Aster Veren

Aster Veren
Episode 39




-Aster-


Beberapa hari kemudian...


Waktu sudah menunjukan pukul 03:10 sore, aku baru selesai mengikuti kelas ujian susulan yang diadakan selama satu minggu setelah ujian akhir semester minggu lalu diadakan.


"Hah ...." Gumamku sambil melangkahkan kakiku menuju parkiran mobil setelah menghela napas lelah untuk kesekian kalinya.


Aku benar-benar lelah karena mengikuti ujian susulan hari ini. Jika saja aku tau akan selelah ini, aku pasti akan menuruti perkataan bu Estelle untuk mengambil dua mata pelajaran yang akan di ujikan hari ini. Tapi aku malah mengambil setengah mata pelajaran yang diujikan.


Dan setengahnya lagi bisa ku selesaikan besok ... sepertinya aku terlalu percaya diri dan sombong. Hanya karena aku menguasai semua materi yang sudah diajarkan bu Estelle, aku menjadi sangat terburu-buru. Padahal ujian akhir semester saja diadakan selama satu minggu, begitupun dengan ujian susulannya. Tapi aku malah ingin menyelesaikannya selama dua hari. Gerutuku dalam hati.


"Ada apa dengan wajahmu Aster?" Suara seseorang mengejutkanku.


"Teo!" Ucapku saat melihatnya yang sudah berjalan disampingku.


"Kamu baik-baik saja?" Tanyanya lagi terlihat khawatir.


Apa wajahku terlihat sangat buruk sekarang?


"Ya–aku baik ... kenapa Teo baru pulang?" Jawabku balik bertanya padanya.


Seingatku setiap ujian akhir semester selesai, semua siswa dan siswi bisa pulang lebih cepat di minggu berikutnya sampai hari pembagian raport mereka. Atau bisa dibilang minggu setelah ujian itu adalah waktu bebas semua siswa dan siswi sekolah, kecuali untuk mereka yang memiliki masalah dengan nilainya dan harus mengikuti kelas remedial bersama siswa/siswi yang mengikuti ujian susulan karena tidak bisa hadir pada waktu ujian.


"Aku? Sepertinya aku terlalu asik di perpustakaan, jadi aku tidak tau kalau hari sudah sesore ini." Jelasnya sambil menggaruk tengkuknya dengan pandangan lurus kedepan, mengalihkan pandangannya dariku.


"... ku dengar kamu sakit selama satu minggu jadi kamu tidak bisa mengikuti ujian akhir smester ...." Lanjutnya.


"Iya, aku sakit diwaktu yang tidak tepat hehe, tapi aku baik-baik saja sekarang." Tuturku sambil melirik kearah Teo yang ternyata sudah memperhatikanku.


"Syukurlah ... bagaimana ujiannya tadi?" Ucapnya sambil tersenyum tipis dengan manik hijaunya yang melembut saat menatap mataku.


"Hem... meski dibilang gampang, tapi ada sulitnya juga–" Jawabku terpotong saat mendengar suara ayah yang memanggilku.


Ku lihat ayah sudah berdiri didepan mobil hitamnya sambil melambaikan tangannya padaku. Saat melihatnya, entah kenapa perasaanku mendadak senang. Bahkan rasa lelahku seperti hilang begitu saja.


Benar, sekarang aku memiliki ayah yang sudah mengakui keberadaanku dan menyayangiku. Karena hal itu aku menjadi sangat ingin menghabiskan banyak waktu bersama ayah dan mengikuti ujian hari ini dengan menyelesaikan setengah mata pelajaran yang diujikan. Batinku tak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum pada ayah.


"Ayahmu sudah menjemput ya, kalau begitu aku juga permisi." Tutur Teo sebelum berjalan kearah mobilnya.


"He? Dia bilang apa? Ayahku? Darimana dia tau kalau itu ayahku? Bukankah semua anak taunya ayahku itu ayahnya Kalea?" Gumamku bertanya-tanya sambil memperhatikan kepergian Teo.


"Bagaimana ujiannya?" Tanya ayah yang sudah berdiri disampingku sambil meraih puncak kepalaku dengan telapak tangan kanannya, membuatku menengadah untuk melihat ekspresi yang ditunjukan ayah sekarang.


"Aster menyelesaikannya dengan baik hari ini." Jawabku kembali menunjukan senyuman lebarku yang tak bisa ku tahan.


"Benarkah?"


"Papa meragukan kemampuanku?"


"Bukan begitu–"


"Padahal hari ini Aster menyelesaikan setengah mata pelajaran yang diujikan, tapi papa tidak mempercayaiku ya ...."


"Setengah? Kau yakin tidak sedang membohongiku?" Tanya ayah langsung meraih tubuhku, membuatku terkejut karena tiba-tiba digendong olehnya.


"Hee... papa belum dengar soalku dari paman merah ya?" Jawabku balik bertanya sambil tersenyum jahil padanya.


"Soalmu? Paman merah?" Tanyanya terlihat bingung sambil mengernyitkan keningnya memperhatikanku.


"Eh, itu ... Aster kebiasaan manggil paman Arsel dengan sebutan paman merah karena rambut paman berwarna merah. Waktu itu Aster tidak tau nama paman, jadi aster manggil paman dengan sebutan paman merah. Hhehe ...." Jelasku merasa malu sendiri karena lagi-lagi aku keceplosan manggil paman dengan sebutan paman merah.


"Papa percaya kalau Aster bilang Aster anak yang pintar?" Jawabku balik bertanya, entah kenapa aku malah menatap mata ayah dengan tatapan penuh harap.


Belum sempat ayah menjawab, pintu mobil bagianku sudah ditutup dari luar olehnya. Lalu ayah masuk melalui pintu mobil bagiannya dan bersiap mengemudikan mobilnya.


"Hee... jadi putriku ini pintar?" Gumam ayah terdengar mengejek.


"Papa!" Ucapku langsung mengerucutkan bibirku karena kesal dengan tanggapannya itu. Padahal aku sedang serius, tapi ayah malah mempermainkanku.


"Hhaha... maaf-maaf, aku sudah dengar soalmu dari Arsel. Dia bilang nilai-nilai sekolahmu bagus, dan bu Estelle bilang, Aster adalah anak yang berprestasi ... Aku bangga padamu." Tutur ayah membuatku senang saat mendengar suara tawanya, juga kalimat terakhir yang diucapkannya, apalagi saat ayah mengecup keningku setelahnya.


"Hhehe ...." Tawaku membuat senyuman tipis ayah kembali mengembang dengan sorot mata lembutnya.


"Kalau begitu, mari kita pulang." Ucap ayah segera mengemudikan mobilnya bersamaan dengan anggukan kepalaku.


***


Sesampainya di rumah paman Arsel, ayah langsung pulang ke rumahnya setelah berpamitan dengan paman.


"Bagaimana ujiannya?" Tanya paman sambil meraih puncak kepalaku dengan telapak tangan kanannya.


"Lancar dong, hehe ...." Jawabku sambil terkekeh.


"Hee... keponakanku ini sangat percaya diri sekali ya," gumam paman sambil tersenyum tipis.


"Habisnya Aster kan sudah belajar dengan giat, jadi sudah pasti Aster bisa mengerjakan semua soalnya dengan mudah kan?" Jelasku merasa sedikit kesal dengan senyuman paman yang terlihat meremehkanku.


"Belajar dengan giat ya? Maksudmu membaca novel-novel petualangan itu?" Suara Carel mengejutkanku. Ku lihat dia sudah berdiri di depan pintu kamarku sambil melipat kedua tangannya diatas dadanya.


"Carel!" Ucapku yang berjalan menuju kamarku diikuti oleh paman.


"Kau datang lagi? Kapan kau datang?" Tanya paman pada Carel.


"Bukan urusanmu!" Jawab Carel sambil memalingkan wajahnya dari paman.


"Bocah ini benar-benar ya!! tentu saja urusanku, ini kan rumahku! Kau datang dan pergi sesukamu. Harusnya kalau mau datang bilang dulu padaku!" Geram paman langsung mengacak-ngacak rambut Carel dengan gemasnya.


"Aduh! Lepaskan bodoh! Rambutku jadi kusut." Teriak Carel berusaha melepaskan tangan paman dari kepalanya.


"Mereka mulai lagi ...." Gumamku melihat kelakuan paman dan Carel yang selalu bertengkar jika dipertemukan.


"Ngomong-ngomong minggu depan kamu bakal tinggal bersama paman Ansel kan?" Tanya Carel setelah berhasil melepaskan tangan paman dari kepalanya.


"Kau tidak akan bisa masuk ke rumah kakak ku." Tutur paman sambil tersenyum sarkas pada Carel yang melirik kearahnya.


"Kau!" Geram Carel tak bisa menahan dirinya saat melihat ekspresi paman yang terlihat menyebalkan.


"Untuk sementara Aster akan tinggal di rumah nenek, setelah papa selesai mengurus surat kepindahan sekolahku. Papa bilang Aster akan ikut dengannya ke Singapura." Jelasku membuat perdebatan mereka berhenti.


"He? Aku tidak dengar bagian itu ...." Tutur paman terlihat mengingat-ngingat sesuatu.


"Papa bilang harus menyelesaikan pekerjaannya di Singapura selama beberapa tahun, lalu Aster diminta ikut dengan papa. Katanya papa ingin mengobati penyakit Aster, jadi Aster akan fokus pada pengobatan Aster di sana sambil sekolah juga. Nenek juga menyarankan begitu pada papa, jadi sebelum Aster pergi ke Singapura bersama papa, Aster akan tinggal di rumah nenek." Jelasku panjang lebar mengingat pembicaraanku dengan ayah sebelumnya.


Nenek bilang ingin menghabiskan waktunya bersama Aster sebelum Aster pergi ke Singapura bersama papa. Saat mendengarnya aku jadi merasa senang, tapi secara bersamaan aku juga merasa sedih. Kenapa? Karena harus berpisah dengan paman merah. Lanjutku dalam hati.


.


.


.


Thanks for reading...