
-Ansel-
Ku pejamkan mataku sambil merapatkan rahangku sekuat mungkin dengan kedua tanganku yang sudah terkepal didalam saku celanaku, berusaha menahan rasa kesalku yang mulai membuncah setelah selesai mendengarkan keseluruhan cerita Hans tentang kecelakaan ibu dan dirinya setelah pulang dari kediaman Michelle.
Ha~ah, mau dipikir berapa kalipun, semua kecurigaanku terhadap keluarga itu memang benar ... tak ku sangka saat ini hatiku dibuat sangat kesal oleh kenyataan yang ku dapatkan pagi ini. Batinku berusaha mengendalikan diriku sebaik mungkin sambil membuka mataku kembali.
"Apa memang sesulit ini ya mengendalikan amarah? Padahal aku sempat berharap kalau kecurigaanku terhadap mereka itu salah. Tapi ternyata ... sampai akhir pun, dari semua musuh yang ku hadapi. Hanya merekalah yang membuatku semarah ini." Lanjutku masih berusaha menahan diriku sebaik mungkin agar tidak lepas kendali.
"... tu–tuan, sekali lagi maafkan saya karena tidak menceritakan semuanya langsung. Padahal hari itu tuan sudah susah payah menemui saya, tapi saya–" Suara Hans penuh penyesalan membuatku tak ingin melihat ekspresi lemahnya yang mungkin bisa memperburuk hatiku.
"Kita pergi sekarang Tomi. Aku akan langsung menghajar b*debah itu!" Potongku sambil berjalan cepat menuju pintu keluar.
"Tuan!" Ucap Hans segera dipotong oleh suara Tomi yang terdengar samar sebelum menyusulku yang sudah keluar dari ruang rawat itu.
Ku dengar suara samar Tomi yang bilang, "jangan khawatir, tuan tidak akan membiarkan keluargamu dalam bahaya. Aku juga sudah menempatkan dua bawahanku didepan kamarmu untuk menjaga keselamatanmu."
"Tuan," suara Tomi dibelakangku dengan langkah tergesa-gesanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya akan bermain-main dengan orang tua itu sebentar sebelum menjebloskannya ke penjara." Tuturku membayangkan tindakan apa yang harus ku lakukan pada wanita tua dan putrinya itu.
"Tapi ... bagaimana dengan–"
"Kau khawatir perbuatanku akan mencoreng nama baiknya yang sudah berstatus sebagai istrinya Albert? Jangan bercanda!" Tegasku sambil meliriknya dengan rasa kesal yang saat ini coba ku tahan sambil masuk kedalam lift.
"Tidak, maksud saya ... jika tuan mengusik mereka. Itu artinya tuan Albert juga akan terseret kedalam masalah ini. Saya hanya mengkhawatirkan tuan Albert dan kedua putranya, mohon maaf jika saya membuat tuan salah paham." Jelasnya membuatku menghela napas berat setelah dia ikut masuk kedalam lift.
Memang benar perkataannya, ada kemungkinan aku akan berurusan dengan Albert juga karena dia sudah menjadi suaminya Claretta. Tapi saat ini yang terpenting adalah membuat pelajaran dulu untuk anak dan ibu itu, karena urusan utamaku adalah dengan mereka berdua bukan dengan Albert. Jika laki-laki itu ikut campur dan menghalangiku, maka aku juga akan membuat perhitungan dengannya.
"Kau tau Tomi?" Tanyaku memecah keheningan di dalam lift yang sedang turun kelantai dasar.
"Ya?" Tanyanya terlihat bingung saat aku menoleh padanya dan membuatnya bertemu tatap denganku.
"Aku benar-benar bersyukur sekarang karena tidak jadi menikah dengan wanita g*la itu, dan semua itu berkat Ibu dan Arsel." Jelasku tak bisa menahan senyumanku saat mengingat omelan ibu dan Arsel.
"Syukurlah aku mengenal mereka ya? Jadi aku tidak akan sungkan lagi untuk menentukan hukuman apa yang pantas mereka dapatkan. Padahal aku sempat khawatir jika kecurigaanku terhadap mereka salah, kau bisa bayangkan bagaimana perasaanmu saat menghukum orang yang tidak kita kenal, bukankah itu keterlaluan? Tapi anehnya kenapa ada saja orang yang selalu ikut campur dalam masalah seperti ini? Hanya karena mereka disuruh dan mendapatkan imbalan yang pantas, tidak kah mereka bodoh?" Ucapku lagi sambil berjalan ke luar lift setelah pintu lift terbuka.
Ku langkahkan kaki ku secepat mungkin ke arah pintu keluar rumah sakit. Ku lihat Tomi hanya membisu berjalan disampingku sampai detik berikutnya dia berkata, "akan saya ambilkan mobilnya tuan, tolong tunggu sebentar disini." Lalu pergi dengan tergesa-gesa setelah mendahuluiku melewati pintu keluar.
Aku merasa bersalah karena sudah menunjukan sisi buruk ku didepan Tomi, rasanya sudah sangat lama aku tidak sekesal ini sampai tanpa sadar aku membuatnya ketakutan seperti itu. Dan pemicu amarahku karena cerita yang ku dengar dari pelayan itu. Batinku mengingat kembali ucapannya sambil meraih Sd Card didalam saku jas abu yang ku kenakan.
"Ibu menitipkan ini pada Hans ... kira-kira apa isinya ya?" Gumamku tak bisa melepaskan pandanganku dari Sd Card ditanganku.
"... nyonya pergi ke halaman belakang kediaman nona Michelle setelah menikmati teh yang dihidangkan oleh pelayan disana. Lalu saya melihat ibunya nona Claretta mengikuti nyonya dan mereka membicarakan sesuatu, yang saya dengar hanya bagian ibunya nona Claretta yang berbicara soal kehancuran keluarga Veren yang sudah diputuskan olehnya. Lalu nyonya terlihat begitu terkejut setelah mendengar bisikan dari ibunya nona Claretta, saya sendiri tidak tau apa yang dibisikan olehnya. Maaf ...," suara Hans kembali terngiang dalam kepalaku.
"Lanjutkan." Ucapku menghancurkan keheningan yang diciptakan oleh Hans.
"Lalu, tak lama setelah itu nyonya pergi dari hadapan ibunya nona Claretta dan berpamitan pada nona Michelle dan ibunya. Kemudian nyonya meminta saya untuk mengantarnya ke kantor, tapi di tengah perjalanan tiba-tiba nyonya batuk darah dan membuat saya terkejut. Pikiran saya langsung tertuju pada air teh yang nyonya minum di kediaman nona Michelle, disaat saya sedang sibuk memikirkan nyonya dan berniat membawa nyonya ke rumah sakit ... tiba-tiba saja sebuah truk dari arah samping menghantam mobil dengan sangat keras dan mem–buat ke–kecelakaan itu terjadi." Lanjutnya berusaha menyelesaikan ucapannya dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. Terlihat seperti orang yang masih syok dan trauma.
"Setelah mendapatkan hantaman dari truk itu ... nyonya meminta saya untuk memberikan Sd Card ini pada tuan jika saya selamat. Sejujurnya saya sendiri tidak percaya bisa selamat dari kecelakaan sebesar itu, tapi nyonya malah ...." Lanjutnya sambil memberikan Sd Card yang dimaksud.
"Aku mengerti," ucapku menerima Sd Card yang diberikan oleh Hans sambil menepuk bahunya dan membuatnya menengadah setelah menunduk cukup lama, menatap selimut yang menutupi kakinya. Berusaha menghindari tatapan langsungku.
Lalu ku pejamkan mataku sambil merapatkan rahangku sekuat mungkin dengan kedua tanganku yang sudah terkepal didalam saku celanaku, berusaha menahan rasa kesalku yang mulai membuncah setelah selesai mendengarkan keseluruhan cerita Hans tentang kecelakaan ibu dan dirinya setelah pulang dari kediaman Michelle.
"... tuan!" Suara Tomi menyadarkanku dari lamunanku, ku lihat dia sudah membukakan pintu mobil bagian belakang. Dengan cepat ku langkahkan kakiku kearahnya dan masuk ke dalam mobilku.
"Antar aku ke tempat Eric!" Titahku pada Tomi yang baru masuk kedalam mobil dan segera melajukan mobilnya setelah menganggukan kepalanya patuh dan selesai memasang sabuk pengamannya.
.
.
.
Thanks for reading...