Aster Veren

Aster Veren
Episode 160




-Arsel-


Ku tatap orang-orang suruhan Aslan yang sudah berhasil di tangkap oleh anak buahku.


"Hmm ... jadi mereka ya yang sudah merencanakan kecelakaan itu?" Gumamku membuat mereka semua semakin tertunduk, berusaha menghindari tatapan langsungku.


"Ka–kami hanya–"


"Menerima perintah. Begitu?" Potongku sambil menjambak rambut salah seorang dari mereka.


"Kau tau? Aku paling benci dengan orang-orang seperti kalian yang menerima pekerjaan kotor dengan mencelakai orang lain, hanya demi uang yang tidak seberapa dibandingkan dengan nyawa kalian sendiri?" Lanjutku benar-benar tak bisa menahan amarahku lebih dari ini.


"Ka–kau tidak berhak menceramahi kami yang terlahir miskin." Tutur pria lainnya dengan suara bergetar.


"Tidak. Mau miskin atau kaya sekalipun, semua orang tidak berhak bermain-main dengan nyawa orang lain kan?" Kilahku sambil melepaskan jambakanku dengan kasar.


"Hha–haha, coba lihatlah dirimu sendiri tuan. Kau juga sedang bermain-main dengan nyawa kami kan?" Tutur yang lainnya sambil terkekeh, membuat rasa kesalku semakin memuncak.


Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu disaat dia duluan yang mencari masalah dengan keluargaku? Apa dia bodoh?


"Apa kau pikir aku akan menghajar kalian jika kalian tidak menyentuh keluargaku? Ah tidak-tidak, penjelasanku terlalu rumit. Begini saja, apa kau akan diam saja jika salah satu keluargamu dibuat tak sadarkan diri dengan cara keji seperti yang kau lakukan pada keluargaku?" Jelasku sambil berjongkok dihadapan pria berambut ikal yang terkekeh sebelumnya.


"Ah! Atau jangan-jangan kau tidak tau rasanya karena kau tidak memiliki keluarga?" Lanjutku menatapnya dengan tajam.


"To–tolong ampuni kami tuan. Kami hanya–" ucap pria yang sebelumnya ku jambak, memohon ampun.


"Beri mereka pelajaran, setelah itu baru serahkan mereka ke kantor polisi." Potongku membuat semua anak buahku bergerak mendekati ketiga pria itu.


"Tuan, saya mohon! Saya tidak bisa dipenjara, jika saya dipenjara. Bagaimana dengan anak dan istri saya?" Teriaknya tak ku perdulikan.


Harusnya dia memikirkan nasib keluarganya sebelum bertindak sejauh ini. Sudah begini baru memohon minta dilepaskan. Dia pikir aku perduli? Apa jaminan mereka tidak akan berbuat hal seperti ini lagi jika aku melepaskan mereka? Toh dilihat dari wajah mereka, mereka bukan orang yang mudah kapok.


Maka dari itu, untuk membuat mereka kapok. Mereka harus merasakan balasan yang pantas untuk perbuatan mereka. Meski sejujurnya aku ingin menghukum mereka lebih kejam dengan menggunakan kedua tanganku. Tapi ku urungkan karena aku tidak mau mengotori tanganku untuk orang-orang seperti mereka.


Dreet dreet!


Getar ponselku membuatku bergegas mengangkat panggilan masuk dari nomor rumah sakit.


***


-Sean-


"Lesu banget," ucap Hendric yang tiba-tiba duduk disampingku.


Saat ini aku tengah duduk di kursi kosong disamping lapangan olahraga, memperhatikan semua orang yang sedang berolahraga untuk mengisi nilai olahraga mereka.


"Kau tidak akan mengambil nilai?" Lanjutnya kembali angkat suara.


"Hah~ aku pergi." Jawabku setelah menghela napas panjang. Entahlah, rasanya sangat membosankan karena tidak ada Aster. Padahal dulu anak itu yang mendatangiku untuk menjadi partner bermain basketnya. Tapi sekarang, dia malah berhenti dari akademi.


Entah sejak kapan aku mulai memperhatikannya, tak bisa mengalihkan pandanganku dari sosoknya yang terlihat menggemaskan jika sedang marah. Ekspresi sedih dan bahagianya pun terlihat menggemaskan, dan sekarang semua ekspresi itu tidak bisa ku lihat lagi.


Rasanya seperti ditinggalkan oleh cahaya matahari ..., batinku tak bisa menggambarkan sosok Aster dalam hidupku.


"Bersemangatlah kawan. Dunia tidak akan hancur hanya karena tidak ada Aster disini." Suara Tia sambil menepuk bahuku dengan cukup kuat sampai membuatku memekik.


"Hhehe, Aster pasti baik-baik saja sekarang. Jadi berhenti memasang ekspresi jelek seperti itu. Kau membuat para penggemarmu lari ketakutan tau!" Lanjutnya membuatku mendengus kesal saat mendengar penuturannya.


"Siapa juga yang perduli dengan mereka?" Gumamku menggerutu.


"Hee... kau tidak perduli pada perempuan lain selain Aster?" Ucapnya nyaris berteriak membuatku refleks menutup mulutnya dengan kedua tanganku.


Sebenarnya ada apa dengan anak ini? Kenapa dia selalu menggangguku sejak kepergian Aster. Apa dia berniat menghiburku? Atau menjadikanku bahan candaannya saja? Apapun itu, semuanya sangat menyebalkan bagiku.


"Sean!" Teriak Nadin membuatku menoleh kearahnya, "giliranmu." Lanjutnya membuatku bergegas mendekatinya.


Guru olahraga meminta Nadin untuk mengambilkan nilai seluruh anak kelas selagi dia pergi keluar. Ya, Nadin bilang guru olahraga sedang memiliki urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan di luar akademi.


"Satu menit oke, dan kau hitung sendiri berapa banyak bola yang berhasil kau masukan ke dalam ring basket." Tuturnya sebelum meniup peluit yang menggantung dilehernya, lalu disaat bersamaan dia juga menekan tombol kecil di stopwatch yang dia pegang.


***


-Teo-


Ku urungkan niatku untuk masuk ke kamar mandi saat mendengar suara Carel dari dalam. Alisku mengerut bingung saat mendengar suaranya. Iya, aneh! Kenapa anak itu datang ke toilet gedung tempatku belajar? Bukankah di gedungnya juga ada toilet?


"... aku sudah bersabar untuk menunggumu memberitauku rahasia yang kau maksud. Jadi cepat katakan padaku apa yang kau rahasiakan dariku!" Tuturnya terdengar kesal. Entah sedang berbicara dengan siapa dia.


"Jangan main-main denganku Dwi!" Lanjutnya membuatku refleks mengatakan oh.


Rupanya anak itu sedang menerima panggilan dari kakaknya, dan dia sedang menagih janji kakaknya.


"... apa harus aku yang memberitahunya?" Gumamku merasa kasihan pada teman sekamarku itu, dia pasti sangat kebingungan sekarang.


"Tidak! Aku harus tetap menutup mulutku jika ingin tetap mendengar kabar Aster." Lanjutku sambil menggelengkan kepalaku, menepis niat baik ku untuk memberitau Carel.


Ini semua demi kebaikan mereka berdua, begitulah pikirku sebelum pergi dari depan pintu toilet.


"Teo?" Suara Kalea yang baru keluar dari toilet perempuan, berpapasan denganku.


"Lea." Balasku menyapanya.


"Kau darimana? Apa pelajaran olahraganya sudah selesai?" Tanyanya membuatku refleks mengusap tengkuk ku.


"Yaa, aku habis dari toilet." Jawabku, meski tidak jadi. Lanjutku dalam hati.


"Bagaimana tesnya?"


"Lumayan. Aku bahkan bisa memasukan bola basket lebih banyak dari yang lainnya." Jawabku menyombongkan diri dengan membusungkan dadaku, entahlah tiba-tiba saja aku ingin bersikap kekanakan dihadapan Kalea.


"Benarkah? Ternyata Teo hebat juga ya ...," ucapnya memujiku dengan tangan kanannya yang sudah meraih puncak kepala ku, mengelusnya dengan lembut membuat suasana hatiku membaik.


"... mau ku antar ke depan kelasmu?" Tawarku membuat senyumannya merekah. Rasanya hatiku lega saat melihat Kalea sedikit lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya. Apa itu artinya dia sudah mulai terbiasa tanpa Aster?


"Ayo pergi!" Seru Kalea sambil meraih tanganku dan pergi bergandengan tangan menuju kelasnya.


"Bagaimana pelajaran mu hari ini?" Tanyaku kembali angkat suara sambil merapikan poni rambutnya yang sedikit berantakan.


"Baik, tapi ... ada sedikit pelajaran yang tidak ku mengerti." Jawabnya setelah menghela napas letihnya.


"Mau belajar bersama? Kita bisa pergi ke perpustakaan saat jam pelajaran sudah selesai." Tanyaku lagi membuatnya mengangguk cepat, masih dengan senyuman hangatnya.


"Ya, ayo pergi!"


.


.


.


Thanks for reading...