Aster Veren

Aster Veren
Episode 185




-Nina-


"Faren?"


"Ya bibi?" Jawabnya selalu membuatku terkejut saat mendengar suara rendahnya. Bagaimana bisa anak sepertinya harus menjalani ujian hidup seberat itu?


Bisa-bisanya dia diburu oleh ayahnya sendiri untuk dilenyapkan? Apa orang itu tidak punya hati nurani? Padahal putrinya secantik dan sebaik ini.


"Ada apa bibi?" Tanyanya menghancurkan lamunanku, "apa ada yang bisa aku bantu?" Lanjutnya setelah berdiri dihadapanku. Entah sejak kapan tanganku meraih puncak kepalanya? Dengan cepat aku melepaskan tanganku dari kepalanya.


"Iya, tolong pergi ke alamat ini ya." Jawabku memberikan secarik kertas ketangan kecilnya yang sedikit kasar. Apa dia bekerja terlalu keras akhir-akhir ini?


"Ah, persediaan untuk membuat roti sudah menipis ya?" Gumamnya saat melihat alamat yang tertulis disana. Bulu matanya yang tebal dan lentik itu selalu membuatku kagum, apalagi saat melihat netra ungunya yang berbinar cantik.


Meski dia mengubah penampilannya, dan memakai pakaian anak laki-laki, aku kagum masih ada orang yang percaya kalau anak secantik ini dikira anak laki-laki.


"Benar. Pamanmu sedang pergi ke tempat lain, aku tidak bisa menghubunginya karena headphonenya tertinggal. Dan aku tidak bisa pergi karena masih dalam masa-masa sulit, berkat bayi dalam kandunganku, aku jadi tidak bisa jauh-jauh dari rumah." Jelasku merasa tidak enak hati setelah menunjukan handphone suamiku yang tertinggal di rumah.


"Tidak apa-apa, biar aku yang pergi. Bibi jaga toko saja dulu selama aku pergi, duduk disana dan jangan banyak berdiri oke." Ucapnya terlihat menggemaskan saat menunjuk kursi kayu di balik meja kasir, membuat kedua sudut bibirku tertarik keatas membentuk senyuman.


"Maaf ya terus merepotkan mu." Gumamku kembali meraih puncak kepalanya dan mengelusnya selembut mungkin.


"Aku tidak merasa di repotkan. Kalau begitu aku pergi sekarang." Kilahnya sambil melirik jam dinding dan melepaskan tanganku dari puncak kepalanya sebelum melenggang pergi dari toko.


"Hati-hati di jalannya ya." Ucapku nyaris berteriak, namun punggung kecil itu tidak berbalik padaku.


Saat melihatnya seperti itu, aku selalu merasa takut. Takut jika dia benar-benar hilang dan pergi dari hadapanku, punggung kecilnya yang kokoh namun terlihat rapuh itu terlihat tidak ragu untuk meninggalkan siapapun.


"Apa karena sudah melewati semua kesulitan yang tidak terkira beratnya?" Gumamku merasa sakit jauh di dalam hatiku.


Saat mendengar semua cerita tentangnya dari Tesar, aku benar-benar terkejut setengah mati karena tidak percaya anak kecil sepertinya hidup dalam kesulitan.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana suamiku menemukannya pertama kali di jalan. Meski dia bilang menemukan Aster dalam keadaan kacau dan berlari dari kelompok orang yang mengejarnya. Aku tetap tidak bisa membayangkan ketakutannya saat itu.


Dia pasti sangat ketakutan kan? Aster ....


***


-Teo-


Ku lihat sosok Carel yang terlihat berantakan, dia tengah berbaring di sofa ruang belajarnya dengan semua buku yang berserakan di lantai. Sepertinya dia bekerja terlalu keras.


Semenjak Aster dikabarkan tewas dalam kobaran api, dia jadi semakin dingin dan pendiam. Padahal hari saat dia mendengar kabar buruk itu, anak ini benar-benar lepas kendali, tak terima dengan kenyataan yang dia dengar.


Bukan hanya Carel, bahkan Kalea dan Nadin pun tak percaya dengan kenyataan pahit itu. Mereka terus murung selama beberapa minggu pertama karena teman yang mereka sayangi sudah tidak ada lagi di dunia ini.


"Kapan kau akan bangun?" Tanyaku sambil meraih buku yang menutupi wajah Carel.


"Ugh, silau. Kembalikan Teo!" Gumamnya dengan kerutan di keningnya. Lalu dengan malas aku berjalan ke sisi sofa dan berdiri disana, menghalangi cahaya matahari yang menyoroti wajah menyebalkannya.


"Sudah siang, kau harus bangun dan pergi makan siang. Ayahmu memintaku untuk menjemputmu ke ruang makan." Tuturku saat melihat kerutan di keningnya sudah menghilang.


Siang apanya? ini sudah hampir sore, tapi anak ini masih bermalas-malasan di sini? Lanjutku dalam hati sambil melihat jam dinding yang menunjukan pukul 02:30 sore.


"... apa? Kenapa kau harus menjemputku?" Tanyanya seletelah membuka kedua matanya dan tangan kirinya segera memijat pangkal hidungnya.


"Tidak tau, aku datang untuk menemuimu tapi saat di perjalanan malah berpapasan dengan tuan Ian. Lalu dia mengundangku makan siang bersamanya, dan aku dimintai tolong untuk menggeretmu ke sana." Tuturku sambil meletakan buku ditanganku ke atas meja. Membuatnya bangkit dari posisi berbaringnya karena cahaya matahari yang membuatnya kesilauan saat aku menyingkir dari tempatku.


Menyebalkan melihatnya tetap tumbuh dengan baik meski kondisi mentalnya terganggu. Batinku memperhatikan perawakan Carel yang terlihat bugar dengan tubuhnya yang terbentuk indah.


"Ha—haha, ketahuan ya?"


"Yah tidak heran kau memandangiku seperti itu. Aku cukup sadar diri kok kalau aku sangat tampan, apalagi dengan tubuhku yang seperti ini. Benar kan?" Tuturnya membuatku mengernyit jijik saat melihat rasa percaya dirinya yang berlebihan itu. Tapi tubuhnya itu, aku tidak bisa membantahnya.


"Sudahlah, ayo pergi." Lanjutnya segera bangkit dari tempatnya dan melangkah pergi menuju pintu, aku yang melihatnya hanya bisa menghela napas panjang dan mengekorinya.


Melihatnya yang begitu tenang membuatku cemas, padahal biasanya dia selalu memiliki segudang cara untuk membuatku kesal dan bertengkar dengannya. Tapi sejak Aster pergi, semuanya berubah.


Anak ini bahkan lulus lebih dulu dariku. Makanya dia bisa kembali ke rumah lebih dulu dariku. Dan saat ini, aku tengah mengambil liburan sekolah karena ujian baru saja selesai.


Rupanya selama ini dia menyembunyikan kemampuannya karena ingin bersama dengan Aster selama masa sekolahnya ya? Entah kenapa hal itu membuatku kesal.


"Ngomong-ngomong?"


"Apa?" Dengusku merasa kesal.


"Ada apa denganmu? Aku belum mengatakan apapun, kenapa kau terlihat kesal padaku?"


"Yah ada banyak alasan. Kau mau dengar yang mana dulu?" Ketusku tak bisa memaafkan kebohongan Carel yang membuat harga diriku terluka. Kalau sudah terlahir jenius ya bersikaplah sebagai seorang jenius, kenapa harus menyembunyikannya dan menyamakan kemampuanmu dengan orang dibawahmu? Lanjutku dalam hati.


"Lupakan. Aku mau tanya kau kapan lulus? Tahun depan? Atau tahun berikutnya?" Tanyanya membuatku lebih kesal dari sebelumnya.


"Kau mau mengejek ku?" Tanyaku membuatnya mengernyit tidak suka.


"Untuk apa aku mengejekmu? Untuk membuatmu kesal? ... ah jangan bilang kau masih kesal padaku karena tidak lulus bersama denganmu?"


"Tidak tuh." Dengusku lagi sambil membuang muka.


"Lalu?"


"Lupakan!"


"Kau mau ku pukul hah?" Tanyanya terlihat kesal dengan tangan kanannya yang sudah mengepal dihadapan wajahnya.


"Aku, mungkin tahun berikutnya baru lulus." Jawabku mengingat banyaknya absen di beberapa bulan terakhir ini karena masalah Aster yang membuat Kalea terpuruk. Aku jadi harus cuti sekolah untuk menemaninya selagi ayahnya melakukan sesuatu.


Sampai sekarang aku tidak tau apa yang sedang dia lakukan? Lanjutku dalam hati, mengingat sosok ayahnya Kalea.


"Tahun depan." Ucap Carel tiba-tiba mengejutkanku.


"Apa?"


"Luluslah tahun depan."


"Hah? Kenapa aku harus lulus tahun depan?" Tanyaku tak bisa memahami jalan pikirannya.


"Akan aku katakan setelah kau lulus nanti." Jawabnya mempercepat langkahnya menuju ruang makan.


"Apa? Tunggu, jelaskan sekarang! Kau tidak bisa memintaku sesuatu yang sulit seperti ini. Kau sendiri tau kan aku ini bukan orang jenius sepertimu." Tuturku ikut mempercepat langkahku untuk menyamai langkahnya. Tidak ada jawaban, anak ini benar-benar membuatku kesal.


Sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan?


.


.


.


Thanks for reading...