Aster Veren

Aster Veren
Episode 31




-Ansel-


Ternyata tidak perlu menghabiskan waktu satu minggu untuk mengetahui sifat asli Kalea ya, batinku saat mendapatkan laporan dari Rigel.


Ku alihkan perhatianku pada pintu ruang kerjaku saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk." Ucapku kepada seseorang diluar sana.


"Aku datang Ansel." Suara Claretta mencuri perhatianku yang sempat teralihkan kembali pada pesan masuk baru yang ku dapat dari Rigel.


Ku lihat Claretta sudah mengulas senyum lebarnya sambil berjalan mendekatiku.


"Duduklah." Ucapku mempersilahkannya duduk disofa dekat jendela, lalu aku pun berjalan kearahnya dan mengisi tempat kosong dihadapannya.


"Sepertinya kau sangat kelelahan ya, apa kau sudah makan siang?" Tanyanya saat bertemu tatap denganku.


"Kau tidak mau tau kenapa aku memanggilmu kesini?" Ucapku balik bertanya.


"Eh? Memangnya kenapa? Bukankah kau memanggilku untuk membahas soal acara pernikahan kita?" Tanyanya terlihat percaya diri dengan senyuman kakunya.


"Yah itu memang benar, tapi ... kau tau kan ibuku tidak pernah menyetujui rencana pernikahan kita? Dan aku setuju menikahimu hanya demi Kalea, tapi jika ibuku mencabut nama Veren dariku, apa kau masih mau menikah denganku?" Jelasku sambil meraih cangkir teh dihadapanku.


"I–itu ... kau bercanda kan? Hahaha... mana mungkin ibumu melakukan hal sejahat itu pada putranya," tuturnya sambil memaksakan tawa hambarnya.


Apa dia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu? Tentu saja ibu bisa melakukannya, lagipula tak ada yang bisa menghentikan amarahnya. Batinku tak bisa menepis bayangan wajah ibu saat dia sedang marah pada Arsel.


"Ta–pi kalau itu sampai terjadi, aku tidak akan mempermasalahkan namamu. Lagipula sejak awal kita sepakat menikah untuk kebahagiaan Kalea kan?" Lanjutnya terdengar meyakinkan ditambah dengan senyuman lebarnya yang berbeda dengan sebelumnya.


"Kau tau kan? Aku sangat membenci kebohongan." Ucapku setelah meminum air teh dicangkirku.


"Te–tentu saja." Jawabnya terdengar gugup.


"Apa kau yakin tidak akan mempermasalahkan namaku?" Tanyaku tak bisa melepaskan tatapanku dari Claretta begitu saja.


"Ya, te–tentu." Angguknya terlihat ragu.


"Apa tidak ada yang mau kau katakan padaku?" Tanyaku lagi sambil menyimpan cangkir teh ditanganku pada tempatnya.


"Soal ... kebohonganmu mungkin?" Lanjutku berhasil membuatnya tersentak.


"Ha~ah ku pikir selama ini kau sangat baik karena tidak mengharapkan apapun dariku selain kebahagiaan putrimu sendiri. Tapi sepertinya aku salah ... kau sama saja seperti wanita lainnya." Tuturku setelah menghela napas panjang.


"A–apa maksudmu? Aku—" Tanyanya segera terhenti saat pandanganku kembali bertemu tatap dengannya.


Entah kenapa aku malah menatapnya dengan sinis sekarang, aku merasa muak dengan topeng yang dikenakannya sampai aku tak bisa mengendalikan diriku sekarang.


"Apa kau pikir namaku tidak penting sampai aku rela melepaskan nama Veren untuk menikahimu?" Tanyaku kembali mengejutkannya.


Lalu dengan malas ku taruh heandphoneku diatas meja setelah menekan tombol play pemutar rekaman suara.


".... Ibu tenang saja, aku sudah bisa mengendalikan Ansel. Dan dia setuju untuk menikah denganku demi Kalea."


"Kau harus begerak cepat sebelum dia menyayangi anaknya ...."


"Aku sedang mengusahakannya, ibu tidak perlu khawatir soal itu ... lagipula sifat Ansel sangat dingin pada anak itu."


"Jadi soal dia yang tidak mengakui putrinya itu benar ya? Baguslah kalau begitu, kesempatanmu untuk menjadikan Kalea sebagai penerus keluarga Veren bisa berjalan dengan mulus."


"Yah semoga saja mulus sampai akhir ...."


"Tapi aku masih tidak percaya dengan kemunculan anak itu ... Helen benar-benar menyembunyikannya dengan baik ya."


"Dengan ini pernikahan kita tidak akan pernah terjadi." Ucapku mengakhiri pembicaraanku dengannya.


Dengan cepat aku bangkit dari posisi duduk ku dan berjalan kearah pintu berniat untuk meninggalkannya.


"Tu–tunggu Ansel, dengarkan penjelasanku dulu." Ucapnya menghentikan langkahku.


"Ku rasa tak ada lagi yang harus dijelaskan. Semuanya sudah cukup jelas bagiku, jika kau berpikir bisa menjadikan Kalea sebagai penerus keluarga Veren kau salah besar, karena penerus keluarga Veren berikutnya sudah diputuskan oleh ibuku." Jelasku kembali melangkahkan kakiku menuju pintu bersamaan dengan suara ibu yang masih terngiang di telingaku.


Pagi tadi ibu menghubungiku dan memberitauku soal keputusannya yang akan menjadikan Aster sebagai penerus keluarga Veren berikutnya.


"Tapi bukankah kau bilang sangat menyayangi Kalea? Kau bisa melakukan apapun demi Kalea, bahkan kau bilang mau menikahiku dan membuat Kalea bahagia," Suara Claretta meruntuhkan lamunanku.


"Yah aku memang menyayanginya melebihi rasa sayangku pada putriku sendiri ... sebodoh itulah diriku." Ucapku sambil meraih daun pintu.


"Ansel aku tidak perduli dengan penerus keluarga Veren, rencana itu ... semuanya adalah rencana ibuku. Aku–aku hanya ingin menikah denganmu, bahkan jika nama Veren dicabut darimu. Aku tetap ingin menikah denganmu!" Teriaknya benar-benar membuatku muak.


"Bohong!" Gumamku sambil mengepalkan telapak tanganku, berusaha untuk menahan emosiku melalui kepalan tanganku.


"Sayangnya nama Veren lebih penting untuk ku daripada dirimu. Kau tidak bisa menghentikanku dengan omong kosongmu itu!" Lanjutku segera menutup pintu ruang kerjaku dan pergi kearah lift setelah melihat pesan masuk dari Rigel yang belum ku baca, dan meninggalkan wanita itu di ruang kerjaku.


Harusnya aku minta orang untuk menggeretnya keluar dari ruanganku, kenapa aku yang harus keluar dari ruanganku sendiri? ini benar-benar bodoh! Gerutuku dalam hati.


***


-Aster-


"Berhentilah mengaku-ngaku sebagai putri ayahku!" Teriak Kalea sambil menggebrak meja dihadapanku, menarik perhatian semua orang yang sedang menikmati waktu istirahat di dalam kelas sambil makan siang.


Sejak pagi dia sudah menggangguku dikoridor sekolah. Dia terus-terusan menekankan soal ayah yang menyayanginya dan memintaku untuk tidak dekat-dekat dengan ayah.


Padahal tanpa diberitaupun aku sudah tau, bahkan Kalea sendiri sudah sering menunjukan kedekatannya dengan ayah saat ayah menjemputnya. Lalu apalagi yang ingin dia tunjukan padaku?


Ku pikir Kalea sudah berubah, mengingat seberapa khawatirnya dia padaku saat penyakitku kambuh dihadapannya waktu itu. Tapi ternyata pikiranku salah, dia bahkan bersikap seperti biasanya seolah-olah tidak pernah melihatku kesakitan.


Padahal jelas-jelas waktu itu dia mengkhawatirkanku. Batinku mengingat ekspresi khawatir Kalea yang samar.


"Ada apa Lea?" Tanya Nadin yang baru kembali dari kantin, terlihat dari jajanan yang dibawanya.


"Ini, masa si Aster ngaku-ngaku sebagai anak ayahku." Jelasnya menguji kesabaranku, dilihat darimanapun Kalea sengaja memancingku dengan ucapannya itu. Padahal dia sendiri tau kalau aku putri ayahku, dan ibunya akan menikah dengan ayahku, merebut ayahku dariku.


"Kau dengar? Aster mengaku-ngaku sebagai anak ayahnya Kalea, apa itu sungguhan? Kalau begitu mereka saudaraan dong?" Bisik beberapa anak perempuan didekatku.


"Menjijikan, sebegitu inginnya memiliki seorang ayah, kau sampai mengaku-ngaku seperti itu. Apa kau tidak malu mengakui ayah orang lain sebagai ayahmu?" Tutur Nadin dengan sorot mata sarkasnya membungkam semua suara bisikan yang sempat memenuhi ruang kelas.


"Benarkan? Dia terus menggangguku dan bilang kalau ayahku adalah ayahnya. Padahal kita semua tau, kalau dia tidak memiliki seorang ayah." Lanjut Kalea dengan sorot mata berkaca-kacanya.


Ah, aku benar-benar kesal sekarang. Apa tidak apa-apa kalau aku melawannya sesekali? Aku sudah muak diperlakukan seperti ini olehnya selama ini. Tapi .... Batinku sambil menghela napas lelah dan mengendurkan otot bahuku yang menegang.


"Aku harus tenang, aku tidak mau merasakan sesak napas lagi," gumamku setelah selesai menghela napas.


"Kenapa harus memutar balikan fakta seperti itu Kalea?" Tanyaku setelah mengumpulkan semua keberanianku, "bukankah kau yang terus menggangguku sejak pagi?" Lanjutku sambil mengulas senyum tipisku membuat semua orang terkejut.


.


.


.


Thanks for reading...