
-Ansel-
Brak!
Suara pintu mengejutkanku dan Geri yang tengah membicarakan soal rencana gila Albert.
Ku lihat Arsel memasuki ruang kerjaku bersama Khael dan Carel di belakang mereka.
"Tidak bisakah kalian masuk setelah mengetuk pintunya terlebih dulu?" Ucapku tak terlalu didengarkan oleh mereka.
"Aku sudah terbiasa masuk tanpa mengetuk pintu. Kau lupa aku sudah mengambil alih pekerjaanmu selama berbulan-bulan dan bekerja ditempat ini?" Ceplos Arsel terdengar menyebalkan.
"Kenapa orang ini ada di sini?" Lanjut Carel saat melihat asisten pribadi Albert yang duduk berhadapan denganku.
"Bukan urus—"
"Berkas apa ini?" Potong Arsel dengan seenaknya merebut berkas dihadapanku dan mulai membacanya.
Terserahlah, aku sudah sangat lelah untuk menghentikannya sekarang. Batinku tak memiliki banyak tenaga untuk menghentikan Arsel.
"Coba aku lihat." Lanjut Carel ikut bergabung bersamanya.
"Untuk sekarang bisakah kau pergi Geri? Katakan pada Albert kalau aku menolak keinginannya, minta dia untuk memikirkan imbalan lain dan datanglah padaku lagi setelah—"
"Apa maksudnya ini? Apa dia gila?" Ucap Arsel dan Carel bersamaan, sesuai dengan apa yang ku pikirkan.
Ku lihat Geri hanya menunjukan senyuman tipisnya dan berkata, "jangan seperti itu tuan Carel, bukankah Anda sendiri yang sudah membantu perjanjian antara tuan Albet dan ayah anda? Apa anda tidak mengetahui perjanjian apa yang mereka buat?"
"Apa maksudnya itu?" Tanyaku bersamaan dengan Arsel.
"Kenapa? Ada apa papa?" Suara mungil Khael mengalihkan perhatianku, ku lihat anak itu sudah duduk manis di sofa lainnya yang terpisah dengan tempatku dan Geri.
Dengan wajah bingungnya dia mengunyah potongan apel yang baru saja dia gigit.
Kenapa di saat seperti ini dia membawa anaknya ke tempat ini? Batinku sambil menghela napas berat karena tidak memiliki banyak tenaga untuk memperbaiki situasi kami sekarang. Bahkan untuk melakukan pembicaraan serius dan meminta seseorang untuk membawa Khael keluarin, rasanya tubuhku sudah sangat lelah.
"Aku tidak diberitahu kalau perjanjiannya adalah mempersatukan si Sean dengan Aster. Lalu untuk apa pula dia merencanakan perjodohan anaknya dengan Aster?" Tutur Carel dengan tatapan tajamnya.
"Karena tuan Albert menginginkan kekuatan keluarga Veren. Jadi beliau berencana untuk membuat hubungan yang lebih erat dengan mempersatukan putranya dengan penerus keluarga Veren." Jelasnya membuatku semakin tidak menyukainya.
"Aku mengerti, tapi sepertinya bukan hanya itu saja." Ucap Arsel sambil meletakan kembali dokumen di tangannya keatas meja dihadapanku. Sedangkan Geri, dia hanya bisa menunjukan senyuman tipisnya saat mendengar Arsel berbicara seperti itu padanya.
"Paman?" Suara Khael yang sudah berdiri disampingku, dengan cepat ku raih tubuhnya dan mendudukkannya di pangkuanku.
"Sepertinya aku juga mengerti." Lanjut Carel semakin menatap tajam pria dihadapannya setelah duduk disampingku dengan bertumpang kaki.
Bukannya aku tidak mengerti dengan apa yang mereka pikirkan. Tapi aku merasa tidak memiliki waktu untuk ikut terlibat dengan pembicaraan mereka. Alasannya sederhana, seperti yang dibilang Arsel sebelumnya, dia sudah mengambil alih pekerjaanku selama berbulan-bulan dan aku mencoba untuk mengambilnya kembali?
Bukankah setidaknya kami harus bicara terlebih dulu untuk kemastikan siapa yang akan memimpin keluarga Veren? Apakah aku harus kembali pada posisi itu atau sebaiknya tetap ku serahkan pada adik ku? Hal itulah yang harus kamu bahas.
Sepertinya aku terlalu terburu-buru untuk kembali mengambil alih pekerjaanku dari Arsel. Padahal dia sudah bekerja dengan keras untuk mengurus semua pekerjaanku, dia bahkan sampai mengambil cuti panjang supaya bisa fokus pada pekerjaannya dikediaman Veren.
"... seperti yang saya duga. Anda berdua sangat cepat mengerti ya." Suara Geri kembali menarik perhatianku, tanpa ku sadari aku sudah melewatkan pembicaraan mereka dengan melamun.
"Ck, jika tau akan seperti ini, aku pasti tidak akan membantu orang tua itu." Decak Carel dengan suaranya yang tidak bersahabat.
Sekali dayung satu dua pulau terlampaui ya? Batinku merasa tidak suka dengan rencana gilanya Albert. Sejauh ini aku sudah menduga apa yang diincar olehnya. Tapi aku tidak suka caranya mendapatkan apa yang dia inginkan, dia pikir dia bisa menjadikan putriku sebagai batu loncatannya?
***
-Aster-
"Kau di sini Carel?" Ucapku saat melihatnya terkejut karenaku.
Apa dia baru saja melamun? Lanjutku dalam hati memperhatikannya yang sedang mengelus dadanya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?" Tanyaku lagi ketika tidak mendapatkan jawaban darinya.
Aku tidak mengerti kenapa seorang Carel bisa menjadi sosok yang tidak pernah ku lihat? Seingatku dia tidak pernah mengabaikanku, tapi kenapa sekarang berbeda? Apa ada yang sedang dia pikirkan? Hal apa yang dia pikirkan sampai mengabaikanku seperti ini?
Padahal aku datang untuk menemuinya, tapi jika melihatnya tak memperdulikan ku, sebaiknya aku kembali ke kamarku kan? Lagipula hari sudah semakin sore, dan aku harus segera membersihkan diriku sebelum pergi makan malam dan menerima pemeriksaan rutin dari dokter yang ayah pekerjakan di kediaman Veren.
Ku hela napasku bersamaan dengan hembusan angin yang ku rasakan. Lalu ku perhatikan kebun mawar dihadapanku sebelum melangkahkan kakiku, berniat untuk meninggalkan Carel di sana.
Namun langkahku terhenti saat melihat paman Hans tiba bersama dengan Dean, Yuna dan Sarah.
"Selamat sore nona." Sapanya membuyarkan lamunan singkatku saat mengingat ucapan ayah pagi ini.
Rupanya ada alasan lain kenapa ayah begitu terburu-buru menyelesaikan sarapan paginya, dia pergi menemui Hans yang diperintahkan olehnya untuk menjemput mereka? Batinku.
"Kakak!" Seru Yuna yang sudah berlari mendekatiku dan memeluk tubuhku dengan mata berbinarnya.
"Aku tidak tau kalau kalian akan datang hari ini." Ucapku merasa canggung.
"Yah—itu, kami akan tinggal di sini selama beberapa hari." Timpal Sarah sambil melihat kearah lainnya, sepertinya dia berusaha untuk menghindari kontak mata denganku?
"Benarkah? Itu sangat bagus ... Hans bisa kau pergi temui Mila dan minta dia untuk menyiapkan kamar untuk mereka?" Titahku membuat Hans mengangguk patuh dan segera pergi dari sana setelah berpamitan padaku.
"Jadi bagaimana kabarmu sekarang?" Tanya Dean membuatku mengernyit bingung, "sepertinya kamu tidak ingat kalau aku datang untuk menyelamatkanmu malam itu, dibawah lampu penerangan jalan." Lanjutnya membuatku terkejut.
"Ah! Jadi orang itu kamu?" Gumamku saat menyadari sosok pria yang mendekatiku saat pandanganku buram karena merasa pusing.
"Kakak sudah sembuh?" Lanjut Yuna ikut bertanya dengan kepalanya yang sudah menengadah menatapku dengan tatapan khawatirnya.
"Iya, sudah lebih baik." Jawabku sambil menunjukan senyuman terbaik ku dan mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
"Ah! Orang itu?" Ucap Dean sambil menunjuk sosok Carel disampingku, aku juga melihatnya terkejut mendengar suara Dean.
"Kau!" Serunya membalas tunjukan Dean dengan eksresi terkejut.
Kenapa? Bukankah mereka sudah beberapa kali bertemu di toko roti paman? Batinku bertanya-tanya dengan reaksi aneh mereka.
Ngomong-ngomong toko roti paman, aku tidak melihat paman dan bibi. Apa mereka tidak ikut bersama Hans?
.
.
.
Thanks for reading...