Aster Veren

Aster Veren
Episode 58




-Ansel-


"Sepertinya mereka membuat pergerakan lagi." Suara Victor kembali terngiang, padahal baru sebentar aku melupakan masalah pertemuanku dengannya kemarin dan menghirup udara segar pagi ini. Tapi tidak sampai satu jam, suaranya kembali memenuhi kepalaku bersama suara lainnya yang membuat kepalaku semakin berdenyut.


"... Kalea? Dia masih denganku untuk saat ini, tapi setelah wanita itu menikah dengan Albert ... kau tau? Dia tidak akan tinggal diam untuk mengambil hak asuhnya kembali." Lanjutnya bersama dengan bayangan wajah serius Victor.


"Dia benar-benar menikah dengan orang merepotkan," gumam Arsel sama seriusnya dengan Victor.


Ya, satu tahun lalu aku mendengar kabar tentang pernikahan Claretta dengan Albert dari ibu. Albert sendiri adalah seorang pria kaya yang mampu menyaingi kekayaan keluarga Alterio, bahkan reputasinya juga terbilang bagus.


Pria itu tinggal disebrang kota dan menjalankan bisnis besar dipelabuhan. Entah bagaimana pertemuannya dengan Claretta bisa berujung pada pernikahan, tapi dari penjelasan Victor sepertinya wanita itu sedang mencari orang berpengaruh untuk merebut kembali putrinya dari tangan Victor. Entahlah, aku hanya menduganya saja.


Anehnya kenapa dia tidak melakukannya dari dulu jika memang sebegitu menginginkan putrinya kembali? Setelah pernikahannya selesai, dia bisa mengurus masalah perpindahan hak asuhnya lagi kan? Tapi kenapa dia malah mengulur waktu selama ini? Batinku bertanya-tanya saat mengingat kembali isu pernikahannya tahun lalu.


Selain itu sepertinya mereka berlima juga menyadari apa yang sedang ku pikirkan. Apalagi kalau bukan keterlibatan keluarga Claretta dengan kecelakaan yang dialami ibu?


Aku bisa menyimpulkannya dari penyelidikan yang dilakukan Eric beberapa tahun lalu saat aku mendengar rekaman Claretta dan ibunya yang berniat menyingkirkan ibuku sebelum menjatuhkan nama baik keluargaku. Dari sana aku juga bisa melihat apa yang akan terjadi kedepannya. Sialnya aku tidak pernah menyangka kalau ibu akan ....


Mungkin memang benar anak dan ibu yang memiliki dendam pada keluargaku itu akan kembali berulah dan mengusik kedamaian keluargaku lagi, aku tidak berniat mencurigai mereka tapi hal itu tidak bisa ku abaikan saat semua bukti mengarah pada mereka. Batinku sambil menghela napas berat saat mengingat kondisi terakhir ibuku.


Selain itu ucapan Rigel ada benarnya, aku harus menunggu Hans sadarkan diri dulu untuk mendengar kejadian sebenarnya sebelum kecelakaan itu terjadi, karena hanya dia yang pergi ke kediaman Michelle bersama ibu.


"Tidak ada gunanya aku terus merasa kesal pada anak dan ibu si*lan itu." Gumamku saat tersadar dari lamunanku.


"Kita sudah sampai di kediaman Alterio tuan." Ucap Tomi setelah menghentikan laju mobilnya didepan pintu masuk rumah Alterio yang begitu mewah dan luas. Jika dibolehkan aku ingin membawa mobilku mendekat sedekat mungkin dengan pintu masuk rumahnya Ian, dengan begitu aku tidak perlu susah payah membuang tenaga untuk berjalan kaki dari halaman menuju pintu.


Ya, halamannya sangat luas lebih luas dari milik ku. Begitupun dengan rumah mewah bercat abu yang berdiri kokoh dengan pilar beton yang berjejer sepanjang jalan hingga kedekat pintu masuk. Bahkan teras lantai duanya pun terlihat mewah, jika berdiri disana sepertinya aku bisa melihat pemandangan yang bagus. Batinku sambil memperhatikan teras diatas setelah keluar dari dalam mobilku.


"Apa yang anda lihat tuan? Kita harus bergegas karena tuan Ian sudah menunggu tuan diruangannya." Suara Tomi mengejutkanku.


Cepat sekali dia kembali? Gumamku sambil melirik kearah mobilku yang sudah terparkir ditempat parkir khusus tamu.


***


Setelah disambut hangat oleh pelayan rumah dan dibimbingnya menuju ruang kerja Ian. Tomi pun segera pergi dari kediaman Alterio bersama Carel, karena tugas mengantarkanku ke kediaman Ian sudah selesai.


"Pagi-pagi buta dia sudah datang menjemputku, tidak bisa dipercaya." Gumamku sambil menghela napas letih mengingat kedatangan Tomi pagi tadi.


... sepertinya anak itu berbuat onar lagi dan pergi ketempat ibu. Batinku saat berpapasan dengan Carel di ruang tamu beberapa menit lalu, memikirkan kemungkinan apa yang bisa membuatnya pergi dari rumahnya sepagi ini tidak lain adalah karena ayahnya.


Dan lagi aku mendengar dia berbicara pada Tomi untuk mengantarnya pergi ke rumah ibu saat kami berpapasan tadi.


"Maaf membuatmu menunggu lama," suara Ian bersamaan dengan suara pintu yang terbuka menampilkan sosoknya yang berjalan ringan menghampiriku yang sudah duduk disofa dekat jendela besarnya.


Dia datang sendiri? Padahal ku kira dia benar-benar menungguku, ternyata aku yang harus menunggunya .... Batinku mengingat ucapan Tomi sebelum masuk ke rumahnya Ian.


***


-Aster-


"Hah ...." Gumamku sambil menghela napas berat, rasanya sulit sekali bersikap baik-baik saja di depan semua orang.


Hatiku rasanya masih sedih, tapi aku harus menyembunyikannya dari semua orang. Dengan begitu mereka tidak akan mengkhawatirkanku lagi kan?


"Kau membuat anak kecil khawatir dan hampir menangis tau." Lanjutnya membuatku menoleh kearah Khael yang sudah berkaca-kaca.


"Eh? Ma–maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu bermain sendirian." Tuturku segera berjongkok dihadapan Khael dengan perasaan bersalahku setelah melepaskan cubitan Carel dipipiku.


Dengan malas anak itu menggelengkan kepalanya sambil meremas ujung pakaiannya dengan salah satu tangannya, lalu tangan lainnya dia sembunyikan dibelakang tubuhnya, "tidak apa-apa ... apa kak Aster tidak enak badan? Hari ini kakak terlihat lesu." Tuturnya dengan ekspresi menggemaskannya itu.


"Benar, padahal tadi pagi nona terlihat bersemangat. Apa ada hal yang mengganggu nona?" Tanya kak Hana yang baru tiba dengan beberapa kue dinampannya, bahkan paman Eric juga membantunya dengan membawakan dua cangkir teh dan segelas susu untuk Khael.


"Apa kakak bosan bermain sama Khael?" Tanyanya membuatku menggeleng cepat.


"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja–" Jelasku terhenti saat merasakan telapak tangan Carel mendarat diatas puncak kepalaku hingga membuatku refleks menoleh kearahnya yang sudah berdiri disampingku, lalu ku lihat perubahan sorot mata Khael yang kembali ceria dan tersenyum lebar padaku.


"Kalau begitu bersemangatlah, Khael berikan bunga cantik ini untuk kak Aster supaya kakak kembali bersemangat." Tuturnya sambil menunjukan setangkai bunga ditangannya yang sempat dia sembunyikan dibelakang tubuh mungilnya itu.


"Ini?" Gumamku menerima bunga cantik dari tangan mungil Khael bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa tubuhku dengan lembut.


"Bunga Aster ungu." Lanjut Carel bersamaan denganku dan suara gemerisik dedaunan pohon didekat kak Hana dan paman Eric.


Kami memang sedang bermain di luar karena bosan berdiam diri didalam rumah terus. Selain itu Khael juga merengek ingin main diluar, jadi mau tidak mau aku turuti keinginannya saat kak Hana pergi kedapur untuk membawakan kami makanan.


"Saya dengar Nyonya sudah merawat bunga Aster ungu itu sejak nona tinggal di Singapura. Dia meminta tukang kebun untuk menyingkirkan tanaman mawar dan menggantinya dengan bunga Aster tepat pada hari ulang tahun nona. Bisa dibilang rumah kaca di halaman belakang itu hadiah dari nyonya untuk nona." Jelas kak Hana membuat air mataku tumpah.


Jadi tadi Khael yang tiba-tiba menghilang–pergi ke rumah kaca dihalaman belakang? Batinku sambil menghapus air mataku dan segera tersenyum manis pada Khael, "terima kasih Khael."


"Hhehe, nanti Khael bawakan lagi bunga yang banyak jadi kakak harus semangat ya." Tuturnya terlihat menggemaskan.


"Syukurlah kau memiliki saudara sebaik Khael," tutur Carel membuatku mengangguk menyetujui ucapannya.


Meskipun Khael masih kecil, tapi dia sangat peka ya. Batinku tak bisa berpaling dari wajah tampannya saat sedang tersenyum lebar padaku.


"Baiklah, karena Hana sudah membawakan camilan untuk kita, sebaiknya kita makan dulu. Setelah itu kita main di ruang musik, bagaimana?" Lanjut Carel memberi saran setelah menghela napas letihnya.


Lihatlah dia! padahal beberapa menit lalu dia mengomeliku karena terus-terusan menghela napas, tapi sekarang? Dia melakukan hal yang sama denganku ... padahal kalau dia lelah, dia tidak perlu datang kan? Ocehku dalam hati.


"Mau! Khael mau main musik." Teriak Khael mengejutkanku sambil berlari mendekati kak Hana yang sudah selesai menghidangkan semua camilan diatas meja.


"Maaf ...." Gumamku sambil bangkit dari posisi berjongkok ku.


"Untuk?" Tanyanya sambil melirik kearahku.


"Aku ... belum bisa merelakan nenek," jawabku sambil memperhatikan bunga Aster ditanganku, "tapi sekarang sudah tidak apa-apa." Lanjutku kembali menunjukan senyuman terbaik ku pada Carel.


Semoga nenek tenang disana.


Terima kasih juga untukmu Carel, berkatmu aku merasa jauh lebih baik sekarang. Matamu mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


.


.


.


Thanks for reading...