Aster Veren

Aster Veren
Episode 152




-Aster-


Udara pagi ini cukup dingin dan menusuk. Waktu juga baru menunjukan pukul 08:00 pagi, tapi asrama masih sangat sepi karena semua siswi yang tinggal di asrama belum kembali semuanya.


"Kamu baik-baik saja Aster?" Suara ibu asrama meruntuhkan lamunanku, saat ini aku memang sedang menikmati waktu pagi bersama ibu asrama di taman belakang akademi.


"Sejak kembali ke asrama, ibu lihat kamu jadi sedikit pemurung. Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Lanjutnya bertanya membuatku refleks tersenyum tipis padanya.


"Tidak, aku hanya ... aku masih ingin menghabiskan banyak waktu liburan. Tapi besok, kelas sudah dimulai kembali." Jawabku mencari alasan bersamaan dengan hembusan angin yang menyapu wajahku dengan lembut.


Aku juga ingin ayah segera bangun ..., lanjutku dalam hati, tak pernah bisa untuk tidak memikirkan kondisi ayah barang semenitpun.


"Benarkah? Ibu juga dulu sangat menyukai waktu liburan sekolah, ibu banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman ibu untuk pergi ke tempat-tempat bagus untuk menjernihkan pikiran, tempat yang memiliki pemandangan indah itu bagus untuk mengistirahatkan otak yang sudah bekerja keras selama setengah tahun belajar." Tuturnya terdengar hangat dan ada kerinduan dari ucapannya.


"Pasti seru ya? Liburan bersama teman-teman." Ucapku membuat senyuman ibu asrama merekah saat melirik ke arahku.


"Kau juga harus mencobanya, berlibur bersama teman-temanmu. Buatlah kenangan baik sebanyak mungkin bersama mereka, karena saat kamu dewasa nanti, kamu pasti akan sangat merindukan momen itu."


"... benar," gumamku menjeda ucapanku, mengingat perbuatanku pada Carel.


Dulu aku juga sangat senang saat waktu libur sekolah tiba. Sebelum itupun aku sering bermain dengan Carel, setiap aku sakit dia selalu mengunjungiku dan mengajak ku bermain. Bahkan dia pernah membawaku kabur ke bukit belakang rumah hanya untuk melihat matahari terbit.


Carel memang paling tau saat-saat aku merasa bosan dan membutuhkan teman bicara. Batinku merasakan kedua sudut bibirku tertarik keatas saat mengingat anak menyebalkan itu.


Tapi ... aku bahkan tidak pernah ada disaat-saat tersulitnya Carel, disaat-saat dia membutuhkan sandaran. Disaat dia ... aku tidak berguna! Lanjutku masih dalam hati, melunturkan senyumanku yang sempat mengembang.


"Udaranya semakin dingin, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Sebaiknya kita kembali ke dalam sekarang," ucap ibu asrama membuatku menengadah, memperhatikan langit kelabu yang terlihat semakin gelap.


"Ayo!" Ajaknya sambil bangkit dari posisi duduknya, membuatku ikut bangkit juga.


***


-Kalea-


"Lea!" Teriak Nadin mengejutkanku yang hendak menaiki anak tangga menuju kamar ku.


"Ku kira kamu akan datang besok. Bagiaman liburanmu?" Lanjutnya mulai berjalan berdampingan denganku.


"Yah, cukup menyenangkan." Jawabku mengingat waktu kebersamaan ku bersama dengan ayah.


"Soal Aster–"


"Itu semua bohong! Aku dan Teo bertemu dengannya dihalaman rumah Carel. bahkan wajahnya terlihat sangat kacau." Potongku saat menyadari arah pembicaraan Nadin.


"Lalu kenapa kak Dwi mengatakan kalau Aster tidak datang? Dia bahkan bilang Aster pergi berlibur ke Singapura kan? Saat kita mengunjungi kediamannya pun, semua orang di rumahnya bilang Aster sedang berada di luar negri." Tuturnya membuatku ikut bertanya-tanya, tapi saat memikirkan hal itu. Aku memiliki pemikiran lain, entahlah, aku merasa Aster sedang menyembunyikan sesuatu lagi dariku.


Lagi-lagi, aku tidak bisa di percaya, jika saja aku bisa dipercaya, mungkin Aster akan menceritakan semua masalahnya tanpa harus ku minta. Aster ..., batinku benar-benar mengkhawatirkannya.


"... bagaimana dengan si Carel? Apa dia masuk besok? Atau membutuhkan waktu libur lebih lama? Dia kan sedang berduka." Tanyanya saat sampai di depan pintu kamarku.


"Entahlah, Teo bahkan tidak mendapatkan informasi apapun mengenai anak itu. Semua pesannya pun tidak ada yang dibalasnya." Jawabku setelah menghela napas letih.


Ku lihat Nadin sudah berjalan ke kamarnya dan berdiri di depan pintu kamarnya dengan tangan kirinya yang sudah meraih daun pintu, "istirahatlah Lea, kau pasti lelah kan? Aku juga akan pergi istirahat. Sampai bertemu malam nanti." Ucapnya sambil menunjukan senyuman lebarnya, lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Apa Aster sudah kembali?" Gumamku bertanya-tanya sambil membuka pintu kamar di hadapanku.


Lalu kedua mataku menangkap sosok Aster yang sudah menoleh ke arahku dengan senyum tipisnya, "selamat datang kembali Lea."


"Kemarin sore, bagaimana liburanmu?" Jawabnya balik bertanya dengan tatapannya yang kembali terfokus pada buku tebal di hadapannya. Saat ini Aster sedang duduk dihadapan meja belajarnya.


"Menyenangkan. Bagaimana denganmu?"


"Sama sepertimu," gumamnya menggangguku, apalagi perubahan ekspresinya yang terlihat jelas.


Padahal sebelumnya dia menyambutku dengan senyuman, kenapa tiba-tiba ekspresinya berubah dengan cepat saat aku menanyakan liburannya? Padahal dia duluan yang menanyakan waktu liburanku.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Batinku bertanya-tanya.


Ku tarik kursi yang berada di dekat meja belajarku dan menghadapkannya ke arah Aster, lalu mendudukinya dengan tangan kiri ku yang sudah menopang daguku diatas meja belajarku. Memperhatikan wajahnya dengan seksama.


"Apa kamu tau Aster?" Tanyaku setelah membisu cukup lama, menimang-nimang keputusanku untuk memulai pembicaraan dengannya.


"Apa?" Gumamnya balik bertanya sambil melirik ku sekilas.


"Kak Dwi, dia memberitau Carel kalau kau tidak datang ke kediamannya untuk berbelasungkawa. Kak Dwi bahkan bilang, kamu pergi ke Singapura untuk berlibur. Padahal kita sempat bertemu dan berbincang kan?" Tuturku memberikan penjelasan.


"Lalu?"


"Ha–hah? Apa kau tidak marah?"


"Untuk apa? Toh aku yang memintanya untuk tidak memberitau Carel tentang kehadiranku di acara pemakaman dan kediaman keluarga Alterio." Jelasnya dengan tenang sambil membuka lembaran baru buku dihadapannya.


"Ke–kenapa? Bukankah kau berniat untuk menjelaskan semuanya pada Carel? Kau bilang akan memperbaiki hubungan kalian kan?" Tanyaku tak bisa memahami cara pikirnya.


"Aku berubah pikiran." Singkatnya masih fokus dengan buku dihadapannya.


"Semudah itu?" Tanyaku menahan rasa kesal yang mulai menyerbu hatiku, "apa kau tidak tau kalau anak itu sangat putus asa? Dia bahkan sudah tidak memperdulikan soal pendidikannya dan cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter." Lanjutku menjelaskan, namun tak ada reaksi apapun dari Aster.


Sebenarnya ... sebenarnya apa yang sudah terjadi dalam waktu singkat ini? Padahal hari itu, Aster masih Aster yang ku kenal. Tapi kenapa? Kenapa sekarang aku merasa asing dengannya? Batinku bertanya-tanya dengan sosok Aster dihadapanku.


"... itu keputusannya kan?" Gumamnya sebelum menghela napas dalam.


Sreet!


Suara kertas yang diremas membuatku menatap tangan Aster, ku lihat dia meremas halaman buku dihadapannya dengan tangan kanannya. Meremasnya dengan kekuatan penuh, bahkan tangannya gemetaran. Apa–apa itu artinya dia sedang berbohong? Dia terlihat kesulitan. Batinku beralih pada wajah Aster yang terlihat dari samping, ku lihat dia juga sudah menggigit bibir bawahnya dengan gemas sampai aku melihat bercak darah dibibirnya.


Dengan cepat aku berdiri dan berjalan mendekatinya, lalu ku raih tangannya dan menggenggamnya dengan lembut. Membuat Aster menengadah dan bertemu tatap denganku.


"Berhenti mengigit bibirmu!" Seruku melihat manik ungu yang terlihat tak bercahaya itu. Membuat hatiku perih saat melihatnya.


Sebenarnya apa lagi yang sedang kau sembunyikan dariku? Tidak bisakah kau membagi masalahmu denganku? Batinku sambil menghapus noda darah dibibirnya dengan ibu jariku saat gigitannya terlepas dari bibirnya.


"Apa–"


"Aku baik-baik saja, terima kasih Lea." Potongnya membuatku sedikit terkejut. Sepertinya Aster mengetahui apa yang akan ku tanyakan padanya, dan dia mencoba untuk tidak membahasnya. Memberikan peringatan padaku untuk tidak bertanya apapun padanya.


... kalau, kalau dugaanku benar. Kalau kamu sangat kesakitan karena hubungan burukmu dengan Carel, kenapa tidak kamu akhiri saja? Apa kamu takut dengan si Lusy itu? Haruskah aku singkirkan anak itu?


.


.


.


Thanks for reading...