Aster Veren

Aster Veren
Episode 210




-Arsel-


"Kau gila?" Tanyaku pada Albert sambil menggebrak meja dihadapanku dengan frustrasi.


Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ku dengar darinya. Bisa-bisanya dia menyembunyikan rahasia sebesar ini dariku. Padahal semua orang terlihat begitu stress dengan kabar kematian Aster.


Tapi apa yang ku dengar darinya sekarang? Tiba-tiba pria ini mengatakan Aster masih hidup? Itupun berkat bantuan darinya? Dan sekarang dia tinggal bersama dengan si b*jingan Tesar itu selama setengah tahun lamanya?


"Kau mau mati ya?" Lanjutku menatap tajam pria dihadapanku yang terlihat sangat tenang itu, bahkan sekarang dia sudah meraih cangkir teh dihadapannya dan mulai meminumnya.


"Tentu saja tidak."


"Lalu kenapa?"


"Jika aku tidak melakukan hal ini, apakah kau yakin anak itu masih hidup sampai sekarang?" Tuturnya membuatku bungkam.


"Tapi tidak seharusnya kau menyembunyikan semuanya dari keluargaku dan—"


"Arsel. Saat itu kau tidak ada di sini, kondisi Ansel juga terlihat buruk karena dia ingin menghabisi putrinya, belum lagi musuh-musuh keluargamu mulai aktif mengincar keponakanmu. Tidak kah kau merasa Aster akan mati hari itu juga?" Potongnya membalas tatapan tajam ku.


Aku tau tidak ada yang bisa disalahkan dari tindakannya, tapi setidaknya dia bisa memberitauku agar aku bisa menyembunyikan Aster di tempat yang lebih aman. Dan lagi aku tidak terima dia tinggal dengan orang yang hampir membunuhnya itu. Atau tidak, kenapa tidak dia saja yang mengurus Aster sebelum aku kembali ke dalam negri?


Ku genggam tanganku seerat mungkin, mencoba untuk meredam emosiku. Lalu ku hela napasku sedalam mungkin untuk menenangkan perasaanku yang campur aduk ini.


"Lalu ... kenapa akhirnya kau memutuskan untuk memberitauku sekarang?" Tanyaku kemudian, dengan sedikit jeda.


"Kau sendiri tau kan kalau Rigel sudah masuk ke wilayahku. Dan Aster ada di sini, menurutmu bagaimana jika orang itu menemukan Aster lebih dulu?"


"Kau bilang apa?" Tanyaku lagi, ingin memastikan apa yang ku dengar. Dia bilang Aster tinggal di wilayah sekitar sini?


"Ku bilang anak itu tinggal di sekitar sini, aku butuh bantuanmu untuk menjaga tempat tinggalnya karena belakangan ini aku mendapat laporan banyak orang luar yang mengintai anak itu diam-diam." Tuturnya sambil meletakan cangkir teh ditangannya.


"Sepertinya setelah berita itu tersebar, orang-orang mulai aktif mencari tau sosok anak perempuan yang terlihat di cctv yang disiarkan di televisi. Tapi sayangnya mereka tidak tau kalau anak perempuan itu tidak pernah ada, maksudku karena Aster sudah mengubah penampilannya menjadi seperti anak laki-laki. Jadi mau selama apapun mereka mengintai, mereka tidak akan pernah menemukan anak perempuan itu. Kecuali orang yang memiliki penglihatan tajam." Lanjunya membuatku terkejut untuk kesekian kalinya.


Aster mengubah penampilannya?


***


-Aster-


Udara malam ini lebih dingin dari biasanya, padahal tempat festival begitu ramai pengunjung. Tapi udaranya tidak berubah menjadi lebih hangat.


Lampu-lampu yang menggantung di depan pintu masuk hingga ke dalam tempat festival terlihat begitu indah, suara tawa yang terdengar bahagia itu terasa menenangkan. Belum lagi wajah-wajah semua orang yang terlihat gembira membuat suasana semakin menyenangkan.


Tidak sia-sia aku pergi ke festival bersama teman-temanku. Meski aku tidak pernah menduga kalau Kalea dan Teo akan ikut bergabung bersamaku. Batinku memperhatikan sosok Kalea dan Teo yang sudah berjalan dihadapanku.


Disisi lainnya Dean sibuk menggendong Yuna dengan berjalan berdampingan dengan Sarah, terlihat serasi.


"Paman dan bibi akan menyusul nanti, lalu anak itu. Dia juga bilang akan menyusul? Memangnya dia makan apa sampai sakit perut seperti itu? Dan lagi, memangnya dia tau tempat festivalnya di mana?" Lanjutku mengingat sosok Carel yang terlihat pucat bolak-balik kamar mandi sebelum kami berangkat.


"Kalian sudah datang?" Suara bibi Bella menarik perhatianku, ku lihat Tami sudah berdiri di sampingnya dengan pakaian tradisional yang terlihat cocok di tubuhnya, riasan wajahnya juga cantik.


"Di mana bibimu?" Lanjutnya bertanya padaku sambil memperhatikan sekitar, terlihat mencari keberadaan bibi.


"Ah, bibi bilang akan menyusul dengan paman nanti." Jawabku dengan senyuman terbaik ku.


"Jadi pamanmu belum kembali?"


"Anu ... Faren." Suara Tami membuatku menoleh padanya.


Kenapa? Ah! Jangan-jangan dia mengira aku menerimanya menjadi kekasihku ya? Sial! Aku lupa menolaknya, kalau begitu aku harus mengatakannya malam ini. Lebih cepat lebih baik bukan? Batinku sempat terkejut dengan ekspresi malu-malu yang ditunjukan perempuan dihadapanku itu.


"Kau mau bergabung bersama kami kan? Kemarilah." Ajak Sarah segera menggandeng tangan Tami dengan ekspresi yang tidak bisa ku mengerti. Entah itu marah atau senang? aku tidak tau.


"Eh—itu ...," ucap Tami tidak melanjutkan perkataannya saat Sarah menggandeng tangannya dengan erat.


"Kalau begitu, titip Tami ya. Aku akan berkeliling dulu sebelum kembang apinya dinyalakan." Pamit bibi Bella meninggalkan keponakannya bersama kami.


"Aku mau main permainan menembak di sana!" Seru Kalea menarik perhatianku, ku lihat dia sudah menggeret Teo bersamanya, meninggalkan rombongan begitu saja.


Yah untuk mereka, pasti mereka ingin memiliki waktu berdua lebih banyak kan? Mereka masih berhubungan kan? Dilihat dari kedekatannya ...,


"Yuna juga, aku mau main permainan tangkap ikan dan beli gulali." Sambung Yuna yang menarik perhatianku juga, dia terlihat sangat menggemaskan dengan matanya yang terlihat berbinar itu.


"Baiklah." Ucap Dean menyetujui keinginan adiknya itu. Senang melihat mereka bisa tertawa bahagia seperti itu, rasanya kejadian kemarin seperti tidak pernah ada.


Lalu, kenapa tiba-tiba aku sangat merindukan keluargaku ya? Rasanya hatiku tidak tenang sejak pergi dari rumah.


"Ayo pergi juga." Ucap Sarah menyadarkan ku.


Dengan cepat aku mengikuti langkah mereka dan bergabung dengan pengunjung lainnya, ikut bersenang-senang dengan apa yang mereka lakukan sebelum acara utamanya di mulai.


Ku dengar acara utama pertunjukan kembang api akan dilakukan pada pukul 10:00 malam, jadi semua orang bisa menikmati suasana festival lebih dulu. "Masih ada dua setengah jam sampai acara utamanya di mulai."


***


-Carel-


"Ini?" Gumamku saat berhasil membuka pintu lemari Faren, betapa terkejutnya aku saat mendapati pakaian dalam perempuan dan pakaian terakhir yang dikenakan oleh Aster hari itu. Benar-benar serasi dengan sepotong kain yang dibawa Albert hari itu, dan lagi pakaian yang ku lihat juga tidak sempurna karena ada bagian yang terpotong?


Jadi kain yang di bawa Albert waktu itu sengaja dia bakar dulu ujungnya? Batinku saat tidak menemukan bagian lain yang terbakar di pakaian Aster yang ku genggam.


Segera ku raih benda pipih di saku celanaku dan ku hubungi Teo secepat yang ku bisa.


"Ya?" Jawabnya membuatku tersentak.


"Teo? Anak itu, apa dia bersamamu?" Tanyaku sambil menutup pintu lemari dihadapanku dan berjalan kearah pintu kamar, berniat untuk keluar dari sana.


"Siapa?"


"As—maksudku Faren."


"Ya, dia bersama rombongan Sarah." Jawabnya membuatku berdecak kesal karena anak ini berpisah dengannya.


"Cepat cari dia dan awasi dari dekat." Titahku sebelum menutup sambungan telpon ku.


"Apa yang kau lakukan?" Suara bi Nina mengejutkanku, ku lihat dia sudah memperhatikan pakaian yang ku genggam.


.


.


.


Thanks for reading...