
-Arsel-
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" Tanyaku pada kakak bodohku yang baru kembali dari rumah sakit.
Aku baru tiba dan berniat untuk beristirahat sambil menunggu keponakan dan kakak ku kembali. Tapi saat melihat air muka semua orang di rumah, aku jadi tidak bisa beristirahat dengan tenang karena mereka terlihat begitu gelisah.
Dan saat ku tanyai salah satu pelayan rumah, dia bilang semua orang mengkhawatirkan Aster karena belum kembali dari luar. Lalu pelayan itu juga memberitauku soal berita keributan yang disiarkan di televisi siang ini.
Awalnya aku tidak mengerti dengan arah pembicaraannya sampai dia bilang Aster sedang diincar oleh musuh-musuhnya keluarga Veren, mereka yang memiliki dendam pada kakak ku. Ku dengar mobil yang ditumpangi Aster untuk pergi keluar diikuti oleh kelompok musuh itu dan meledak di jalan.
Aku yang mendengarnya langsung terkejut setengah mati. Bagaimana bisa anak itu di incar oleh musuh-musuhnya si bodoh itu? Padahal selama ini mereka tidak pernah berani mengambil tindakan untuk menyerang keluarga Veren karena takut dengan kakak. Tapi kenapa tiba-tiba mereka mengambil tindakan berani seperti ini? Itupun bukan menyerang kakak secara langsung, melainkan menyerang Aster sebagai penerus berikutnya.
"Kau istirahat saja. Biar aku yang mengurus sisanya, jika ada informasi, aku akan langsung menghubungimu." Suara Victor menarik perhatianku, ku lihat dia memasuki rumah bersama dengan Hans yang–terluka?
"Apa yang sudah terjadi Hans? Ku dengar kau keluar bersama Aster, dimana dia?" Tanyaku segera menghampiri mereka.
"Tuan Arsel," gumamnya.
"Kapan kau tiba?" Tanya Victor mengalihkan pembicaraan.
"Belum lama, aku sudah mendengar beritanya dari Mila. Ku dengar mobil Aster diserang saat dalam perjalanan kembali ... tapi, di mana anak itu sekarang? Kenapa kau kembali sendirian? Lalu di mana kakak bodohku itu?" Jawabku kembali menggiringnya pada topik.
"Tuan sedang di rumah sakit bersama–"
"Aster? Jadi anak itu–awas saja mereka ya! Beraninya melukai keponakanku." Potongku merasa kesal dan geram pada mereka yang sudah membuat keponakanku terluka.
"Ansel bersama Kalea di rumah sakit. Aster ... anak itu tidak ditemukan di manapun." Ucap Victor kembali membuatku terkejut.
Dia bilang apa? Aster tidak ditemukan di manapun? Apa maksudnya? Apa mereka menculik Aster? Dan lagi kenapa kakak bodohku itu malah sibuk mengurus anak orang lain? Tidak kah dia harus segera bertindak dan mencari Aster?
"Hah~ aku akan menjelaskan semuanya sebelum kembali mencari Aster. Hans kau pergi saja beristirahat." Ucap Victor membuatku mengernyit bingung. Apa yang harus dia jelaskan?
***
Waktu sudah menunjukan pukul 07:00 malam saat kakak kembali dari rumah sakit, dan saat ini aku tengah berdiri dihadapannya yang baru keluar dari dalam mobilnya.
Ku tatap manik merah yang terlihat malas itu, apa benar dia hilang ingatan? Tapi kenapa hanya ingatan tentang Aster saja yang dia lupakan? batinku bertanya-tanya, meragukan penjelasan Victor siang ini.
"Kau sudah kembali?" Tanyanya membuatku segera mengepalkan tanganku kuat-kuat.
"Di mana Aster?"
"Anak itu lagi, kenapa semua orang terus menanyakan keberadaannya padaku?" Dengusnya membuat rasa kesalku perlahan naik pada puncaknya.
"Dia memang mirip dengan Helen, tapi apa kau yakin dia anak ku? Bukankah kita semua tau kalau aku berpisah dengan wanita itu sebelum kami memiliki seorang anak? Dan lagi, kenapa kalian tidak memikirkan kemungkinan kalau dia anaknya Helen dengan laki-laki itu?" Tuturnya benar-benar membuatku kesal setengah mati.
Ku raih bahu kakak ku dan menekannya sekuat mungkin sampai ku lihat tatapannya berubah menjadi dingin, "kau tidak bermaksud untuk–"
"Tutup mulutmu! Aku dengar Hans sudah menunjukan album foto kebersamaanmu dengan Aster, tidakah kau berpikir itu sedikit aneh? Bagaimana bisa kalian berfoto saat usia anakmu masih sekecil itu? Lalu tiba-tiba dia sudah berdiri dihadapanmu sebesar itu?" Potongku berusaha menahan emosiku, ku lihat kakak seperti sedang berpikir keras memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang dia pikirkan, yang jelas aku ingin dia segera mengingat putrinya.
"... sa–saya hanya menuruti perintah nona untuk menyembunyikan kondisi tuan dari semua orang termasuk tuan Arsel. Jadi saya tidak berani memberitau tuan, mo–mohon maafkan saya." Tutur Hans terlihat menyesal.
"Sa–saya juga mohon maaf yang sebesar-besarnya tuan. Karena kami, tuan jadi tidak mengetahui kondisi tuan Ansel." Lanjut Mila ikut membungkuk memohon maaf dariku.
"Apa kau juga ingin mengatakan sesuatu?" Tanyaku melirik sinis pada sosok Rigel yang jelas-jelas sudah ku beri perintah untuk memberitauku jika kakak sudah siuman, aku bahkan memintanya untuk memberitauku mengenai kondisinya melalui email yang ku kirimkan setelah aku sampai di rumah. Tapi apa yang ku dapatkan? Hanya informasi mengenai kondisi kakak yang sudah siuman dan kembali ke kediaman Veren.
Padahal ku pikir kondisinya sudah membaik dan akhirnya aku bisa menjenguknya setelah selesai membereskan pekerjaanku. Ku pikir aku juga bisa melihat ekspresi gembira Aster lagi karena kakak sudah kembali ke rumah dengan kondisi sehat seperti yang diharapkannya. Tapi, apa-apa ini?
Sejak sampai di kediaman Veren, suasana di rumah terlihat begitu kacau. Semua orang terlihat begitu khawatir karena anak majikan mereka belum kembali, dan berita yang disiarkan di televisi membuat kepanikan mereka memuncak. Lalu Hans datang bersama dengan Victor dengan kondisi yang cukup kacau.
Setelah mendengar cerita dari Victor dan Hans yang memaksa untuk ikut dalam pembicaraanku dengan Victor, dia juga memberitauku kondisi Aster selama si bodoh itu melupakannya.
Sudah pasti sulit baginya kan? Sejak si bodoh itu koma saja, anak itu sudah menjadi penerus sementara keluarga Veren untuk menyelesaikan masalah pekerjaan keluarganya. Di tambah, orang itu siuman dengan kondisi hilang ingatan. Dan itupun hanya tentang Aster yang tidak dia ingat. Batinku setelah mengingat pembicaraanku dengan Victor dan Hans.
Ku tatap kembali manik merah kakak dengan serius, "apa mau ku tunjukan bukti yang lebih kuat kalau Aster itu anakmu? Atau mau ku pukul saja kepalamu itu? Ku sarankan kau memilih pilihan kedua sih, mungkin itu cara yang lebih cepat untuk mengembalikan ingatan mu itu." Tanyaku masih mencengkram bahu kakak dengan tangan kiriku.
"Bilang saja kau ingin memukulku." Singkatnya membuatku tersenyum tipis melihat perubahan ekspresinya yang entah kenapa terlihat lucu sekaligus menjengkelkan. Terlihat bodoh.
"Ya itu salah satu alasannya. Karena aku benar-benar kesal sampai tidak tau harus melakukan apa supaya kebodohanmu itu hilang. Bisa-bisanya kau bersikap tenang disaat kita tidak mengetahui keberadaan Aster. Kau bahkan tidak mengerahkan anak buahmu untuk mencari putrimu dan malah sibuk mengurus anak orang lain–"
"Untuk apa aku mengerahkan anak buahku untuk anak sepertinya?"
"Kau–"
"Tunggu! Apa sebaiknya ku kerahkan saja ya? Dengan begitu, saat mereka menemukannya, aku bisa langsung menghabisinya." Potongnya sebelum menunjukan senyuman sarkasnya yang membuatku terkejut. Bisa-bisanya dia mengatakan ingin menghabisi putrinya? Memangnya apa salahnya sampai si bodoh ini menjadi tidak waras seperti ini?
"Kau! Aku tidak salah dengar kan? Kau bilang ingin menghabisi putrimu? Apa kau mau mati?" Tanyaku penuh penekanan sambil membalas tatapan sarkasnya yang menjengkelkan itu.
.
.
.
Thanks for reading...