Aster Veren

Aster Veren
Episode 98




-Aster-


"Ada apa dengannya?" Suara Carel membuat suasana hatiku semakin buruk.


Saat ini dia tengah duduk di sampingku, berhadapan dengan Kalea dan Teo yang duduk di meja yang sama dengan ku.


"Aneh?" Gumam Teo tak ku perdulikan.


"Kenapa?" Lanjut Kalea dan Carel bersamaan, sedangkan aku sibuk menyantap makan siangku dengan lahap sambil memikirkan kejadian menjengkelkan pagi tadi.


Ya, siapa yang tidak jengkel jika keluargamu di fitnah dengan cerita tak masuk akal seperti itu. Padahal mereka tau kalau nenek ku adalah korbannya disini, tapi mereka masih saja bisa berpikiran bodoh dengan menyebut semuanya jebakan keluarga Veren.


Mereka benar-benar tidak bisa melihat dengan baik ya? Batinku sambil menusuk kasar potongan daging sapi dengan garpu ditanganku, berusaha meluapkan kekesalanku pada makanan dihadapanku.


"A–Aster, tidak baik meluapkan rasa kesalmu pada makanan yang akan kau makan loh. Tenangkan dirimu ya ...," Suara Teo membuatku mendengus sebal saat melihat ekspresi tersenyumnya yang tidak ku sukai.


"Aku baru pertama kali melihatmu sekesal ini, ada apa?" Tanya Carel lagi sambil meraih puncak kepalaku dan mengelusnya dengan lembut.


"Aku–" Ucapku terpotong oleh pertanyaan Kalea yang sudah mencuri perhatian Carel dan Teo dariku.


"Apa mungkin soal gosip semalam? Kau ingat Teo? Kejadian di kantin semalam," tuturnya membuatku bingung.


"Apa? Kejadian apa yang tejadi di kantin semalam?" Tanyaku tak didengarkan, mereka terlihat begitu serius saling melemparkan pandangan satu sama lain. Seolah-olah sedang membuat sinyal untuk berhenti membahasnya dihadapanku.


"Bukan apa-apa Aster," ucap Kalea sambil menunjukan senyuman terbaiknya.


"Tidak apa-apa, dia sudah tau kok. Dan sudah bisa menghadapi situasi seperti itu juga, kalian tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya lagi." Tutur Teo membuatku mengernyit bingung memperhatikan ekspresi mereka bertiga.


Apa yang mereka sembunyikan dariku?


"Anak ini sudah tau?" Tanya Carel sambil mencubit pipiku dan membuatku refleks menepis tangannya, membuatnya meringis. "Lalu apa yang terjadi pagi tadi?" Lanjutnya kembali pada topik utama.


"Sebenarnya pagi ini dia sudah melakukan hal yang sangat luar biasa–"


"Jangan melebih-lebihkan seperti itu," sangkalku merasa malu sendiri dengan perbuatanku pagi ini. Bisa-bisanya aku mengatakan isi pikiranku begitu saja dihadapan semua orang di kelas ku.


"Pokoknya kalian tidak akan percaya jika tidak melihatnya secara langsung. Tapi pagi ini Aster sudah tumbuh menjadi gadis pemberani, aku jadi merasa bangga padanya." Lanjut Teo setelah menatapku sesaat dan menunjukan senyum jahilnya yang entah kenapa membuatku merasa lebih kesal berkali-kali lipat dari sebelumnya.


"Apa maksudnya?" Tanya Kalea semakin bingung dibuatnya.


"Kau terlalu berbelit-belit Teo." Lanjut Carel sambil menatap dingin teman sekamarnya itu.


"Hhaha, sabar-sabar. Tidak perlu menunjukan ekspresi menyeramkanmu seperti itu Carel." Ucap Teo berusaha mencairkan suasana dengan suara tawanya.


"Pagi ini kelas kami sangat berisik seperti kejadian di kantin tadi malam. Kau ingat Lea?" Lanjutnya membuat Kalea mengangguk sedangkan aku hanya bisa melongo mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Teo.


"Aku tidak tau kalau ada kejadian seperti itu juga di kantin?" Tuturku tak bisa membayangkan kejadian yang dibicarakan oleh mereka.


"Ya, bedanya pagi ini kau sendiri yang menghentikan keributan itu. Kau berhasil membungkam mulut mereka dengan sangat keren, apalagi ekspresimu saat itu juga sangat menakjubkan. Baru pertama kali aku melihatmu yang seperti itu. Kau sudah dewasa ya ...." Jelasnya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang didudukinya.


"Aku tidak salah dengar? Aster yang–menghentikannya? Bagaimana caranya?" Tanya Carel terlihat begitu tak percaya pada cerita yang didengarnya.


"Aku juga tidak bisa membayangkannya, bagaimana Aster menghentikan mereka?" Lanjut Kalea sama tidak percayanya dengan Carel.


"Hhaha, benar kan? Kalian tidak akan percaya jika tidak melihatnya langsung. Pokoknya adik kecil kita ini sekarang sudah tumbuh menjadi gadis pemberani." Tutur Teo masih dengan ekspresi gembiranya.


"Tapi ... ada yang mengganggu pikiranku." Lanjutnya terlihat begitu serius dalam waktu yang sangat singkat, padahal baru saja dia menunjukan ekspresi gembiranya. Tapi ekspresinya sudah berganti saja.


"Benar, ini terasa sangat damai," Lanjut Kalea yang sudah memegangi dagunya sambil memperhatikan makanannya.


"Iya kan? Bukankah biasanya selalu ada gosip baru yang beredar? Tapi aku tidak mendengar gosip baru dari kejadian pagi ini, padahal di kelas sangat ribut tadi. Apa mungkin mereka tidak menyebarkan gosip kejadian tadi pagi ya? Padahal aku kira siang ini akan lebih berisik dari biasanya," jelas Teo setelah menghela napas letihnya.


"Sepertinya ucapanmu pagi ini berhasil membuat mereka terguncang." Lanjutnya kembali menunjukan senyuman terbaiknya, berbeda dengan senyuman yang tidak ku sukai darinya.


"Memangnya apa yang dikatakan Aster?" Tanya Kalea mendahului Carel.


"Itu–" Ucapku terpotong oleh Teo, padahal aku sudah sangat berusaha untuk melupakannya karena kejadian pagi ini sangat memalukan. Tapi Teo malah sengaja mengungkapkannya pada Kalea dan Carel.


"Orang bodoh mana yang mau menjebak keluarga orang lain dengan mengorbankan salah satu nyawa keluarganya sendiri? Dan lagi, apa tidak ada pembicaraan yang lebih bermanfaat lagi untuk kalian bahas? Kenapa ribut sekali membicarakan masalah keluarga orang lain? Padahal bukan siapa-siapa, menyebalkan." Tutur Teo menirukan gaya bicaraku pagi tadi, ditambah lagi dia juga menirukan ekspresiku.


"Begitu kan? Kau mengatakan itu dengan ekspresi seperti yang ku contohkan barusan kan?" Lanjutnya berhasil membuat wajahku memanas dalam waktu singkat.


"Benar Aster?" Tanya Carel yang sudah melirik kearahku dan bertemu tatap denganku.


"Tidak! Aku tidak pernah berekspresi semenakutkan itu," sangkalku sambil membuang wajahku dari Carel, berusaha mengindari tatapan langsungnya.


"Pft..," Suara Teo membuatku menoleh padanya, begitupun dengan Kalea dan Carel. "Maaf, aku ti–dak bisa menahannya lagi, Hhaha–hahaha ...." Lanjutnya mulai tertawa lepas.


"Kau salah makan Teo?" Tanya Carel setelah menelan makanan didalam mulutnya, mewakili rasa penasaranku akan sikap Teo yang baru pertama kali ku lihat.


Aku juga sempat berpikir seperti yang dikatakan Carel, karena anak berambut pirang dihadapanku ini tidak pernah tertawa lepas sembarangan seperti ini di tempat umum. Tapi saat ini, dia malah tertawa seperti itu. Padahal dia selalu berusaha untuk menjaga karismanya.


Dan entah kenapa aku merasa kesal tanpa alasan saat melihatnya tertawa seperti itu, aku merasa seperti anak ini sedang mentertawakanku, "berhenti tertawa Teo! Kau membuatku kesal." Ucapku berusaha menghentikan tawanya, tapi tawanya malah semakin menjadi.


"Tidak pernah ku sangka kau bisa tertawa seperti itu juga," sindir Carel membuat suara tawa Teo lebih tenang dari sebelumnya.


"Hhaha, apa maksudmu?" Tanya Teo ketika berhasil mengendalikan tawanya, ku lihat dia sudah menyeka air mata di sudut matanya dengan jari telunjuknya.


"Kau tidak sadar dengan sekelilingmu ya? Bisa-bisanya kau tertawa seperti itu." Jelas Carel menyadarkan pria bermanik hijau disamping Kalea.


"Ah ya, kelepasan ... tapi baguslah." Ucapnya membuatku bingung.


"Bagus?" Tanya Kalea yang sama bingungnya denganku.


"Bagus karena sepertinya rasa kesal Aster sudah hilang karena ejekanku." Jelasnya kembali menunjukan senyuman terbaiknya, lebih tulus dari sebelumnya.


Benar juga, aku tidak sadar kalau rasa kesalku sudah hilang. Tidak, bukan begitu tapi ... rasa kesalku berganti pada sosok Teo yang menyebalkan. Batinku saat menyadari perasaanku.


Ku lihat Kalea dan Carel pun sudah menunjukan senyuman terbaik mereka padaku. Mau tak mau aku pun ikut tersenyum bersama mereka. Dan entah sejak kapan aku mulai menikmati kebersamaan kami.


"Aster," suara seorang perempuan disamping Carel mengejutkanku. Entah darimana dia datang.


"Tia?" Gumamku saat menyadari sosoknya yang tengah tersenyum lebar padaku, memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Kau mengejutkannya!" Ketus Carel tak diperdulikan.


.


.


.


Thanks for reading...