Aster Veren

Aster Veren
Episode 129




-Kalea-


"Hooamz... haaah ngantuknya," gumam Nadin setelah menguap lebar sambil berjalan disampingku, menuruni anak tangga menuju pintu keluar asrama.


"Kau bergadang lagi?" Tanyaku sambil melirik padanya dan ku dapati dia mengangguk lesu sambil menggaruk tengkuknya.


"Mau bagaimana lagi, tugas sekolah semakin menumpuk. Apalagi sebentar lagi kita akan ujian, lalu menghadapi festival sekolah." Jelasnya dengan ekspresi malasnya.


Benar juga, aku sampai lupa kalau kita akan menghadapi ujian. Apa karena aku terlalu menikmati acara ulang tahun Aster ya? Padahal acaranya sudah berlalu beberapa hari yang lalu, tapi aku tidak bisa melupakan keseruan acara malam itu. Apalagi saat melihat Carel menangkap basah Sean dan Aster di kebun mawar.


Anak itu langsung memberikan tekanan hebat pada Sean, lalu membawa Aster pergi dari hadapannya. Setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi. Yang ku ingat adalah ekspresi kesal Sean saat menatap punggung Carel yang membawa Aster bersamanya.


"Ngomong-ngomong, hari ini kau tidak pergi bersama Aster?" Tanya Nadin saat kami berjalan melewati pagar asrama.


"Dia sudah pergi lebih dulu."


"Hmm ...,"


"Kenapa?"


"Tidak, hanya ... aneh saja melihatnya selalu pergi sendirian. Bukankah dulu dia sangat ngotot ingin pulang pergi ke akademi bersamamu? Tapi tiba-tiba dia pergi tanpamu,"


Benar! Aku juga berpikir ada yang aneh dengan Aster, dia jadi lebih pendiam dan tertutup seperti dulu. Aku sudah menyadarinya beberapa hari ini, tapi aku tidak mau mengakuinya. Batinku sambil mengepalkan tangan kananku.


"Kau sendiri kenapa tidak pergi dengan Tia? Bukankah kalian sangat dekat?" Tanyaku berusaha menepis pikiran buruk ku mengenai Aster.


"Tidak tuh, kami tidak sedekat itu."


Entahlah, tapi dari yang ku lihat kalian sangat dekat ... tapi, mau dipikirkan berapa kalipun aku tidak bisa menepis pikiranku tentang Aster. Apalagi aku sudah berjanji akan melindunginya. Aku benar-benar mengkhawatirkannya sekarang.


"Apa anak itu baik-baik saja?" Gumamku mengingat ekspresi Aster akhir-akhir ini.


Ekspresinya memang sedikit berubah, apalagi saat dia mendengar paman Arsel beserta keluarganya akan pindah keluar negri dan tinggal disana selama beberapa tahun sampai urusan pekerjaannya selesai.


Anak itu–Khael juga terlihat sedih saat melakukan perpisahan dengan Aster. Padahal mereka baru-baru ini dekat, tapi sudah harus berpisah. Di tambah Carel yang semakin sibuk dengan pelajarannya. Dia jadi tidak bisa membantu memperbaiki suasana hati Aster.


"Menurutmu, apa yang seharusnya kita lakukan?" Tanyaku membuat langkah Nadin terhenti begitupun dengan langkah ku.


"Hah?"


"Eh–itu, maksudku ... Kau tau? Mungkin saja Aster merasa sedih dengan kepergian Paman Arsel dan Khael. Ditambah belakangan ini dia jarang bertemu dengan Carel, terakhir mereka bertemu saat acara ulang tahunnya Aster kan?" Jelasku membuat ekspresi bingung Nadin memudar.


"Benar juga, aku tidak memikirkannya ... hmm, bagaimana ya? Haruskah aku menggeret anak menyebalkan itu kehadapan Aster?"


"Itu–terlalu ...,"


"Tapi bukan berarti dia ingin bertemu atau diperhatikan oleh Carel kan? Ku rasa cara ini tidak bisa ku lakukan. Lagipula–" Lanjutnya tak mendengarkan ku.


"Kenapa? Ada apa?" Tanyaku saat mendengar ucapan Nadin yang menggantung.


"Sepertinya ... aku lapar, hehe ...," jawabnya bersamaan dengan suara perutnya.


Aku menyesal sudah bertanya padanya.


***


Akhirnya kami memutuskan pergi ke kantin terlebih dulu sebelum pergi ke kelas masing-masing.


"Lea, kau yakin makan satu roti saja cukup?" Tanya Nadin setelah menelan nasi kare di dalam mulutnya.


"Ya,"


"Hmm, ku pikir lebih baik kau makan lebih banyak dari biasanya."


"He? Kenapa tiba-tiba–"


"Dan ya, melanjutkan pembicaraan kita sebelumnya, sepertinya perubahan Aster bukan karena dia tidak bisa bertemu dengan Carel. Jadi aku tidak bisa menggeret anak menyebalkan itu kehadapan Aster. Tapi aku juga tidak tau apa penyebab dia berubah seperti itu?" Lanjutnya membuatku sedikit terperajat.


Aster ...,


"Kita biarkan saja dulu, dan perhatikan diam-diam. Kalau masih tidak ada perubahan baru kita tanyakan pada Aster. Siapa tau dia membutuhkan waktu untuk sendiri." Ucap Nadin sambil meraih gelas minumnya.


***


-Aster-


"Ugh, ini sangat sakit." Gumamku sambil memeluk perutku yang meringkuk di brankar UKS.


Padahal hari ini ada tes olahraga, tapi aku malah meringkuk kesakitan di sini. Aku bahkan belum sampai ke kelas, tapi malah terdampar di UKS. Lanjutku dalam hati sambil mengingat seorang perempuan yang membantuku, dia mengantarku ke UKS. Jika dilihat dari dasinya, sepertinya dia kakak kelas.


"Istirahatlah disini sampai kondisimu membaik, ibu akan segera kembali setelah memberitaukan kondisimu pada guru-guru yang mengajar di kelasmu hari ini." Ucap petugas UKS sebelum meninggalkanku sendirian di ruangan serba putih ini.


"Iya, terima kasih ...," ucapku masih meringkuk.


Sunyi, hanya ada hembusan angin yang masuk melalui celah jendela UKS yang terbuka sedikit. Lalu suara jarum jam yang berdetik menemani kesunyian ku.


"... sepertinya dalam waktu lama aku tidak akan bisa bertemu dengan Khael, paman dan bibi. Kenapa mereka mendadak sekali pindah ke luar negri? Padahal sebentar lagi liburan semester, tapi aku akan kesepian tanpa Khael." Gumamku merasa belum percaya dengan keputusan mereka yang sudah pergi ke luar negri untuk mengurusi urusan pekerjaan.


"Bahkan kak Hana dan paman Eric pun ikut pergi bersama paman ...." Lanjutku sebelum memejamkan kedua mataku.


Lalu ingatan malam itu kembali menyerbu kepalaku, setelah digeret pergi oleh Carel dari hadapan Sean. Aku pergi menemui ayah yang tengah berbincang dengan paman Ian dan paman Albert. Tapi sebelum itu aku sempat mendengar pembicaraan kakeknya Carel dengan seorang pria yang entah siapa? Aku bahkan belum pernah melihatnya.


Dalam pembicaraan itu samar-samar aku mendengar soal perjodohan Carel dan Lusy? Perempuan yang terus menempel pada Carel saat pesta ulang tahunku malam itu. Aku benar-benar dibuat terkejut saat mendengarnya.


Jika tidak salah ingat, aku dengar pria itu memperkenalkan dirinya sebagai kakeknya Lusy. Pria paruh baya pemilik akademi tempatku bersekolah saat ini.


Jadi orang misterius yang tidak diberitahukan Carel pada Teo itu adalah kakeknya Lusy? Batinku mengingat kembali kunjungan keluarga yang dimaksud oleh Teo. Kunjungan tiga kepala keluarga yang memiliki peran penting dalam pendidikan di akademi.


"... kenapa dadaku sesak ya? Hatiku juga tidak senang saat mendengar Carel dijodohkan dengan Lusy. Kenapa ya?" Gumamku lagi sambil merubah posisi meringkuk ku menjadi berbaring, memperhatikan langit-langit UKS yang terlihat begitu jauh.


Setelah mendengar pembicaraan kakeknya Carel tanpa sengaja, aku juga bertemu dengan Lusy. Perempuan itu mendatangiku dan memperkenalkan dirinya sebagai tunangan Carel. Aku sampai tak bisa berkata-kata saking terkejutnya, niatku untuk menanyakan kebenarannya pada Carel pun pupus setelah mendengar pembicaraan kakeknya Carel. Dan sampai hari ini aku tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Carel, aku bahkan belum melihatnya lagi setelah malam itu. Batinku sambil menghela napas letih.


Drak!


Suara pintu geser UKS mengejutkanku, sepertinya ada seseorang yang datang. Aku tidak tau siapa karena tirai biru disekelilingku menutupi pandanganku.


"... tidak ada siapapun," suara Lusy mengejutkanku.


"Aku akan memanggil petugas UKS, kau tunggu disini." Kali ini aku mendengar suara Carel, terdengar tak bersahabat.


"Tidak, aku–"


"Kalau begitu, obati lukanya sendiri!"


"Eh? Tapi–"


"Ini kotak P3Knya."


"Tunggu Carel! Kau lupa kalau kita sudah bertunangan? Harusnya kau memperlakukanku dengan baik." Tutur Lusy kembali mengejutkanku.


Kotak P3K? Apa Lusy terluka? Batinku bertanya-tanya.


.


.


.


Thanks for reading...