
-Aster-
"Hehe maaf, headphonenya aku masukan ke mode silent." Tuturku merasa tidak enak pada pria bermanik merah di hadapanku sekarang.
Lalu ku lihat dia sudah menghela napas dalam sebelum ikut bergabung bersama dengan Hans dan Mila, mengisi kursi kosong di sampingku dan duduk di sana dengan bertumpang kaki.
"Mau aku pesankan satu es krim untuk mu?" Tanyaku merasa tidak enak pada Carel karena menikmati es krim ku sendirian.
"Tidak, aku cukup melihatmu makan saja." Jawabnya menatapku dengan tatapan jahilnya yang menyebalkan.
"Jangan lihat!" Seruku sambil mencebikan bibirku dengan kesal sebelum kembali menikmati es krim ku. Sedangkan Carel hanya mentertawakanku dengan suara kecilnya, dia pikir aku tidak bisa mendengar suara tawanya?
Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya karena es krim ku lebih penting sekarang, jangan sampai es krimnya meleleh karena aku terlalu lama mendiamkannya dan bertengkar dengan Carel.
"Benar juga, Carel? Kenapa kamu bisa tau aku di sini?" Lanjutku saat mengingat kebetulan aneh yang terlihat dihadapanku.
"Aku bertanya pada pak tua, dan dia bilang kau pergi keluar bersama Hans dan Mila." Jawabnya sambil menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi yang dia duduki.
"Benarkah? Padahal aku tidak memberitahu pada ayah akan pergi ke pusat perbelanjaan. aku hanya bilang ingin jalan-jalan bersama Hans dan Mila saja."Tuturku memicingkan mataku merasa curiga pada Carel.
Rasanya aneh dan terlalu kebetulan jika kami bertemu secara tidak sengaja di tempat ini. Bukankah akan lebih masuk akal jika sejak awal aku—Carel menguntitku?
"Aku tau apa yang sedang kau pikirkan sekarang. Tapi semua itu tidak seperti dugaan mu Aster. Jadi berhentilah menatapku seperti itu." Tuturnya tidak membuatku merasa tenang sedikitpun.
"Sungguh?" Tanyaku lagi semakin memicingkan mataku.
"Benar. Duduklah dan habiskan es krim mu itu! Kamu tidak mau kan jika es krim mu melelah?"
Ku lihat gelas es krim ku sedikit berair di bagian luarnya, lalu dengan cepat aku menarik kursi dibelakangku dan kembali mendudukinya setelah menemukan tempat yang nyaman.
Tanpa sadar aku juga tidak melihat Hans dan Mila di manapun. Apa mereka diam-diam pindah tempat saat melihatku bertengkar kecil dengan Carel? Batinku sambil menoleh ke beberapa tempat untuk memastikan keberadaan Hans dan Mila. Tapi tidak ku temukan di manapun, padahal aku sangat yakin beberapa menit lalu mereka masih duduk di tempatnya dan memperhatikan ku tanpa banyak bicara.
"Kemana mereka pergi tanpa memberitauku dulu?" Lanjutku bergumam sebelum melahap semua es krim di gelasku.
***
"Jadi kenapa kamu pergi dengan mereka? Bukankah aku bisa mengantarmu jika kamu ingin pergi ke tempat ini?" Tanya Carel yang sudah berjalan di sampingku, menuruni eskalator bersama.
"Kamu tidak ada kerjaan ya?" Dengusku merasa sebal padanya tanpa alasan. Atau mungkin sebal karena dia bisa berkeliaran dengan bebas tanpa memikirkan apapun, padahal Carel sudah lulus lebih cepat dari akademi, tapi dia tidak melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi atau tidak dia bisa membantu pekerjaan ayahnya kan?
"Lalu apa yang kamu beli?" Tanya Carel melirik tas kecil di tanganku saat kami turun dari eskalator dan berjalan menuju pintu keluar.
"Aku pergi untuk membeli parfum untukmu. Coba cium aromanya ...," lanjutku sambil mengeluarkan botol parfum di dalam tas itu dan membuka tutupnya sebelum memberikan botol itu ke tangan Carel.
Kemudian aku melihat Carel mulai mencium aroma parfum di botol yang dia pegang dengan sedikit menyemprotkan parfum itu ke pergelangan tangannya.
"Ini?" Gumamnya segera melirik ke arahku membuat pandangan kami bertemu tatap.
"Bagaimana? Aromanya enak kan? Aku sering mencium aroma itu di tubuhmu. Jadi aku mencari parfum yang biasa kamu pakai di tempat ini, cukup sulit menemukan parfum yang kamu pakai. Tapi syukurlah aku bisa menemukannya." Jelasku merasa bangga dengan perjuanganku yang tidak sia-sia, meski tidak seberapa.
"... kamu mencium aroma tubuhku?" Tanyanya membuatku salah paham dengan apa yang dia katakan, apalagi saat melihat rona merah di wajahnya.
"Apa maksudmu? Aku bilang aroma parfum di tubuhmu bukan aroma tubuhmu." Kilahku mencoba untuk menahan rasa maluku sendiri.
"Ah—ya itu maksudku, maaf ... tapi aku tidak menyangka kalau kamu akan mengenali aroma parfum yang ku pakai selama ini. Apalagi sampai mencarikan parfum ini dan membelikannya untuk ku ...," Lanjutnya dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup?
"Karena aromanya enak dan berbeda dari aroma parfum yang bisanya aku cium dari tubuh ayah dan paman. Aroma parfum yang Carel gunakan terasa lebih wangi dan enak. Pokoknya aku sangat menyukainya. Jadi tanpa sadar aku terus mengingatnya." Jelasku lagi berusaha mengingat kembali kali pertama aku mencium aroma parfum yang digunakan oleh Carel.
Tapi seberapapun kerasnya aku mengingat, aku tidak bisa mengingatnya. Yang pasti Carel saat kecil belum menggunakan parfum.
Apa saat masuk akademi ya? Atau saat aku kembali dari Singapura? Aku benar-benar tidak ingat.
"Aah~ kau benar-benar berhasil membuatku salah tingkah Aster." Tutur Carel setelah mendesah membuatku terkejut. Ku lihat dia sudah menunduk menutupi wajahnya dengan salah satu tangannya saat tangan lainnya memegangi botol parfum dan memperhatikannya dengan seksama.
"Aku tidak menyangka parfum yang asal ku beli bisa membuatmu menyukai aromanya. Untuk kedepannya aku tidak akan pernah mengganti parfumki lagi. Jadi aku akan menggunakan parfum yang kamu belikan dengan baik, terima kasih Aster." Lanjutnya dengan suara rendah yang membuatku tersentuh, apalagi saat melihat manik merahnya yang menatapku dengan hangat, disusul dengan senyuman lebarnya yang terlihat bahagia?
"Se—senang jika kamu menyukainya. Kedepannya aku juga akan memberikanmu banyak hadiah. Jadi tunggulah dan nantikan hadiah berikutnya dariku." Ucapku memperingatinya dengan tegas.
Entahlah, aku hanya ingin menunjukan padanya kalau aku juga bisa membuatnya bahagia dengan caraku. Jadi Carel juga bisa merasakan apa yang ku rasakan saat aku menerima kejutan darinya.
"Aku akan menunggu." Ucapnya masih dengan senyuman lebarnya, "jadi, kamu mau pulang dengan siapa sekarang? Hans dan bila atau denganku? Aku sudah datang untuk menemuimu, jadi sudah pasti pulang denganku—kan?" Lanjutnya membuatku tersenyum tipis padanya saat mengingat kelakuannya hari ini.
Bisa-bisanya dia berpikir aku akan pulang bersamanya di saat aku tidak memintanya untuk keluar bersamaku dan seenaknya datang mencariku ke pusat perbelanjaan. Bagaimana jika tadi aku sudah pergi ke tempat lain karena tidak menemukan apa yang ku cari? Apa dia akan mencariku ke semua tempat?
.
.
.
Thanks for reading...