menyimpulkan aku lelah hanya dari menghela napas saja? Padahal tubuhku sedang melakukan pemanasan dengan bugar.
***
"Pemanasannya sudah selesai, kalau begitu silahkan buat kelompok dua orang untuk melakukan latihan mengumpan bola basket chest pass, dribbel dan shooting. Untuk pembelajaran hari ini fokus pada latihan kalian saja, minggu depan baru kita ambil nilai olahraga kalian dengan melakukan tes," tutur pak Tirta setelah kami selesai melakukan pemanasan.
Ku lihat semua orang mulai sibuk mencari pasangan mereka untuk melakukan latihan bersama seperti yang diperintahkan oleh pak Tirta.
Sepertinya tidak ada yang mau berpasangan denganku ya? Batinku merasa sakit jauh didalam hatiku sambil memperhatikan kelompok perempuan yang sudah mendapatkan pasangan mereka.
Padahal aku tidak menakutkan, tapi kenapa mereka tidak mau mencoba berteman denganku? Apa karena kejadian di hari pertamaku masuk kelas ya? Aku kan sempat bertengkar sedikit dengan Nadin.
"Kau belum dapat pasangan?" Tanya Teo membuatku menoleh padanya, sepertinya dari tadi dia masih berdiri di sampingku dan ikut memperhatikan kerumunan anak perempuan dihadapanku.
"Mau bagaimana lagi kan anak perempuan di kelas kita ganjil, jadi ak–" Tuturku terpotong oleh suara pak Tirta yang memanggil nama Teo dan membuatnya melangkahkan kedua kakinya mendekati pak Tirta setelah menatapku dengan tatapan khawatir?
"Kok aku kesal ya?" Gumamku merasa tak suka dengan tatapan yang ditunjukan Teo sebelum dia pergi tadi.
"... aku tidak mau berpasangan dengannya, kau saja yang berpasangan dengannya." Bisik seorang pria yang berdiri tak jauh dari tempatku.
Ku lihat dia tengah berbincang dengan teman-temannya yang sudah memiliki pasangan. Lalu ku alihkan pandanganku kearah Sean berdiri.
Ta–tangguh sekali dia ... apa dia sedang menunggu Hendric kembali? Lanjutku dalam hati memperhatikan pak Tirta yang masih berbincang dengan Teo dan Hendric. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi ekspresi mereka terlihat begitu serius.
"Sudah ku bilang tidak mau kan?" Suara itu kembali menggangguku.
"Pergi saja dulu, kau tidak bisa menilai seseorang dari gosip saja kan?"
"Benar, lagipula kita sudah melihat sikapnya di kelas kan?"
"Tetap saja, aku merasa dia tidak akan mau berpasangan denganku."
"Kenapa begitu?"
"Kita kan sudah bersikap jahat padanya,"
"Kalau begitu minta maaf sana! Memangnya dengan kalian merumpi diam-diam seperti itu tidak bisa dianggap sebagai kejahatan juga?" Gerutuku dengan suara pelan sambil mengepalkan kedua tanganku disamping garis celana olahragaku, entah kenapa aku merasa kesal untuk Sean.
Lagipula kenapa semua orang menjauhinya seperti itu? Yang salah kan bukan Sean, tapi ibu tiri dan nenek tirinya. Jelas sekali kalau mereka tak ada ikatan darah dengan Sean kan? Tapi mereka malah memperlakukan Sean seperti itu.
Kalau begitu ..., batinku sambil memperhatikan kembali semua perempuan yang sudah memiliki pasangannya, lalu beralih pada kelompok laki-laki yang menyisakan seorang pria yang tidak memiliki pasangan diantara mereka.
Harusnya sih dia bisa berpasangan dengan Sean, tapi karena dia keras kepala maka dia lebih memilih mengganggu teman-temannya yang sudah memiliki pasangan.
Ku hela napasku sedalam mungkin, lalu ku langkahkan kedua kaki ku mendekati Sean setelah membulatkan tekadku untuk mengajaknya berpasangan denganku.
"Anu ...." ucapku saat sampai disamping Sean. Pria itu pun melirik malas kearahku, "kau sudah memiliki pasangan berlatih?" Lanjutku bertanya.
Tak ada jawaban, dia hanya menatapku dengan tatapan yang tak ku mengerti. Bahkan mulutnya tidak mengeluarkan suara sedikitpun, jangankan suara bahkan bibirnya tidak terbuka sedikitpun, padahal aku sangat yakin kalau Sean bukan tipe pria pendiam. Bisa diingat kembali bagaimana dia membuat keributan bersama Nadin di hari pertama kami masuk sekolah.
"... ka–kalau tidak keberatan, apa kau mau berpasangan denganku? Itu, aku–" Ucapku lagi merasa gugup sendiri, takut dia menolak ku disaat perhatian semua orang sedang tertuju padaku.
"Kau tidak ada pasangan?" Tanyanya membuatku mengangguk lesu sambil tersenyum kaku padanya.
"Iya karena anak perempuan di kelas kita ganjil," jawabku sambil memperhatikan gerombolan anak perempuan dan anak laki-laki di tengah lapang secara bergantian.
Yang ku tau jumlah anak laki-laki di kelasku ada 16 orang, sedangan jumlah anak perempuan ada 9 orang. Tapi hari ini jumlah anak laki-lakinya ada 15 orang, itu berarti satu orang tidak masuk kan?
Dan ini kesempatanku untuk bisa ikut bersenang-senang. Merasakan asiknya berolahraga tanpa harus takut merasakan sakitnya sesak napas lagi. Jadi entah kenapa aku merasa berterima kasih pada orang yang tidak masuk kelas hari ini. Berkatnya aku jadi bisa berpasangan dengan seseorang, siapapun itu meski bukan bersama Sean pun aku akan tetap bisa berpasangan kan? Karena hari ini anggota kelas kami tidak ganjil seperti biasanya.
"... kau berpasangan dengannya?" Suara Teo yang sudah berdiri di hadapanku disusul oleh kedatangan Hendric.
"Eh, itu–"
"Ya, aku berpasangan dengannya." Potong Sean sambil meraih pergelangan tanganku, "ayo pergi dan berlatih." Lanjutnya segera membawaku pergi setelah merebut bola ditangan Hendric.
Ini? Sean menerima ajakanku? Batinku tak bisa melepaskan pandanganku dari punggungnya lalu beralih pada pergelangan tanganku yang digenggam olehnya.
.
.
.
Thanks for reading...