
-Hana-
"Den, tuan Tomi sudah datang untuk menjemput." Tuturku sedikit berteriak memasuki perpustakaan pribadi tuan Arselio.
"Sstt..." Desisnya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke dekat bibir dan membuatku mengernyit bingung saat melihat ekspresi kesalnya.
Kenapa dia memasang ekspresi seperti itu? apa dia marah karena aku berteriak? Batinku bertanya-tanya.
"Ada apa?" Bisik ku sambil berjalan mendekati den Carel yang tak bergerak karena kepala nona Aster menyandar pada bahunya.
Ah, rupanya nona tertidur dibahunya den Carel ya. Batinku tak kuasa menahan bibirku untuk tidak tersenyum saat melihat wajah damainya yang sedang terlelap.
"Kalau begitu saya minta bantuan pada tuan Tomi untuk memindahkan nona ke kamarnya, den Carel tunggu dulu sebentar ya." Ucapku dengan suara pelan sambil menyeringai padanya.
"Kenapa harus meminta bantuan Tomi? Biarkan saja dia tertidur seperti ini." Tuturnya kembali sibuk dengan buku tebal ditangannya.
"Bahu den Carel bisa pegal kalau nona tidak segera dipindahkan, dan lagi den Carel harus pulang kan?" Jelasku sebelum keluar dari dalam perpustakaan.
"Sepertinya den Carel menyukai nona ya ...." Lanjutku bergumam sambil berjalan kearah ruang tamu untuk menemui tuan Tomi yang sedang menunggu den Carel disana.
Sesampainya di ruang tamu, aku langsung meminta tolong padanya untuk membantuku memindahkan nona ke kamarnya. Dan tuan Tomi membantuku tanpa banyak bicara.
Sedangkan den Carel, dia hanya bisa mendengus kesal saat dipisahkan dari nona. Bahkan dia sampai memelototi tuan Tomi dan membuatnya tak bisa bicara saat dia hendak menggendong nona Aster.
Den Carel ini lucu juga ya, padahal biasanya selalu mengganggu tuan Arsel dan membuat tuan Tomi kerepotan. Tapi sekarang ... dia bisa bersikap manis seperti ini juga? Batinku tak bisa berpaling dari sosok den Carel yang membuntuti tuan Tomi ke kamar nona.
"Ayo pulang." Ajak den Carel saat melihat tuan Tomi selesai membaringkan nona diatas tempat tidurnya.
"Terima kasih sudah menemani nona sampai semalam ini den, dan terima kasih juga untuk tuan Tomi karena sudah membantu memindahkan nona ke kamarnya." Ucapku pada mereka setelah menyelimuti tubuh nona dengan selimut tebalnya.
"Tidak masalah," ucap den Carel terdengar dingin, "mungkin kedepannya aku akan lebih sering berkunjung juga." Lanjutnya sambil berjalan keluar dari kamar nona setelah melirik nona sekilas.
"Hee ...." Gumamku tak bisa berkata apapun.
Apa dia masih kesal karena aku meminta tuan Tomi untuk memindahkan nona? Lanjutku dalam hati tak bisa menerima perlakuan dinginnya, padahal biasanya den Carel memang selalu bersikap seperti itu.
"Anak itu ... kalau begitu saya pamit undur diri dulu." Ucap tuan Tomi langsung membungkukan tubuhnya membuatku ikut membungkukan tubuhku juga untuk membalas salam hormatnya itu.
***
Kring... kririring...
Terdengar suara telpon rumah berdering, dengan cepat aku berlari kearah ruang tengah untuk mengangkat telpon yang terus berdering itu.
"Malam-malam begini siapa yang menelpon?" Gumamku langsung mengangkat gagang telpon dihadapanku.
"Hallo, Hana ...." Suara tuan Arselio mengejutkanku.
"Ya–ya tuan?" Jawabku sedikit tergugup sambil melirik jam dinding yang menunjukan pukul 08:50 malam.
"Apa Aster sudah tidur? Bagaimana pertemuannya dengan Carel?" Tanyanya terdengar khawatir, untuk pertama kalinya aku mendengar suara tuan Arsel sekhawatir ini dari telpon.
"Ya tuan, nona baru saja tidur. Nampaknya dia kelelahan karena bermain dengan den Carel, hari ini nona juga banyak tersenyum dan tertawa berkat den Carel." Tuturku merasa lega saat mengingat wajah bahagia nona Aster, bahkan suara tawanya masih terngiang jelas ditelingaku sekarang.
"Syukurlah, ku kira dia akan direpotkan oleh anak itu. Ternyata dia bisa bersikap baik juga pada anak lain." Gumam tuan Arselio setelah menghela napas leganya.
"Kalau begitu tolong awasi dan jaga Aster untuk ku selama aku tidak ada di rumah." Lanjutnya sebelum mematikan sambungan telponnya.
"Tentu saja, tanpa diminta pun aku akan menjaganya tuan. Bagiku nona Aster itu sudah seperti keluargaku sendiri." Gumamku sambil meletakan kembali gagang telpon itu pada tempatnya.
Tapi semenjak nona Aster datang, tuan jadi mengandalkanku yang tak diandalkan sebelumnya. Lalu nona juga sangat baik padaku, dan aku tak bisa berhenti mengkhawatirkannya saat dia terus terbangun karena mimpi buruknya.
Padahal aku belum lama mengenal nona, aku juga tak terlalu suka dengan anak kecil. Tapi nona ... rasanya dia berbeda. Bahkan tanpa ku sadari, aku mulai menyayanginya. Batinku merasakan sesuatu yang belum pernah ku rasakan sebelumnya.
"Mungkin inilah rasanya memiliki seorang adik, aku tak begitu mengerti karena aku anak tunggal. Tapi ... perasaan ini, tidak salah lagi." Lanjutku bergumam sambil merasakan detak jantungku sendiri dengan meletakan tangan kananku pada dada bagian kiriku, bahkan tanpa sadar aku sudah tersenyum senang tanpa alasan.
***
-Aster-
Pagi ini aku dimandikan oleh kak Hana, padahal aku sudah menolaknya. Tapi kak Hana malah memaksaku untuk dimandikan olehnya, mau tidak mau aku harus menuruti keinginannya karena tidak mau membuatnya sedih, karena setiap kali aku menolak kak Hana, raut wajahnya langsung terlihat sedih dan lesu.
"Den Carel bilang, hari ini dia akan datang berkunjung lagi nona." Tutur kak Hana sambil menggosok tanganku dengan lembut dan hati-hati.
"Carel bilang begitu?" Tanyaku merasa sedikit gembira dan menatap manik coklat kak Hana, lalu tak lama kemudian kak Hana mengangguk dan tersenyum lebar menjawab pertanyaanku.
"Apa nona suka berteman dengan den Carel?" Tanyanya masih tersenyum lembut padaku.
"Iya," jawabku mengingat pembicaraanku dengan Carel kemarin sore, lalu beralih pada bayangan hari dimana kami bertemu untuk pertama kalinya.
"Karena Carel teman pertamaku." Lanjutku tak kuasa menahan rasa gembiraku yang semakin membuncah.
"Teman pertama?" Tanya kak Hana membuatku terkejut.
"Eh itu, maksudku–" Jelasku terhenti saat merasakan perih dipunggungku ketika kak Hana menggosoknya.
"Aduh." Ucapku sambil meringis.
"Ada apa nona? Apa saya menggosok terlalu keras?" Tanya kak Hana menghentikan gosokannya.
"Tidak, hanya saja–" Jawabku kembali dihentikan oleh kak Hana.
"Ya ampun nona, ada apa dengan punggung nona? Kenapa memar begini?" Tanya kak Hana terlihat panik.
"Itu ... Aster tersandung dan terbentur pinggiran meja sekolah kemarin hehe." Jawabku berusaha menyembunyikan rasa sakitku.
Padahal kemarin sudah tidak sakit, tapi kenapa sekarang lebih sakit ya? Apa karena terkena air? Atau karena sentuhan kak Hana? Lanjutku dalam hati.
"Duh nona, kenapa tidak bilang pada saya? Kan bisa saya obati lebih awal. Sekarang kita selesaikan dulu mandinya, setelah itu saya akan mengobatinya." Tutur kak Hana terdengar khawatir.
"Apa nona mau saya menelpon wali kelas nona untuk meminta izin tidak masuk sekolah?" Lanjutnya bertanya dengan sorot mata khawatirnya.
"Ti–tidak perlu, Aster tidak bisa bolos hanya karena luka kecil ini. Sebentar lagi ada ujian kenaikan kelas, Aster harus masuk supaya tidak ketinggalan materi." Jelasku.
"Nona yakin?" Tanya kak Hana membuatku mengangguk cepat.
"Baiklah kalau itu mau nona, saya tidak bisa melarangnya. Sebagai gantinya, nona harus memberitau saya kalau mendapatkan luka seperti ini lagi. Jadi saya bisa langsung mengobatinya, tolong jangan sembunyikan apapun lagi dari saya oke." Lanjutnya setelah selesai menyiram tubuhku dengan air hangat.
"Iya ... maaf sudah membuat kak Hana khawatir." Jawabku setelah selesai dipakaikan handuk oleh kak Hana.
Untunglah kak Hana tidak menanyakan soal teman pertama yang ku maksud ... aku tidak bisa bilang kalau aku tak memiliki teman di sekolah kan? Lanjutku dalam hati sambil melihat senyuman tulus kak Hana.
.
.
.
Thanks for reading...