Aster Veren

Aster Veren
Episode 233




-Kalea-


"Apa?" Ucapku benar-benar sangat terkejut saat mendengar bisikan Tia mengenai apa yang dia dengar dari Dean.


"Sstt ...," desis Tia segera menempelkan jari telunjuknya di dekat bibir, berusaha untuk menenangkan ku yang sudah terlanjur terkejut dengan apa yang aku dengar.


"Jadi Carel mengatakan hal itu pada Dean saat dia menyelamatkan Aster?" Bisik ku kembali mendekati Tia, ku lihat dia sudah mengangguk singkat sebelum melirik ke arah Dean yang masih sibuk memanggang daging bersama dengan Sarah.


Aku sungguh tidak percaya kalau Carel mengatakan kata "kekasih" di hadapan Dean saat dia menyelamatkan Aster? Sungguh?


"Jadi anak itu cuma berani mengatakan hal itu di saat Aster sedang tidak sadarkan diri?" Ucapku dengan suara yang pelan namun tidak berbisik.


"Benar. Rupanya si pembuat onar itu sudah mengakui Aster sebagai kekasihnya, tapi dia tidak berani mengatakannya di saat Aster dalam keadaan sadar. Benar-benar pengecut." Lanjut Tia sambil berdengus diakhir kalimatnya dan memperhatikan Carel yang sudah mengenyit bingung ke arahnya karena diberikan tatapan tajam oleh Tia.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa terlihat begitu serius? Apa kalian bersenang-senanglah tanpaku?" Tanya Nadin setelah mendekati kami dengan ekspresi yang tidak bisa ku deskripsikan.


"Hoho Nadin, kau ketinggalan berita bagus." Ucap Tia dengan wajah menyebalkannya, menguji kesabaran Nadin.


"Kau mau tau? Mau tau tidak? Kalau tidak mau tau, ya sudah. Aku tidak akan memberitahukannya padamu." Lanjutnya sambil berkacak pinggang membuat Nadin kesal karena tidak diberikan kesempatan untuk menjawab perkataannya.


"Tutup mulutmu dan beritau aku!" Serunya sambil mencubit pipi Tia dengan gemasnya.


"Ah lepwaskan akwu, ini swakit Nadwin ...,"


"Beritau aku tidak?"


"Iya-iya akwan ku berwitau." Lanjutnya segera mendapatkan ampunan dari Nadin, dengan cepat Tia mengelus kedua pipinya dengan kasar. Berusaha menghilangkan rasa sakitnya disana, lihatlah pipi merahnya akibat cubitan Nadin itu. Memang terlihat menyakitkan.


"Jadi?" Tanya Nadin menuntut jawaban dari Tia.


Ku lihat Tia mulai mendekat dan berbisik seperti yang dia lakukan padaku, lalu mulai menjelaskan semuanya hingga Nadin berteriak terkejut, dengan cepat aku dan Tia menutup mulutnya dan tersenyum pada semua orang yang sudah memperhatikan kami.


"Bodoh!" Decak Tia terlihat kesal.


"Hehe, maaf. Aku benar-benar terkejut." Lanjut Nadin terkekeh setelah berhasil melepaskan tangan Tia dan tanganku dari mulutnya. Rasanya jantungku hampir copot sekarang.


"Jadi si pembuat onar itu berbuat seperti itu ya? Sungguh tidak keren." Tutur Nadin menoleh ke arah Carel berada. Ku lihat dia sudah bergabung bersama tuan Ansel dan Aster, begitu juga dengan Teo dan paman Arsel.


"Kalian kalau sudah selesai cepatlah kemari dan makan di sini. Setelah itu kalian bisa mulai bermain kembang api sesuka kalian." Teriak tuan Arsel menarik perhatian kami semua. Ku lihat Dean dan Sarah sudah berjalan mendekati mereka dengan piring berisi daging di tangan mereka masing-masing.


"Ayo pergi!" Ajak Tia pada Nadin dengan tatapan yang tidak bisa ku pahami, tunggu dulu! Apa dia sedang merencanakan sesuatu dengan Nadin?


"Tidak! Kalian tidak boleh membahas itu di depan tuan Ansel." Ucapku berusaha melarang mereka, jangan sampai suasananya jadi kacau karena keusilan mereka.


***


-Aster-


"Aku benar-benar kenyang." Gumamku setelah menghabiskan daging di piringku, lalu beralih memperhatikan semua orang yang terlihat begitu menikmati makanan mereka. Suasananya benar-benar nyaman dan hangat.


"Tidak mau! Khael sudah kenyang papa." Rengek Khael menolak suapan dari paman.


"Tinggal satu suap lagi loh, sayang kan kalau tidak dihabiskan." Bujuk paman dengan suara lembutnya, entah sudah berapa lama aku tidak mendengar suara lembutnya itu.


"Papa saja yang habiskan." Tolaknya lagi sambil meraih air minumnya.


"Hah~ kamu ini benar-benar ya ...," gumam paman menyerah dan langsung memasukan daging di sendok makannya ke dalam mulutnya.


"Kamu!" Ucap paman segera menggelitik perut Khael sampai membuat anak itu tertawa terbahak-bahak.


"Ampun papa hahaha, lepaskan Khael haha, hentikan papa geli hahaha ...."


"Benar, hentikan itu Arsel. Kau bisa membuatnya memuntahkan apa yang baru saja dia makan." Tutur ayah berhasil membuat paman berhenti menggelitik perut Khael.


"Kau selamat kali ini." Dengus paman membuatku kembali terkekeh.


"... ah tutup mulut kalian!" Suara Carel menarik perhatianku, ku lihat dia sudah memasang ekspresi kesalnya pada Kalea, Nadin dan Tia yang duduk berhadapan dengannya.


"Hoho itu sangat menakutkan sungguh!" Seru Tia terlihat seperti sedang menggoda Carel?


"Pft ...," lanjut Nadin dan Kalea bersamaan, bahkan Teo juga diam-diam ikut mentertawakan Carel disampingnya.


"Sudah ku bilang tutup mulut kalian!" Serunya lagi malah membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


"Pft—pwahahaha, aku tidak tahan lagi hahaha. Rupanya seorang Carel bisa merasa malu juga ya? Hahahaha bodoh!" Tawa Nadin pecah semakin membuat Carel kesal.


"Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?" Gumamku tak bisa ikut dalam pembicaraan mereka karena jarak tempat duduk kami cukup berjauhan.


"Kenapa kamu tidak pergi dan bergabung bersama mereka?" Tanya ayah membuatku menoleh ke arahnya dan bertemu tatap dengan manik merahnya.


"Tidak, nanti saja." Singkatku kembali meraih gelas air ku dan meminum sisa air didalamnya.


"Jadi saat itu Carel cuma menggertak?" Kali ini suara Sarah yang berhasil menarik perhatianku, rupanya dia sudah ikut bergabung bersama kelompok Kalea, bahkan Dean juga ada bersama dengan mereka.


Memperhatikan kebersamaan mereka membuatku merasa senang. Tidak pernah ku pikir kalau mereka bisa berteman sebaik itu. Padahal aku mengira akan butuh banyak waktu supaya Dean dan Sarah bisa beradaptasi dengan mereka. Tapi rupanya kekhawatiran ku tidak berguna.


Syukurlah mereka bisa menerima Sarah dan Dean. Batinku sambil menghela napas panjang.


"Papa! Sudah boleh main kembang api?" Tanya Khael dengan suara yang cukup keras, lalu ku lihat Yuna juga sudah berdiri di belakang anak itu.


Rupanya bukan hanya kakaknya yang sudah berteman, tapi Yuna juga tau-tau sudah berteman dengan Khael. Aku bahkan tidak tau kapan mereka mulai dekat? Padahal awalnya mereka bertengkar karena tidak mau tidur bersama kan?


Apa saat mereka membuat mahkota bunga di rumah kaca ya? Batinku memikirkan kejadian saat itu, apalagi saat melihat mereka berdua tampak menikmati kegiatan mereka tanpa bertengkar satu sama lain.


"Ayo papa, cepatlah!" Lanjut Khael membawaku kembali pada kenyataan. Ku lihat dia sudah berlari mendahului ayahnya bersama dengan Yuna, pergi ke tempat yang lebih luas untuk mulai bermain kembang api.


"Pegilah dan bersenang-senanglah." Ucap ayah sambil berdiri dari posisi duduknya dan menunduk menatapku dengan tatapan hangatnya.


"Ayah tidak ikut bermain?"


"Tidak, aku ingin pergi beristirahat lebih cepat."


Sepertinya ayah sangat kelelahan, iya sih dia kan pergi pagi-pagi buta dan pulang petang. Pasti banyak hal yang harus ayah lakukan di luar sana kan? Sudah pasti dia merasa lelah. Batinku tak bisa berpaling dari sosok ayah yang memang terlihat kelelahan.


"Kalau begitu selamat beristirahat ayah." Lanjutku sambil menunjukan senyuman terbaik ku sebelum ayah berlalu dari hadapanku.


.


.


.


Thanks for reading...