
-Aster-
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu terlihat sangat kesal?" Tanya bibi mengingatkanku pada Dean.
"Bibi tau? Dean, anak itu—" Ucapku terhenti saat melihat seorang pria terus memperhatikanku di sudut toko dengan roti di tangannya.
Siapa?
"Ada apa dengan Dean?" Tanya bibi kembali mengalihkan perhatianku.
"Tidak ada, bibi pasti lelah kan? Pergilah beristirahat, biar aku yang menutup tokonya." Tuturku saat melihat waktu sudah menunjukan pukul 06:05 sore.
"Tapi ini masih sore—"
"Tidak apa-apa, kita sudah bisa menutup toko seperti hari biasanya." Jelasku mengingat toko sudah kembali ramai jadi toko tidak harus buka sampai pukul tujuh malam. Paman juga bilang untuk menutup toko lebih cepat jika tidak ada paman di rumah.
"Ngomong-ngomong bibi, kapan paman pulang?" Lanjutku mengingat paman belum pulang dari kemarin. Membuatku kepikiran dengan pekerjaan yang diberikan tuan Albert padanya. Apa pekerjaannya begitu sulit?
"Tidak tau, dia belum menghubungiku lagi sejak kemarin."
"Begitu ya ...,"
"Kalau begitu, bibi ke atas duluan ya. Kamu cepatlah tutup toko dan pergi beristirahat juga." Tutur bibi sebelum meninggalkanku.
Dilihat dari ekspresinya, sepertinya bibi belum benar-benar sembuh. Tubuhnya juga lebih kurus dari sebelumnya karena bibi terus-terusan menolak untuk makan dengan alasan tidak selera.
Aku harap kesedihan bibi segera berlalu ...,
"Ekhem! Jadi, bisa beritau aku kenapa kamu terus berdiri disana?" Ucapku kemudian setelah memastikan bibi pergi dari hadapanku.
Ku lihat pria itu terperajat dan menghela napas sebelum melangkahkan kakinya mendekatiku, lalu tangannya meletakan satu bungkus roti di meja kasir sedangkan tangan satunya melepaskan masker yang dia kenakan.
Carel? kenapa? Batinku saat melihat wajah pria itu.
"Aku ...,"
"Ya—iya?" Sahutku yang sempat hilang fokus karena wajahnya yang terlihat seperti tembok itu, tapi sorot matanya begitu tajam menatapku. Seperti sedang mencari sesuatu?
Jangan bilang dia mengenaliku? Tidak mungkin kan?
"Bisa aku tinggal di sini untuk dua hari ke depan?" Tanyanya membuatku terkejut setengah mati saat mendengar ucapannya yang tanpa basa-basi itu.
"Apa?"
"Aku sudah mencari tempat tinggal disekitar sini, tapi aku tidak—"
"Tidak!" Potongku segera menolaknya dengan tegas. Bagaimana bisa aku membiarkannya tunggal satu atap denganku? Padahal aku sedang dalam persembunyian.
"Aku bisa membantumu di dapur dan di toko jika kau mau." Tawarnya membuatku sedikit tergiur, apalagi saat mengingat Dean yang sudah harus kembali ke sekolah besok. Paman juga belum kembali, itu artinya aku akan bekerja sendirian kan?
Atau ku tutup saja tokonya ya? Lagipula aku baru belajar memanggang roti kemarin, lalu hari ini aku mempelajari cara membuat roti dari Dean dan bibi. Aku kurang percaya diri jika membuat roti sendirian. Batinku segera menggelengkan kepalaku saat melihat sosok Carel yang terlihat bingung menatapku.
"Ti—tidak bisa." Tolak ku lagi sambil menggebrak meja kasir dihadapanku.
"Kenapa?" Tanyanya terlihat tidak suka dengan jawabanku, "kalau begitu aku akan membayar biaya menginapku jadi—" Lanjutnya kembali ku potong, entah kenapa tiba-tiba dia ingin tinggal di rumah paman. Bukankah itu sangat mencurigakan? Apalagi dengan kegigihannya itu.
"Tidak bisa, apa kau tidak mengerti dengan kata tidak? Lagipula tempat ini bukan penginapan."
"Kau benar-benar tidak punya hati." Ucapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ku pahami, entah itu sedih atau kesal? Aku tidak tau. Yang ku tau kepalaku tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini, mau dipikirkan sebanyak apapun aku tetap tidak bisa menemukan alasan anak ini tiba-tiba ingin tinggal di sini.
Dari sekian banyak tempat, kenapa dia tidak pergi ke penginapan saja?
***
Ku hela napas letihku saat melihat Carel keluar dari kamar mandi dengan pakaianku yang dia kenakan. Aku tidak tau kenapa akhirnya dia bisa masuk ke rumah ini, yang ku ingat tiba-tiba bibi muncul dan mengizinkannya untuk tinggal selama yang dia mau dengan syarat membayar uang penginapan seperti yang anak itu bilang.
Dilihat dari gerak-geriknya, sepertinya bibi berencana untuk membayar kembali uang yang sudah ku berikan padanya dan paman.
Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini? Apa bibi tidak tau kalau nyawaku sedang terancam sekarang? Atau tidak?
"Faren sini makan malam bersama." Teriak bibi membuatku menghela napas panjang sebelum bangkit dari tempat duduk ku dan berjalan ke arah dapur. Ku lihat Carel sudah duduk di tempatnya bersama dengan bibi.
"Wah ... hari ini bibi masak banyak ya?"
"Sepertinya aku terlalu bersemangat. Terakhir kali aku masak sebanyak ini saat ada Dean dan Yuna."
"Benar." Ucapku sebelum meraih air minumku.
Ah rasanya sangat sakit ... kapan terakhir kali aku bicara dengan normal? Akhir-akhir ini aku jadi sulit menggunakan suara asliku karena banyaknya situasi tak terduga disekelilingku. Tubuhku juga rasanya sangat letih.
"Uhuk! Uhuk, apa yang kau lihat?" Tanyaku setelah terbatuk ketika bertemu tatap dengannya, "makan makananmu." Lanjutku kembali menyantap makananku dengan gelisah. Entahlah, setelah melihatnya begitu memperhatikanku membuatku semakin tidak tenang.
"Aku selesai." Putusku mengusaikan makan malamku karena tidak tahan dengan tatapannya itu.
"Eh? Sudah selesai? Tapi makananmu kan belum habis." Tanya bibi terlihat khawatir.
"Aku sudah kenyang."
"Ba—baiklah."
Ku langkahkan kakiku menuju wastafel dan mencuci piring bekas dan gelas bekasku sebelum pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi.
Meski rencananya pergi menonton televisi, tapi aku benar-benar tidak bisa menonton dengan tenang. Pikiranku malah semakin liar berkelana, memikirkan alasan anak itu tinggal di sini.
Sampai aku tidak menyadari waktu sudah berlalu dengan cepat, dan sekarang sudah menunjukan pukul 10:45 malam, bibi sudah pergi tidur satu jam yang lalu dan sekarang aku terjebak dengan Carel di ruang keluarga.
"Berhenti menatapku seperti itu! Kau membuatku takut." Ucapku kemudian setelah mengumpulkan seluruh keberanianku.
"Takut?" Gumamnya dengan kerutan di keningnya membuatku menjauh dari dekatnya dan berpindah tempat duduk sambil memeluk bantal kecil ditanganku.
"Pergi tidur sana!" Seruku setelah berhasil menenangkan diriku dan kembali terfokus pada berita malam yang sedang ku tonton.
"Kau benar tapi ...," ucapnya tak melanjutkan ucapannya saat suara seorang pembawa berita menarik perhatianku.
Mataku benar-benar membelalak saat mendengar ucapannya, apalagi saat membaca judul berita yang tertera disana.
Apa maksudnya ini? Kenapa beritanya bisa jadi seperti ini? Maksudku menyamar sebagai perempuan lain saat menjual cincin, itu kan supaya keberadaanku tidak diketahui. Tapi kenapa sekarang aku merasa jadi buronan lagi? Dan lagi saat ini Carel—
"Apa kau mengetahui perempuan yang dimaksud di sana?" Suaranya membuatku menoleh padanya yang sudah menunjuk layar televisi dengan ekspresi datarnya yang terlihat menakutkan.
"Ti—tidak, mana mungkin."
"Tapi dari reaksimu—"
"Apa? Kenapa dengan reaksiku? Aku hanya terkejut dengan barang Veren yang di jual itu. Dan lagi ... bu—bukankah pemiliknya sudah meninggal setengah tahun lalu?" Potongku berusaha menghilangkan rasa gugupku. Tapi Carel malah semakin tajam menatapku.
Rasanya jantungku akan melompat keluar.
"... jika dugaan pertama salah. Apa mungkin putri keluarga Veren masih hidup?" Suara pembawa berita itu mengejutkanku sekali lagi.
Sial! Aku tidak berpikir sampai ke sana sebelum menjual cincin ibu. Yang ku pikirkan hanya bagaimana menolong paman dan bibi. Dan lagi, kenapa berita ini sampai muncul? Aku kan menjualnya pada pedagang perhiasan di pasar gelap. Tapi .... Batinku terhenti saat mengingat beberapa data yang sempat ku periksa saat mengurus pekerjaan ayah dulu.
Aku lupa kalau keluarga Veren lebih banyak mengurus kasus di dunia bawah. Lalu, sekarang bagaimana? Aku tidak mau ditemukan ... apa yang harus ku lakukan? Ibu, nenek ..., lanjutku masih dalam hati sambil menggigit bibir bawahku dengan gemas.
.
.
.
Thanks for reading...