
-Aster-
"Hah~" Gumamku menghela napas letih mengingat Ayah yang sibuk memarahi paman Arsel di taman mawar, bahkan bibi Wanda juga langsung memarahi paman saat sampai di rumah.
Tak ku sangka paman diserang dua belah pihak secara bersamaan. Batinku tak bisa melupakan pertengkaran mereka, bayangan saat bibi baru tiba pun masih tergambar jelas dalam ingatanku.
"Pasti harga dirinya sangat terluka sekarang ... dia dimarahi istri dan kakaknya dihadapan putranya." Tutur Carel yang baru kembali dari dalam rumah.
Ya, dia pergi untuk mengantar Khael sampai teras dan mungkin alasan lainnya untuk melihat paman Arsel dimarahi lebih lama oleh ayah. Papa sampai menggeret paman seperti itu, sudah pasti Carel tertarik untuk melihatnya kan? Batinku mengingat ekspresi ayah yang menggeret paman dengan paksa memasuki rumah, lalu Carel dengan wajah tanpa dosanya dia mengikuti langkah ayah sambil bersiul disusul oleh bibi yang menggendong Khael dan kak Hana dibelakangnya.
"Wajahmu mengatakan sebaliknya tuh, kau terlihat puas menonton pertunjukan tadi." Lanjut Kalea yang sibuk menikmati cake coklat buatan kak Hana.
"Tidak tuh!" Bela Carel sambil duduk dikursi kosong yang ada disebelahku.
Papa sampai sekesal itu karena paman membuatkanku pakaian seperti itu, bukankah itu kelewatan?
"Ya–sudah pasti kelewatan kan? Pakaiannya saja sangat terbuka untuk anak usia 13 tahun." Lanjutku bergumam saat mengingat gaun yang ku pakai semalam, bagian punggungnya benar-benar terekspos jika aku tidak mengurai rambutku untuk menutupinya.
"Apa yang kau gumamkan?" Tanya Carel menghancurkan lamunanku.
"Ti–dak ada!" Jawabku segera meraih cangkir teh dihadapanku.
"Ngomong-ngomong kenapa kau datang kesini? Bukankah kau orang yang paling tidak suka dengan Aster?" Tanyanya pada Kalea membuatku melirik kearah Carel yang sudah bertopang dagu dengan tangan kanannya.
"Paling tidak suka ...." Gumamku merasa sakit jauh didalam hatiku, dengan hati-hati ku lirik sosok Kalea yang tak bergeming ditempatnya sambil menyesap teh ditanganku.
"Ah ... apa karena sekarang kau tidak punya seorangpun teman ya? Jadi mau bagaimana lagi, kau pun dengan terpaksa mendekati Aster supaya–" Lanjut Carel dengan tatapan dinginnya.
"Asal kau tau saja, aku datang kesini karena Aster yang mengundangku. Dan lagi ayahku ada urusan disini, jadi berhenti menebak-nebak alasanku ada disini seenak jidatmu!" Potong Kalea membalas tatapan dingin Carel dengan tatapan tajamnya bersamaan dengan tanganku yang sudah menyimpan kembali cangkir tehku keatas meja dihadapanku.
"Eh? Apa maksudnya? Tidak punya seorangpun teman? Ap–apa maksudnya Carel?" Tanyaku membuatnya menoleh padaku, bahkan tanpa sadar telapak tanganku sudah berkeringat dingin sekarang.
"Kau tidak tau? Padahal semalam kau lihat sahabatnya, tidak maksudku mantan sahabatnya. Dia berdansa dengan si Nathan dengan riang tanpa beban. Lalu semua orang terlihat menjaga jarak dari Kalea–" Jelasnya membuatku semakin tidak mengerti.
"Ya makanya kenapa? Kenapa mereka menjauhi Kalea?" Tanyaku.
"Apalagi? Mereka tau soal masa lalunya yang suka mengganggumu di sekolah dulu, bahkan si Nathan pun sudah mengetahui sifat aslinya. Lalu mereka semua menjauh dengan alami saat mengetahui dia pernah berlaku sejahat itu padamu. Siapapun tidak ingin berteman dengan orang yang jahat kan? Yah anggap saja dia sedang mendapatkan karmanya sekarang." Jelasnya lagi bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa tubuhku.
Apa dia bilang? Ba–gaimana bisa rumor itu beredar? Batinku merasakan panas ditenggorokanku.
"Hah... kau senang sekali membahas masalah orang lain ya? Padahal kau juga dijauhi orang-orang karena kasusmu tahun lalu." Ucap Kalea membuat Carel menggebrak meja dihadapannya sambil bangkit dari posisi duduknya. Ku lihat dia terlihat lebih kesal dari biasanya, tatapannya juga sangat mengancam.
Sebenarnya ada apa? Batinku bertanya-tanya karena tidak mengetahui situasi mereka saat ini. Carel bilang Kalea dijauhi karena perbuatannya dulu padaku, lalu Kalea bilang Carel dijauhi karena kasusnya tahun lalu. Sebenarnya apa yang terjadi selama aku tidak ada?
Kenapa hanya aku yang terlihat bodoh sekarang?
"Lihatlah, kau yang mulai duluan tapi saat ku balas kau yang paling kesal dan tak ingin aku membahasnya lebih jauh. Dasar curang!" Ucap Kalea ikut bangkit dari posisi duduknya dan mulai berjalan menjauhiku dan Carel setelah menghela napas letihnya.
"Tu–tunggu Kalea!" Teriak ku tak menghentikan langkahnya, "sebenarnya ada apa ini?" Lanjutku tak bisa berkata-kata lagi.
***
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama aku pergi?" Gumamku mengingat ucapan Carel soal Kalea yang katanya dijauhi teman-temannya karena masa lalunya yang berhubungan tidak baik denganku. Lalu Kalea bilang Carel juga dijauhi karena kasusnya tahun lalu, sebenarnya ada apa?
"Aku benar-benar tidak suka melihat ekspresi mereka siang ini. Dan lagi ... bukankah yang lebih jahat itu Nadin? Dia kan yang sering main fisik padaku." Gumamku mengingat beberapa kejadian buruk bersama Nadin sambil membalikan posisi tidurku membelakangi jendela besar dikamarku.
"Kau belum tidur?" Suara ayah bersamaan dengan suara pintu yang tertutup.
"Papa? Kenapa?" Tanyaku langsung bangkit dari posisi tidurku saat melihatnya masuk ke kamarku.
"Aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama putriku sebelum dia pindah ke asrama." Jelas ayah dengan senyum tipisnya yany terlihat hangat.
"Hhehe... Aster juga." Ucapku sambil terkekeh.
"Hem," guman ayah sambil duduk diujung tempat tidurku.
"Ada apa?"
"Aku mengerti sekarang,"
"Apa?"
"Kau hanya memanggil dirimu dengan sebutan Aster saat sedang ingin bermanja denganku ya?" Jelas ayah dengan senyum menggodanya.
"Ap–tidak! Jangan salah paham!" Sangkalku menghindari tatapan ayah.
"Hee... tapi biasanya kau memanggil dirimu dengan sebutan aku. Tapi disituasi tertentu kau memanggil dirimu dengan namamu sendiri seperti malam ini."
"Me–mangnya tidak boleh?"
"Pft... bukannya tidak boleh. Hanya saja, saat mendengarmu memanggil namamu sendiri ... ekspresimu terlihat sangat bahagia. Seperti menjadi dirimu yang sebenarnya, dulu saat aku belum terlalu mengenalmu. Kau hanya memanggil namamu dengan ekspresi murung dan polos saja, tapi sekarang kau memanggil namamu disaat kau sedang berdua denganku saja. Lalu disaat kau sedang merasa bahagia tanpa sadar kau memanggil namamu dengan sebutan Aster lagi seperti sebelumnya." Jelas ayah panjang lebar membuat wajahku panas saking malunya.
Jika diingat-ingat, aku memang sudah lama tidak menggunakan kata Aster untuk menunjukan kata aku dihadapan orang lain termasuk ayah. Tapi entah sejak kapan sebutan Aster menjadi sesuatu yang khusus disaat-saat tertentu, ya–seperti yang ayah jelaskan. Biasanya aku menggunakannya saat sedang berdua dengan ayah atau saat ingin bermanja dan membujuk ayah.
Selain itu, maksud dari ekspresiku yang bahagia saat menyebut namaku sendiri itu ... aku memang bahagia karena memiliki nama Aster Veren yang diberikan ibu padaku. Tapi hal lain yang ku rasakan saat mengingat namaku adalah saat nenek memuji namaku, dia sempat melakukannya saat kami tidur bersama. Lalu tanpa sadar aku mengucapkan namaku dengan bangga dan senang karenanya.
"Sudahlah, sudah malam kau harus tidur cepat! Besok kau harus mempersiapkan segala keperluanmu sebelum pergi ke asrama." Tutur ayah sambil meraih puncak kepalaku.
"Ya." Angguk ku kembali membaringkan tubuhku bersama ayah yang juga ikut berbaring disampingku.
Ibu ... ayah sudah menyayangiku sekarang. Apa ibu melihatnya? Batinku merasa senang karena terlahir sebagai putrinya meski awalnya aku sempat berpikiran sebaliknya karena merasa iri pada orang-orang beruntung yang memiliki kedua orang tua.
Tapi sekarang tidak lagi. Lanjutku masih dalam hati sambil memeluk tubuh ayah, membenamkan wajahku di dadanya. Lalu ku rasakan telapak tangan ayah mengelus belakang kepalaku dengan lembut dan mengecup puncak kepalaku penuh kasih sayang.
.
.
.
Thanks for reading...