Aster Veren

Aster Veren
Episode 100




-Aster-


Ku lihat semua orang memperhatikan kami dengan ekspresi terkejutnya. Mungkin mereka tidak pernah berpikir kalau aku akan berpasangan dengan Sean disaat situasi kami sama-sama dijadikan bahan perbincangan.


"... serius mereka berpasangan?"


"Itu artinya hubungan keluarga mereka baik-baik saja kan?"


Bisikan mereka mulai mengganggu telingaku, tapi aku puas kalau ada yang berpikiran seperti itu. Kenapa? Karena sejak awal masalah keluarga Veren itu bersama keluarganya tante Claretta, bukan bersama keluarga Alaric. Terlebih lagi keluarga Alaric sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga tante Claretta, jadi sudah seharusnya mereka berhenti membicarakan gosip tak masuk akal itu.


"Apa yang kau lamunkan?" Suara Sean mengejutkanku.


"A–ah, tidak ada."


"Kalau begitu kita mulai latihannya ... dari chest pass, dribbel lalu shooting," putusnya sambil memainkan bola basket di tangannya.


"Tidak, kau harus melemparnya sejajar dengan dadamu, posisi tanganmu memegang bola harus seperti ini ...," suara Nadin membuat perhatianku teralihkan padanya.


"Aku hanya bisa membacanya di buku, apa aku bisa ya?" Gumamku meragukan kemampuanku karena belum pernah melakukan olahraga berat sekalipun. Selama melakukan pemulihan di Singapura pun, dokter hanya menyarankan ku untuk berenang jika ingin melakukan olahraga. Dengan begitu aku bisa melatih pernapasanku juga.


Duk!


Suara hentakan bola basket mengejutkanku, ku alihkan perhatianku pada Sean yang berdiri dihadapanku dengan ekspresi dinginnya. Ya, suara bola barusan itu perbuatannya.


"... hhehe, maaf aku melamun lagi." Ucapku sambil menggaruk kepala bagian belakangku.


"Kalau tidak niat berolahraga sebaiknya kau pergi kesana saja," ucapnya sambil menunjukan jarinya kearah pinggir lapangan.


"Tidak mau!" Ucapku sedikit berteriak membuatnya terperajat, "aku ... aku akan latihan bersamamu, tolong ajari aku caranya–" Lanjutku terpotong oleh kedatangan Teo dan Hendric.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Teo membuatku menoleh padanya, belum sempat aku menjawab pertanyaannya Hendric sudah mengajukan pertanyaannya juga padaku.


"Kalian belum latihan sedikitpun?" Tanyanya sambil menepuk bahu Sean, namun dengan cepat tangannya ditepis oleh temannya itu.


"I–ini juga baru mau mulai latihan!" Jawabku membuatnya menatap wajah Sean sesaat dan kembali menatapku dengan ekspresi khawatirnya.


"... sepertinya kau akan kesulitan berhadapan dengan anak ini, mau tukar pasangan denganku?" Lanjutnya sambil menyeringai kepadaku.


"Ya, kau bisa berpasangan denganku. Aku akan mengajarimu dengan baik," ucap Teo menyetujui saran Hendric dengan ekspresi khawatir yang sama dengan ekspresi yang ditunjukan oleh Hendric.


Entah kenapa aku merasa kesal dengan sikapnya yang seperti ini, rasanya seperti terus diawasi olehnya. Padahal aku baik-baik saja dan tidak memerlukan perhatian dan perlindungan sebesar itu. Apa ayah menitipkanku pada Teo juga? Tidak kah cukup dengan menitipkanku pada Carel dan paman Justin saja?


Padahal aku merasa senang karena terbebas dari pengawasan Carel, merasa sedikit bersyukur karena dia tidak satu kelas denganku. Tapi aku lupa kalau masih ada Teo di kelasku, orang yang bisa menggantikan Carel untuk mengawasiku. Orang yang lebih tegas dari Carel.


... disaat seperti ini aku berharap bisa satu kelas dengan Carel saja, meski dia menyebalkan dia–


"Kalian pergi saja cari tempat lain, jangan mengganggu ku dan pasangan berlatihku." Ucap Sean sambil memberikan bola basket di tangannya ke tanganku.


"Ini?" Tanyaku menatap manik hitamnya.


"Pegang bolanya yang benar, lalu–" Jelasnya terhenti saat Hendric kembali menepuk bahu Sean cukup keras dari sebelumnya.


"Kalau begitu kami pergi ya, baik-baik dengannya." Ucapnya sambil menunjukan senyumnya yang terlihat penuh arti, lalu dengan cepat dia langsung merangkul Teo dan membawanya pergi dari hadapanku dan Sean.


"Tu–tunggu dulu, aku–" Tolak Teo tak diperdulikan, Hendric terus menggeretnya menjauhiku dan Sean.


"Terima kasih Hendric," gumamku merasa berhutang padanya.


***


-Sean-


Setelah berkali-kali gagal memasukan bola ke dalam ring, untuk pertama kalinya aku melihat Aster berhasil memasukan bolanya ke dalam ring. Ku lihat dia begitu gembira sampai melompat kegirangan di sampingku.


"Hhaha, aku berhasil! Akhirnya bisa masuk." Ucapnya sambil tertawa riang sambil menoleh kearahku, "semuanya berkat Sean yang mau mengajariku. Terima kasih," lanjutnya sambil tersenyum lebar.


Kenapa dia bisa sesenang itu? Batinku bertanya-tanya dengan perasaan gembira yang dimiliki oleh perempuan disampingku saat ini.


"Harusnya kau bisa melakukannya diawal," tuturku mengingat semua usahanya yang terus gagal memasukan bola basket itu ke dalam ring.


Bagaimana tidak? Jelas-jelas aku baru mendengar ucapannya yang tak terduga itu, dia bilang tidak pernah mempraktekannya dan hanya membaca langkah-langkahnya saja di buku. Tidak kah itu sedikit aneh? Aku saja sudah mempelajari materi olahraga ini dari sekolah dasar.


"Kau belum pernah mempraktekan olahraga ini?" Tanyaku membuatnya menoleh padaku lagi.


"Ya," angguknya.


"Sekalipun?"


"Iya,"


"Saat di sekolah dasar?"


"Iya, karena fisik ku lemah dan aku ambil home schooling di kelas 4."


"Be–begitu ya? Pantas saja kau sesenang itu saat berhasil memasukan bola basket ke dalam ring." Gumamku masih terkejut dengan jawaban yang dia berikan.


Jadi dia ambil home schooling dan dia bilang fisiknya lemah? Jadi itu alasannya kenapa orang itu terlihat seperti itu? Lanjutku dalam hati sambil menoleh kearah Teo yang sedang berlatih dengan Hendric.


"Tapi sekarang sudah tidak apa-apa, meski beberapa tahun ini aku sudah tidak pernah merasakan sesak napas lagi. Aku bisa pastikan kalau paru-paruku sudah sehat sekarang," tuturnya tiba-tiba mengejutkanku lagi, apalagi saat dia kembali menunjukan senyuman lebarnya.


"... syu–syukurlah kalau begitu." Ucapku sedikit tergugup, entah kenapa tiba-tiba saja jantungku mulai berdebar tak karuan saat melihat senyumannya yang semanis itu.


Apa mungkin ini perasaan yang dirasakan para pria saat melihat parasnya? Pantas saja semua pria di akademi menjulukinya sebagai perempuan paling cantik diangkatan tahun ini.


Tapi kenapa dia dijuluki sebagai perempuan paling cantik? Padahal masih ada Tia dan Kalea yang sedikit lebih cantik dari Aster, apa karena warna bola matanya ya? Batinku bertanya-tanya.


"Pst... dia kan? Perempuan yang kau maksud?" Suara seorang pria berseragam hitam putih dengan dasi merah, menandakan dia adalah kakak tingkat tertua di akademi.


Dia terlihat begitu terang-terangan memperhatikan Aster bersama kedua temannya yang entah sengaja atau tidak mereka berjalan melewati lapangan olahraga siang ini.


"... ah jadi dia putri tunggal tuan Ansel dari keluarga Veren,"


"Saat pesta kak Nathan malam itu, dia terlihat lebih cantik loh."


"Benarkah? Aku jadi iri denganmu yang diundang oleh Nathan,"


"Aku tidak tau dia seterkenal ini," gumamku kembali memperhatikan Aster.


"Ah~ aku mulai merasa lelah, padahal aku masih mau bermain basket lagi." Tuturnya mulai berjongkok disampingku sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya pada wajah dan lehernya secara bergantian.


"Kalau begitu kita sudahi saja latihannya," saranku sambil berkacak pinggang dengan salah satu tanganku, sedangkan Aster hanya bisa menengadahkan kepalanya untuk melihatku.


"Disaat seperti ini aku harap bisa menjadi seperti Nadin." Ucapnya dengan ekspresi murungnya.


Cepat sekali ekspresinya berubah?!


"Maksudnya ingin menjadi seperti Nadin itu ... kekuatan fisiknya?" Gumamku ikut memperhatikan Nadin yang masih bermain basket bersama Tia.


"... kenapa tidak kau coba saja? Siapa tau dia mau menerimamu," suara kakak tingkat sebelumnya kembali menggangguku.


"Bukannya mereka cuma mau lewat saja? Kenapa masih disana?" Gumamku sambil memperhatikan mereka dengan kesal.


Kenapa aku kesal?


"Tidak! Aku baik-baik saja," suara Aster sedikit berteriak membuatku terkejut.


Ku lihat Teo sudah berjongkok disampingnya dengan ekspresi khawatirnya, sedangkan Aster, aku tidak tau ekspresi apa yang sedang dia buat. Terlalu sulit untuk ku gambarkan, tapi ada sedikit rasa kesal yang tergambar diwajahnya. Sisanya aku tidak tau.


"Sejak kapan dia disana?" Gumamku tak bisa melepaskan perhatianku dari sosok mereka berdua.


.


.


.


Thanks for reading...