
-Claretta-
Selama tiga hari terakhir ini aku jarang bertemu dengan Albert suamiku karena kesibukannya. Dan sore ini, entah ada angin apa, dia ingin bertemu denganku ditempat pertama kami bertemu.
Setelah menelponku dengan nada dinginnya, dia langsung mematikan sambungannya. Sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa moodnya jadi buruk begitu? Batinku bertanya-tanya.
"Kita sudah sampai nyonya." Suara supir membuatku bergegas keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki restoran keluarga yang tampak sepi pengunjung.
Sepertinya dia memesan restoran ini khusus untuk bertemu denganku. Suamiku ini sangat romantis bukan? Tapi ini kan bukan tempat pertama kalo kami bertemu ... kenapa mendadak pindah tempat? Batinku sedikit menyombongkan sosok Albert yang entah sejak kapan mulai mengisi hatiku.
Berkat semua kebaikan dan perhatian yang dia berikan padaku, rasanya aku tidak membutuhkan apapun lagi selain dirinya. Aku bahkan sudah memutuskan untuk berhenti melakukan balas dendamku pada keluarga Veren dan Victor. Keluarga yang sudah menghancurkan keluargaku dan memisahkanku dari ayah.
Ku lihat sosok suamiku yang sudah duduk di dekat jendela. Memperhatikan pemandangan diluar sana dengan sorot matanya yang sulit ku pahami. Tapi jika dilihat dari wajahnya, sepertinya dia sangat kelelahan.
"Kamu sudah sampai duluan sayang? Kenapa tidak memberitauku?" Tanyaku setelah sampai disampingnya dan meraih bahunya dengan telapak tangan kiriku.
Hening, tak ada jawaban. Ku lirik Geri yang berdiri tak jauh dari sisi Albert sebelum pandanganku kembali terfokus pada pria disampingku.
"A–ada apa sayang?" Lanjutku mencoba mencaritau situasiku saat ini bersamaan dengan tangan suamiku yang menepis tanganku dibahunya, membuatku terkejut dengan sikapnya yang seperti itu.
"Duduklah!" Titahnya membuatku mengangguk patuh saat melihat tatapan seriusnya.
"Ya." Ucapku tak bisa mengucapkan apapun lagi saking bingungnya. Yang ku bisa hanya menuruti ucapannya, bersabar dengan sikap dinginnya yang jarang ku lihat.
"Kau ... menyembunyikan fakta soal anak itu kan?" Lanjutnya membuatku terkejut setengah mati saat Albert menunjukan selembar foto Kalea kepadaku saat aku tengah membenarkan posisi duduk ku.
"Ap–apa? Itu ... anak yang kita temui di pesta kan?" Ucapku berusaha mengondisikan ekspresiku. Sebisa mungkin ku coba kendalikan tubuhku yang sedikit gemetar saking terkejutnya.
Bagaimana bisa dia mendapatkan foto Kalea? Lanjutku dalam hati, merasakan rasa takut yang sudah lama tidak ku rasakan.
"Anakmu dengan pria lain." Ucapnya berhasil membuatku terkejut untuk kedua kalinya, bahkan ekspresiku tak bisa ku kendalikan.
"Tidak itu–aku bisa jelaskan semuanya–" Sangkalku berusaha menjelaskan situasinya, namun ucapanku segera dipotong olehnya.
"Tidak perlu, aku sudah mengetahui semua kebenarannya. Kau hanya perlu menandatangani surat perceraian kita, itulah kenapa aku meminta bertemu denganmu disini." Tuturnya sambil meminta berkas ditangan Geri.
Jadi berkas yang dia pegang sejak tadi itu .... Batinku tak bisa berpaling dari berkas yang sudah beralih tangan pada suamiku.
"Tunggu! Kau mau menceraikan istrimu?" Tanyaku terlambat menyadari situasiku.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh melakukan hal itu?" Jawab pria itu balik bertanya dengan senyum sarkasnya yang sudah lama tidak ku lihat.
"Padahal kau sudah tau kalau aku sangat membenci pembohong. Tapi, kau malah sengaja membohongiku dan menyembunyikan fakta sebesar ini dariku," lanjutnya sambil menatapku dengan tatapan dinginnya.
"Itu–" Ucapku berusaha memberinya penjelasan, namun lagi-lagi dia memotong ucapanku.
"Kau bahkan menelantarkan anakmu, bersikap seperti orang asing padanya. Bagaimana bisa kau menjadi ibu yang baik untuk kedua putraku jika putrimu saja kau perlakukan seperti orang asing."
"Itu–ku mohon dengarkan penjelasanku dulu, aku–"
"Tidak ada yang perlu ku dengar, tanda tangan saja suratnya." Tegasnya sambil melemparkan berkas ditangannya keatas meja dihadapannya, membuatku sedikit terlonjak karena suara yang dihasilkan oleh berkas itu.
Bercerai? Aku tidak sedang bermimpi buruk kan? Dia bilang mau bercerai dariku karena anak itu? Anak yang ku coba sembunyikan darinya? Kenapa? Batinku bertanya-tanya karena tak bisa menebak isi pikiran suamiku.
Bagaimana tidak? Dia sendiri tak ada hubungannya dengan Kalea kan? Kenapa mendadak ingin bercerai denganku hanya karena tidak memberitaunya soal anak itu? Padahal dia mau menerimaku meski aku memberitaunya kalau aku pernah berhubungan dengan pria lain. Tapi sekarang? Dia mau menceraikanku karena anak itu?
"Tapi sayang, aku–" Lanjutku kembali dihentikan olehnya.
Bagaimana bisa dia mengetahui semuanya? Siapa yang memberitaunya? Apa mungkin– Batinku bertanya-tanya ditengah kebingunganku yang semakin menjadi. Bahkan sosok Victor dan Ansel sempat terlintas dalam kepalaku saat aku mencaritau siapa yang bisa memberikan informasiku pada Albert.
"Aku melakukannya karena membenci mereka. Karena mereka ayahku ...." Ucapku sambil mengeratkan kepalan tanganku untuk meredam emosiku, namun sebagai gantinya air mataku mulai berjatuhan.
Sakit, rasanya sangat sakit ditatap sedingin itu oleh orang yang ku cintai. Rasanya baru kemarin dia bicara akan melindungiku, akan berada dipihak ku apapun yang terjadi. Tapi sekarang, dia malah bersikap sedingin ini padaku. Menjadi orang yang memojokanku karena masa laluku.
Kenapa? Padahal aku sudah tak memperdulikan dendamku lagi, tapi ... kenapa disaat aku memutuskan untuk berhenti dan mulai menjalani hidupku dengan baik bersama orang yang ku cintai, semuanya ... malah kacau seperti ini? Batinku sambil menggigit bibir bawahku dengan kesal.
"Bagaimana bisa aku tertipu oleh perempuan licik sepertimu Claretta?" Suara pria dihadapanku menyadarkan ku dari lamunan singkatku.
"Seandainya kau memberitauku semua kebenarannya, mungkin aku bisa benar-benar melindungimu dan berada dipihakmu apapun yang terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, aku tidak bisa memihak orang yang telah merencanakan kematian orang lain kan?" Lanjutnya dengan senyuman tipisnya yang semakin menyayat hatiku.
"... apa mak–sudmu? merencanakan kematian, orang lain?" Tanyaku merasa terganggu dengan kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya itu.
"Kau tidak tau atau pura-pura tidak tau?"
"Apa?"
"Kau dan ibumu kan yang merencanakan pembunuhan nyonya Marta Veren?" Ucapnya dengan tatapan tajamnya.
Deg!
Jantungku berdetak kencang sekarang, rasanya seperti akan terlepas dari tempatnya saking terkejutnya dengan apa yang ku dengar.
"Kau bilang apa? Bagaimana bisa aku melakukan hal sejahat itu? Jangan menuduhku–" Sangkalku merasa kesal dengan tuduhannya itu namun lagi-lagi dia memotong ucapanku sesuka hatinya.
"Menuduh? Kau bercanda? Bukankah kau dengan ibumu memiliki dendam yang begitu besar pada keluarga Veren? Itu berarti ... bukan hal yang sulit untuk kalian menyingkirkan mereka kan? Dan lagi kau sampai mencampakan putrimu untuk membalaskan dendam mu–"
"Bukan aku yang mencampakan Kalea! Victor sendiri yang melarangku menemui putriku karena perjanjiannya dengan Ansel. Bagaimana bisa aku–"
"Lalu kenapa kau bersikap seperti orang asing pada putrimu di pesta waktu itu?"
"Itu ...."
Aku memang tidak bisa menemui putriku karena Victor melarangku karena perjanjian yang dia buat dengan Ansel. Tapi pada akhirnya aku bisa bertemu dengan Kalea berkat Victor juga setelah Ansel pergi ke Singapura bersama anak itu.
Tapi karena sudah lama tidak berkomunikasi dengan Kalea, dia jadi terlihat canggung dan terganggu dengan kehadiranku. Dan aku juga tidak mau membuatnya semakin terganggu dengan kehadiranku, apalagi setelah apa yang ku perbuat padanya selama ini.
Mungkin saja dia membenciku kan? Tidak mau melihatku lagi, jadi tanpa sadar aku mengatakan hal jahat padanya. Memberikan jarak padanya dan memintanya untuk bersikap seperti orang asing jika bertemu denganku secara tak sengaja. Semua itu demi anak itu.
Tapi kenapa? Kenapa sekarang semuanya jadi seperti ini? Duniaku hancur karena anak itu?Seandainya dulu aku tidak melakukan hal bodoh dengan menjebak Victor dan melahirkan anaknya, mungkin hidupku tidak akan berakhir seperti ini kan? Batinku kembali mengepalkan kedua tanganku.
"Geri, bagaimanapun caranya buat wanita itu menandatangani surat perceraiannya. Aku akan menunggu di mobil." Suara Albert meruntuhkan lamunanku, ku lihat dia mulai berjalan menjauhiku yang masih terduduk lemas ditempatku.
"Tunggu Albert!" Teriak ku berhasil menghentikan langkahnya, "tolong dengarkan penjelasanku dulu. ku mohon. Aku janji akan menandatangani surat perpisahan ini, tapi biarkan aku mengatakan yang sebenarnya." Lanjutku sambil menggebrak meja dihadapanku tanpa sadar.
"Untuk terakhir kalinya, ku mohon." Ucapku lagi dengan tubuh gemetarku.
.
.
.
Thanks for reading...