Aster Veren

Aster Veren
Episode 16




-Aster-


"Nah sudah siap, lihatlah nona sangat cantik mengenakan pakaian ini. Tuan muda membuatkannya khusus untuk nona." Tutur kak Hana sambil memegangi bahuku saat aku masih berdiri didepan cermin untuk melihat pantulan diriku disana.


"Benar. Pakaiannya cantik, Aster suka ...." Ucapku sambil mengembangkan senyumanku dan memperhatikan pakaianku yang seperti tuan putri ini.


"Tapi kenapa paman merah membuatkan pakaian seperti ini untuk Aster?" Lanjutku bertanya karena benar-benar tidak mengerti, padahal kan hari ini aku cuma mau bertemu dengan nenek. Tapi pakaianku sudah dirancang seperti ini.


Dan lagi aku terkejut paman membuatkannya untuk ku, aku sendiri baru tau kalau paman bekerja sebagai desain busana.


"Itu karena hari ini adalah hari spesial untuk nona, dan lagi katanya hari ini adalah hari ulang tahun kakaknya tuan muda." Jelas kak Hana sambil tersenyum, aku melihatnya dari pantulan cermin.


"Kakak ... maksud kak Hana Ayah?" Tanyaku sambil berbalik badan menghadapnya.


"Iya." Jawab kak Hana sambil menganggukan kepalanya dan mencubit pipiku dengan gemas.


"Aster kamu sudah siap? Apa kalungnya sudah kamu pakai?" Tanya paman yang baru masuk kedalam kamarku membuat perhatianku tertuju padanya.


Ku lihat paman sudah berpakaian rapi dengan jas berwarna biru tua sama dengan warna pakaian yang ku kenakan. Dan gaya rambut paman juga terlihat berbeda dari biasanya.


"A–ada apa?" Suara paman meruntuhkan lamunanku.


"Paman sangat tampan hari ini." Tuturku segera memeluk tubuh paman dan mencium aroma yang sangat wangi dipakaiannya, mungkin karena parfum yang digunakan paman.


"Ya ampun nona, pakaianmu bisa kusut nanti." Tutur kak Hana terdengar cemas.


"Tidak apa-apa ... Aster juga terlihat cantik." Ucap paman bersamaan dengan kepalaku yang menengadah melihat wajah tampannya itu, sepertinya paman mengetahui apa yang ingin ku katakan makanya dia langsung bilang tidak apa-apa dan tersenyum hangat padaku.


"Sudah siap? Ayo pergi sekarang." Lanjut paman memperhatikan kalung yang melingkar dileherku, lalu tangannya segera menggandeng tanganku, dan aku hanya bisa mengikuti langkahnya dari samping.


"Apa kita tidak akan sarapan dulu?" Tanyaku merasa heran karena pagi ini kami tidak pergi sarapan bersama.


"Nanti kita makan bersama nenek di rumahnya, atau Aster mau sarapan dulu?" Jawab paman membuatku menggeleng cepat.


"Kalau begitu silahkan bawa camilan ini nona, nona bisa memakannya diperjalanan untuk mengganjal rasa lapar nona." Tutur kak Hana memberikan bungkusan kecil berisi kue.


"Terima kasih kak." Ucapku yang sudah menerima bungkusan itu dan tersenyum lebar padanya.


"Kalau begitu kami pergi dulu, tolong jaga rumahnya ya." Lanjut paman saat kami sampai dihalaman rumah.


"Baik tuan." Ucap kak Hana sambil membungkukan tubuhnya.


"Silahkan masuk nona." Suara paman Eric yang sudah membukakan pintu mobil bagian belakang.


"Masuklah." Lanjut paman merah membuatku segera masuk ke dalam mobil setelah melihat kak Hana tersenyum dan melambaikan tangan kananya padaku.


Pintupun ditutup, paman Eric berlari kesisi lainnya dan segera masuk kedalam bersamaan dengan paman merah yang sudah menutup pintu mobil bagiannya.


"Eric jangan lupa untuk terus bersama Aster disana. Aku akan menemui ibu untuk membicarakan hal penting." Tutur paman merah.


"Baik tuan." Jawab paman Eric sambil melajukan mobilnya.


"Aster sama Eric dulu ya disana, setelah pembicaraanku dengan nenek selesai. Aku akan langsung menemuimu, atau kamu minta Eric untuk mengantarmu padaku." Lanjut paman sambil meraih puncak kepalaku, sepertinya belakangan ini paman sangat suka menyentuh kepalaku ya?


"Iya." Jawabku sambil mengangguk paham.


Aku tidak bisa merepotkan paman dengan mengatakan aku ingin terus bersamanya kan? Lanjutku dalam hati sambil membuka bungkusan kue ditanganku dan langsung memakan kue didalamnya, sesekali aku juga melirik kearah paman yang sedang sibuk dengan ponselnya.


-Arsel-


Sesampainya di kediaman ibu, aku langsung pergi ke ruangan pribadinya seorang diri dan membiarkan Aster berkeliling bersama Eric sampai urusanku selesai.


Rasanya hatiku masih mengganjal karen tiba-tiba ibu menerima Aster secepat ini, dan dia bilang kemarin dia pergi ke sekolah Aster untuk melihatnya. Aku benar-benar tidak tau apa yang dipikirkan ibu sekarang, semua ini benar-benar membuatku khawatir.


Ku hentikan langkahku tepat di depan pintu ruangan pribadi ibu, dan dengan berat hati ku ketuk pintu itu sebanyak tiga kali sampai terlingaku mendengar suara ibu yang mempersilahkanku masuk ke ruangannya.


Tanpa membuang-buang waktu akupun masuk ke dalam ruangannya setelah membuka pintu dihadapanku selebar mungkin.


"Kau sudah datang, dimana Aster?" Tanya ibu mencari keberadaan cucunya.


"Dia sedang berkeliling bersama Eric," jawabku sambil menutup pintu ruang pribadi ibu dan berjalan kearahnya yang sedang duduk diatas sofa empuk miliknya.


"Jadi bisa ibu beritau aku alasan ibu yang sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ibu menganggap Aster sebagai cucu ibu?" Lanjutku tanpa basa-basi.


"Kau ini, padahal baru datang. Setidaknya duduklah dulu baru bertanya." Ucap ibu setelah menghela napas letihnya.


"Jadi?" Tanyaku lagi tak ingin melakukan basa-basi.


"Kamu sudah dengar jawaban ibu dari telpon kan? Kenapa ibu harus mengatakannya lagi?" Jawab ibu sambil meletakan cangkit tehnya dan melirik ku dengan tajam.


"Apa aku akan percaya begitu saja?" Tanyaku membalas tatapan tajamnya itu.


"Duduklah dulu, aku akan memberitau semuanya padamu." Ucap ibu kembali menghela napas letihnya.


"Kalau kau tidak duduk ibu tidak akan memberitaumu." Lanjutnya membuatku menghela napas pasrah dan segera duduk dihadapannya.


"Kamu tau kan kalau kakakmu itu tidak mau melakukan perjodohan dan melempar semuanya padamu?" Tanya ibu sambil menyenderkan punggungnya pada senderan sofa dan aku hanya bisa mengangguki pertanyaannya itu sebagai jawabanku.


"Dan kamu juga berbuat onar dengan membatalkan perjodohanmu dengan Michelle," Lanjutnya membuatku sedikit tersinggung.


"Ma–maaf ...." Ucapku merasa sedikit bersalah.


"Pft ... ibu tidak salah dengar kamu meminta maaf?" Tanya ibu membuatku salah tingkah dan ibu hanya bisa mentertawakanku.


"Sudahlah lupakan saja, kita kembali ke topik utama. Emh ... sampai mana tadi? Ah ya, setelah pembatalan perjodohanmu dengan Michelle, keluarganya membatalkan kerja samanya dengan perusahaan kita. Dan seperti katamu, perusahaan kita yang satu itu bangkrut. Tapi tidak masalah karena masih ada perusahaan lainnya ...." Lanjut ibu sambil memeluk bantal sofa dipangkuannya.


Jika tidak masalah, kenapa tidak menolak perjodohan itu dari awal? Kenapa aku harus memaksakan diri untuk dekat dengan si Michelle itu? Gerutuku dalam hati.


"Yang jadi masalah sekarang adalah soal hubungan kakakmu dengan wanita itu. Kau tau kan kalau Ansel dekat dengan Claretta? Dia bahkan sampai menganggap anaknya sebagai putrinya sendiri ... sebenarnya apa yang dia pikirkan sampai berbuat sejauh itu untuk melindungi reputasi keluarga wanita itu? Lagipula sejak awal keluarga kita tak ada hubungannya dengan keluarga mereka. Apa anak itu ingin mempermalukan reputasi keluarga kita?" Lanjutnya lagi terlihat menahan kekesalannya.


Ya memang benar, aku juga merasa sedikit kecewa dan banyak kesal pada kakak ku yang bodoh itu. Bagaimana bisa dia menganggap anak orang lain sebagai anaknya sendiri? Dan mengabaikan anaknya sendiri?


Tapi jika dari awal ibu tidak memaksa kak Helen untuk pergi dari hidup kakak dan menerimanya sebagai menantu keluarga ini, mungkin saat ini kakak bisa hidup bahagia bersama dengan istri dan anaknya. Dia juga tidak mungkin berhubungan dengan Claretta .... Batinku mengingat foto Aster yang digendong oleh kak Helen. Dilihat dari fotonya, mungkin usia Aster saat itu baru menginjak 4 bulanan.



(Helen & Aster).


.


.


.


Thanks for reading...