
-Aster-
"Aster!" Seru paman di luar pintu, nyaris berteriak. Aku yang mendengarnya langsung bergegas keluar dari kamar untuk menemuinya.
"Ya paman?" Tanyaku setengah sadar setelah membuka pintu kamar.
"Kamu baru bangun?"
"Iya, semalam aku terlambat tidur." Jawabku sambil menyenderkan tubuhku pada kusen pintu dan menggosok salah satu mataku yang terasa berat. Lalu bergegas menutup mulutku saat dirasa akan menguap.
Rasanya sangat sulit untuk membuka mataku di pagi-pagi buta seperti ini karena masih mengantuk. Tapi jika aku tidak bangun sekarang, bisa-bisa paman mengomeliku lagi seperti yang sudah-sudah.
"Hah~ pergilah mandi lalu sarapan." Ucapnya setelah menghela napas dalam sebelum pergi dari hadapanku.
Aku yang melihat punggung paman menjauh, entah kenapa membuat hatiku merasa tak karuan. Aku bahkan tidak pernah berpikir kami akan tinggal bersama lagi setelah insiden hari itu.
Mengingat kembali saat paman mencoba untuk melenyapkan ku saja sudah membuatku bergidik ngeri, tapi sekarang? Rasanya aku di rawat dengan baik olehnya. Meski awalnya aku berharap paman akan melenyapkan ku seperti yang pernah dia inginkan dulu. Tapi tidak terwujud, yang ada paman terus membuatku untuk tetap hidup bagaimanapun caranya. Dan tanpa sadar rasa takutku terhadapnya lenyap entah kemana?
Berkat bantuan paman Albert, aku dan paman bisa hidup dengan damai di kota yang jauh dari tempatku tinggal dulu. Akses jalan menuju rumahku sekarang tidak terlalu sulit, tapi juga tidak terlalu mudah. Hanya saja untuk kendaraan umum agak sulit ditemui karena memang dijadwalkan pada waktu tertentu. Tidak bebas berlalu lalang, berlalu lalangpun hanya akan menghabiskan bahan bakar karena penduduk di sini jarang bepergian jauh dan tidak sebanyak penduduk di pusat kota.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, aku memutuskan untuk menemui paman dan sarapan pagi bersamanya sebelum membantu paman di toko.
"Kamu sudah bangun? Kemarilah." Ucap seorang perempuan cantik di samping paman.
Perempuan itu bernama Nina, dia adalah istri paman yang dia nikahi belum lama ini. Aku tidak ingat kapan pastinya, yang jelas perempuan itu sudah menjadi bibi ku dan dia tengah mengandung sekarang.
Dari yang aku dengar, usia kandungannya sudah mencapai 6 Minggu. "Kamu tidak mau melanjutkan sekolahmu?" Tanyanya membuatku sedikit terkejut karena tiba-tiba membahas soal sekolah.
"... tidak, aku tidak mau mengambil resiko. Kalau aku sekolah, mungkin saja aku akan ditemukan." Jelasku setelah menggeleng lemah, memikirkan ayah menemukan keberadaanku. Selain itu kita semua sudah sepakat untuk tidak membahasnya lagi. Tapi kenapa sekarang malah membahasnya lagi?
"Tapi—"
"Sudahlah, jangan paksa dia. Meski Aster tidak sekolah pun, dia tetap rajin belajar dengan Dean dan Sarah kan?" Potong paman sebelum meraih air minumnya dan meneguk habis air itu.
Benar. Sejak aku pindah ke sini, aku sudah berteman dengan Dean setelah bertemu dengannya di pasar secara kebetulan. Dari pertemuan itu aku juga jadi berteman dengan Sarah yang sudah berteman dekat dengan Dean dari kecil. Mengingatkanku pada Carel.
Dan akhir-akhir ini aku sering bertemu dengan mereka untuk menghabiskan waktu luangku yang membosankan karena tidak bisa menghubungi siapapun. Meski aku sangat merindukan Carel dan yang lainnya sekalipun, aku tidak bisa menghubungi mereka karena kabar kematian ku sudah menyebar.
"Maaf ya Aster ...," gumam bibi membuatku bingung, apalagi saat melihat tatapan sedihnya yang mengusik ku.
"Kenapa minta maaf?"
"Karena ide ku dan Tesar, kamu jadi harus merubah penampilanmu, bahkan namamu juga—"
"Aku suka dengan penampilanku sekarang kok, jadi tidak perlu meminta maaf terus-menerus." Tuturku segera memotong ucapannya saat mengingat hari-hari sebelum paman dan bibi merubah penampilanku.
Sebelum merubah penampilanku, mereka terus-menerus menanyakan pendapatku dan mencoba untuk merubah pikiranku. Padahal mereka yang memberikan ide dan aku menyetujuinya karena ide cemerlangnya itu. Tapi setelah menyetujuinya mereka malah ragu-ragu untuk melakukannya. Setelah itu, tiada hari tanpa kata maaf yang ku dengar dari mulut bibi.
"Setelah semuanya membaik dan keadaannya aman, Aster bisa kembali memanjangkan rambutnya dan bersikap seperti anak perempuan pada umumnya lagi." Lanjut paman berusaha menenangkan istrinya yang terlalu khawatir denganku.
"Paman benar, jadi tidak perlu khawatir bibi. Lagipula rambut akan terus tumbuh meski dipotong sependek apapun kan?"
"Iya tapi—"
"Aku bisa menjadi anak laki-laki seperti yang paman dan bibi usulkan. Aku tidak keberatan, dan untuk kedepannya tolong panggil aku dengan nama Faren saja. Aku lebih suka itu karena Aster sudah dikabarkan tewas dalam kebakaran hari itu, jika ada yang dengar mereka akan salah paham kan?" Tuturku membuat keduanya menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku pahami. Tapi entah kenapa aku merasa mereka terkejut dengan apa yang ku katakan.
"... padahal kamu bisa memilih untuk mengenakan rambut palsu saja." Gumam bibi menatap piring makannya yang masih tersisa setengah nasi di atasnya.
"Sudahlah, Aster paman pergi untuk membuka toko. Setelah selesai sarapan datanglah ke toko seperti biasanya." Lanjut paman segera bangkit dari tempatnya dan menepuk lembut bahu bibi sebelum mengecup keningnya.
***
"Selamat pagi Faren!" Seru Sarah memasuki toko dengan suara riangnya disusul oleh langkah Dean di belakangnya.
"Pagi Sarah, Dean."
"Kalian sangat rajin ya." Ucap paman yang baru selesai menaruh roti hangat di keranjang roti.
"Pagi paman." Sapa Sarah dan Dean bersamaan membuat senyuman paman merekah saat bertemu tatap dengan mereka.
"Ya, selamat pagi anak-anak. Pilihlah roti yang kalian sukai, aku berikan geratis untuk kalian." Tutur paman sambil berjalan kembali ke dapur.
"Eh serius? Asik!" Ucap Sarah tampak kegirangan dan segera memilih roti yang menarik perhatiannya.
"Kamu selalu sibuk seperti biasanya ya." Tutur Dean yang sudah berdiri disampingku dengan kedua tangannya yang dia masukan kedalam saku celananya. Berdiri berdekatan dengannya membuatku jadi kerdil karena Dean memiliki tinggi tubuh yang lebih unggul dariku. Tinggi tubuhku malah seukuran dengan bahunya.
"Apa tidak sebaiknya kamu pergi ke sekolah bersama kami?" Lanjut Sarah yang masih memilih roti dihadapannya.
"Aku tidak—"
"Kamu mau beralasan tidak punya biaya masuk untuk sekolahmu lagi? Sebaiknya tutup mulutmu itu, kau membuatku kesal huh. Padahal toko roti pamanmu cukup ramai dan menghasilkan banyak uang. Setidaknya cukup untuk biaya sekolahmu." Ucap Sarah mulai mengomel seperti biasanya. Terlihat menggemaskan.
"Sarah benar. Selain itu, biaya masuk sekolah di sini kan tidak semahal biaya sekolah di pusat kota. Otakmu juga encer, kamu bisa mendapat beasiswa penuh." Angguk Dean menyetujui ocehan Sarah, sedangkan aku hanya bisa menunjukan senyumanku karena tidak bisa memberikan alasan lain yang bisa membantah ucapan mereka. Meski begitu, aku sudah tidak berkeinginan untuk sekolah lagi.
"Sangat encer malah." Timpal Sarah sambil memberikan tiga buah roti dengan satu botol susu dingin padaku.
"Benar. Itu membuatku kesal, bagaimana bisa anak sepintarnya tidak bersekolah? Dan aku yang bersekolah kalah dari anak seperti ini?" Lanjut Dean membuatku terkekeh, apalagi saat tangannya mencapai puncak kepalaku.
"Kalian terlalu memujiku, lagipula yang mengajarkanku banyak hal kan kalian." Kilahku sambil memasukan semua roti kedalam kantong plastik.
"Itu tidak benar. Justru kamulah yang banyak mengajari kami banyak hal. Aku yang kesulitan dalam pelajaran matematika saja bisa dengan mudah mempelajarinya jika kamu yang membantuku."
"Sarah benar. Berkatmu aku juga tidak terlalu kesulitan dalam pelajaran bahasa asing." Angguk Dean kembali menyetujui ucapan teman kecilnya itu, dan tangannya kembali dia masukan kedalam saku celananya.
"Dalam situasi seperti ini kalian sangat kompak ya?" Gumamku tak habis pikir dengan perilaku mereka berdua, padahal biasanya mereka selalu ribut dan berselisih pendapat.
"Sudahlah kalian pergi saja, jangan sampai ketinggalan bis dan terlambat sekolah." Lanjutku tak bisa membuat mereka berlama-lama di toko.
Dengan cepat Sarah melirik jam dinding dibelakangku dan meraih kantong plastik dihadapannya, "kamu benar. Ayo pergi Dean!" Serunya segera berjalan cepat meninggalkan toko.
"Aku pergi."
"Ya, belajar yang benar ya!" Ucapku pada Dean yang menyusul kepergian Sarah.
"Mereka sudah pergi?" Tanya paman mengejutkanku. Ku lihat paman kembali dengan beberapa roti di nampan yang dia bawa. Roti hangat berikutnya yang siap untuk di jual.
"Ya." Angguk ku berniat merapikan semua roti yang paman bawa.
"Sepertinya kamu sudah mulai terbiasa dengan suaramu ya? Kalau hanya ada aku kamu bisa beristirahat dan gunakan suaramu saja. Pasti sulit kan terus mengatur suara berat khas anak laki-laki?" Tutur paman membuatku sedikit terkejut dengan perhatian yang diberikan olehnya.
"Aku baik-baik saja."
.
.
.
Thanks for reading...