Aster Veren

Aster Veren
Episode 24




-Aster-


Kenapa Kalea terus menatapku seperti itu? Apa karena pagi tadi ya? Batinku merasa takut saat melihat manik biru milik Kalea yang terus menatapku dipinggir lapangan olahraga.


Pagi tadi ayah menjemputku, dia datang ke rumah paman bersama dengan Kalea. Tampaknya dia sangat terkejut saat melihatku keluar dari dalam rumah paman bersama dengan kak Hana.


Bahkan ayah menyuruhku masuk kedalam mobilnya, membiarkanku duduk dikursi belakang karena kursi depan sudah diisi oleh Kalea.


Sepanjang perjalananpun kami tak banyak bicara, aku hanya menjadi pendengar obrolan ayah dan anak yang selalu membuatku iri.


Meski awalnya aku bersembunyi dibalik tubuh kak Hana dan menolak ajakan dari ayah. Kak Hana malah mendorongku dan meyakinkanku kalau tidak apa-apa aku pergi dengan ayah yang tak mengakuiku sebagai putrinya itu. Lalu dengan berat hati dan sedikit takut, akupun pergi ke sekolah dengan Kalea dan ayah.


Jika aku diabaikan seperti ini, bukankah lebih baik aku pergi bersama dengan pak supir? Batinku menggerutu kesal sambil memegangi rok sekolahku dan meremasnya saat mendengar suara manja Kalea.


"Heh!" Ucap Kalea meruntuhkan lamunanku, "ikut aku!" Lanjutnya menarik tanganku kedalam toilet, meninggalkan lapangan olahraga dan teman-teman lainnya.


"Ada apa Kalea?" Tanyaku setelah mengumpulkan semua keberanianku untuk bertanya padanya.


"Bagaimana kau bisa kenal dengan ayahku?" Tanyanya penuh selidik setelah menutup pintu toilet dibelakangnya.


"A–ayahmu?" Gumamku merasakan sakit di dadaku.


Bagaimana bisa dia mengakui ayah orang lain sebagai ayahnya? Lanjutku dalam hati.


"Bagaimana bisa ayah berangkat pagi-pagi sekali untuk menjemputmu? Bukankah itu aneh?" Tuturnya penuh penekanan.


Aneh? Batinku kembali merasakan sakit didadaku, lebih sakit dari sebelumnya.


"Tidak. Tidak aneh Kalea ...." Jawabku mencoba membalas tatapan tajamnya itu, meski tubuhku sedikit gemetar melihat manik birunya itu.


"Ha?" Ucapnya sambil memperpendek jarak diantara kami.


Yang ku katakan benar kan? Semuanya tidak aneh karena ayah menjemputku, menjemput putrinya sendiri dan mengantarnya ke sekolah. Apanya yang aneh dari itu?


Tapi jika melihat situasinya ... ayah belum sepenuhnya mengakuiku sebagai putrinya. Selain itu Kalea sangat lengket dengan ayah, dia pasti takut ayahnya direbut olehku. Tapi kan sejak awal ayah itu ayahku, meski aku terlambat mengetahuinya ... dan aku juga lebih pantas mendapatkan kasih sayangnya kan? Tapi kenapa? Kenapa ayah lebih menyayangi Kalea? Lanjutku dalam hati.


"Katakan padaku, apa yang kau maksud tidak aneh?" Tanya Kalea meruntuhkan lamunanku.


"I–itu ... ayahmu itu, sebenarnya ...." Jawabku tergugup merasakan detak jantungku yang semakin berpacu saking takutnya dengan tatapan tajam Kalea yang semakin mengintimidasi.


"Dia ... dia itu ayahku!" Lanjutku setelah berhasil menelan ludahku sendiri saat merasakan tenggorokanku mengering dan menyempit.


"A–ayahmu? Pft... Kau bercanda? Bagaimana bisa ayahku adalah ayahmu? Bukankah selama ini kau tidak memiliki seorang ayah? Jangan mengakui ayah orang lain sebagai ayahmu Aster, itu tidak baik." Tuturnya menghancurkan hatiku.


"Tapi aku tidak berbohong." Ucapku sambil meremas pakaian olahragaku seerat mungkin.


"Apa sebegitu inginnya kau memiliki seorang ayah?" Tanyanya membuatku terkejut saat melihat sorot matanya yang terlihat meremehkanku. Lalu detik berikutnya diapun pergi meninggalkanku sendirian didalam toilet tepat pada saat bel sekolah berdering.


Apa-apaan tatapannya itu? Bukankah dia juga mengakui ayah orang lain sebagai ayahnya sendiri? Jelas-jelas tante Claretta bilang akan menjadikan ayah sebagai ayahnya Kalea, itu berarti Kalea tidak memiliki ayah kan? Tapi kenapa dia bersikap seperti itu? Apa karena dia tidak tau soal ayahnya?


Uh ... dadaku terasa sesak lagi sekarang. Batinku sambil memegangi pakaian dibagian dadaku dan mengcengkramnya seerat mungkin, mencoba untuk menenangkan diriku dengan mengatur napasku.


***


"Minggir! Jangan halangi jalan." Teriak seorang anak laki-laki menabrak tubuhku dari belakang, beruntung aku masih bisa menjaga keseimbangan tubuhku agar tidak terjatuh.


"Berisik! Lain kali aku tidak akan gagal." Ucapnya saat anak itu berjalan disamping temannya yang baru tiba dan langsung merangkulnya.


Lagi-lagi mereka mempermainkanku ... bukankah mereka sudah sepakat untuk tidak menggangguku lagi? Hari itu Kalea meminta mereka mengucilkanku kan? Batinku merasa kesal dengan kelakuan mereka yang semakin menjengkelkan.


"Perhatikan jalanmu bodoh! Kalau mau melamun jangan ditengah jalan, kau menghalangi yang lain." Suara Nadin dengan tubuhnya yang menyenggol tubuhku membuatku tersadar dari lamunanku.


Padahal masih ada sedikit ruang dikanan dan dikiri, tapi dia malah menggangguku ... seharusnya dia menguruskan tubuh gempalnya itu dan berhenti menggangguku. Batinku menggerutu kesal melirik sosok Nadin yang masih berdiri disampingku.


"Kenapa masih disini?" Tanyanya didekat telingaku.


"Ma–maaf." Ucapku mempercepat langkah kakiku saat mendengar suara Kalea yang memanggil nama sahabat dekatnya itu.


Ku hela napas panjang setelah berhasil lolos dari Kalea dan Nadin, entah kenapa aku merasa lebih takut pada mereka daripada anak-anak yang lainnya.


"Hari ini pak supir tidak menjemputku ya?" Gumamku mencari keberadaan mobil yang biasanya terparkir didekat mobil kepala sekolah, tapi hari ini aku tidak melihatnya.


Mataku malah menangkap sosok pria bertubuh tinggi dengan pakaian rapi dan rambut hitamnya yang menarik perhatianku. Lalu disampingnya berdiri sosok wanita berpakaian anggun dengan riasan wajah yang ... berlebihan?


"Ibu! Ayah!" Suara Kalea sambil berlari mendekati kedua orang yang ku lihat itu. Dia melewatiku setelah melirik kearahku dengan tatapan sarkasnya.


Rupanya pria itu adalah ayahku dan wanita itu adalah ibunya Kalea, tante Claretta. Siapa sangka mereka datang menjemput Kalea bersama-sama seperti itu.


"Aku juga ingin dijemput oleh ibu dan ayah ...." Gumamku merasa sedih karena ibu tak mungkin datang menjemputku lagi, dan ayah ... dia lebih perduli pada Kalea.


"Aster." Teriak seseorang menghentikan langkahku yang hampir lolos melewati gerbang sekolah.


Ku lihat tante Claretta sudah melambaikan tangannya kearahku saat aku menoleh kearah sumber suaranya.


"Aku tidak harus pulang bersama mereka kan?" Gumamku sambil meremas tali tas sekolahku dan memalingkan wajahku dari mereka.


Aku tidak mau satu mobil bersama dengan Kalea dan tante itu. Lanjutku dalam hati tak suka dengan sorot mata anak dan ibu itu.


"Apa yang kamu pikirkan? Ayahmu menunggu, ayo kita pulang." Ucap tante Claretta yang sudah berdiri disampingku, membuatku terkejut setengah mati saat mendapat tepukan dibahuku.


"A–aster pulang sendiri saja tante." Tuturku sedikit gemetar sambil tersenyum kaku padanya, lalu ku lirik sosok Kalea yang berdiri disamping ayah. Dia benar-benar menakutkan .... Batinku saat bertemu tatap dengan manik biru sinisnya.


"Ibu, kenapa lama sekali?" Teriak Kalea membuat tante itu bergegas meraih tangan kananku dan menuntunku kearah mobil hitam yang terparkir dibelakang ayah dan Kalea.


"Maaf membuat kalian menunggu, nah Aster ayo masuk." Ucap tante Claretta sambil mendorong tubuhku dengan pelan, memaksaku untuk masuk kedalam mobil setelah Kalea masuk lebih dulu. Lalu tante itu membuka pintu mobil bagian depan setelah menutup pintu bagianku.


Syukurlah tante itu duduk didepan. Tapi Aku juga tak pernah mau duduk bersebelahan dengan Kalea ... anak dan ibu ini benar-benar membuatku takut. Batinku melirik kearah Kalea.


"Jadi Aster ini beneran anak ayah?" Suara Kalea memecah keheningan, dia bertanya dengan suara kesal saat ayah sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.


"Kalea." Bisik tante Claretta sambil menoleh kearah putrinya dan memelototinya.


Ayah tidak mengiyakannya ya? Batinku merasa sedih karena belum mendapatkan pengakuan darinya.


.


.


.


Thanks for reading...