
-Kalea-
Langkahku dan Nadin terhenti tepat di depan pintu ruang kepala sekolah. Kami menghentikan langkah kami saat mendengar keributan di dalam.
Aku mendengar suara Ayah dan Papa yang tengah berdebat hebat dengan ... kakek-kakek?
"Itu ...," gumam Nadin melirik ke arahku.
"Kesalahan putri kalian itu adalah sudah mengganggu cucu kesayanganku! Dan anehnya kenapa anak itu tidak ikut di skorsing juga?"
"Hah! Kau bilang apa kakek tua? Apa matamu sudah tidak berfungsi dengan baik karena usiamu? Sudah jelas video itu memperlihatkan cucumu dan kedua temannya yang sudah mengganggu putriku. Darimananya putriku mengganggu cucumu hah?!" Tutur Ayah terdengar menahan diri.
"Video apa? Bisa saja itu editan kan?"
"Kau tau apa soal editan? Jelas-jelas itu bukan editan. Banyak orang yang melihat juga, masih mau mengelak?" Kali ini aku mendengar suara Papa yang terdengar begitu kesal setelah mendengar suara meja yang digebrak dengan kasar, membuatku terperajat.
"Huhu, kakek ... ini sakit sekali." Rengek Lusy membuatku segera membuka pintu dihadapanku saat mendengar suara menyebalkannya itu.
Dengan cepat aku masuk ke dalam ruang kepala sekolah diikuti oleh Nadin. Perhatian semua orang pun langsung tertuju pada kedatangan kami, membuat perdebatan mereka terhenti.
"Lea, Nadin silahkan masuk." Ucap pak Justin yang sejak tadi tak ku dengar suaranya. Ku pikir dia belum datang, ternyata memang tidak bisa berbuat apapun dihadapan pemilik akademi ini ya?
Mataku menajam saat melihat senyuman sarkas Lusy, dan apa-apaan luka di pipinya itu? Namun detik berikutnya aku langsung mengerti dengan situasi ku, bahkan aku bisa melihat isi kepala perempuan itu sekarang. Apa? Apalagi kalau bukan pikiran licik untuk menjebak ku dengan cerita karangannya.
Sangat menyebalkan!
***
-Ian-
Rasanya kepalaku mau pecah sekarang! Batinku sambil memijat keningku dan menyenderkan tubuhku pada sandaran kursi kerja yang sedang ku duduki saat ini.
Ku lihat Tomi memasuki ruangan dengan langkah teratur dan cangkir teh yang mengepul ditangannya, lalu meletakkannya di atas meja kerjaku.
"Bagaimana dengan ayah?" Tanyaku kemudian.
"Tuan ... sudah lebih tenang dari sebelumnya," jawabnya terdengar ragu, membuatku semakin kepikiran.
"Kau boleh pergi." Ucapku membuatnya membungkuk memberikan salam hormat sebelum pergi dari hadapanku. Dan pergi tanpa sepatah katapun untuk diucapkan.
Ku hela napas panjang mengingat kembali telpon yang ku terima dari Ansel. Dia meneleponku dengan amarah yang tak bisa dia sembunyikan, lalu memintaku untuk menyerahkan ponselku pada ayah.
Betapa terkejutnya aku saat mendengar orang itu berteriak dan membentak ayah melalui telpon. Suaranya sangat keras sampai aku yang berdiri jauh dari ayah pun bisa mendengarnya.
Orang itu berteriak meminta penjelasan dari tindakan ayah yang bersikap buta, menutup mata pada semua masalah yang diterima oleh putrinya Aster.
Ku dengar akhir-akhir ini anak itu mengalami kesulitan karena terus diganggu oleh perempuan yang dijodohkan ayah kepada Carel. Dia pasti sangat kesal karena Carel selalu bersikap baik pada Aster dan melampiaskan kekesalannya pada Aster ... dan ayah mengetahuinya, tapi dia hanya diam tanpa melakukan tindakan apapun.
"... tapi sayangnya tidak begitu. Karena posisi ayah saat ini sedang dalam tekanan. Orang tua itu sudah membuat kesepakatan dengan ayah untuk menjodohkan cucunya dengan Carel dan meminta perlakuan khusus. Dan jika ayah tidak mengabulkannya maka mereka tidak bisa menjamin rumor tentang tragedi tahun lalu tetap tertutupi ...," gumamku memikirkan kembali pembicaraan ayah dengan pemilik akademi itu sebelum acara ulang tahun Aster dirayakan.
Membawa ingatan satu tahun lalu saat Carel membuat keributan dengan menghajar beberapa anak yang sudah melukai temannya. Dan ayah, dia sedang berusaha melindungi cucunya supaya bisa hidup tenang selama di asrama. Belakangan ini dia juga mulai mengakui kemampuan cucunya.
Pikiranku benar-benar bercabang, sial! Lanjutku dalam hati, berdecak kesal karena tidak bisa berbuat apapun. Aku benar-benar tidak bisa melawan keputusan ayah.
Ku raih cangkir teh dihadapanku dan meminumnya, berharap bisa sedikit meredakan sakit kepalaku. Namun tidak berkerja sesuai keinginanku, apalagi saat mendengar Ansel akan datang ke rumah untuk menyelesaikan urusannya dengan ayah.
"Si gila itu tidak akan memporak-porandakan kediaman Alterio kan?" Gumamku merasa cemas saat mengingat sifat buruknya itu.
***
-Ansel-
Brak!
Ku tendang pintu ruang kerja mantan kepala keluarga Alterio dihadapanku dengan sekuat tenaga. Ku lihat dua pasang mata langsung menatapku dengan pupil mata yang membesar, terlihat sangat terkejut dengan kehadiranku.
Padahal aku sudah memberitaukan kedatanganku melalui telpon, kenapa mereka sampai bereaksi seperti itu? Apa karena aku datang dengan menendang pintu? Batinku sambil melirik pintu naas yang sudah menjadi target pelampiasan rasa kesalanku.
"Ansel, kau–" Ucap Ian tak ku perdulikan, dengan cepat ku langkahkan kedua kaki ku menghampiri kakek tua yang tengah duduk santai di kursinya setelah ku tepis pikiran-pikiran bodohku akan nasib pintu yang ku tendang beberapa saat yang lalu.
"Kau mau bermusuhan denganku kakek?" Tanyaku penuh penekanan, merasa kesal dengan apa yang ku dengar di ruang kepala sekolah tadi.
Tua bang–maksudku kakek tua itu mengatakan dia mendapat perlindungan dari keluarga Alterio, jadi dia tidak takut pada ancamanku yang terdengar main-main ditelinganya.
Padahal posisinya lebih rendah dariku, tapi dia berani bersikap kurang ajar padaku dan putriku hanya karena akademinya terkenal bagus dengan para pengajarnya yang terkenal jenius dan memiliki berbagai macam penghargaan yang membuat akademinya semakin terkenal. Lalu kebetulan banyak anak berprestasi juga yang memilih untuk bersekolah di akademi itu, membuat namanya semakin harum.
... tapi tidak bisa begitu kan kakek? Kau harus bersikap sesuai dengan posisimu. Memanjakan cucumu dengan menyembunyikan kesalahannya dan melindungi kedua temannya adalah tindakan buruk. Batinku mengingat ekspresi menyebalkan orang tua itu.
"Te–tenang dulu Ansel, kita bicarakan baik-baik. Duduklah dulu!" Seru Ian sambil meraih bahuku, membuatku menepis tangannya dengan kesal.
"Akan ku jelaskan semuanya padamu, jadi duduklah dulu." Lanjutnya kembali membujuk ku.
"Sudah seharusnya kalian menjelaskannya padaku!" Dengusku berusaha menahan emosiku yang sedang bergejolak.
Entahlah, rasanya saat ini tubuhku terasa sangat panas karena merasa begitu kesal dan marah pada orang-orang yang sudah mengganggu putriku, dan aku tidak bisa berbuat apapun seenak ku tanpa izin dari Ian sebagai kepala keluarga Alterio saat ini.
Dan orang ini sedang berusaha meredakan emosiku, batinku bertemu tatap dengan Ian.
.
.
.
Thanks for reading...