
-Aster-
"Fareeeen!" Suara Sarah mengejutkanku yang sedang menata roti di keranjang.
Ku lihat anak itu sudah berdiri disampingku dengan kedua tangannya yang terkepal kuat didepan dadanya, matanya yang berbinar membuatku bertanya-tanya dengan apa yang dia pikirkan saat ini. Lalu senyuman lebarnya yang terlihat manis itu, membuatku semakin bingung.
Apa dia mendapatkan lotre atau semacamnya? Batinku yang tidak pernah melihat ekspresinya yang seperti itu, terlihat segar.
"Kamu tau?" Ucapnya kembali mengejutkanku saat wajahnya mendongak dihadapanku, lebih dekat dari sebelumnya.
"A—apa?"
"Aku dengar fe—" Jawabnya terhenti saat suara lonceng pintu menarik perhatianku, dengan cepat aku dan Sarah menoleh kearah pintu yang sudah menampilkan sosok pria yang aku lihat kemarin. Pria yang begitu familiar, aku bahkan lupa kalau aku begitu memikirkannya kemarin.
"Selamat datang." Ucapku bersamaan dengan Sarah, lalu berjalan ke arah kasir meninggalkan Sarah di tempatnya.
Ku lihat pria itu mematung di tempatnya, dari balik topi yang dia kenakan aku bisa tau kalau pandangannya tertuju padaku. Tapi karena topinya menutupi wajahnya, aku jadi tidak bisa memastikan apa yang dia lihat sampai mematung seperti itu.
Apa jangan-jangan dia benar—Carel?
"Aku sarankan kamu membeli roti kacang merah ini, roti ini sangat enak. Cocok dimakan dengan susu, atau kamu juga bisa membeli roti isi daging ini. Ini juga roti yang paling enak, ada berbagai rasa yang bisa kamu coba, rasa yang paling pedas juga ada. Lalu ...." Tutur Sarah tiba-tiba meruntuhkan lamunan singkatku akan sosok Carel. Padahal beberapa detik lalu pria itu juga terus memperhatikanku, tapi karena suara Sarah diapun mulai bergerak.
"Aku beli yang ini saja." Ucap pria itu meraih roti isi pisang coklat di dekat Sarah.
"Ah—oke."
Ku lihat mereka sudah berjalan mendekatiku, Sarah segera berdiri disampingku masih dengan senyuman tipisnya dan pria itu sudah berdiri dihadapanku, memberikan tiga bungkus roti ditangannya.
Setelah aku menghitungnya dan memberikan semua roti itu, dia langsung memberikan kartu yang sama untuk membayar roti yang dia beli.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanyanya mengejutkanku saat aku akan memberikan kembali kartu pembayaran miliknya.
"Apa?" Ucapku saat pandangan kami bertemu tatap, aku yang melihat wajahnya dengan sangat jelas benar-benar dibuat terkejut setengah mati saat mengetahui sosok yang berdiri di hadapanku sekarang.
Bahkan saat dia sudah mulai membuka mulutnya, tubuhku sudah dibuat merinding dibuatnya. Suara yang begitu ku rindukan, sosok yang sangat ingin ku temui dan sosok yang sangat ingin ku peluk saat aku begitu putus asa. Orang itu, dia ada di hadapanku sekarang, Carel.
... apa ini? Kenapa dugaanku benar? Batinku merasa tidak karuan, entah kenapa rasanya semua perasaanku bercampur aduk sekarang. Aku merasa senang bisa melihatnya lagi, tapi diwaktu bersamaan aku juga merasa sedih karena tidak bisa berhambur kedalam pelukannya, lalu ada sebagian diriku juga yang merasa kesal padanya.
"Faren?" Suara Sarah membuatku menoleh padanya dengan pandanganku yang berbayang, dan entah kenapa rasanya mataku sangat panas sekarang.
"Kamu—nangis?" Lanjutnya membuatku segera meraih wajahku dan menghapus air mata yang tidak ku sadari telah terjatuh.
"Ini ... debu—kelilipan!" Sangkalku berdusta sambil menggosok mataku sebelum menunjukan senyuman terbaik ku.
"Eh? Ka—kalau begitu jangan di gosok seperti itu, matamu bisa merah nanti." Ucapnya terlihat panik, sedangkan pria tadi, Carel. Dia sudah pergi dari hadapanku tanpa mengucapkan apapun lagi.
Apa aku ketahuan? Tidak kan? Batinku lagi, merasa gelisah.
"Tapi, kenapa anak itu ada di sini?"
***
-Carel-
Entah kenapa saat melihatnya, aku merasa keakraban di antara kami. Dan jika di perhatikan lagi, wajahnya juga tampak familiar. Tapi anehnya aku tidak mengenalinya. Siapa anak itu?
Ting!
Notifikasi handphone ku meruntuhkan lamunan singkatku, dengan cepat aku raih benda pipih itu dari dalam saku celanaku dan mengeluarkannya. Memeriksa pesan masuk yang ku terima. Ku lihat nama Dwi dan Teo tertera di sana.
"Bagaimana? Apa kau berhasil?" Gumamku membaca pesan singkat dari Dwi setelah menelan roti di dalam mulutku.
Aku pergi ke wilayah ini untuk memastikan sesuatu, Dwi memintaku untuk memeriksanya karena ada laporan masuk yang tidak masuk akal ke kediaman Alterio.
Aku dan Dwi ingin memastikan kecurigaan kami. Makanya, aku memutuskan untuk pergi sendiri.
Tapi kalau harus dipikir-pikir lagi, kenapa laporan itu masuk ke kediaman Alterio? Padahal wilayah ini bukan termasuk wilayah yang harus di awasi oleh keluarga Alterio. Lalu apa maksudnya dengan laporan tidak masuk akal itu? Batinku mengingat rincian keuangan yang tidak masuk akal dari wilayah ini.
Ku telan kembali roti di dalam mulutku setelah mengunyahnya beberapa kali dan mulai mengetik balasan untuk Dwi sebelum kembali melanjutkan penyelidikan ku.
"Katanya wilayah ini sedang berada dalam masa sulit karena gagal panen, tapi kenapa dalam laporannya berbeda ya?" Gumamku lagi sambil memperhatikan hamparan tanah luas dihadapanku, dan meraih susu yang ku simpan di dalam kantong plastik.
Sepertinya memang kasus korupsi ya? Lanjutku mengingat kecurigaan Dwi.
"Tunggu dulu, Faren!" Teriak seorang perempuan menarik perhatianku. Ku lihat dia tengah memandangi seorang pria yang berlari menjauhinya dari depan toko roti.
"Biar aku menyusulnya."
"Tidak! Kamu kan—"
"Kamu jaga toko dulu, tunggu sampai paman Tesar datang oke!" Tutur pria lainnya ikut berlari mengejar pria kurus yang ku lihat sebelumnya.
Tunggu! Dia bilang apa tadi? Tesar? Batinku benar-benar dibuat terkejut oleh ucapannya.
"Ah—Dean!" Teriak perempuan itu lagi tak didengarkan.
Ku rasakan degupan jantungku yang mulai berpacu, entah kenapa aku merasa tidak enak hati. Padahal sebelum mendengar nama pria itu, aku tidak merasakan apapun. Tapi saat mendengar nama Tesar, entah kenapa aku merasa aneh. Yang lebih anehnya, aku tidak tau keanehan apa yang ku rasakan sekarang.
"Apa rasa kesal karena perlakuannya pada Aster dulu? Atau perasaan ...," gumamku sambil meremas pakaian dibagian dadaku. "Akan aku pastikan." Lanjutku memutuskan untuk mengejar pria bernama Dean tadi secara diam-diam.
Setelah berlarian tak tentu arah akhirnya anak itu berhenti di persimpangan jalan yang tampak sepi. Tubuhnya mematung cukup lama di sana dengan bahunya yang sedikit bergetar memperhatikan sesuatu yang tidak bisa ku lihat dari belakangnya. Membuatku bertanya-tanya dengan apa yang dia lihat sampai tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Bertahanlah bibi." Suara familiar pria yang ku temui di toko roti itu membuatku berjalan cepat mendekati sosok Dean yang masih mematung di tempatnya.
"Dean!" Lanjutnya membuatku terkejut saat menoleh kearah pria disampingku. Dengan cepat anak itu berlari mendekatinya dengan wajah pucatnya.
"Apa yang—pendarahan?" Gumamku saat melihat kaki perempuan dihadapan mereka penuh dengan darah.
"Ba—bawa bibi ke rumah sakit. A—aku itu ...,"
.
.
.
Thanks for reading...