Aster Veren

Aster Veren
Episode 143




-Sean-


"Sangat menyesakan! Kapan waktu istirahat tiba?" Gumamku sambil membuka topeng diwajahku.


"Mereka datang! Kenakan topengmu bodoh!" Seru Hendric sambil memukul lenganku, membuatku geram.


"Sudah berani memukulku ya?" Tanyaku tak membuatnya takut.


"Ca–Carel pelan-pelan, aku tidak bisa melihat pijakanku."


"Carel?" Bisik Hendric sambil mengintip keluar kain, sepertinya bukan telingaku saja yang mendengar nama itu disebutkan, "benar loh itu si Carel sama tunangannya." Lanjutnya sambil menoleh padaku, membuatku sedikit terkejut.


Bagaimana tidak, wajahnya saja sudah dipolesi full make-up horor. Siapapun yang melihatnya pasti akan terkejut.


"Eh?" Ucapnya membuatku mengernyit bingung setelah dia kembali mengintip dibalik tirai, menghindari tatapanku yang belum mengenakan topengku kembali.


"Apalagi?" Tanyaku mulai kesal karena anak ini tak kunjung menakuti pengunjung, apa dia takut karena pengunjungnya si Carel?


"Itu! Aster kan?" Jawabnya membuatku menggeser anak itu kesisi lainnya, hampir terjungkal. Lalu ku ambil alih tempatnya mengintip tadi.


Dia masuk juga? Bersama mereka? Apa mereka sudah baikan? Batinku bertanya-tanya saat mendengar Lusy memberi instruksi kepada Aster untuk tidak jauh-jauh darinya. Tapi anehnya anak menyebalkan itu tidak mengatakan apapun.


Apa itu artinya dia belum baikan dengan Aster?


Srak!


Suara sapu lidi mengejutkanku, rupanya sudah masuk bagian awal menakuti. Dengan cepat ku kenakan topengku dan kembali ke tempatku, membiarkan Hendric melakukan tugasnya untuk menjulurkan kedua tangannya menembus pintu kertas dihadapannya.


"Kyaa!!" Teriak Lusy membuatku segera menutup telingaku. Menyebalkan memang mendengar anak perempuan berteriak.


Setelah bagian dia menakuti pengunjung dengan kemunculan tangannya yang berlumuran darah anak itu akan mengikuti pengunjung dari belakang sampai ke pintu keluar.


Lalu langkah pengunjung akan terhenti saat melihat sosok perempuan yang tengah bercermin. Kemudian mereka akan berlari melewati yang lainnya sebelum sampai padaku.


"Kyaaa!" Kali ini ada dua suara yang berteriak, bisa ku pastikan Aster juga ikut berteriak.


Sepertinya anak itu memiliki bakat khusus, batinku mengingat sosok Nadin yang berperan sebagai hantu perempuan yang tengah bercermin.


Semua orang yang melihatnya tidak pernah menutup mulutnya, suara pengunjung selalu terdengar berteriak histeris di tempatnya. Membuatku ikut merinding jika membayangkan riasan anak itu.


"Ca–carel!" Rengek Lusy mulai terdengar di telingaku, sepertinya mereka sudah semakin dekat denganku.


"Berhenti menarik bajuku!" Seru Carel terdengar kesal.


Dengan cepat aku keluar, menampakan diri dihadapan mereka dengan membawa sabit malaikat maut dan bola pelastik yang sudah dipermak menjadi bentuk kepala manusia lengkap dengan rambut palsu beserta darahnya. Entah kenapa konsepku malah menjadi malaikat maut, ingin rasanya ku hajar orang yang sudah memberikan peran ini padaku.


"Apa kalian berikutnya?" Tanyaku dengan suara serak yang ku buat-buat membuat perempuan itu kembali berteriak, sedangkan anak menyebalkan itu hanya mematung ditempatnya selama beberapa detik. Apa dia terkejut?


Bruk!


Tubuh Reno tergeletak tepat dihadapanku membuat kedua pasangan itu terkejut. Aku bahkan sempat terkejut juga saat pertama kali melakukannya, padahal kami sudah melakukan gladi sebelum rumah hantu dibuka. Tapi anak ini memang sangat pandai bermain peran.


Lebih pandai lagi orang yang sudah mendandaninya, bisa-bisanya dia membuat anak ini terlihat seperti tidak memiliki kepala. Padahal kepalanya disembunyikan didalam pakaiannya.


Ngomong-ngomong di mana si Hendric? Bukankah sekarang waktunya dia mengejar mereka? Batinku mencari sosok yang tak terlihat batang hidungnya itu.


***


-Carel-


"Selamat datang kembali!" Seru Teo langsung merangkul bahuku, "bagaimana menurutmu?" Lanjutnya bertanya.


"Benar-benar menakutkan. Hebat juga kalian bisa membuat rumah hantu seperti ini." Jawab Lusy mendahuluiku.


"Hee ... apa seorang Carel juga ketakutan?" Tanya Kalea dengan suara mengejeknya. Entah sejak kapan dia duduk disamping Tia.


"Apa tidak masalah seorang maid berkeliaran di depan rumah hantu?" Tanyaku membalas ejekannya yang menyebalkan itu.


"Tidak tuh, lagipula jadwal berjagaku sudah selesai." Dengusnya terlihat kesal.


"Benarkah?" Tanyaku langsung mendapat anggukan mantap dari Teo.


"Kalau begitu kita bisa berkeliling bersama kan Carel?" Tanya Lusy terlihat antusias membuat semangatku luntur. Sejak pagi dia sudah menempel padaku, benar-benar menyebalkan.


"Ngomong-ngomong, dimana Aster?" Tanya Tia membuatku menoleh kearah Lusy, menatapnya penuh tanya. Tapi sepertinya dia juga tidak mengetahui keberadaannya. Apa kami terpisah di dalam?


"Silahkan minumannya, kami akan beristirahat selama lima belas menit." Ucap seorang perempuan membagikan minuman pada semua orang yang tengah mengantre untuk masuk ke dalam rumah hantu.


"Apa kalian terpisah di dalam?" Tanya Kalea membuatku kesal sendiri.


"Anak itu!" Geramku berniat untuk masuk ke dalam saat sadar dengan sikap penakutnya itu.


"Tunggu Carel!" Cegah Lusy bersamaan dengan Isak tangis Aster yang keluar dari dalam rumah hantu bersama dengan Sean?


"Sudah tidak apa-apa Aster, sekarang kau bisa melepaskan–" Tutur Sean berusaha melepaskan pelukan Aster yang terlihat begitu erat.


"Tidak mau, hiks. Aku–huwaaa itu menakutkan aku tidak mau masuk ke tempat seperti itu lagi. Kaki ku juga sakit, bajuku kotor!" Tangisnya pecah membuatku melirik kearah lututnya yang terlihat berdarah saat dia mengatakan kakinya sakit. Pakaiannya juga kotor seperti yang dia katakan.


Sebenarnya apa yang terjadi di dalam? Apa dia terjatuh?


"Kau baik-baik saja Aster?" Tanya Tia yang sudah berdiri dihadapan Aster.


"Tidak! Aku tidak akan bisa tidur malam ini hiks ...," jawabnya sambil menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti.


"Kau ini. Sudah tau takut kenapa harus masuk mengikuti Carel dan Lusy?"


"Habisanya aku tidak suka–maksudku aku ingin, ah kakiku sakit huhu ...,"


Tidak suka? Batinku bertanya-tanya dengan ucapannya yang tidak selesai itu.


"Kau meninggalkannya?" Tanya Kalea tiba-tiba memukul bahuku dengan kekuatannya, membuatku memekik.


"Aku tidak–" Jawabku terhenti saat melihat matanya yang hampir copot itu.


"Tutup mulutmu itu!"


"Bukannya dia sedang marahan dengan Aster juga?" Gumamku tak bisa mengerti isi kepala Kalea yang sudah berjalan mendekati Aster dengan ekspresi khawatirnya.


Apa pada akhirnya hanya aku yang tidak bisa menunjukan perasaanku yang sebenarnya pada Aster? Aku juga ingin menghampirinya, tapi dia belum meminta maaf atas perlakuannya padaku.


"Aku mengerti," ucap Teo membuatku menoleh ke arahnya yang masih setia berdiri disampingku.


"Apa?"


"Kau ingin menghampirinya kan?" Tanyanya langsung memasang ekspresi menjengkelkannya.


"Sok tau!" Dengusku.


"Eh memangnya kau tidak tau kalau aku bisa membaca pikiran?" Tanyanya lagi membuatku mendelik kesal padanya.


Dengan malas ku langkahkan kaki ku meninggalkannya, "kau mau kemana?" Teriaknya tak ku perdulikan.


"Carel!"


"Ck, kembali ke tempatku bodoh!" Jawabku membalas teriakannya.


"Eh? Mau kembali sekarang? Tunggu aku Carel!" Teriak Lusy segera mengekoriku.


Awas kau Teo! Batinku menyumpahi anak itu jika kita bertemu lagi. Padahal aku berniat pergi dari pandangan perempuan ini diam-diam, tapi karena mulut embernya itu anak ini jadi mengekoriku lagi kan?


Ku kepalkan kedua tanganku sekuat tenaga di dalam saku celanaku. Berusaha menahan rasa kesalku yang tidak bisa menghibur Aster supaya dia berhenti menangis. Lebih kesal lagi saat melihat anak itu yang dia peluk saat dia ketakutan.


"Menyebalkan!"


.


.


.


thanks for reading...