Aster Veren

Aster Veren
Episode 174




-Aster-


Sejak hari itu, aku tidak pernah melihat Kalea berkeliaran di kediaman Veren lagi. Aku bahkan tidak pernah melihat sosok Ayah lagi, padahal kami tinggal satu atap. Tapi untuk melihat Ayah saja rasanya sangat sulit.


Aku hanya bisa berharap Ayah baik-baik saja selama aku tidak melihatnya.


"Belakangan ini banyak sekali serangga yang mengganggu ya ...," gumamku menarik perhatian Hans yang sedang membereskan semua berkas yang sudah ku kerjakan.


"Serangga?" Gumamnya terlihat bingung.


Ku regangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku karena bekerja seharian, "ya, serangga." Jawabku mengulangi ucapanku setelah puas meregangkan otot tubuhku.


Sejak rumor tentang kondisi ayah beredar, musuh-musuh keluarga Veren menjadi lebih aktif menyerang disegala arah. Entah darimana mereka mendengar berita soal kondisi ayah.


"Hmm ... sejauh ini hanya keluarga Robert dan Ellene yang mengetahui kondisi ayah selain keluarga Alterio dan Victor. Tapi rumornya sudah beredar sampai ke telinga musuh. Belakangan ini mereka juga mulai aktif bergerak, mencoba untuk menghancurkan keluarga Veren." Gumamku mulai menganalisa situasi bahaya yang mendekat.


"Jangan khawatir nona, saya akan pasang badan untuk melindungi nona!" Seru Hans yang ternyata mendengar gumaman ku.


"Selain itu, saya dengar tuan Arsel akan berkunjung dan menginap selama beberapa hari untuk melihat kondisi tuan." Lanjutnya membuatku malas membicarakan paman. Bukan apa-apa, hanya saja paman tidak tau kondisi ayah yang hilang ingatan.


"... apa tuan Arsel belum tau kondisi tuan?" Tanya Hans terdengar ragu membuat ku menghela napas panjang.


"Bener, aku belum memberitau paman." Jawabku lesu, entah kenapa aku merasakan firasat tidak baik dari kepulangan paman.


... sepertinya paman sudah mendengar beritanya dari orang lain. Atau dia mencaritaunya sendiri dengan bantuan dari paman Eric. Lanjutku dalam hati, mengingat kemampuan paman Eric yang tidak bisa diremehkan dalam mencari informasi.


"Nonaaa, cuaca di luar sangat bagus loh. Sebaiknya nona pergi berjalan-jalan dan menghirup udara segar sebentar." Tutur Mila yang baru memasuki kamarku dengan membawa secangkir teh hijau yang ku minta.


Aku memang bekerja di kamarku beberapa hari belakangan ini karena ayah harus menggunakan ruang kerjanya lagi.


Ku tolehkan kepalaku ke arah jendela kamar, dan ku lihat langitnya berwarna biru, cukup cerah dan tenang. Sepertinya berjalan-jalan sebentar memang pilihan bagus untuk menghilangkan penat yang ku rasakan belakangan ini. Aku juga sudah lama tidak mengunjungi rumah kaca saking sibuknya.


***


-Kalea-


"Jadi ayah ...," gumamku tak bisa berkata-kata lagi saat mendengar penjelasan Papa mengenai kondisi Ayah yang katanya hilang ingatan akibat kecelakaan yang dia alami di Singapura. Itupun terjadi di hari yang sama dengan kepergian ibunya Carel.


Bisa-bisanya Aster menyembunyikan hal sebesar ini dari semua orang. Perasaanku benar-benar campur aduk sekarang. Aku marah karena Aster selalu menyembunyikan masalahnya dariku dan dia menanggung semuanya sendirian.


Apa sebegitu susahnya bercerita padaku? Apa sebegitu susahnya untuk mempercayaiku? Apa hanya aku saja yang menganggapnya sebagai saudaraku? Yah, aku tidak bisa menyalahkan sikapnya padaku. Lagipula aku pernah menjadi orang jahat di masa lalunya. Sudah pasti Aster sulit mempercayaiku. Lagipula kenapa dulu aku sejahat itu padanya? Dasar Lea bodoh!


Lalu alasan dia membuat Dwi berbohong pada Carel, ternyata karena dia tidak mau berita soal kecelakaan Ayah terdengar oleh musuh-musuh keluarganya. Dan alasan lainnya, mungkin ... dia tidak mau membuat Carel bertindak gegabah dengan menyusulnya ke Singapura di saat dia sedang berduka karena kepergian ibunya.


"Tapi kenapa ingatan yang hilang hanya tetang Aster?" Lanjutku bertanya-tanya.


"Meski kamu bertanya padaku pun, aku tidak mengetahuinya." Jawab Papa setelah meminum lemon tea dihadapannya.


"... tapi kenapa rumor tentang kondisi Ayah sudah menyebar? Padahal ku dengar kondisi Ayah dirahasiakan dari semua orang dan hanya keluarga Veren saja yang tau." Tuturku setelah membisu selama beberapa saat saat mengingat ucapan Hans tempo lalu.


"Kau ingat berita penangkapan Robert karena kasus korupsinya? Dan berita soal hancurnya keluarga Robert? Ah ada satu lagi, berita soal putrinya yang melakukan percobaan pembunuhan pada putri keluarga Veren?" Tanya Papa mengingatkanku kembali pada hari dimana Aster keracunan.


"Aku ingat."


"Ku dengar banyak orang yang menemuinya dan menanyakan kebenaran dari rumor kondisi tuan Ansel yang sudah beredar. Mungkin Robert memberitau kebenarannya untuk balas dendam pada keluarga Veren. Aku sendiripun tidak tau dia mengetahui informasi kondisi tuan Ansel darimana?"


"Jadi orang itu—"


"Tapi sejauh ini Aster sudah menangani orang-orang yang mengkhianati keluarga Veren dengan kekuatannya sendiri, bahkan aku dengar dia hampir selalu mempertaruhkan nyawanya saat berurusan dengan musuh-musuh keluarga Veren."


"Jadi Aster bisa menanganinya hanya dengan kekuatannya sendiri?" Tanyaku benar-benar tak bisa mempercayai ucapan Papa, bagaimana anak seusianya bisa menangani hal berbahaya tanpa bantuan orang lain?


"Kau belum dengar? Sejak rumor tentang kondisi tuan Ansel beredar, orang-orang yang bekerjasama dengan keluarga Veren dan orang-orang yang mendukung keluarga Veren mulai goyah. Mereka ragu untuk memberikan dukungannya pada anak kecil yang baru menerima pendidikan keluarga Veren di usianya yang baru menginjak usia 10 tahun, mungkin jika Aster tidak sakit, dia sudah bisa menerima pendidikan di usia 7 tahun saat dia bertemu dengan Arsel." Jelas Papa panjang lebar.


Benar juga, Aster pernah sakit dan ayah membawanya pergi ke Singapura untuk menjalani pengobatan. Dan pendidikan keluarga Veren memang harus diajarkan pada generasi selanjutnya di usia 7 tahun paling lambat, paling cepat adalah diusia dini.


"Saat ini anak itu sedang bekerja keras untuk membuktikan bahwa dirinya layak untuk menjadi pemimpin keluarga Veren berikutnya ... pasti berat baginya, apalagi situasi saat ini sedang panas-panasnya." Lanjut Papa membuatku semakin mengkhawatirkan Aster.


Aku juga jadi sadar kenapa belakangan ini Aster terlihat sangat berbeda. Senyuman hangatnya sudah jarang terlihat, suara tawanya juga sudah jarang terdengar. Sinar pada sorot matanya pun menghilang. Aster yang ku kenal berubah menjadi orang asing dalam waktu singkat selama kami tidak bertemu. Dan itu semua terjadi karena kondisi Ayah.


Anak itu sampai harus memaksa dirinya untuk menjadi kuat sendirian.


"Apa Papa juga meragukan kemampuan Aster?" Tanyaku tiba-tiba, merasa penasaran dengan sudut pandang Papa.


"Aku sudah mengamatinya sejak dia masih kecil. Tentu aku tau kemampuannya, meragukannya adalah hal bodoh dan membuang-buang waktu. Kau tau sendiri kan isi kepala anak itu?" Jawab Papa membuatku lega, dengan begini Aster tidak kehilangan satu pendukungnya.


"Yah, aku sangat tau kemampuannya. Meski dia lemah dalam fisiknya." Gumamku setelah menghela napas panjang, mengingat betapa lemahnya Aster karena pernah sakit.


"Tapi ku dengar belakangan ini kondisi fisiknya mulai membaik. Kau pasti akan terkejut jika melihatnya latihan fisik."


.


.


.


Thanks for reading...