
-Ansel-
Waktu sudah menunjukan pukul 02:00 siang, sudah satu jam berlalu sejak aku berhadapan dengan Ian yang terlihat kesal tanpa sebab yang jelas.
"... kenapa ayah tidak mendiskusikan hal ini denganku dulu? Padahal aku sudah merencanakan perjodohan Aster dengan Carel, sesuai dengan apa yang diinginkan istriku. Tapi ayah–arrgh ...," ocehnya terlihat frustasi.
Sejak tadi dia terus mengoceh–mempertanyakan alasan kepala keluarga terdahulu menjodohkan Carel dengan cucu pemilik akademi tempat putranya belajar sekarang. Padahal sebelumnya Ian sangat ngotot dan terus mengejar ku untuk menjodohkan Carel dengan Aster. Dia bahkan sampai mengancam Albert untuk membatalkan niatnya menjodohkan putranya dengan putriku.
Yah, tapi aku tidak perduli. Justru dengan tindakan yang diambil oleh kepala keluarga terdahulu–ayahnya Ian membuatku lega, karena pada akhirnya Aster tidak akan menjadi milik siapapun.
... setidaknya putriku harus tetap menjadi milik ku sampai usianya cukup untuk menikah. Sebelum itu aku tidak akan menyerahkan Aster pada siapapun! Batinku masih memperhatikan sosok Ian yang tengah frustasi sendirian dihadapanku. Sangat mengkhawatirkan.
"Bantu aku untuk meyakinkan ayah Ansel! Buat dia membatalkan rencana perjodohan Carel dengan anak perempuan itu!" Ucapnya dengan ekspresi memelas yang sangat langka, jarang-jarang aku bisa melihatnya berekspresi seperti itu.
"Biarkan saja, lagipula ayahmu melakukan itu demi cucunya–"
"Tidak! Aku lebih mendukung Carel dengan Aster. Karena putrimu bisa merubah sifat buruk putraku. Dia bisa memberikan dampak positif untuk Carel, selain itu istriku sangat menginginkan Aster bersama dengan Carel. Tapi ayah ... dia malah menjodohkan Carel dengan orang lain dan memintaku untuk menjodohkan Dwi dengan Aster untuk menggantikan Carel."
"Kau bercanda?!"
"Apa wajahku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?"
"... tidak."
"Maka dari itu–"
"Tidak akan ku bantu!"
"Hah?"
"Aku tidak akan memberikan putriku pada siapapun."
***
-Aster-
"Ternyata sudah jam segini," gumamku saat melihat jam dinding yang menunjukan pukul 02:00 siang.
"Bosannya ... apa aku kembali ke asrama sekarang saja ya?" Lanjutku setelah menghela napas, mengalihkan perhatianku pada tirai biru dihadapanku. Saat ini aku masih berada di dalam UKS.
Drak!
Suara pintu geser UKS mengejutkanku, menampilkan sosok Lusy yang sudah berjalan mendekatiku. Ku lihat ekspresinya tak bersahabat sedikitpun.
Ada apa dengannya? Kenapa ekspresinya sangat berbeda dengan ekspresi yang ku lihat malam itu? Batinku kembali mengingat pertemuan pertamaku dengannya di acara ulang tahunku.
Aku sangat yakin kalau malam itu Lusy berekspresi sangat ramah dan bersahabat, tapi kenapa saat ini ... tidak! Lusy memang seperti ini kan? Malam itu dia mendatangiku diam-diam setelah aku meminta izin untuk istirahat lebih cepat pada ayah.
Lusy mengikutiku yang hendak kembali ke kamarku, dan saat aku menyadarinya dia langsung mengatakan niatnya tanpa berbasa-basi. Dia memintaku untuk menjauhi Carel, tentu saja aku mengetahui alasannya karena aku sempat mendengar pembicaraan kakeknya Carel dengan pria itu–kakeknya Lusy.
"Akan ku ingatkan kau satu kali lagi, jauhi Carel!" Ucapnya terlihat sinis, menyadarkan ku dari lamunan pendek ku mengenai pembicaraanku dengan Lusy malam itu.
"Kau sudah dengar kan kalau aku adalah tunangannya Carel. Jadi jangan dekat-dekat dengannya lagi, atau kau akan menyesal." Lanjutnya membuatku mengernyit kesal.
Jadi dia datang untuk mengancam ku lagi? Batinku sambil meremas selimut biru yang menutupi kedua kaki ku.
Selama beberapa hari terakhir ini aku memang tidak bisa bertemu dengan Carel, sangat sulit untuk menemuinya. Dan mungkin itu semua ada hubungannya dengan Lusy. Entah kenapa aku merasa kesal lagi, padahal malam itu aku sudah memantapkan hatiku untuk mengabaikan ancamannya. Tapi sekarang ..., Batinku mencoba menahan rasa kesalku.
"Kau dengar aku Aster?" Tanyanya penuh penekanan dengan sorot mata tajamnya.
"Ya," jawabku membalas tatapannya, "tapi sayangnya Carel tidak menganggap mu sebagai tunangannya. Jadi aku–" Lanjutku bersamaan dengan tangannya yang meraih bahuku dan mencengkeramnya dengan cukup keras.
"Apa yang kau katakan?" Tanyanya membuatku meringis saat merasakan cengkeramannya semakin mengeras.
"Aku ... hanya mengatakan apa yang–"
"Tutup mulutmu dan turuti saja apa kataku, jika tidak. Jangan salahkan aku jika hubungan keluargamu dengan keluarga Alterio hancur."
"Apa maksudmu?!"
Apa maksudnya? Setelah dia mengatakan hal yang sama dimalam itu, aku tetap tidak bisa mengerti niatnya. Mau dipikir berapa kalipun, aku tetap tidak bisa menemukan jawabannya. Dan lagi memangnya hubungan keluarga Veren dengan keluarga Alterio bisa dihancurkan dengan mudah? Batinku bertanya-tanya dengan jawaban yang belum ku temukan.
***
-Kalea-
Ku langkahkan kaki ku menuju ruang UKS dengan tergesa-gesa untuk menemui Aster, menjemputnya untuk kembali ke asrama bersama denganku. Namun detik berikutnya langkahku melambat saat melihat seorang perempuan keluar dari dalam UKS dengan ekspresi yang sulit untuk ku gambarkan.
Rasanya tidak asing, siapa ya? Batinku mencoba mengingat sosok perempuan yang baru saja berjalan melewatiku.
"Ah! Dia–" Lanjutku saat mengingatnya, dia adalah Lusy. Perempuan yang terus menempel pada Carel di pesta ulang tahun Aster malam itu. Selain itu, dia juga satu kelas dengan Carel.
"Kenapa dia keluar dari UKS? Apa dia sakit? Atau terluka?" Lanjutku bergumam, memperhatikan punggungnya yang semakin jauh dari pandanganku.
Ku tepis semua pertanyaan di dalam kepalaku dan kembali melanjutkan langkahku menuju ruang UKS yang tinggal beberapa langkah dari jarak ku berdiri saat ini.
"... entah kenapa aku tidak menyukainya," suara Nadin mengejutkanku, entah sejak kapan dia berdiri di belakangku yang hendak membuka pintu UKS dihadapanku.
"Nadin–kau membuatku terkejut!"
"Hhehe, maaf ...,"
"Kalian sedang apa disini?" Suara Aster membuatku kembali terkejut, aku tidak sadar kalau pintu dihadapanku sudah terbuka. Menampilkan sosok Aster yang terlihat bingung memperhatikanku dan Nadin.
"Kami–"
"Mau menemuimu." Ucap Nadin memotong ucapanku.
"Kamu mau kemana?" Lanjutku mengalihkan topik.
"Aku? Kembali ke asrama,"
"Benar juga, sudah waktunya pulang ya?" Gumam Nadin sambil melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
"Memangnya tadi kau tidak dengar suara bel?" Tanyaku membuatnya terkekeh dan segera menggaruk tengkuknya.
"... tidak, aku habis dari toilet. Saat mendengar kabar Aster dari Teo, aku langsung ingin menemuinya."
"Bagaimana bisa telingamu tidak mendengar suara bel yang nyaring itu?" Gumamku merasa tak percaya dengan pendengaran Nadin.
"Kalau begitu ayo kita kembali ke asrama Aster!" Lanjutku segera meraih tangan kirinya untuk ku gandeng.
"Ah–iya." Ucapnya sedikit terperajat.
Apa dia baru saja melamun? Batinku merasakan jarak yang semakin jauh antara aku dan Aster.
Padahal aku merasa hubungan kami sudah membaik, tapi kenapa Aster terlihat sangat tertutup? Apa dia tidak mempercayaiku?
"Kalian duluan saja, aku akan kembali ke kelas untuk mengambil tas dan barang-barangku yang lain." Tutur Nadin sebelum berlari meninggalkanku dan Aster.
"... kamu baik-baik saja Aster?"
"Ya?"
"... maaf, sepertinya aku melamun lagi hehe," lanjutnya sambil memaksakan suara tawanya.
"Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, kamu bisa menceritakannya padaku. Aku akan mencarikan jalan keluarnya untukmu." Jelasku setelah menghela napas letih.
Inginnya aku mendesak Aster untuk bercerita soal kesulitannya. Tapi aku tidak bisa melakukannya, mengingat aku pernah sangat jahat padanya. Pasti dia tidak akan mudah untuk mempercayaiku.
Meskipun akhir-akhir ini aku merasa semakin mengerti Aster, sepertinya ... aku terlalu percaya diri–sombong.
.
.
.
Thanks for reading...