
-Aster-
Ku buka mataku perlahan saat merasakan sakit dibagian dadaku, lalu dengan lemah ku pandangi setiap sudut ruangan yang ku tempati.
Rasanya tidak asing. Batinku masih berbaring memperhatikan sekitar, lalu mataku terhenti pada sosok Ayah yang tengah tertidur di sampingku. Dengan perasaan terkejut aku langsung membangkitkan tubuhku dengan paksa dan menjauh dari tempat tidur itu.
"Ah, apa yang terjadi?" Lanjutku sambil meringis merasakan sakit di dadaku, dengan cepat ku raih dadaku dan memeganginya seerat mungkin, berusaha menghilangkan denyutannya.
Tidak mungkin kan? Ini pasti mimpi kan? Bagaimana bisa aku kembali ke rumah ini? Malam itu, aku kan ...,
"Aster! Kamu—" Suara ayah mengejutkanku, ku lihat ayah sudah terbangun dari tidurnya dan bergegas turun dari tempat tidurnya, lalu berjalan cepat mendekatiku yang tengah berdiri di depan lemari pakaian dengan salah satu tanganku yang bertopang disana.
"Jangan mendekat!" Seruku berhasil menghentikan langkahnya, ku lihat manik merahnya bergetar dan membesar sekilas saat aku berteriak.
Aku benar-benar tidak ingin kembali sekarang, tapi bagaimana bisa aku berada di tempat ini sekarang? Dan lagi ... ini sangat sakit. Kenapa? Kenapa aku masih hidup?
"A—Aster? Kemarilah dan baringkan tubuhmu di kasur, lukamu—"
"Tidak mau." Ucapku lagi tidak merendahkan suaraku, bahkan tubuhku sudah bergetar hebat dengan genangan air mata yang memenuhi pelupuk mataku, menatap sosok ayah yang terlihat menyedihkan.
Kenapa? Kenapa penampilannya seperti itu? Harusnya setelah dia mengusirku, hidupnya bisa jauh lebih baik, lebih bahagia dari sebelumnya kan? Tapi apa yang ku lihat sekarang?
Pipi tirus dengan lingkaran hitam dibawah matanya, tubuhnya yang kurus dengan kulit pucat? Apa yang terjadi sebenarnya? Tidak ... apa perkataan paman Rigel malam itu benar? Ingatan ayah—sudah kembali? Batinku tak bisa mengalihkan pandanganku dari sosok ayah yang berdiri tak jauh dari hadapanku.
"... maaf, maafkan aku Aster. Aku, ayahmu yang bodoh ini—"
"Ayahku? Jadi ingatanmu sudah kembali?" Potongku membuatnya bertemu tatap denganku. Bersamaan dengan itu ingatanku saat melihat ayah yang menodongkan pistol kearahku kembali membayangiku.
Dengan cepat ku raih kepalaku dan segera bersandar pada lemari di sampingku saat aku merasakan kedua lututku semakin melemas.
"Tidak ...," gumamku berusaha meredakan denyutan dikepalaku yang terasa menyiksa.
"Aster?" Suara ayah yang sudah berdiri dihadapanku, meraih kedua tanganku supaya aku tidak hilang keseimbangan dan terjatuh.
Aku yang melihat wajah ayah, entah kenapa merasa takut karenanya sekarang. "Jangan sentuh!" Seruku berusaha mendorongnya mundur, namun tenagaku tidak cukup.
"Tenanglah Aster, aku tidak akan melukaimu." Tutur ayah dengan ekspresi yang tak bisa ku mengerti, entah itu sedih atau kesal. Aku tidak tau.
"Tidak akan melukaiku? Sungguh? Setelah ayah mengancam ku dengan menodongkan pistol hari itu?" Tanyaku tak bisa membendung air mataku lebih lama lagi, ku lihat ayah sudah menatapku dengan sangat terkejut.
Aku tidak tau ingatannya sungguh sudah pulih atau belum, tapi yang ku lihat sekarang. Sepertinya dia mengingat hari buruk itu. Dan ingatan yang sudah susah payah ku kubur kembali mencuat dalam kepalaku, hari-hari sulit saat aku menghindari semua orang yang mengejar ku sampai berniat untuk mengakhiri hidupku dan berakhir dengan rencana pemalsuan kematianku.
Aku benar-benar sudah tidak sanggup, aku tidak ingin merasakan perasaan menyesakan seperti ini lagi. Aku ingin pergi ke tempat dimana semua orang tidak mengenalku sebagai Aster, aku ingin hidup dengan tenang bersama ibu dan nenek seperti dulu. Tapi itu tidak bisa kan?
Begitu erat ayah memeluk ku hingga aku bisa mendengar degupan jantungnya yang sudah berpacu dengan cukup cepat.
"Maafkan aku, maafkan aku Aster, maafkan aku ...," lanjutnya tidak berhenti mengatakan kata maaf dengan suara bergetarnya, lalu ku rasakan sesuatu yang hangat di bahuku sebelum aku mendengar isak tangis ayah yang terdengar memilukan, membuat air mataku semakin meleleh berjatuhan.
"Hiks, kenapa? Kenapa di saat aku sudah hidup dengan baik ayah malah mencariku? Lalu apa-apaan dengan penampilan ayah sekarang? Apa selama ini ayah tersiksa dengan kabar kematianku? Apa aku sudah membuat ayah kesulitan? Aku ma—maafkan aku, aku—" Ocehku tak bisa menahan Iskan tangisku lagi, bahkan tanpa sadar kedua tanganku sudah meremas pakaian ayah dengan erat, menyalurkan seluruh emosiku di sana.
"Tidak! Jangan meminta maaf padaku. Justru akulah yang harusnya meminta maaf padamu, karenaku hidupmu jadi tidak tenang, karenaku kamu menderita. Tapi aku sangat bersyukur sekarang karena kamu masih hidup. Aku benar-benar sangat bersyukur karena berita kematianmu itu tidak benar, aku bersyukur bisa memelukmu lagi, maafkan ayahmu ini Aster. Seandainya kecelakaan itu tidak pernah terjadi, seandainya aku bisa mengetahui rencana Rigel lebih cepat, seandainya aku lebih kuat ... aku benar-benar ayah yang sangat buruk."
"Benar! Ayah benar-benar membuatku kesulitan huwaaa, tidak seharusnya aku meminta maaf padamu. Aku tidak salah apapun, hari itu Kalea memaksaku untuk melepaskan pisau di tanganku, dia sendiri yang merebutnya dan membuatku tidak sengaja menusuknya. Tapi ayah hiks, hari itu ayah malah memperdulikannya dan berniat menembak ku? Ayah mengusirku, Ayah yang memintaku untuk tidak menampakan diriku dihadapan ayah lagi. Aku hanya menuruti keinginan ayah, meminta bantuan paman Albert untuk memalsukan kematianku setelah berkeliaran berhari-hari tanpa tujuan, berusaha menghindari kejaran paman Rigel dan musuh-musuh keluarga Veren. Setiap malam aku tidak bisa tidur, tubuhku yang penuh memar juga terasa sangat sakit sampai aku ... hari itu hiks, jika paman Tesar tidak menemukanku dan membantuku, aku mungkin sudah lompat dari atas jembatan itu, kau jahat ayah!"
"... maafkan aku, sungguh maafkan aku Aster. Maafkan aku putriku." Bisik ayah dengan suara lirihnya namun pelukannya semakin mengerat, seolah-olah tidak ingin melepaskanku lagi.
"Hiks, semuanya karena ayah. Ayah jahat!"
***
-Mila-
"Nona ...," gumamku berusaha menahan suara isak tangisku saat mendengar suara nona yang menangis dengan tersendu-sendu di dalam kamarnya. Lalu Aku juga mendengar suara tuan Ansel yang tak henti-hentinya mengatakan kata maaf dengan suara memilukannya.
"Selama ini dia pasti kesulitan karena menahannya sendirian." Gumam tuan Carel yang berdiri di hadapan pintu kamar nona, ku lihat kedua tangannya sudah mengepal keras di sana.
Aku, Hans dan tuan Carel, kami langsung bergegas pergi dari ruang tunggu di samping kamar nona saat mendengar suara tuan Ansel yang memanggil nama nona dengan suara kerasnya.
Lalu langkah kami terhenti di depan kamar nona saat mendengar pembicaraan ayah dan anak itu, dan sepertinya bukan hanya aku yang merasa tidak boleh mengganggu mereka sekarang. Jadi mau tak mau kamipun hanya bisa menunggu diluar sampai menemukan suasana yang tepat untuk masuk ke dalam.
Selain itu, saat ini adalah situasi yang pas untuk nona mengeluarkan seluruh isi hatinya. Jarang-jarang nona mengatakan apa yang dia rasakan sejelas itu. Batinku tak bisa membayangkan seberapa sulitnya dia hidup diluar sana, terus bersembunyi dan lari dari kejaran orang-orang yang mengincarnya.
Aku bahkan tidak pernah membayangkan nona akan seputusasa itu dan berniat untuk mengakhiri hidupnya? Bagaimana jika saat itu orang yang dia panggil paman Tesar itu tidak menemukannya? Nona ... dia pasti sudah benar-benar ... tanpa sepengetahuan siapapun. Dan sekarang kami semua pasti mengira nona masih hidup di suatu tempat. Lalu rencana memalsukan kematian itu juga tidak akan pernah ada. Lanjutku masih dalam hati sambil meremas ujung pakaianku dengan air mata yang tak bisa berhenti keluar karena mendengar isakan tangis nona yang begitu menyayat hati dari balik pintu itu.
"Tenanglah, nona sudah baik-baik saja bersama kita sekarang. Selanjutnya aku tidak akan pernah membiarkan nona dalam kesulitan lagi." Suara Hans membuatku menoleh padanya, lalu ku rasakan sentuhan hangatnya di bahuku bersamaan dengan senyuman tipisnya yang terlihat dipaksakan.
Sepertinya dia juga berusaha untuk terlihat baik-baik saja supaya bisa menghiburku?
Yah, setelah mendengar tangisan nona dan bagaimana dia menjelaskan perasaannya, sudah pasti orang-orang yang mendengarnya akan merasa sedih juga. Membayangkan bagaimana kehidupan yang sudah dia lewati setengah tahun belakangan ini.
.
.
.
Thanks for reading...