Aster Veren

Aster Veren
Episode 242




-Aster-


"Bagaimana dengan yang ini nona?" Tanya Mila menunjukan botol parfum di tangannya padaku, lalu ku raih botol itu dan membuka tutupnya untuk mencium aroma parfum di dalamnya.


Dari aroma yang ku cium, aku tidak mendapati aroma yang sama dengan parfum yang biasa digunakan oleh Carel. Wanginya benar-benar asing dan baru pertama kali aku cium, tapi aroma wanginya cukup enak di hidung.


Ku tutup botol parfum di tanganku sambil menggelengkan kepala dengan lesu, "bukan yang ini." Ucapku kemudian sebelum memberikan botol itu ke tangan Mila.


"Sungguh? Padahal kita sudah mencarinya sejak tadi." Tanyanya terlihat lelah.


Padahal aku ingin mengejutkan Carel dengan parfum yang ku belikan, tapi sepertinya aku tidak bisa mendapatkannya. Aku juga sudah mulai lelah karena tidak menemukan parfum yang ku mau. Apa aku beli yang lain saja? Atau pergi mencari toko parfum yang lain? Batinku memikirkan hal baik apa yang bisa ku lakukan.


Sepertinya aku harus beli yang lain. Lanjutku dalam hati saat melihat wajah lelah Mila yang membuatku merasa bersalah karena berlama-lama mencari parfum.


"Seandainya aku tau nama parfum yang sering dia gunakan, mungkin aku tidak akan kesulitan seperti ini. Aku jika tidak akan membuat Mila dan Hans kesulitan." Gumamku setelah menghela napas panjang, berusaha untuk mengurangi sedikit rasa lelahku dengan menghela napas.


"Permisi ...," ucapku pada pergawai toko, membuatnya berjalan menghampiriku dengan sedikit tergesa-gesa.


"Bisa aku beli yang—ini? Tunggu dulu!" Lanjutku tidak jadi memberikan parfum yang sudah ku pegang. Lalu ku simpan kembali parfum di tanganku dan menukanrna dengan botol parfume yang menarik perhatianku di detik terakhir.


"Bisa aku melihat parfum yang itu?" Timpal ku sambil menunjuk botol parfume yang tersimpan di atas rak belakang meja kasir.


"Ah parfum yang itu? Tunggu sebentar nona." Ucap pelayan toko itu mengambilkan botol parfum yang ku tunjuk, lalu memberikannya padaku.


Dengan hati-hati ku buka tutup botol parfum itu dan mencium aroma yang ku semprotkan sedikit pada pergelangan tanganku, lalu ku cium aroma parfum familiar yang menyeruak masuk ke hidungku.


Mataku langsung berbinar menatap botol parfum di tanganku saat aku menemukan apa yang ku cari, "tolong bungkus yang ini." Ucapku kemudian sambil memberika botol parfum di tanganku pada pelayan itu.


Setelah membeli parfum untuk Carel, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke toko es krim yang sempat ku lihat saat memasuki pusat perbelanjaan tadi. Aku juga ingin mengajak Hans dan Mila untuk beristirahat. Mereka pasti lelah karena membantuku kan?


"Nona mau es krim rasa apa? Biar saya yang membelikannya untuk nona." Tutur Mila membuatku sedikit terkejut.


"Tidak-tidak biar aku saja yang membelinya sendiri. Kalian duduk di sini dan tunggu aku." Tolak ku berusaha menghentikan niat baik Mila.


"Eh? Saya baik-baik saja, nona tidak perlu mengantre dan membelikan saya—"


"Duduk dan tunggu aku. Ini perintah paham?" Potongku sambil menekan bahunya dan membuatnya terpaksa duduk di kursi yang ada dibelakangnya, "Kamu juga Hans!" Lanjutku membuatnya mematung di tempat.


Setelah melihat mereka duduk dengan tenang, akupun bergegas pergi memesan tiga es krim dengan rasa yang berbeda pada pegawai dihadapanku dan menunggu mereka selesai membuatkan es krim yang ku pesan.


Aku suka rasa strawberry dan coklat, apa Mila dan Hans tidak keberatan dengan rasanya? Aku lupa menanyakan rasa es krim yang mereka sukai. Batinku menoleh ke arah Hans dan Mila yang terus memperhatikanku di tempat duduk mereka.


"Ahaha—ha, mereka terus menatapku seperti itu. Bisa-bisa aku punya lubang di punggungku jika mereka terus menatapku dengan serius seperti itu." Lanjutku bergumam.


"Terima kasih." Balasku setelah membayar pesananku sebelum kembali ke tempat Hans dan Mila.


"Selamat datang kembali nona." Ucap Hans dan Mila bersamaan membuatku tersenyum saat mendengar ucapan mereka.


"Aku lupa bertanya tadi, apa kalian tidak masalah dengan es krim pilihanku? Rasa coklat dan strawberry?" Tanyaku memberikan es krim di nampanku pada mereka sebelum meraih kursi di hadapanku dan mendudukinya.


"Kebetulan saya sangat menyukai rasa coklat dan strawberry, jadi tidak masalah untuk saya nona." Tutur Mila dengan senyum lebarnya, lalu ku lihat dia sudah meraih sendok es krim dihadapannya dan mulai menyendok es krim di dalam gelasnya.


"Saya juga tidak masalah. Terima kasih nona." Lanjut Hans melakukan hal yang sama dengan Mila dan mulai menikmati es krim yang ku berikan padanya.


Aku juga! Aku akan melakukannya ..., batinku meraih sendok es krim dan mulai menyendok es krim dihadapanku sebelum memasukannya ke dalam mulutku.


"... ini sangat enak. Aku menyukainya." Lanjutku bergumam saat merasakan es krim di mulutku mulai meleleh dan rasa manisnya yang tidak berlebihan benar-benar memanjakan lidahku.


"Benar, es krimnya sangat enak. Saya juga menyukainya karena rasa manisnya pas di lidah saya." Anggun Mila dengan ekspresi senangnya yang terlihat begitu kentara.


Sepertinya dia senang bisa makan es krim bersamaku, atau dia senang karena bis alergi ke luar bersamaku? Yah, yang manapun tidak masalah untuk ku, lagipula aku juga senang bisa keluar bersamanya.


Lalu ku raih kembali sendok es krim yang sempat ku tancapkan pada es krim di gelasku, lalu mulai kembali menyendok es krim di hadapanku—sebelum melahapnya.


Tapi belum sempat aku melahapnya, seseorang sudah muncul di hadapanku dan membuatku jantungan saking terkejutnya dengan penampakan Carel di hadapanku. Padahal seingatku, aku tidak pernah memberitahukan rencana ku hari ini. Tapi kenapa kami bisa bertemu di tempat ini? Apa Carel diam-diam mengikutiku?


" Carel?" Gumamku bersamaan dengannya yang sudah merebut es krim di sendok yang ku pegang, padahal aku berniat untuk memakannya. Tapi malah keduluan oleh Carel yang tiba-tiba muncul di hadapanku.


"Kenapa kau bisa di sini?" Tanyaku setelah sadar dengan lingkungan sekitarku dan langsung berdiri setelah menancapkan kembali sendok es krim di tanganku pada es krim di gelas.


"Aku mencarimu." Dengusnya membuatku mengenyit bingung saat mendengar jawabannya itu. Padahal kita sudah bertemu dan bermain seharian kemarin, tapi kenapa dia mencariku lagi hari ini? Apa dia tidak bosan terus melihatku?


Ini kan belum ada satu hari kami berpisah, bahkan kalau di hitung dari semalam sampai sekarang, kami baru berpisah sekitar delapan jam-an. Tapi Carel sudah mencariku?


"Aku bahkan menelponku beberapa kali. Kenapa tidak kau angkat?" Lanjutnya membuatku melirik saku celanaku dan mengeluarkan handphoneku di dalamnya untuk memeriksa panggilan masuk yang dimaksud oleh Carel.


Ku lihat ada banyak panggilan tak terjawab darinya, dan aku baru menyadarinya karena memang sejak tadi aku tidak mengeluarkan handphoneku karena terlalu fokus mencari parfum untuk Carel.


"Hehe maaf, headphonenya aku masukan ke mode silent." Tuturku merasa tidak enak pada pria bermanjk merah di hadapanku sekarang.


.


.


.


Thanks for reading...