Aster Veren

Aster Veren
Episode 59




-Carel-


Waktu sudah menunjukan pukul 03:20 sore, ku lihat Aster dan Khael sudah terlelap dalam tidur mereka dengan tubuh mereka yang bersandar pada sofa yang menghadap kearah piano besar yang sedang ku mainkan.


Sudut bibirku terangkat saat melihat kedua anak itu terlelap dengan wajah damainya, kepala Khael bersandar pada bahu Aster dengan salah satu tangannya memegangi biola dipangkuannya. Dan kepala Aster bersandar pada kepala mungil Khael dibahunya dengan tangan kanan yang menggenggam sebuah buku musik.


"Sepertinya mereka sudah lelah bermain." Gumamku masih memainkan jemariku diatas tuts piano, memainkan lagu Chopin - Nocturne op.09 No.02.


Rasanya melegakan ... perasaan rinduku benar-benar terbayarkan setelah bermain musik bersama Aster seperti dulu lagi. Batinku sambil tersenyum mengingat permainan biolaku dan Aster sebelum dia terlelap bersama Khael.


Namun tak lama kemudian ingatan menyebalkan itu kembali berputar dalam kepalaku tepat setelah aku selesai bermain piano.


"Ck! padahal aku pergi dari rumah untuk melupakan pembicaraanku dengan kakek. Kenapa sekarang malah teringat lagi? Menyebalkan!" Gumamku setelah berdecak kesal.


Bagaimana bisa kakek bersikap seperti itu? Bahkan ayah tidak membelaku saat aku membantah keinginan kakek. Batinku mengingat kembali perdebatanku dengan kakek dan ayah semalam.


Setelah kembali dari kediaman keluarga Veren, aku dibimbing menuju ke ruang kerja ayah oleh Tomi. Dan hal pertama yang kakek katakan adalah "Kamu harus masuk ke sekolah itu dan membersihkan nama baikmu sebelum menjadi penerus keluarga Alterio berikutnya." dengan ekspresi seriusnya.


Sorot mata ayah juga menekankan kalau aku tidak akan bisa membantah keputusan kakek.


"Bukankah sudah pernah ku katakan kakek? Aku tidak akan menjadi penerus–" Tuturku terhenti saat melihat tatapan kakek yang begitu menusuk. Dengan susah payah ku kumpulkan semua keberanianku untuk kembali melanjutkan ucapanku.


"Bukankah tidak adil menekanku seperti itu? Kenapa kalian tidak menanyakan keputusanku? Apakah perasaanku tidak dibutuhkan?" Tanyaku berusaha berbicara setenang mungkin menatap manik merah kakek dan ayah secara bergantian.


"Kau pikir setelah membuat keributan besar tahun lalu, kau bisa menentukan apa mau mu?" Tanya kakek membuka ingatakanku satu tahun lalu.


Saat itu aku terlibat dalam perkelahian kecil di gang sempit bersama dengan Teo, ya seharusnya memang perkelahian kecil. Entah bagaimana perkelahian kecil itu menjadi perkelahian besar untuk ku.


Aku berkelahi untuk menolong Teo yang diganggu oleh anak-anak nakal, lalu emosiku memuncak saat melihat Teo terkapar dengan luka lebam di wajahnya, darah segar juga mengalir dari hidungnya dan pergelangan kakinya patah bersama seluruh pakaiannya yang kotor.


Tanpa pikir panjang akupun memukul ulu hati anak-anak itu dan mematahkan kaki mereka tanpa ampun meski mereka sempat merengek minta diampuni, aku tak perduli seolah-olah telingaku mendadak tuli dan mataku mendadak buta saat emosiku sudah terlanjur meledak. Saat itu yang ku pikirkan hanya memberi mereka pelajaran.


Sialnya hari itu ada seseorang yang melihat kejadian buruk itu terjadi, dan sepertinya dia langsung menghubungi polisi. Terbukti dengan berdatangannya para polisi dan mobil ambulance ke tempat kejadian perkara.


Teo segera dilarikan ke rumah sakit bersama anak-anak yang sudah menghajarnya. Dan aku dibawa ke kantor polisi sebagai penjahatnya, siapapun akan mengira aku sebagai penjahatnya setelah melihat Teo dan anak-anak itu terkapar meringis kesakitan dihadapanku yang masih bisa berdiri dengan luka ringan dipelipis dan sudut bibirku.


Kakek dan Ayah yang mendapat telpon dari kantor polisi pun langsung menjemputku dan memberikan uang pengobatan pada semua keluarga anak-anak yang sudah ku hajar itu.


Disaat seperti itu pun aku masih sempat bersyukur karena Teo tidak melihatku mengamuk karena dia hilang kesadaran setelah menerima tendangan dari salah satu anak yang terlihat seperti pimpinan anak-anak lainnya. Meski aku sangat menyesal karena terlambat menyelamatkannya, dia jadi harus memerima luka separah itu dan harus dirawat inap karena tulang rusuk dan pergelangan kakinya patah.


Sesampainya di rumah, kakek langsung menghukumku dengan mengurungku di dalam kamar selama satu minggu penuh dengan pengawasan ketat dari para pelayan setelah memberikan tamparan keras diwajahku.


Sejak kejadian itu, gosip buruk tentangku pun mulai tersebar di sekolah dan reputasi keluargaku sedikit tercoreng berkat orang-orang kakek dan ayah. Jika bukan karena mereka mungkin reputasi keluarga Alterio sudah tak tertolong lagi.


"Carel, bukankah sejak awal kita sudah pernah membahasnya?" Suara ayah meruntuhkan lamunanku saat itu, dan ku lihat dia sudah menunjukan senyuman tipisnya yang menyebalkan.


"Aku juga yakin sudah menolaknya!"


"Kau hanya perlu masuk ke sekolah itu dengan jalur partner, aku sudah membicarakan hal ini dengan Victor dan kau bisa masuk sebagai partner putrinya." Jelas kakek setelah menghela napas berat sambil menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi kerja yang didudukinya. Sedangkan Ayah yang berdiri disamping kakek hanya bisa melirik sekilas kearahnya.


"Tidak mau, aku tidak tertarik masuk ke sekolah yang tidak ingin ku masuki." Tegasku berusaha mengatur emosiku sendiri.


"Turuti saja apa kata kakekmu, itu semua demi kebaikanmu. Lagipula tidak akan ada sekolah bagus yang mau menerimamu setelah mendengar berita buruk tentangmu–" Tutur Ayah sambil menepuk pundak ku dengan telapak tangan kanannya dan segera dipotong oleh kakek.


"Jika saja kau tidak bertindak bodoh dan berkelahi dengan anak-anak itu, aku tidak akan kesulitan memperbaiki reputasi keluarga kita." Jelas kakek membuat hatiku semakin terluka.


"Sudah ku duga ... pada akhirnya yang kalian perdulikan hanya reputasi keluarga Alterio," tuturku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku sambil menepis tangan ayah dari bahuku.


... sebenarnya salah siapa aku tumbuh menjadi seperti ini? Apa salah kalau aku kesal karena temanku terluka akibat anak-anak itu? Tidak kah kalian terlalu sibuk bekerja? Tidak kah kalian berpikir aku butuh perhatian dari kalian? Aku juga ingin dipehatikan. Beritau aku hal apa yang boleh dan tidak boleh ku lakukan, beritau aku bagaimana seharusnya aku bertindak disaat-saat terdesak seperti itu. Beritau aku cara mengendalikan emosi yang benar. Katakan langsung padaku, jangan meminta Tomi untuk menjelaskan semuanya dan menggantikan tugas kalian sebagai orang tuaku.


"Hah~ aku mengerti sekarang ... aku yang dulu masih terlalu kecil untuk mengerti alasan kakak pergi dari rumah, akhirnya aku mengerti sekarang." Gumamku sambil menghela napas panjang mengingat hari kepergian kakak.


"Carel?" Suara Aster meruntuhkan lamunanku, dengan cepat ku palingkan wajahku kearahnya yang sudah berdiri disampingku dengan ekspresi khawatirnya.


"Ada apa? Kenapa melamun?" Lanjutnya bertanya.


"Kau sudah bangun?" Tanyaku berusaha menghindari pertanyaannya. Bukan apa-apa, aku hanya tidak mau membuatnya khawatir dan aku tidak mau melibatkannya dalam masalah pribadiku.


"... sepertinya aku ketiduran, Carel sendiri kenapa melamun? Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Tidak ada."


"Bohong!"


Tangan Aster langsung mencubit pipiku dengan gemas mirip dengan ekspresi menggemaskan yang sedang dia buat sekarang. Tatapan kesal nan tajam menatap dalam pada mataku, pipinya juga sudah dibuat lebih chubby. Tampaknya dia kesal dengan jawabanku.


"Aduh, sakit tau!" Ucapku segera melepaskan cubitannya, "... aku tidak memikirkan apapun, sungguh." Lanjutku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku yang mungkin terlihat aneh dimatanya. Bahkan aku bisa merasakan seberapa kakunya wajahku sekarang.


"Ya baiklah, terserah kau saja. Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita." Dengusnya kesal sambil duduk disampingku dengan ekspresi kesalnya yang menggemaskan. Lalu jemarinya mulai menyentuh tuts piano dan mulai memainkan lagu Chopin - Nocturne Op.9 No.1.


"Ternyata kau bisa main piano dengan wajah jelek seperti itu ya ...." Ejek ku tak didengarkan.


Ya, baiklah dia benar-benar marah padaku karena tidak bisa menyembunyikan ekspresi berbohongku darinya. Lagipula aku tidak mungkin memberitau pertengkaranku dengan Kakek dan ayah kan?


Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin ku lakukan, kenapa sulit sekali? Batinku mengingat suara lembut ibu saat menasehatiku.


Meski ibu jarang di rumah, dia tidak sama seperti ayah dan kakek. Ibu lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit, apalagi akhir-akhir ini kondisi ibu juga semakin memburuk.


Lalu sekali lagi aku melirik kearah Aster yang masih anteng bermain piano disampingku, bahkan tanpa sadar sudut bibirku kembali terangkat saat melihat ekspresi kesalnya sudah berganti dengan ekspresi bahagianya. Entah kenapa saat melihat senyumannya ... rasa khawatirku pada ibu sedikit berkurang.


Aku tidak mau membuatnya bersedih lagi jika dia mengetahui masalah keluargaku, padahal kondisinya sudah mulai membaik daripada kemarin. Batinku tak ingin membicarakan masalahku dengannya saat mengingat suara tangisan Aster yang membuat hatiku perih.


Dulu juga dia menangis seperti itu saat kucingnya mati ....


.


.


.


Thanks for reading...