
-Aster-
"Uh, ini benar-benar sakit ...," gumamku merasakan denyutan hebat dikepalaku akibat terbentur kursi mobil cukup keras, saat Hans menghentikan laju mobil dengan tiba-tiba.
Bagian depan mobil yang ku tumpangi bersama Hans pun rusak parah karena menghantam pembatas jalan.
"Nona?" Ucapnya segera membukakan pintu mobil bagianku.
Ku lihat darah segar mengalir keluar dari keningnya, sepertinya kepala Hans juga terbentur setir mobil. "Ayo pergi dari sini sebelum mereka sadar kalau kita sudah keluar dari dalam mobil." Ucapnya sambil menarik tanganku, memaksaku untuk berlari bersamanya.
Ini benar-benar sulit, tubuhku tidak mau bergerak sesuai dengan keinginanku. Kepalaku juga berdenyut, sakit. Pandanganku buram dan aku harus memaksakan tubuhku untuk bergerak supaya tidak menyusahkan Hans. Jalanan yang kami lewatipun cukup sepi karena tidak ada pemukiman.
Tak lama kemudian aku mendengar suara ledakan dari arah mobil yang kami tinggalkan di pinggir jalan. Papa ... aku benar-benar takut sekarang, batinku mengingat sosok Ayah. Berharap Ayah datang untuk menyelamatkanku dan memeluk ku untuk menenangkanku.
"Kemarilah nona!" Seru Hans segera menarik tubuhku memasuki jalanan kecil dan bersembunyi dibalik tempat sampah berukuran cukup besar, berjongkok dibagian sudut tempat sampah.
Ku dengar napas Hans memburu, bahkan degupan jantungnya terdengar sampai ke telingaku saat dia memeluk tubuhku dengan erat. Rasanya aku ingin menangis sekarang, bisa-bisanya Hans mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melindungi ku. Dia bahkan tidak membiarkanku pergi sendirian dan tetap bersama denganku.
"Cepat cari mereka! Langsung habisi saat kalian menemukannya." Suara tegas seorang pria berhasil membuat jantungku semakin berpacu.
"Kenapa bantuannya terlambat datang?" Gumam Hans membuatku refleks meremas pakaian dibagian dadanya. Entah kenapa aku merasa, semakin lama aku semakin kesulitan mengambil napas. Rasanya sangat sesak.
Perasaan yang ku rasakan saat ini, aku yakin pernah mengalaminya. Dan ini sangat familiar bagiku, rasa sesak yang perlahan semakin menjadi ini ... apa–penyakitku kambuh? Disaat seperti ini? Tapi dokter bilang ...,
"Tenanglah nona, saya akan membawa nona kembali dengan selamat." Bisik Hans mencoba menenangkanku dengan napasnya yang masih sedikit memburu.
"Uh, Hans ... aku, hah ini? Se–sesak. Dadaku sesak–sakit." Bisik ku berusaha mengatur napasku sebisaku bersamaan dengan keringat dingin di telapak tanganku.
"No–nona?"
"Hans ...," bisik ku lagi mulai lemas.
"Tenang! To–tolong tenangkan diri nona. Atur napas perlahan nona, tidak apa-apa ... semuanya baik-baik saja. Saya ada bersama nona, saya tidak akan meninggalkan nona. tidak apa-apa nona, jangan takut." Tuturnya dengan lembut setelah meredakan kepanikannya dalam sesaat, lalu ku rasakan tangan Hans mulai mengusap punggungku dengan lembut dalam pelukannya.
"Bagaimana?"
"Tidak ada!"
"Cari yang benar!"
"Jangan cemas, semuanya baik-baik saja nona. Jangan perdulikan suara mereka, fokus saja pada pernapasan nona." Tutur Hans saat menyadari aku terganggu dengan suara orang-orang jahat itu.
***
-Kalea-
"Jangan jauh-jauh dariku Lea!" Seru Papa masih sibuk membalas serangan musuh yang terus menembak ke arah kami.
Jumlah mereka cukup banyak dan aku sangat mengkhawatirkan Aster sekarang. Aku benar-benar tidak bisa tenang setelah melihat mobil yang ku kenal terbakar di pinggir jalan. Mobil siapa lagi kalau bukan salah satu mobil Ayah yang diberikan kepada Aster.
Bisa-bisanya mereka terang-terangan memburu Aster dan berniat melenyapkannya. Mereka bodoh ya? Gerutuku dalam hati, memperhatikan sekelompok pria yang berlindung dibalik mobil hitam. Menjadikan mobil itu sebagai tameng selagi mereka menembakkan peluru ke arah kami.
"Kau butuh bantuan?" Suara Ayah melalui panggilan telpon yang Papa loadspeaker.
"Tidak! Cari saja putrimu sana!" Jawab Papa masih fokus menembaki musuh, membantu bawahan Papa yang langsung mendekat untuk membekuk mereka.
"Jangan memerintahku!"
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling, mencari cara supaya bisa pergi dari tempatku sekarang. Aku benar-benar tidak tahan berdiam diri tanpa melakukan apapun. Entah kenapa perasaanku tidak enak, dan aku ingin segera menemukan Aster.
Aster ..., batinku semakin mencemaskannya.
Ku lihat dia memaksakan diri untuk berlari dengan kondisinya yang mengkhawatirkan. "Aster!" Teriak ku langsung berlari mengejarnya, tapi sepertinya dia tidak mendengar panggilanku.
"Lea!" Teriak Papa tak ku perdulikan.
"Aster!" Teriak ku sekali lagi, mencoba untuk menghentikan langkahnya. Namun tidak berhasil.
***
-Carel-
"Yang benar saja?" Gumamku tak bisa mengalihkan perhatianku dari televisi. Mataku membelalak terkejut saat melihat berita yang menyiarkan kasus kejahatan.
Aku lihat kondisi jalanan tampak kacau, bahkan ada siaran rekaman cctv yang berhasil menangkap aksi beberapa mobil yang ugal-ugalan, mengejar satu mobil yang ngebut menghindari kejaran ketiga mobil dibelakangnya.
Lalu ku lihat para polisi terjun ke jalanan, mengikuti keempat mobil itu dari belakang. Membuat suasana jalanan semakin ramai.
Ku raih cangkir teh dihadapanku dan berniat untuk meminumnya, namun ku urungkan saat melihat siaran dimana ketiga mobil pengejar itu menembaki satu mobil di depannya.
"Mereka gila ya? Bisa-bisanya menggunakan senjata berbahaya di jalanan secara terang-terangan disiang bolong seperti itu." Gumamku kembali meletakan cangkir teh ku saat melihat siaran lainnya yang menunjukan kondisi terkini dari mobil yang dikejar oleh ketiga mobil dibelakangnya.
Ku lihat kondisi mobil itu sudah terbakar di pinggir jalan, mataku langsung membelalak terkejut saat melihat plat nomor mobil yang ku kenali.
Tak lama setelah berita itu disiarkan, aku langsung mendapat panggilan masuk dari Kalea. Anak itu menghubungiku dan memberitauku soal Aster yang sedang dalam bahaya karena diincar banyak musuh keluarga Veren.
Aku yang mengira salah lihatlpun langsung bergegas pergi menuju tempat kejadian perkara untuk memastikannya.
"Semoga dia baik-baik saja,"
***
-Aster-
Hans ..., batinku merasa bersalah karena meninggalkannya di tempat itu sendirian. Padahal dia babak belur karena melindungiku, tapi dia langsung memintaku untuk melarikan diri dan meninggalkannya.
Tentu saja aku tidak melarikan diri dengan mudah, karena saat inipun tubuhku rasanya sakit semua. Mereka benar-benar berniat untuk membunuhku dan menyiksaku terlebih dulu sebelum menghabisi ku.
Entah berapa kali mereka menjambak rambutku dan menamparku dengan tangannya. Sudut bibirku sangat perih dan pipiku terasa sakit, bahkan kepalaku tidak bisa berhenti berdenyut sekarang.
"Arrgh... dadaku juga sakit!" Geramku disela-sela berlariku, merasa begitu frustrasi dengan situaiku saat ini.
Ku harap Hans baik-baik saja, lanjutku dalam hati. Berharap orang-orang itu tidak menghabisinya.
"Aster!" Suara seseorang merasuki indra pendengaranku bersamaan dengan tangannya yang meraih pergelangan tanganku, membuatku terkejut dan nyaris terjengkang saat dia menarik ku dari belakang.
"Aku ...," lanjutnya dengan napas yang tak beraturan, lalu tanpa peringatan dia langsung memeluk tubuhku membuatku refleks mendorongnya mundur, memaksanya untuk melepaskan pelukannya.
"Aster?" Gumamnya membuatku tersadar dengan sosok perempuan dihadapanku, meski buram. Aku yakin sosok perempuan yang berdiri dihadapanku ini adalah Kalea.
"Tenanglah, ini aku Kalea. Aku ...," lanjutnya menjeda ucapannya sesaat, "kenapa jadi seperti ini?" Tanyanya sambil meraih wajahku, lalu beralih pada tanganku, membuatku ikut memperhatikan luka-luka lecet di kedua tanganku.
"Orang-orang itu—mereka benar-benar keterlaluan!" Serunya terdengar kesal. Samar-samar aku melihat Kalea menatapku penuh rasa khawatir, dan itu membuat perasaanku semakin buruk. Hal-hal yang tidak ingin ku pikirkan tiba-tiba memenuhi kepalaku dan itu sangat menyebalkan.
"Jangan ... menatapku seperti itu!" Gumamku nyaris berbisik, mencoba untuk menahan rasa kesalku karena tatapan kasihan yang dia tunjukan padaku.
.
.
.
Thanks for reading...