Aster Veren

Aster Veren
Episode 61




-Aster-


Setelah mendengar detail cerita Carel dari papa semalam. Aku jadi mengerti kenapa dia tidak mau masuk akademi. Batinku membayangkan sulitnya hidup menjadi seorang Carel yang harus memenuhi keinginan keluarganya meskipun dia tidak ingin.


Apalagi ayah bilang alasan utama Carel tidak mau masuk akademi karena ibunya. Dia tidak mau berpisah dengan ibunya, kalau Carel masuk akademi, dia tidak akan bisa sering menemui ibunya di rumah sakit.


"Jadi ibunya Carel sakit ... aku tidak tau karena dia tidak pernah cerita." Gumamku merasa bersalah karena Carel selalu berlama-lama di rumah untuk menemaniku sampai ayah kembali dari kantornya.


Selain itu gelagatnya juga terlihat seperti tak memiliki masalah. Sepertinya Carel memang pintar menyembunyikan masalahnya, berbeda denganku. Lanjutku dalam hati saat mengingat ucapan Carel yang bilang wajahku mudah dibaca.


Ayah juga bilang, ibunya Carel sudah lama sakit. Tubuhnya memang sudah lemah dari lahir, tapi dia bisa bertahan sampai sekarang. Cuma akhir-akhir ini kondisinya kembali memburuk, "pantas saja Carel bersikap tidak seperti biasanya."


"Tapi bukan berarti dia boleh membolos sekolah sesukanya kan? Meski dia jenius sekalipun jika ibunya tau dia sering membolos karena dirinya, pasti dia akan merasa sedih. Maka dari itu, bantulah dia untuk menjadi apa yang dia inginkan. Ku dengar dia ingin menjadi seorang dokter, meski dia masuk akademi untuk menjadi penerus keluarganya, tapi dia bisa menjadi apa yang dia mau setelah dia masuk ke akademi bukan?" Suara lembut ayah kembali terngiang dalam kepalaku.


"Benar! Karena banyak pilihan jurusan di akademi. Carel bebas memilih jurusannya kan? Dia bisa diam-diam menyetujui keinginan keluarganya, lalu setelah masuk dia bisa mengganti pilihan jurusannya ... apa tidak apa-apa seperti itu?" Gumamku merasa ragu dengan pikiranku sendiri.


"Apa yang kau pikirkan sampai mengabaikan buku-bukumu begitu?" Suara Carel mengejutkanku setengah mati.


"Ca–carel?! Ka–kapan tiba?" Tanyaku tergugup sambil mengelus dadaku.


"Kau bahkan tidak menyadari kedatanganku?" Ucapnya setelah menghela napas berat sambil duduk disampingku dengan kaki kanan yang ditumpangkan pada kaki kirinya, lalu kedua tangannya segera dilipat didepan dadanya sambil menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi taman yang kami duduki.


Apa dia mendengar ucapanku? Batinku segera membuang pandanganku darinya.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanyanya membuatku kembali terperajat.


"Ti–tidak ada." Kilahku sambil menunjukan senyuman terbaik ku padanya. Namun dengan cepat Carel menyentil keningku dengan jari tangannya sampai membuatku memekik kesakitan.


"Apa sih?! Sakit tau!" Geramku sambil mengelus keningku yang terasa perih dan berdenyut.


"Wajahmu itu mudah sekali ditebak ya ...." Ucapnya membuatku bungkam untuk beberapa detik.


"Ha–hah?! Mu–mudah ditebak? Jangan bercanda!" Kilahku berusaha mengendalikan degupan jantungku yang semakin berpacu karena takut ketahuan.


Ja–jadi dia mendengar ocehanku ya?


"Lihat! Ekspresimu yang seperti ini tidak bisa ku abaikan," ucapnya membuatku malu setengah mati saat wajahnya semakin mendekat padaku.


"... sepertinya kau sudah dengar masalahku ya?" Gumamnya segera menjauhkan wajahnya dari hadapanku dan kembali menyenderkan tubuhnya senyaman mungkin pada sandaran kursi taman itu.


"Maaf." Bisik ku merasa bersalah tanpa alasan.


"Kenapa meminta maaf?"


"Karena sudah mendengar ceritamu tanpa izin."


"Kenapa harus mendapat izin? Bukankah ayahmu yang memberitau mu?"


"Hem ...." Angguk ku sambil memperhatikan bunga-bunga Aster dihadapanku, berusaha untuk mengalihkan perhatianku dari Carel.


Entahlah wajahnya benar-benar tidak enak dipandang, dia terus-terusan menunjukan senyuman tipisnya dan tatapan yang tak bisa ku mengerti. Aku bahkan bisa merasakan kepalsuan dari perasaan yang dia tunjukan.


Aku benar-benar tidak suka dengan senyum palsunya, batinku sambil meremas ujung pakaianku seerat mungkin.


Dia juga terlihat tidak nyaman berada disampingku, terlihat dari tingkahnya yang terus-terusan mengalihkan pandangannya dariku saat aku berusaha menatap manik merahnya. Mungkin dia tidak ingin menunjukan perasaan sebenarnya padaku. Ya lagipula mata itu tidak pernah bisa berbohong bukan?


"Sepertinya orang tua itu meminta bantuan ayahmu untuk mengurusku ya?" Gumamnya membuatku menoleh padanya. Entah kenapa aku merasa bersalah padanya karena dijadikan umpan untuk menariknya masuk ke akademi itu.


"... ke–kenapa Carel tidak mau masuk Akademi?" Tanyaku setelah mengumpulkan semua keberanianku untuk bertanya langsung padanya. Aku hanya ingin memastikan–mendengar langsung alasannya tidak mau masuk akademi.


"Kau belum dengar dari ayahmu?" Jawabnya balik bertanya tanpa menatapku sedikitpun.


"Kau sudah tau sampai sejauh itu ya ... padahal aku tidak ingin melihatmu seperti ini," gumamnya kembali menunjukan senyuman tipisnya padaku, dan entah kenapa hatiku merasa sangat sesak saat melihat senyuman tipis Carel yang terlihat begitu dipaksakan itu.


Sebenarnya separah apa kondisi ibumu itu Carel? Batinku bertanya-tanya.


"... tapi ya, itu hanya salah satu alasanku, alasan lainnya karena aku tidak mau jadi penerus keluarga Alterio. Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin ku lakukan, tapi entah kenapa rasanya sulit sekali ...." Jelasnya membuatku semakin mengeratkan cengkraman tanganku pada pakaianku, bahkan tanpa sadar aku sudah menggigit bibir bawahku dengan gemas karena tidak bisa membantu Carel disaat dia kesulitan.


Saking tidak bergunanya, aku sampai mau menangis sekarang. Tapi tidak saat berada disamping Carel kan? Dia sudah kesulitan dengan masalahnya, mana mungkin aku menambahkan bebannya lagi.


***


-Ansel-


"Permisi tuan." Suara Rigel bersamaan dengan suara pintu yang terbuka menampilkan sosoknya diambang pintu.


"Ada apa? Kenapa terlihat begitu buru-buru?" Tanyaku tak bisa mengabaikan sikapnya yang tak seperti biasanya.


"Anu, itu ... a–ada panggilan dari rumah sakit kalau Hans sudah sadarkan diri." Tuturnya berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah, sepertinya dia berlarian dari tempat parkir sampai ke ruang kerjaku.


"Kita pergi sekarang." Ucapku sambil menepuk bahunya saat berjalan melewatinya.


"Baik." Ucapnya segera mengekoriku dari belakang.


"Ngomong-ngomong ...."


"Ya?"


"Jangan berlarian di kantor Rigel."


"Ma–maafkan saya tuan, saya benar-benar terkejut saat mendengar panggilan dari rumah sakit, tanpa sadar saya berlarian di kantor karena ingin secepatnya memberitau tuan soal kabar baik ini."


"Bukankah kau bisa menelponku?"


"Ah–ya, saya tidak berpikir sampai sana."


"Lalu bagaimana dengan Tomi? Sudah ada kabar darinya?" Tanyaku saat memasuki lift bersama dengan Rigel.


"Sejauh ini dia belum memberi kabar apapun." Jawabnya sambil menekan tombol lift menuju lantai dasar.


"Sepertinya dia kesulitan ya ... haruskah aku meminta Eric untuk membantunya?" Gumamku sambil memegangi daguku dengan tangan kananku, memikirkan hal apa yang bisa ku lakukan untuk mempercepat proses penyelidikan.


"Bagaimana dengan Victor?" Lanjutku saat mengingat wajah pria itu.


"Dia masih menyelidiki motif Claretta menikah dengan Albert." Jawabnya bersamaan dengan pintu lift yang sudah terbuka, membuatku bergegas keluar dari sana begitupun dengan Rigel.


"Hem... ini aneh," gumamku mengingat kembali informasi yang diberikan Ian kemarin.


Pria itu bilang Claretta menikah karena memang jatuh cinta pada Albert yang memiliki dua orang anak seumuran Carel dan anak pertamanya yang sudah lama pergi dari rumahnya.


"... kau juga menyadarinya bukan? Jika dia menikah dengan Albert untuk mendapatkan putrinya kembali, harusnya dia sudah melakukannya sejak lama. Tapi sampai detik ini dia belum merebut kembali hak asuhnya, kira-kira menurutmu apa alasannya selain dia jatuh cinta sungguhan dengan suaminya itu?" Suara Ian kembali terngiang dalam kepalaku.


"Karena dia tidak ingin Albert mengetahui masa lalunya. Kau bisa bayangkan apa yang akan dilakukan Albert saat dia tau kalau Claretta memiliki seorang anak diluar nikah? jawabannya hanya satu ... cerai! Kenapa? Karena jika dia mempertahankan pernikahannya dengan Claretta, maka reputasi keluarganya bisa tercoreng." Lanjutnya membuat kepalaku sakit karena harus memikirkan semua kemungkinan yang dia pikirkan.


Tapi sejauh ini, hanya kemungkinan itu yang paling masuk akal. Hanya saja ... bagaimana kalau pria bernama Albert itu tak memperdulikan masa lalu Claretta? Bukankah cepat atau lambat dia akan membantu wanita itu untuk merebut Kalea dari tangan Victor?


.


.


.


Thanks for reading...