Aster Veren

Aster Veren
Episode 221




-Aster-


Setelah melakukan banyak pembicaraan dengan Kalea, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kediamannya karena aku harus pergi beristirahat.


Aku juga tidak bisa mengabaikannya yang terlihat begitu terkejut dengan ucapan ayah yang memintanya untuk terbiasa memanggil ayah dengan sebutan tuan Ansel. Padahal selama ini ayah tidak pernah protes mengenai panggilan itu, bahkan seingatku dia sudah memberikan izin pada Kalea untuk memanggilnya ayah.


Apa itu cuma ilusiku saja ya?


"Tapi syukurlah aku berhasil menghiburnya." Lanjutku mengingat pembicaraan kami di rumah kaca.


Aku benar-benar terkejut saat mendapatinya tengah menangis sendirian, aku bahkan tidak tau kemana perginya Carel dan Teo. Mau tak mau aku harus mencari cara untuk menenangkannya.


"... kenapa tiba-tiba aku merasa malu dengan pembicaraanku dan Kalea siang ini ya?" Gumamku tiba-tiba mengingat pembicaraanku tentang Carel.


Karena aku tidak tau harus menghiburnya dengan cara apa, aku memutuskan untuk menceritakan kegelisahan ku pada Kalea setelah mengorek sedikit ingatan di masa lalu ku, saat Kalea berniat menolongku dan berteriak padaku untuk lebih terbuka padanya.


Dan lagi, ada satu hal yang membuatku terkejut saat mendengar cerita tentang Carel dari Kalea. Aku bahkan tidak mempercayai ceritanya itu, tapi entah kenapa ceritanya jadi semakin menggangguku sekarang.


Aku benar-benar tidak menyangka kalau Carel terus mencariku tanpa sepengetahuan siapapun, padahal aku sudah membuat rekayasa kematianku hari itu. Tapi kenapa dia terus mencari orang yang sudah dikabarkan mati?


Apa karena tidak adanya bukti nyata selain dari potongan kain yang dengan paksa disobek dan dibakar sedikit? Lalu diberikan sedikit darah? Dipikirkan seperti apapun, jelas tindakannya sangat gila.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat itu? Apalagi saat aku mendengar kondisi Carel ketika baru-baru mendengar kabar kematianku dari Kalea. Batinku tak bisa membayangkan sedikitpun mengenai perasaannya dan ekspresi yang dibuatnya saat itu.


"Kalau benar dia sampai dikira gila karena menganggapku masih hidup oleh orang-orang disekitarnya, bukankah itu keterlaluan? Tidak, aku tidak berhak mengomentarinya karena aku tidak merasakan penderitaannya saat itu ... tapi, begitu ya, ternyata masih ada orang yang mengharapkan ku masih hidup." Lanjutku bergumam sambil memeluk lututku yang sudah duduk diatas tempat tidurku.


***


"Selamat pagi kakak." Sapa Khael saat aku masuk ke dapur dan berjalan ke dekatnya.


Ku lihat dia sudah tersentuh lebar sambil duduk di kursinya, terlihat menggemaskan.


"Pagi Khael," sapaku balik sambil menarik kursi di dekatnya dan mendudukinya, "dimana paman Arsel?" Lanjutku tidak menemukan siapapun di ruang makan, hanya ada Khael, Hana dan Mila yang menghidangkan sarapan pagiku.


"Ayah, dia sudah pergi mengantar mama kerja." Jawabnya dengan mulut yang masih terisi penuh dengan makanan.


"Begitu ya ...," gumamku tak ingin menanyakan apapun lagi karena tampaknya Khael sedang begitu menikmati makanannya. Apalagi saat melihat binar matanya yang terlihat bercahaya selagi mulutnya mengunyah.


"Kalian sudah mulai sarapan tanpaku?" Suara ayah mengejutkanku.


"Selamat pagi tuan." Ucap Hana dan Mila bersamaan.


Tanpa membalas sapaan kedua pelayannya, ayah langsung berjalan kearah kursinya dan duduk di sana. Mila yang melihatnya bergegas menyiapkan sarapan pagi ayah dengan cekatan.


Dilihat dari penampilan ayah, sepertinya dia sudah bisa makan dengan benar terlihat dari perubahan tubuhnya yang lebih berisi. Syukurlah jika bebannya sedikit berkurang.


"Bagaimana kondisimu sekarang?" Tanya ayah tiba-tiba, membuatku tersedak dan langsung meraih air minumku untuk mendorong makanan yang tersangkut di tenggorokanku.


"Uhuk, ba—baik. Lukanya juga sudah kering." Jawabku setelah berhasil mengendalikan diriku yang terbatuk.


"Baguslah kalau begitu." Ucapnya sebelum melahap makanan di sendoknya.


Rasanya masih sedikit canggung untuk berbicara dengan leluasa seperti dulu. Apalagi setelah kejadian malam itu, aku bahkan tidak pernah menduga kalau aku akan meluapkan semua perasaanku dan menangis dalam pelukan ayah. Benar-benar memalukan.


"Ada apa?" Tanya ayah saat menyadari perhatianku terus tertuju padanya. Dengan cepat ku palingan wajahku darinya dan kembali pada makanan dihadapanku.


Apa ayah tidak merasa canggung sepertiku? Apa hanya aku yang merasa canggung sendirian? Seperti orang bodoh? Batinku merasa bodoh sendirian.


Entahlah, rasanya aku harus bertemu dengan mereka setelah berpisah selama beberapa minggu begitu saja. Aku juga merasa harus bertemu dengan paman Tesar dan bibi, ada begitu banyak hal yang ingin aku katakan pada mereka. Jadi aku ingin meminta izin keluar dari ayah.


"Ya?"


"Itu ... bisakah aku pergi keluar selama beberapa hari?" Tanyaku merasa ragu dan takut dengan respon yang akan diberikan ayah.


"Beberapa hari?" Kernyitnya terlihat bingung dan mengusaikan sarapan paginya.


"Ah—itu, aku ingin pergi menemui paman Tesar dan bi Nina. Aku juga ingin bertemu dengan teman-temanku, Dean dan Sarah. Apa tidak boleh?" Jelasku membuat ayah membisu cukup lama, entah kenapa melihatnya diam seperti itu membuatku semakin takut.


Apa pada akhirnya aku tidak boleh pergi?


"Hah~ sepertinya aku memang tidak bisa mengizinkanmu. Maafkan aku, tapi sebagai gantinya, aku akan membawa mereka ke sini. Tidak masalah kan?" Ucap ayah kemudian membuatku tersentak dengan keputusannya yang tidak bisa ku pahami.


Tidak, sebenarnya aku tau kalau ayah masih takut dengan situasi yang tidak bisa diprediksi setelah aku mengalami luka parah beberapa minggu lalu, tapi membawa mereka ke rumah ... apa itu tidak masalah?


"Mila, panggilkan Hans untuk datang ke ruangan ku sekarang." Lanjut ayah sambil berdiri dari posisi duduknya.


"Tunggu dulu, sarapan! Ayah belum selesai sarapannya—"


"Tidak apa-apa, aku sudah kenyang." Potong ayah membuatku tak bisa berkata apapun lagi untuk mencegah kepergiannya, apalagi aku meminta izin di saat ayah sedang begitu menikmati sarapan paginya.


Harusnya aku tunggu sampai ayah selesai sarapan dulu ..., batinku merasa menyesal karena sudah membuka pembicaraan yang tidak berguna dengan ayah. Padahal aku tau kalau kondisi ayah juga tidak bisa dikatakan baik, tapi bisa-bisanya aku malah memikirkan perasaanku sendiri.


"Ada apa dengan wajahmu itu?" Kali ini suara Carel yang berhasil mengejutkanku, ku lihat dia sudah duduk disampingku dengan salah satu tangannya yang bertopang dagu memperhatikanku.


Aku yang melihat wajahnya begitu dekat denganku, tak bisa merespon pertanyaannya dengan benar. Entahlah, mungkin karena aku tiba-tiba teringat kembali dengan pembicaraanku bersama Kalea kemarin.


"Kau demam? Wajahmu merah sekali ...," lanjut Carel sambil meraih keningku dengan telapak tangan satunya membuat jantungku semakin berdegup cepat.


"Ti—tidak. Kenapa kau datang sepagi ini?" Kilahku sambil menepis tangan pria itu dan kembali pada makanan dihadapanku.


"Apa kau tidak ada kerjaan lain?" Lanjutku mendengus, berusaha menutupi rasa maluku.


"Tidak ada." Jawabnya membuatku menoleh kembali padanya sambil mengunyah makanan di dalam mulutku, ku lihat dia sudah menunjukan senyuman lebarnya.


"Jadi bagaimana kalau kita pergi keluar hari ini?" Lanjutnya membuatku terkejut.


"Keluar? Itu tidak mungkin."


"Kenapa?"


"Ayah—dia tidak akan mengizinkannya."


"Kalau begitu, kita pergi diam-diam saja." Usulnya kembali menunjukan senyuman lebarnya.


"Tidak boleh!" Seru Khael yang sejak tadi bungkam, tapi saat mendengar ucapan Carel dia langsung angkat bicara. Aku lihat dia juga sudah menghabiskan sarapan paginya. Sangat pintar ya? Cepat sekali dia menghabiskan sarapannya.


.


.


.


Thanks for reading...